Senja (Dan Rasa)

Senja (Dan Rasa)
Bab 78


__ADS_3

Tangannya dengan cekatan membersihkan dan membereskan ruangan Reyhan yang sedikit berantakan. Ia memanfaatkan waktunya selama menunggu Reyhan dengan hal yang ia rasa lebih bermanfaat. Daripada, ia hanya berdiam diri dan membuatnya bosan.


"Apa yang sedang kamu lakukan, Al ?"


Suara berat Reyhan yang baru saja tiba diruangan setelah melaksanakan rapat menghentikan kegiatannya sejenak. "Aku hanya membersihkan ruangan kakak. Juga membereskan kertas-kertas yang masih berserakan."


"Usahlah, Al. Sudah ada pegawai yang akan melakukan hal itu nantinya."


"Tak mengapa, Sayang. Sesekali aku ingin melakukan ini di ruangan suamiku."


Reyhan tersenyum bangga padanya. "Kita ke rumah Bunda sekarang, ya, Al. Aku sudah tidak ada pekerjaan lagi di kantor."


"Sebentar aku akan menyelesaikan ini sedikit lagi," ucapnya dan segera melanjutkan kegiatannya itu.


Reyhan menatap setiap gerak gerik yang dilakukan istrinya itu. Ia melihat ada yang berubah dari fisik istrinya. Nampak lebih gemuk dari biasanya.


"Nafsu makanmu bertambah lagi, Al ?"


Ia menatap suaminya dengan tatapan tak mengerti. "Kenapa kakak bertanya seperti itu ?"


"Ku lihat kamu nampak gemuk sekarang."


"Wah... Benarkah ? Atau kakak hanya sedang ingin menyenangkanku dengan berbohong ?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.


"Tidak, Al. Aku bicara yang sebenarnya padamu."


"Sungguh. Aku merindukan tubuh gemuk sejak dulu," katanya dengan senyum ceria.


Langkah kakinya perlahan mengayun ke arah Reyhan yang sedang duduk manis di sofa. Ia duduk tepat di samping Reyhan. "Sayang," panggilnya dengan senyum yang susah diartikan.


"Kenapa ?" tanya Reyhan curiga.


"Bolehkah aku meminta sesuatu ?"


"Asal jangan minta yang aneh-aneh saja, Al. Juga jangan meminta sesuatu yang tidak bisa aku lakukan untukmu."


Ia bergelayut manja di lengan Reyhan. Menyandarkan kepalanya dan menatap mata Reyhan lekat. "Aku ingin minum kopi. Boleh ?"


"Kamu hanya meminta itu, Al ? Tentu saja boleh, Sayang."


"Tapi, aku ingin minum kopi buatan Mbak Rianti," ucapnya ragu dan menggigit ibu jarinya.


Reyhan menatapnya tak percaya. "Hah ? Aku tidak salah dengar 'kan, Aleea ?"


Ia menggelengkan kepalanya dengan pasti. "Tidak. Aku memang benar-benar menginginkan kopi buatan Mbak Rianti. Boleh, ya, Sayang."


"Tapi, Rianti sedang bekerja, Sayang."


Matanya berkaca-kaca.


Reyhan terdiam sejenak. "Baiklah. Aku akan meminta tolong pada Rianti untuk membuatkanmu kopi. Tunggulah sebentar disini."


"Aku ikut," ucapnya dan ikut bangkit bersama Reyhan.


"Terserah kamu saja, Al."


Ia mengikuti langkah Reyhan keluar ruangan. Menemui Rianti yang sedang fokus bekerja.

__ADS_1


"Rianti!" panggil Reyhan dan berhasil menyita perhatian beberapa karyawan yang mendengarnya.


"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu ?"


Reyhan tersenyum malu pada Rianti. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. "Jadi begini. Istri saya sedang ingin minum kopi. Tapi..." Reyhan menggantung kalimatnya.


