Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 131


__ADS_3

Selepas menghabiskan makan malamnya. Reyhan izin undur diri untuk kembali ke kamar; menemui Nadhira yang jauh lebih dulu beranjak ddari meja makan.


Langkahnya pelan namun pasti. Satu per satu tangga di pijakknya hingga ia sampai didepan pintu kamar Nadhira. Ragu-ragu ia mengetuk pintu. Hingga tangan Bara yang begitu tiba-tiba menepuk pundaknya membiat ia terkaget.


"Astaga, Bar! Gue kaget."


"Maaf," hanya kata itu yang keluar dari bibir Bara, yang juga tengah menyembulkan asap dari rokok yang sedang dihisapnya.


Reyhan mengibaskan tangannya, menghalau asap rokok untuk masuk ke paru-paru. Ia memang tidak menyukai asap rokok. Namun, untuk melarang Bara pun ia tak bisa, tak enak. Ia begitu menghargai lelaki disampingnya itu. Selain, sebagai kakak ipar. Bara juga berperan sebagai sahabat terdekat yang dimiliki.


"Kenapa tidak langsung masuk ke kamar?"


"Gue ingin memberikan Aleeana waktu untuk sendiri sampai suasana hatinya membaik," jawab Reyhan dengan datar.


"Lalu, kenapa elo begitu terburu-buru berlalu dari ruang makan? Elo tidak nyaman dengan pertanyaan Ayah?"


"Tidak."


"Jikalau memang iya. Gue minta maaf atas itu. Bukan sebab Ayah menyinggung atau membuat eli meraasa tidak nyaman. Tetapi, gue yakin begitu cara Ayah untuk menunjukkan perhatiannya ke elo," tukas Bara dan kembali menghisap rokok yang tersisa setengahnya.


"Iya. Tenang saja. Gue paham."


"Dan saran gue sebagai sahabat elo. Ikuti saja apa yang disarankan dokter waktu pada elo. Tak mengapa menunggu agak lama."


Reyhan menatap Bara dengan intens.


"Sebentar lagi Nadhira akan melahirkan. Dan gue yakin elo pasti tidak ingin seperti ini terus-menerus saat anak kalian lahir. Silahkan elo pikirkan. Apapun keputusan elo, gue hargai," ucap Bara seraya menepuk pelan pundak adik iparnya itu. Kemudian, berlalu ke kamarnya.


Lelaki dua puluh enam tahun itu menatap sayu kepergian Bara hingga tenggelam dibalik pintu kamarnya. Ia mengalihkan tatapannya ke depan. Menatap nanar pintu kamar yang belum jua terbuka.

__ADS_1


Otaknya kembali mengingat ucapan Bara. Ia sedikit membenarkan. Namun, rasa tak ingin gagal lagi membuatnya lemah.


Kepalanya tertunduk menatap kakinya yang mulai bergetar. Tak kuat menahan bobot tubuhnya. Ada setetes keringat yang keluar di keningnya. Lengan kirinya pun juga terasa nyeri.


"Astaga! Jangan kambuh lagi," cicitnya dengan berbisik.


"Kenapa, Nak?"


Suara Bunda cukup membuatnya tersentak. Ia mengangkat kepala dan melempar seutas senyum yang dipaksakan.


"Tidak apa-apa, Bunda."


"Kenapa masih berdiri diluar? Nadhira masih merajuk, ya?"


"Reyhan hanya ingin memberikan Nadhira waktu untuk sendiri sampai suasana hatinya membaik. Jika Reyhan masuk sekarang bisa saja ia akan semakin marah," tutur Reyhan dengan sedikit tawa kecil.


"Iya, Bunda. Terimakasih."


"Jangan lupa berikan obat untuk luka di ujung bibirmu itu. Lain kali berhati-hatilah," ucap Bunda seraya memegang pundak menantunya itu dengan lembut. Ia berbalik dan sama seperti Bara, melangkah kaki meninggalkan Reyhan yang masih berdiri dan bersandar pada pembatas tangga.


Tatapannya yang masih sayu menatap kepergian perempuan paruh baya dengan jilbab besar itu. Senyum tipis terbit di bibirnya yang berhasil membuatnya meringis. Terasa sedikit sakit luka yang disebabkan tinjuan tangan Bara siang tadi.


Pintu yang masih tertutup rapat ditatapnya kembali. Ingin sekali ia mengetuk pintu dan masuk ke kamar. Namun, lagi-lagi. Barangkali perempuan didalam sana benar-benar sedang membutuhkan waktu untuk mengembalikan suasana hati yang sudah rusak itu. Begitu pikir Reyhan.


Lelaki itu duduk bersila didepan kamar. Tangannya terpaut satu sama lain. Sedangkan otaknya entah sedang memikirkan apa.


Reyhan merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana. Ia menscroll layar dan menghubungi sebuah kontak bernama Farhan.


"Kamu dimana, Farh?" tanya Reyhan tanpa berbasa-basi tatkala telepon tersambung.

__ADS_1


"Di apartemen kakak. Kenapa? Apakah ada yang bisa Farhan bantu?"


"Kakak pikir kamu sedang dirumah. Kakak hanya ingin meminta tolong untuk mengcopy file pada laptop di ruang kerja."


"Kakak dimana sekarang? Kakak baik-baik saja, 'kan?" tanya Farhan dengan kekhawatiran yang terdengar jelas dari suaranya.


"Iya. Kakak baik-baik saja. Kakak masih dirumah Bunda sekarang. Sesuai dengan permintaan kakak iparmu itu. Karena, jika tidak dipenuhi. Kamu pasti tahu apa yang akan terjadi," tutur Reyhan dengan tawa kecilnya.


Tak ayal hal itu juga mengundang tawa lelaki di seberang.


"Jangan terlalu sering meninggalkan rumah, Farhan."


"Tentu, Kak. Ini baru saja Farhan tiba di apartemen. Farhan pun sudah memberitahu Papa dan Mama bahwa malam ini Farhan tidak pulang."


"Good job! Kakak tutup teleponnya, ya."


Setelah memutus sambungan telepon. Reyhan kembali menatap pintu yang tak kunjung terbuka. Entah manusia didalam sana sengaja atau memang sudah terlelap dalam mimpi indahnya.


Reyhan mencoba mengetuk pintu seraya memanggil dengan lembut nama gadis berperut buncit didalam kamar. "Al! Apakah kamu sudah tidur?"


Hening. Tiada jawaban apapun. Bahkan, suara derap kaki pun tak didengarnya.


Ia mencoba sekali lagi. "Al! Buka pintunya, Sayang."


Masih sama. Hening.


Reyhan menghela napas panjang. Ia duduk dengan kaki yang di selonjorkan ke depan. Kepalanya bersandar pada kayu yang terukir sedemikian rupa sebagai pembatas tangga, menengadah menatap langit-langit. Sesekali ekor matanya mengikuti kemana arah cicak yang saling mengejar satu sama lainnya.


Ia terdiam. Namun, otaknya begitu sibuk dengan pikirannya yang bercabang-cabang. Tangannya meraba dada bidang sebelah kirinya. Kemudian, tersenyum miris.

__ADS_1


__ADS_2