Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 30


__ADS_3

“Pa, sepertinya itu suara mobil Ibram. Itu tandanya Reyhan dan Nadhira sudah tiba.” Antusias Mama memberitahu suaminya.


“Lihat saja dulu, Ma.”


Mama beranjak dari sofa menuju jendela. Tangannya dengan lihai menyibak sedikit tirai agar ia dapat mengintip Si Pemilik mobil. Matanya berbinar saat melihat mobil yang telah terparkir rapi dihalaman rumah mewahnya.


“Tuh ‘kan, Pa. Mama bilang juga apa.”


“Kenapa sih, Ma ?”


“Itu lho, Pa. Mereka sudah datang. Ayo kita sambut mereka.”


Papa dengan penuh antusiasme mengikuti ajakan istrinya. Bersama Sang istri, ia melangkahkan kaki menuju pintu utama untuk menyambut anak sulung beserta menantunya itu.


***


“Sayang.” Reyhan mencoba membangunkan Nadhira yang sepertinya tertidur sangat pulas sepanjang perjalanan dari Rumah Sakit menuju rumah.


“Dek, bangun. Kita sudah sampai.”


Nadhira menggeliatkan tubuhnya. Mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang diterima retinanya.


“Kita sudah sampai, Dek. Ayo turun.”


Terlebih dulu Reyhan keluar. Memutari mobil kemudian membukakan pintu penumpang untuk Nadhira.


“Hati-hati, Dek.” Ucap Reyhan seraya membantu Nadhira keluar dengan memegangi pundaknya.


“Jangan kemana-kemana. Ikut kakak masuk. Ada yang ingin kakak bicarakan dengamu.” Jelas Reyhan lewat kaca jendela mobil pada Farhan.


“Ayo, Sayang!”


Tangan mungil Nadhira digenggamnya begitu erat. Bibir dibalik masker yang menutupi, melengkung membentuk satu senyum simpul. Menandakan betapa bahagianya dia menjadi pendamping seorang gadis yang selalu ia sebut namanya dalam setiap bait-bait do’a yang selalu ia panjatkan.


Senyum Reyhan semakin mengembang tatkala matanya menangkap kedua orang tuanya menanti kepulangannya bersama Nadhira diambang pintu.


Tak terkecuali Nadhira. Matanya nampak menyipit saat senyum manis menghiasi bibir mungil kepunyaannya. Bersamaan dengan itu, rasa haru menyergap hati Nadhira yang melihat kedua mertunya begitu antusias dalam menyambut kedatangannya.


“Assalamu’alaikum, Ma, Pa.”


“Wa’alaikumussalam, Nadhira.” Jawab Mama dan Papa bersamaan.


Nadhira mencium tangan mertuanya bergantian. Tak lupa, ia mendapatkan sebuah ciuman singkat dipipi dari Sang Mama mertua.


“Bagaimana keadaan kamu, Nak ?” tanya Papa dengan raut wajah khawatirnya pada gadis yang sekarang menjadi menantunya itu.


“Alhamdulillah. Baik. Seperti yang Papa lihat sekarang.” Jawab Nadhira tanpa melupakan senyum manis yang dimiliki.


Tanpa pasangan suami istri itu sadari. Sepasang mata dari balik kaca mobil yang mereka tumpangi tengah fokus memperhatikan interaksi mereka dengan binar-binar kebahagiaan yang masing-masing mereka pancarkan. Pemilik sepasang mata itu tersenyum sumbang menyaksikan adegan yang sangat jarang ia rasakan itu.


“Andai saja ada aku. Bisakah raut wajah yang kulihat sebahagia itu, Pa ?” Lirihnya.


Sesegera mungkin ia menepis jauh-jauh apa yang baru saja terlintas diotaknya. Kemudian, ia kembali tersenyum. Namun, dengan senyum yang sukar untuk diartikan. Bahkan, senyuman itu diiringi dengan tangan yang mengcengkeram kuat-kuat setir mobilnya.


