
Sepulang Reyhan dan keluarganya. Nadhira memilih untuk kembali ke kamarnya dibanding ikut bercengkrama ria seperti biasa dengan ayah, bunda dan abangnya. Bukan karena malas. Hanya saja ia merasa tubuh mungilnya itu butuh waktu untuk istirahat.
Nadhira memasuki ruangan yang selama ini menjadi tempat ia menghilangkan letihnya setelah beraktifitas seharian. Ia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur kesayangannya. Menatap langit-langit dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamarnya. Menikmati teduh warna yang menjadi favoritnya selama ini. Otaknya memutar kembali kejadian-kejadian yang tersusun rapi menjadi sebuah memori yang indah. Kemudian mengulum senyum manis menampilkan deretan gigi putih nan rapi.
Tak lama Nadhira menangkap sesosok lelaki bertubuh tinggi dan tegap masih dengan balutan kemeja yang ia gunakan tadi masuk tanpa permisi. Siapa lagi jika bukan Bara. Nadhira mendengus pelan melihat kebiasaan abangnya.
“Belum tidur, Dek ?” Bara melangkahkan kaki mendekati adiknya yang sudah mengubah posisi duduk bersandar dengan memeluk boneka Teddy Bearnya.
“Belum, Bang.”
“Kenapa ?” Bara menelisik setiap lekuk wajah adiknya yang nampak lesu.
“Capek. Tubuhku rasanya pegal semua.” Jawab Nadhira jujur.
“Istirahatlah. Sleep well and have a nice dream, My Little Girl.” Bara mengecup puncak kepala adik semata wayangnya.
“Udah mau nikah, Bang. Jadi bukan anak kecil lagi.” Protes Nadhira.
“Oh iya. Abang lupa. Sebentar lagi adik kecilku ini akan menjadi Nyonya Oktara, ya ?” goda Bara dan berhasil membuat merona pipi Nadhira.
“Bang, aku mau nagih hutang Abang.” Nadhira menegakkan tubuhnya dan meraih lengan Bara.
“Hutang apaan ?” Bara mengernyitkan dahi tak mengerti.
“Hutang penjelasan.”
Kini Bara terdiam dan mengetuk-ngetuk dahi dengan jari telunjuknya. Mencoba untuk mengingat penjelasan apa yang telah ia janjikan pada adiknya.
“Tentang Kayla, Abang.”
“Oh itu. Tapi kan adek mau istirahat. Apa tidak lain kali aja ?”
“Abang naksir Kayla, ya ?” Nadhira tak mempedulikan pertanyaan abangnya. Ia memulai pertanyaan dengan tatapan mengintimidasinya.
“Mmm.. entah.”
“Kok gitu ?” Nadhira menautkan alisnya.
Bara mengambil posisi duduk tepat dihadapan Nadhira yang juga bersila diatas tempat tidurnya.
“Abang seneng aja liatnya. Dengan penampilan yang sederhana, senyumnya yang manis, dan tatapannya yang kadang tanpa sengaja bertabrakan dengan Abang begitu meneduhkan. Abang menyukai itu. Sangat.” Bara tersenyum membayangkan sosok perempuan yang selama ini menjadi penghuni sudut ruang hatinya.
“Pacarin aja, Bang.” Ujar Nadhira dengan entengnya.
“Seperti Mbak Prisil.” Lanjut Bara seraya menatap Nadhira.
__ADS_1
Senyum yang tadinya mengembang hilang seketika. Tatapan yang berbinar kini berubah sayu. Terlihat jelas gambaran kesedihan dalam manik mata Bara yang mulai berkaca-kaca. Air mata yang mulai tergenang dipelupuk mata akan siap meluncur kapan saja ia mau.
Leea menatap sang kakak tak percaya. Setelah bertahun-tahun kepergian Prisil nyatanya tak membuat kesedihan itu hilang dari dalam diri Bara. Dibalik tegarnya Bara selama ini, ternyata ada kepedihan mendalam yang masih tertanam.
Prisilia Anastasya. Gadis bermata coklat dengan senyum menawan yang membuat Reyndra tak bosan memandangnya. Satu bukti keindahan dari sekian banyak keindahan yang Allah ciptakan. Gadis yang tak sengaja ia temui sedang bermain dengan anak-anak kecil di sebuah panti asuhan. Gadis sederhana yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan gadis pertama yang ia sebut dalam do’a.
