
Nadhira menyibak pelan gorden pada jendela kamarnya. Membiarkan sinar matahari menelisik masuk melalui celah-celah jendela dan menerpa langsung wajah Reyhan yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia terkekeh saat tubuh Reyhan menggeliat karena merasa terganggu.
"Bangun, Sayang." Nadhira memainkan jemarinya di wajah Reyhan, membuat lelaki dua puluh enam tahun itu terpaksa membuka mata karena tak kuat diganggu istri kecilnya.
"Aku sudah menyiapkan air hangat untuk kakak membersihkan diri," ucapnya seraya menyisir rambut Reyhan yang masih berantakan dengan jemarinya.
"Morning kiss dulu, Sayang," goda Reyhan dan menutup kembali matanya.
Nadhira mendaratkan ciuman singkat pada bibir Reyhan. "Morning kiss."
Reyhan bangkit dan duduk bersila menghadap Nadhira. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Menatap lekat perempuan yang tampak ceria dengan perut membuncit itu.
"Kakak mandi dulu. Sementara itu, aku akan turun membuatkan sarapan untukmu."
"Terimakasih sudah mau mengurusiku, Al."
"Mengurusmu adalah kewajiban yang harus aku lakukan. Salah satu yang mampu menjadikanku sebagai seorang istri yang sesungguhnya," balasnya dengan senyum manis.
Reyhan memeluknya erat. "Sungguh. Aku begitu beruntung memilikimu. Padahal, dalam perjalanan kita. Aku lebih sering menoreh luka dalam hatimu. Tapi, kamu dengan ikhlas memaafkan segala kesalahanku."
"Ku pikir dengan tidak memaafkanmu pun tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik," jawab Nadhira dengan enteng.
Ucapannya itu terdengar bijak di telinga Reyhan. Hal itu sukses menghipnotis Reyhan untuk tersenyum lebar. "Istriku sekarang mulai bijak menyikapi masalah, ya."
"Tapi, kakak bau," ucapnya dengan kalimat yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang diucapkan Reyhan. Ia melepas pelukan Reyhan dengan paksa.
"Baiklah. Aku mandi dulu." Reyhan hanya bisa berpasrah. Jika didebat sama saja dengan menyalakan api emosi istrinya itu. Dan hal itu tentu saja tidak akan dilakukannya. Ia benar-benar menjaga suasana hati Nadhira sekuat yang ia bisa.
Reyhan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Belum sempat ia menyentuh knop pintu. Suara Nadhira menyadarkannya bahwa ia melupakan sesuatu.
"Handuknya, Sayang," ucap Nadhira dengan lembut. Ia mendekat dan mengalungkan handuk tersebut pada leher Reyhan.
"Kenapa suamiku menjadi pelupa seperti ini sekarang? Hmmm?"
"Mungkin karena banyak pikiran, Al. Pekerjaan kantor yang dua pekan kemarin ku tinggalkan begitu menyita pikiranku."
"Bukankah kakak punya karyawan yang membantu?"
__ADS_1
Reyhan terkekeh. "Mereka punya devisi masing-masing, Sayang. Tentu mereka akan memgerjakan sesuai bidangnya."
"Tio?"
"Bagaimana mungkin Tio bisa menyelesaikan pekerjaan yang harus di selesaikan CEO?"
Ia membuang napas panjang. "Ah... Aku benar-benar tidak mengerti. Mandilah!" ucapnya dan berlalu dari hadapan Reyhan.
"Pakaian kantormu sudah ku siapkan diatas tempat tidur. Aku akan menunggumu dibawah," lanjutnya setengah berteriak agar Reyhan mendengar suaranya dari dalam kamar mandi.
Dengan langkah pasti Nadhira melangkah pelan menuju lantai dasar rumah besar itu. Dibawah sudah ia temui Mama tengah berkutat dengan alat dapurnya. Seperti biasa.
"Pagi, Ma," sapa Nadhira.
"Pagi, Ra. Bagaimana perkembangan cucu Mama didalam sana?" tanya Mama seraya melirik perut Nadhira yang sudah membuncit.
"Alhamdulillah, Ma. Cucu Mama semakin aktif didalam. Kadang membuat Nadhira kewalahan. Tapi, Nadhira tetap mensyukuri itu."
"Itu 'kan salah satu kenikmatan untuk wanita hamil, Nak. Saat kamu merasakan gerakan bayimu didalam kandungan."
"Iya, Ma."
"Sudah melakukan USG, Ra?"
"Sudah, Ma. Bahkan, setiap bulannya Nadhira melakukan USG untuk memastikan adik bayi baik-baik saja."