"Tapi apa, Pak ?" tanya Rianti dengan rasa penasaran.


"Tapi, dia menginginkan kopi buatanmu. Jadi, bolehkah saya minta tolong padamu untuk membuat kopi untuknya ?"


"Oh begitu. Boleh, Pak."


Matanya berbinar mendengar jawaban atas kesanggupan Rianti untuk membuatkanya segelas kopi.


"Tunggu saya buatkan sebentar, ya, Mbak Nadhira."


"Terimakasih banyak, Mbak. Maaf telah merepotkan dan mengganggu waktu kerja Mbak Rianti."


"Tidak apa-apa, Mbak. Memang perempuan jika sedang hamil seperti itu. Menginginkan sesuatu yang aneh-aneh. Saya juga dulu begitu, Mbak. Jadi, saya paham bagaimana berada di posisi Mbak Nadhira."


Ia saling melempar tatap dengan Reyhan mendengar kata hamil dari bibir Rianti.


"Aamiin," ucap keduanya bersamaan.


Rianti yang tak mau amhil pusing dengan sikap pasangan pengantin baru di hadapannya itu pamit untuk ke pantry. Membuatkannya segelas kopi.


"Kita tunggu didalam saja, Al."


"Tidak. Aku mau menunggu disini. Jika kakak ingin ke dalam. Pergilah! Biar aku menunggu Mbak Rianti disini."


Hanya butuh empat menit ia sudah melihat bayang-bayang tubuh seksi Rianti mendekat ke arahnya. Dengan nampan berisi cangkir berwarna hijau toska diatasnya.


"Ini kopinya, Mbak. Maaf jika rasanya tak seenak kopi-kopi di luaran sana. Karena, saya tidak punya bakat meracik kopi. Saya hanya membuatnya ketika suami saya ingij saja."


"Tidak apa-apa, Mbak Rianti. Saya sangat berterimakasih karena Mbak sudah berbaik hati membuatkan kopi untuk saya."


"Iya sama-sama, Mbak. Selamat menikmati. Saya permisi mau melanjutkan pekerjaan dulu."


"Iya, Mbak. Selemat bekerja," ucapnya dan berlalu membawa cangkir kopi itu ke dalam ruangan menyusul Reyhan.


Ia menyesap kopinya yang masih menyembulkan asap dengan aroma yang menggugah selera. "Ternyata kopi itu itu enak, ya, Sayang."


"Memangnya kamu belum pernah menikmati kopi, Al ?"


"Sama sekali aku belum pernah minum kopi. Dan sekaranglah kali pertamanya."


"Bagaimana bisa kamu menginginkan sesuatu yabg belum pernah kamu nikmati sebelumnya ?"


"Hanya ingin saja menikmati sesuatu yang tak biasa."


"Akhir-akhir ini kamu benar-benar tak seperti biasanya, Al."


"Maksud kakak apa ?"


"Sikapmu yang tiba-tiba berubah dan kadang permintaanmu juga aneh. Entah apa yang tengah terjadi denganmu."


Ia kembali menyeruput kopi hitamnya. "Ayo kita pulang sekarang," ajaknya dan meletakkan begitu saja secangkir kopi yang baru dua kali di seruputnya itu.

__ADS_1


"Kopimu bahkan belum setengahnya kamu habiskan, Al. Sekarang kamu sudah mengajakku untuk pulang. Yang benar saja ?" Reyhan sedikit jengkel dengan kelakuan istrinya itu.


"Aku 'kan sudah tak menginginkan kopi itu lagi, Kak. Jadi, untuk apa aku memaksa diri untuk meminumnya hingga tandas," jawabnya dengan enteng dan tanpa dosa.


"Astaga, Al. Aku bahkan sudah berusaha menyingkirkan rasa maluku hanya untuk meminta Rianti membuatkanmu kopi. Terlebih Rianti sedang bekerja. Lalu, kamu dengan entengnya tidak menghabiskan dan membiarkan begitu saja kopi itu."