“Berhentilah untuk berandai-andai, Farhan. Karena, itu tak mungkin menjadi nyata. Dan tentu saja hanya akan menyakiti dirimu sendiri.”


Lagi-lagi Ibram berbicara pada diri sendiri dengan nada begitu lirih. Membuat siapa saja yang mendengarnya tak bisa untuk tidak menyumbang setetes dua tetes air mata.


“Sudahlah, Farhan. Bahagiamu adalah kamu yang ciptakan.” Begitulah kalimat-kalimat yang tak pernah bosan Farhan ucapkan untuk menyemangati dirinya sendiri.


Farhan keluar dari mobilnya. Jika bukan karena ucapan Reyhan yang memintanya untuk tidak pergi. Mungkin, setelah Reyhan dan Nadhira turun dari mobil. Ia akan dengan secepat kilat melesat pergi dari rumah itu.


Langkah kaki Farhan terus mengayun hingga sampai dipintu yang masih dijejali orang tua, kakak dan kakak iparnya.


“Assalamu’alaikum,” Ucapnya tanpa menoleh. Lalu melenggang pergi begitu saja.


“Wa'alaikumussalam,” Jawaban salam terdengar serentak meski dengan suara setengah berbisik.


“Kakak ingin bicara denganmu, Farhan!” Reyhan berkata dengan sedikit meninggikan suaranya. Karena, jarak Reyhan yang semakin menjauh dari posisinya berdiri.


Langkah Reyhan terhenti. Tanpa berniat untuk sekedar menoleh ke belakang ia menjawab,”Iya, Kak. Reyhan tunggu dikamar saja.”


Kakinya kembali melangkah membawa tubuh dan pikiran yang teramat sangat butuh istirahat menuju tempat ternyamannya dirumah itu. Manalagi tempat ternyaman Farhan selain dikamarnya.


Kepergian Farhan diiringi dengan tatapan-tatapan yang sulit sekali diartikan dari empat pasang mata yang masih sama-sama mematung diambang pintu. Terlebih lagi seorang Nadhira yang notabenenya sebagai penghuni baru di keluarga bermarga Papa itu.


“Masuk dulu, yuk!”

__ADS_1


Mama memecahkan keheningan yang sempat tercipta.


Pasangan suami istri berbeda generasi itu berjalan beriringan memasuki istana mereka. Mengambil posisi duduk di sebuah ruang yang sering digunakan utuk berkumpul, ruang keluarga.


“Bagaimana ceritanya kamu bisa masuk Rumah Sakit, Nadhira ?” Tanya Papa memulai pembicaraan. Sebenarnya, ia sudah tau penyebab Nadhira masuk Rumah Sakit tepat di malam pertamanya menjadi istri. Hanya saja Papa ingin membuat menantunya itu merasa tidak canggung meskipun dia hanya anggota baru dalam keluarga besarnya.


“Nadhira hanya alergi, Pa.” Jawab Nadhira dengan polosnya.


“Alergi ?” Ucap Papa dan Mama bersamaan dengan raut wajah tak mengerti.


“Iya. Nadhira alergi jeruk, Ma, Pa. Semalam saat makan malam, Nadhira dikasih minum jus jeruk sama Kak Reyhan.” Ucapnya malu-malu.


“Hah!” Mata Papa membulat tak percaya.


“Kamu ya, Kak. Baru sehari saja sudah bikin istri masuk Rumah Sakit.” Omel Mama.


“Loh, Reyhan ‘kan nggak tau, Ma.” Reyhan membela diri.


“Bener, Ma. Kak Reyhan sama sekali tidak tau kalau Nadhira memang alergi dengan jeruk. Salah Nadhira juga nggak bilang-bilang dan meminum begitu saja jusnya.” Nadhira mencoba membantu Reyhan membela diri.


“Dengar Mama, Kak. Kejadian kayak gini jangan sampai terulang lagi, ya. Jadi, kejadian semalam jadikan pelajaran. Lain kali kalau mau makan, tanya-tanya dulu.” Nasehat Mama.