Mama menoleh. "Sudah tahu jenis kelaminnya?"
"Belum. Kata Kak Reyhan biar menjadi kejutan saja nantinya. Oleh sebab itu, dokter tidak memberitahu kami."
"Yah... Harusnya kamu tahu sejak sekarang. Biar kamu tahu apa yang kamu persiapkan."
Nadhira hanya tertawa kecil mendengar ucapan Mama. "Mau bagaimana lagi, Ma. Mama tahu sendiri Kak Reyhan orangnya seperti apa."
"Memangnya aku seperti apa, Al? Hmmm?" Reyhan datang tiba-tiba dan memeluknya dari belakang. Nadhira sedikit terlonjak dibuatnya.
"Astaga! Kakak mengagetkanku saja."
__ADS_1
Dering ponsel Reyhan memaksa Mama dan Nadhira harus diam dan kembali berkutat pada pekerjaan masing-masing. Nadhira menatap Reyhan yang tengah berbicara serius melalui telepon itu dengan intens. Ia lihat ada kerutan di kening suaminya. Ia tahu itu salah satu pertanda ada sesuatu yang terjadi. Pasti.
"Kenapa, Sayang?" tanya Nadhira tatkala dilihatnya Reyhan menutup telepon.
"Aku harus ke kantor sekarang."
"Sarapan dulu, Kak. Kakak juga harus minum obat."
"Aku sarapan di kantor saja. Masukkan saja makanan yang sudah kamu siapkan ke dalam kotak makananku, Al."
"Oh, baiklah," ucapnya dengan sendu. Padahal, pagi ini ia berharap akan bisa sarapan bersama dengan suaminya. Sebab, sejak Reyhan kembali bekerja. Pagi-pagi sekali ia sudah ditinggal pergi ke kantor.
Dengan wajah di tekuk ia menyiapkan bekal sarapan untuk Reyhan. Memasukkan ke dalam kotak makan yang biasa ia gunakan untuk membawakan Reyhan bekal sebelum-sebelumnya.
Setelah merasa semuanya sudah siap. Nadhira menenteng kotak makan milik Reyhan dan menyusul suaminya ke kamar.
"Aku sudah menyiapkan bekal untuk kakak sarapan. Jangan lupa juga untuk membawa obatmu," nasihat Nadhira dengan lesu.
Melihat perubahan yang begitu tampak pada wajah wanita dua puluh tahun itu. Reyhan menghentikan aktivitasnya menyiapkan berkas yang akan dibawanya ke kantor. Kemudian, mendekati Nadhira yang duduk dengan wajah tertunduk di bibir tempat tidur.
"Lho, istriku kenapa cemberut seperti ini?" tanya Reyhan dan menyentuk wajah istrinya itu hingga mendongak.
Nadhira menggeleng cepat. "Tidak. Aku baik-baik saja." Ia memaksakan untuk tersenyum lebar.
Tapi, tetap saja. Reyhan yang sudah terbiasa dengan Nadhira dan sudah bisa membaca perubahan yang terjadi pada istrinya itu lantas tak bisa percaya begitu saja. Reyhan duduk tepat disebelah Nadhira dan menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya.
"Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja, Sayang. Jadi, kamu tidak bisa membohongi dengan mudah seperti itu. Ceritalah! Apa yang sudah membuatmu cemberut seperti ini?"
"Kakak sekarang begitu sibuk dengan urusan kantor. Sampai kakak jarang memberikan waktu untukku. Dan pagi ini aku ingin sekali sarapan bersama. Tapi, kakak bahkan harus pergi ke kantor sepagi ini," tuturnya dengan jujur.
Reyhan mengeratkan pelukannya pada tubuh yang jauh lebih kecil dari tubuhnya itu. "Maafkan aku, ya, Sayang. Setelah kondisi kantor membaik. Aku berjanji akan selalu meluangkan waktu untukmu. Tapi, kali ini aku mohon untuk kamu mengerti keadaanku."
Ia menghela napas panjang. "Baiklah. Tak mengapa. Aku mengerti."
"Jika kamu tak keberatan. Siang nanti kamu bisa mengunjungiku ke kantor. Dan kita akan makan siang bersama-sama. Bagaimana?" Reyhan memberikan tawaran yang sukses membuatnya tersenyum lebar dengan tatapan berbinar.
"Tentu saja aku mau. Nanti aku akan memasak makanan kesukaan kakak."
__ADS_1
Reyhan kembali merasa tenang setelah berhasil menormalkan suasana hati istrinya. "Tapi, kamu tidak boleh terlalu lelah. Kasihan si bayi didalam perutmu."
"Baik, Tuan Oktara."