Ia menatap Reyhan yang sedang berusaha mati-matian menahan kekesalannya dengan intens. "Tapi, aku sudah tidak mau minum kopi, Kak," ucapnya dengan pelan dan tertunduk.


"Terserah kamu saja, Aleea." Reyhan bangkit dari sofa dan berjalan ke arah pintu.


"Mau kemana ?" tanyanya dengan cepat.


"Pulang ke rumah Bunda," jawab Reyhan dingin.


"Terus aku akan kakak tinggal disini ?" tanyanya dengan wajah polosnya.


"Jika kamu ingin tinggal disini juga tak mengapa. Tapi, jika kamu ingin ikut. Maka cepatlah bangun dan ikuti aku," tegas Reyhan.


Air matanya tergenang. "Kenapa kakak marah-marah seperti itu padaku ? Memangnya aku salah apa ?"


Reyhan mulai frustasi dengan sikap istrinya yang tidak stabil. Kini, ia harus menyingkirkan sejauh yang ia bisa rasa kesal yang dibuat oleh istrinya itu. Ia tak tega melihat gadis polosnya menangis lagi.


"Kemarilah!" Reyhan melambaikan tangan padanya dengan senyum menawan yang menambah aura ketampanannya.


Ia berlari kecil dan memeluk tubuh suaminya. "Jangan marah padaku. Aku takut."


"Tidak, Sayang. Aku tidak marah padamu."


Reyhan membelai puncak kepalanya dengan lembut. "Tapi, tolong ya, Sayang. Belajarlah untuk menghargai pengorbanan orang lain. Jika hanya aku, tak mengapa. Tapi, Rianti. Dia hanya karyawan yang harus bekerja total demi menghidupi keluarganya. Jika kita menyita waktunya. Maka, ia harus bersusah payah lagi mengejar untuk menyelesaikan pekerjaan agar terselesaikan dengan cepat tanpa ada kesalahan." Reyhan dengan pelan dan penuh kesabaran memberikan penjelasan untuknya.


Ia mengangguk. "Maafkan aku. Tapi, sungguh. Aku tidak bermaksud untuk tidak menghargai orang lain. Hanya saja keinginanku akhir-akhir ini terasa sangat berlebihan dan harus terpenuhi dengan segera."


"Iya, Sayang. Tak mengapa. Apapun yang kamu inginkan pasti akan aku oenuhi sekuat yang aku bisa."


Ia memeluk erat suaminya. "Sayang ?"


"Hmmm."


"Sebelum ke rumah Bunda. Bolehkah kita mampir sebentar di Kedai Ice Cream didepan kantor ? Aku ingin makan es krim."


"Boleh, Sayang. Untuk istriku, akan aku penuhi segala keinginanmu."


Ia tersenyum sumringah.


"Kamu tidak ingin menciumku sebagai imbalannya, Al ?" ucap Reyhan menggodanya.


"Jadi, kakak tidak ikhlas membelikanku es krim ?" Ia melipat kedua tangannya didepan dada.


"Tidak, Sayang. Tidak. Aku hanya bercanda," jawab Reyhan dengan cepat. Takut melihat istrinya kembali sedih atau marah.


Sekilas ia mencium bihir Reyhan. Kemudian, beralih pada pipi suaminya.


"Aku mencintai, Reyhan Akbar Oktara," ucapnya dengan senyum majis yang selalu membuat Reyhan merasa tenang dan candu itu.


"Aku juga sangat mencintaimu, Nyonya Oktaraku. Jadilah cahaya dalam gelapku."


Tubuh kecilnya terdekap erat oleh tubuh Reyhan yang besar dan kekar. Kehangatan dan kenyamanan selalu ia temukan dalam dekap lelaki yang telah mengikrarkan janji suci dihadapan Tuhan itu.

__ADS_1


__ADS_2