“Iya, Ma. Lain kali Reyhan akan lebih berhati-hati lagi.”


“Oh.. Tentu. Karena kalian adalah pasangan pengantin baru yang masih belajar untuk saling mengenal, saling mengerti dan memahami satu sama lain.” Sambung Papa.


“Kakak juga mesti ingat baik-baik. Sekarang kakak sudah punya istri. Jadi, mulai sekarang kakak sudah memiliki tanggung jawab lebih. Jangan terlalu gila kerja. Kakak harus bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga dengan baik. Dan yang terpenting, kesehatan harus dijaga ya, Kak. Jangan sampai sakitnya kambuh lagi. Mama nggak mau.” Ucap Mama dengan lirih diakhir kalimatnya.


Ucapan Mama yang panjang lebar mampu mengomandai tatapan tak mengerti Nadhira terlempar pada lelaki yang duduk disampingnya itu.


Reyhan menggenggam erat tangan Nadhira. Kemudian tersenyum dibalik masker yang masih menutupi mulut dan hidungnya.


Reyhan mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Nadhira, ”Kakak akan jelaskan nanti dikamar. Nikmati saja dulu kebersamaan ini dengan Papa dan Mama, Sayang.”


“Hei, Reyhan Akbar Oktara! Bisakah kau tahan sebentar untuk bermesra-mesraan ? Pikirkan perasaan pengantin lama ini sedikit. Jangan sampai terbawa perasaan dengan aksimu itu, Nak.”


Kalimat candaan Papa mampu menyentak Reyhan dari posisinya yang begitu dekat dengan wajah Sang Istri.


Nadhira tersenyum malu. Pipinya pun tak mampu untuk tidak bersemu merah.


“Apa-apaan sih, Papa ? Reyhan cuma bisikin Nadhira sesuatu.”


“Tentu dong, Ma.”


“Mama juga malah ikut-ikutan. Lagian baru nikah kok udah bahas cucu aja sih.”


“Loh, dari sekarang kakak harus punya rencana untuk ke depannya. Bikinin Mama cucu yang banyak pokoknya.”


Uhuk. Uhuk.


Nadhira tersedak mendengar ucapan Mama mertuanya itu. Padahal, Nadhira sama sekali belum memikirkan kedepannya akan seperti apa bersama Reyhan.


“Kamu nggak apa-apa ?” Tanya Reyhan sambil mengelus punggung Nadhira.


“Iya nggak apa-apa.”


“Ma, bikinin minum dong.” Ucap Papa.


“Oh iya. Mama sampai lupa. Habisnya terlalu senang kedatangan menantu.”


Nadhira blushing. Hatinya seketika menghangat mendengar ucapan Mama.


Mama beranjak dari tempat duduknya hendak ke dapur.


“Nadhira bantu ya, Ma.” Nadhira menawarkan diri.


“Nggak usah, Sayang. Kamu duduk diam saja disitu. Biar Mama sendiri. Lagian ‘kan kamu baru pulang, belum sembuh total pula.”


“Nadhira udah nggak apa-apa kok, Ma.” kekeh Nadhira.


“Mama benar Nadhira. Kamu tuh butuh istirahat. Biar Mama saja.” Sambung Papa.


Mau tidak mau Nadhira mengikuti perkataan mertuanya.


Mama kembali dengan nampan ditangan berisi minuman dan beberapa camilan.


“Ayo Nadhira minum dulu jusnya, ya.” Mama menyerahkan segelas jus melon pada Nadhira.

__ADS_1


“Terimakasih, Ma.” Ucap Nadhira dengan lembut diiringi senyum manisnya.


“Loh, Ma. Yang dikasih Nadhira doang ? Reyhan sama Papa nggak nih ?” Protes Reyhan.


“Kakak sama Papa ‘kan bisa ambil sendiri.”


“Tapi, Nadhira sebenarnya bisa ambil sendiri kok, Ma.” Kata Nadhira begitu polosnya.


“Nggak apa-apa. Kamu ‘kan masih sakit.”