Tidak hanya itu. Prisil adalah calon istri Bara. Seminggu sebelum akad nikah, Bara harus ikhlas melepaskan kepergian wanita yang menggenggam hatinya. Ikhlas menerima kenyataan bahwa wanita idamannya telah bersanding dengan maut.
Saat itu bagi Bara ikhlas hanya sekedar kata. Kata yang dengan mudah diucapkan tapi sukar untuk dilakukan. Karena nyatanya ia bukanlah lelaki yang kuat. Bara merasa dunianya runtuh seketika. Segala harapan yang ia bangun hancur tak bersisa. Separuh dirinya telah hilang. Bara hidup tanpa arah dan tujuan yang pasti.
Sampai datang hari dimana ia disadarkan oleh nasehat ayah dan bundanya. Menyesali setiap apa yang terjadi itu tidaklah baik. Setiap jalan hidup sudah ditentukan Sang Khalik.
“Perjalananmu masih panjang. Maut itu Allah yang ngatur. Dan Abang tidak bisa mengubah itu. Tidak baik jika Abang terus meratapi kepergian Prisil. Bunda yakin, Prisil juga tidak suka melihat Abang seperti ini terus. Abang harus bangkit. Hiduplah sebagaimana mestinya.” Nasehat Sang Bunda.
“Bang.” Nadhira menggenggam erat tangan Bara. Menyalurkan sedikit kekuatan yang ia punya untuk menguatkan kakaknya. Ia sadar saat ini Bara sedang berada pada titik terendah dan membutuhkan uluran tangan untuk lebih menguatkan lalu membawanya kembali ke zona aman.
Bara menatap Nadhira dengan sayu. Air mata yang ia tahan sedari tadi kini meluncur bebas tanpa permisi melewati pipinya. Bara terlihat sangat menyedihkan. Ia menenggelamkan kepalanya dipangkuan adiknya. Sayup-sayup Nadhira mendengar isakan yang memilukan.
Nadhira mengelus rambut kakaknya penuh sayang. Hatinya terasa ngilu melihat pemandangan seperti ini. Tanpa disadari, air mata Nadhira ikut menetes.
“Bang, yang sabar. Allah memberikan cobaan itu karena Allah tau Abang mampu melewatinya. Ikhlaskan Mbak Prisil, Bang. Biarkan Mbak Prisil tenang.” Nadhira mencoba menasehati Bara ditengah isakannya. Ia merasakan bahu kakaknya semakin bergetar hebat.
Nadhira menangkup pipi Reyndrara dengan kedua tangannya. Menghapus jejak-jejak air mata di pipi Bara yang masih mengalir dengan derasnya. Membawa kepala kakaknya dalam pelukan. Nadhira membelai lembut bahu sang kakak yang masih bergetar.
“Abang belum sepenuhnya mampu melepaskan Mbak Prisil. Apalagi melihat senyuman dan bola mata Talita. Bayangan Mbak Prisil semakin nyata terlihat. Abang tak sekuat lelaki lain, Dek. Sejauh ini, Abang menjadi gila kerja hanya karena ingin mengalihkan pikiran dari bayang-bayang Mbak Prisil.” Bara semakin terisak. Dadanya terasa perih. Ada sisa-sisa torehan luka lama yang kembali menganga lalu tersiram air garam. Sesak pun ia rasakan. Ia memukul-mukul dadanya.
Nadhira melepas pelukannya pada Bara. Nadhira kembali menggengam erat tangan kekar kakaknya. Menatapnya lekat. Lantas berbicara.
“Tidak ada gunanya meratapi kepergian seseorang yang telah pergi dan tak kembali. Memang aku belum pernah merasakan apa yang Abang rasakan. Aku tidak tau persis apa yang selama ini Abang rasakan. Tapi, aku tau bagaimana rasanya kehilangan.”
"Abang merindukannya, Dik. Demi apapun."
Nadhira kembali menangkup pipi Bara. Membuat Bara menatapnya. Mereka beradu pandang dalam sekian detik sebelum Nadhira melempar senyuman pada Bara.
“Yakinlah, Bang. Allah mengambil apa yang sangat kita sayangkan hanya untuk digantikan dengan yang lebih baik.”
Bara membalas dengan anggukan. Tak menyangka jika gadis kecilnya bisa memiliki pemikiran yang membuat hatinya bergetar.
“La tahzan innalaha ma’ana. (Jangan bersedih. Allah selalu bersamamu).” Lanjut Bara dengan senyum tersungging dibibir mungilnya.
Bara menarik tubuh kecil adiknya ke dalam pelukan. Mengecup puncak kepala Bara yang masih dibaluti hijab.
“Terimakasih, Dik.” Ucapnya lirih.
“Move On, Bang. Cobalah membuka hati untuk wanita lain. Jangan terjebak pada perihnya masa lalu. Dan...” Nadhira menggantung ucapannya. Merasa tidak enak jika harus mengatakannya.
__ADS_1
“Dan ?” Bara menaikkan sebelah alisnya menunggu ucapan yang akan dilanjutkan adiknya.
“Dan... perihal Kayla. Pandang ia sebagai seorang Kayla. Bukan Mbak Prisil. Karena Kayla dan Mbak Prisil adalah dua wanita yang berbeda.” Lanjut Nadhira.
“Akan Abang coba. Dan semoga bisa.” Bara tersenyum tipis.
“Bantu Abang.” Lanjutnya.
Nadhira membalas dengan senyuman khasnya.
Tanpa mereka sadari. Kegiatan mereka juga disaksikan dua sejoli dibalik pintu yang sedikit terbuka. Ayah dan Bunda. Bunda ikut menangis dalam pelukan suaminya menyaksikan adegan menyedihkan putra putrinya. Saling menguatkan satu sama lain.
___
Reyhan POV
Aku berjalan menuju balkon kamar setelah membersihkan diri sepulang dari rumah calon istriku. Nadhira Aleeana Prayudha. Oh Tuhan, menyebutnya calon istri saja aku bahagia sekali.
Aku menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahku. Menikmati bulan sabit yang menggantung manis berteman ribuan kelap-kelip bintang. Sungguh indah.
Ku tarik ujung bibirku membentuk lekuk senyuman mengingat bahwa sebentar lagi harap yang selalu kupanjatkan dalam setiap do’aku akan berbuah hasil. Menjadi sebuah nyata. Hidup bersama insan Tuhan yang namanya mengisi pikirku.
“Bersabarlah, Reyhan. Sebentar lagi Aleea akan menjadi milikmu seutuhnya. Menjadi tempatmu pulang. Menjadi tempat untukmu berbagi suka dan duka.”
Aku berbicara pada diriku sendiri. Mengingatkan diri untuk lebih bersabar.
Malam kian beranjak. Jangkrik-jangkrik bersahutan mengisi hening malam. Dinginnya angin malam yang berhembus menusuk setiap persendianku. Namun tak menyurutkan sedikit saja bahagia yang kurasa. Sungguh aku bahagia sekali. Aku tak tau kalimat apa yang tepat untuk mengungkap rasa bahagia ini.
“Kak!”
Aku menoleh ke arah suara. Suara khas milik Princess Kecilku. Raina Farsya Oktara. Pengusir lelahku kala pulang bekerja.
Aku berjalan ke arahnya yang masih berdiri memegang gagang pintu dan mengucek matanya dengan sebelah tangan. Aku berjongkok agar sejajar dengan tingginya.
“Kenapa belum tidur ?” Ucapku lembut seraya mengelus rambut panjangnya.
“Baru bangun. Tapi adek nggak bisa tidur lagi.” Jawabnya dengan suara khas cadelnya.
“Ayok balik lagi ke kamar. Kakak temenin, ya ?” Aku menawarkan diri untuk menemani gadis kecil yang berdiri dihadapanku.
“Tapi nanti bacain dongeng, ya ?”
“Iya.” Ku belai rambut hitam panjang Raina. Ku gendong tubuh kecilnya dan membawanya ke kamarnya.
Aku membacakan dongeng kesukaan Raina. Dan tak lama ia memejamkan mata. Kembali mengarungi lautan mimpinya.
__ADS_1
“Selamat istirahat, Princess.” Ku kecup keningnya lalu kutarik selimut sampai menutupi badan kecilnya.
___TBC___