“Beneran Nadhira nggak apa-apa, Ma.”


“Tuh ‘kan, Ma. Denger Nadhira bilang apa.”


“Biarin. Mama sendiri ‘kan yang mau. Mama mau memanjakan menantu Mama sebagai sambutan. Ini hari pertama Nadhira tinggal dirumah ini.”


“Oh... jadi sekarang Mama udah nggak mau manjain Reyhan lagi ?”


“Kamu ya, Kak. Sama istri aja ngiri gitu. Lihatlah anakmu, Pa.” Kesal Mama.


“Anak Mama sih. ‘Kan yang suka iri tuh Mama. Berarti kakak turunan Mama dong.”


“Udah. Udah. Mungkin Reyhan anak pungut. Yuk, Sayang! Kita ke kamar.” Ucap Reyhan berpura-pura merajuk.


“Eh... tunggu tunggu. Kakak anak Papa Mama, kok. Iya ‘kan, Pa ?”


“Hahaha!”


Tawa Reyhan menggelegar mengisi ruang tamu. Aksi pura-pura merajuknya nyatanya dianggap serius Sang Mama.


“huust! Ketawanya di kontrol dong, Kak. Malu sama istri.” Protes Mama.


Reyhan membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangan. Pasalnya, tangan sebelah lagi masih menggenggam tangan Nadhira.


“Iya. Maaf. Maaf. Reyhan lupa, Ma.”


Reyhan tersenyum malu-malu. Menampilkan sederetan gigi putihnya yang tertutup masker. Meski tak satupun dari seisi ruangan itu bisa melihatnya.


Kali ini ia benar-benar lupa bahwa statusnya sekarang bukanlah seorang lajang lagi. Tapi, sudah sah menjadi seorang suami. Suami dari gadis bernama Nadhira Aleeana Prayudha.


“Astagfirullah!”


Kalimat istigfar meluncur bebas dari mulut Papa dan Mama secara bersamaan.


“Oh... Tuhan, Kak. Sama istri sendiri saja lupa. Padahal, dari tadi Papa perhatikan tanganmu tak lepas-lepas menggenggam tangan Nadhira.” Papa menaik turunkan alisnya.


Refleks Nadhira menarik tangannya dari genggaman Reyhan. Kemudian, tersenyum malu-malu. Pipinya pun kini bersemu merah bak kepiting rebus.


“Pa, jangan di godain terus, dong. Kasian tuh pipi menantunya bersemu merah gitu.” Mama melirik Nadhira dengan ekor matanya sembari tersenyum menggoda.


“Dek, ke kamar aja, yuk!” Ajak Reyhan.


“Nah, nggak sabaran deh kayaknya ini, Ma.” Papa kembali melancarkan aksinya.


Reyhan menarik tangan Nadhira yang sempat terlepas dari genggamannya dengan lembut. Mengajaknya ke kamar tanpa mempedulikan godaan orang tuanya yang tak ada habisnya itu.


“Jangan di dengarkan, Dek. Papa sama Mama emang gitu. Suka bercanda.”


Nadhira hanya tersenyum menanggapi sambil berjalan mengikuti langkah suaminya.


“Kak, bikinin Mama sama Papa cucu yang banyak, ya.” Teriak Mama menggoda.


“Tenang aja, Ma. Request aja Mama sama Papa mau berapa.” Balas Reyhan tak kalah kencangnya.


Ucapan Reyhan ternyata mampu mengundang gelak tawa kedua orang tuanya.


“Satu lagi, Ma. Reyhan mau adik lagi. Jangan lupa nanti malam bikinin, ya. Hahaha.”


Tawa pasangan suami istri itu terhenti seketika. Berganti dengan beradu tatap.


Kini giliran Reyhan yang tertawa lepas karena berhasil menggoda Papa dan Mamanya.


“Kak, jangan gitu sama orang tua. Nggak baik.” Peringat Nadhira.


“Aku bercanda doang kok, Sayang.”


Nadhira hanya menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


___To Be Continued___


__ADS_2