Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
10


__ADS_3

Reza menjemput kami tepat waktu. Aku pun sudah siap dengan barang- barang yang lumayan banyak. Karena menurut Reza kita akan berlibur selama beberapa hari di pantai. Aku menuruti saja. Sudah lama juga aku tidak berlibur. Entah kapan aku berlibur. Aku sendiri pun sudah lupa.


" Makin cantik aja pake dress." Pujinya saat kami sudah dalam perjalanan menuju villa di pantai.


" Dari dulu." Sahutku asal.


" Mudah- mudahan bisa berjalan mulus." Harapnya.


" Aamiin." Sahutku lagi. Reza tertawa. " Kayanya klien yang sekarang bikin kamu agak gugup ya. Ada apa?" Tanyaku sedikit penasaran karena biasanya Reza masih bersikap santai.


" Denger- denger dia orang yang detail. Dia pun seorang arsitek. Tapi entah kenapa dia masih pake jasa arsitek buat bangun kantornya. Mungkin udah mumet kali ya ngurus perusahaan." Jelasnya.


Aku hanya mengangguk dan mengerti kenapa sikap Reza seperti itu. Dia takut melakukan kesalahan. Sekecil apapun kesalahan yang dilakukan seorang arsitek dalam sebuah perhitungan. Bisa jadi hal yang fatal saat bangunan itu sudah berdiri.


Akhirnya kami sampai di sebuah villa yang berwarna putih bersih itu setelah menempuh perjalanan empat jam. Aku menghirup dalam- dalam udara segar itu. Indah sekali. Sudah sangat lama aku tidak melihat pantai.


" Itu laut, Ma?" Seru Gio senang menunjuk ke arah laut.


" Iya sayang. Nanti kita main di sana ya." Jawab Reza dan menggendong Gio.


" Ayo kita masuk. Kayanya mereka udah sampai." Ajak Reza.


" Selamat datang, Pak Reza." Sapa seorang wanita yang sudah pasti aku kenal.


" Loh. Mba Senja disini juga?" Tanya Silvi sedikit heran melihatku juga hadir di sini.


Aku hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Silvi. Reza menatapku bingung.


Kami berjalan menyusuri ruang tengah menuju halaman belakang. Sesampainya di sana. Aku dibuat takjub oleh pemandangan laut yang bersih dan indah. Sangat indah memanjakan mata.


" Apa kabar Pak Reza." Sambutnya dan menyalami Reza dan aku bergantian.


Nathan...


Lelaki yang selama ini aku rindukan. Lelaki yang sudah setahun ini tidak ingin aku temui walaupun sebenarnya ingin. Kini dia hadir di hadapanku dengan wajah dan senyum yang sama. Hati ini, jantung ini masih berdetak untuknya. Aku sedikit terpaku menatapnya. Berbeda dengannya yang tampak cuek ketika melihatku. Dengan santainya dia berbalik arah menuju kursi yang ada di sana.


" Papa." Seru Gio senang dan berhambur memeluk Nathan.


Nathan masih memperlakukan Gio dengan hangat. Terbukti dia juga merindukan Gio. Dia memeluk Gio erat dan mencium pipi Gio.


" Papa meeting dulu ya sayang." Ujarnya dan menurunkan Gio dari gendongannya. Gio mengangguk patuh dan berlari memasuki villa.

__ADS_1


" Sepertinya Bapak dan Senja sudah saling kenal?" Tanya Reza yang masih bingung dengan situasi ini.


" Dia temanku." Jawab Nathan singkat dan hanya melihatku sekilas. Seolah aku tidak berarti lagi dimatanya.


" Oh.." Tanggap Reza walaupun dia tahu jika Nathan sedang berbohong.


Meeting berjalan dengan lancar. Dan Nathan akan memeriksa terlebih dahulu proposal yang di ajukan Reza padanya.


*****


Aku menatap langit malam dengan udara yang sejuk. Sangat cerah malam ini hingga terlihat banyaknya bintang malam ini. Aku menengadah menikmati udara dan pemandangan itu yang belum tentu aku dapat di kota.


" Boleh gabung?" Tanya Reza sebelum dia duduk di sampingku.


" Mau tanya tentang Nathan?" Tebakku asal dan Reza mengangguk.


" Dia masa lalu yang pernah aku ceritakan ke kamu."


" Jadi dia pria itu?" Tanya Reza sedikit tak percaya dengan jawabanku. Aku hanya mengangguk pelan.


" Bagaimana dengan hatimu sekarang?" Tanyanya dengan keraguan.


" Masih sama. Hati ini masih untuknya. Setahun usahaku jadi sia- sia karena hari ini." Ucapku. Ada rasa sesak di dada. Mungkin akan menjadi cerita bahagia jika keadaan menginginkan kami bersatu. Tetapi keadaan tak pernah memihak padaku.


Aku hanya menangis dan bersandar di bahunya. Reza benar. Aku butuh seseorang untuk menguatkanku saat ini. Pertemuanku dengan Nathan semakin membuatku rapuh. Kenapa tidak hilang saja cintaku untuknya.


*****


" Gio.." Panggilku mencari anakku yang sudah tidak ada di kamar saat aku bangun.


" Silvi, kamu lihat Gio?" Tanyaku saat berpapasan dengan Silvi.


" Gio sama Pak Nathan, mba. Itu mereka." Jawab Silvi dan menunjuk ke arah pantai.


Rupanya Nathan sudah membawa Gio bermain di pantai.


" Sayang." Panggilku pada Gio. Tetapi Nathan dan Gio kompak menoleh ke arahku.


" Makan dulu yuk." Ajakku. Aku takut Gio akan sakit jika belum sarapan.


" Aku udah makan, Ma." Tolak Gio. Aku menoleh ke Nathan.

__ADS_1


" Tadi kita udah sarapan."


" Oke. Jangan lama- lama ya." Ucapku pada anakku. Aku beralih menatap Nathan. " Kamu bilang mau liburan sama ibu. Mana ibu kamu?" Tanyaku penasaran yang memang tidak terlihat.


" Di kamar. Mungkin dia masih tidur." Jawab Nathan singkat dan kembali mengajak Gio bermain.


Sejak setahun lalu, tidak pernah aku melihat Gio tertawa selepas itu. Dia sangat gembira menghabiskan waktunya bersama Nathan.


Aku memasuki sebuah kamar yang katanya itu kamar Bu Fitri. Aku mengetuk pintu tapi tak kunjung ada jawaban. Akhirnya aku beranikan diri membuka pintu kamar itu perlahan. Dan aku mendapati Bu Fitri yang berbaring lemah. Ada seorang suster yang menjaganya.


Bu Fitri kenapa? Gumamku dalam hati. Tak pernah aku melihat ya selemah itu.


" Ibu kena stroke." Jawab Nathan yang tiba- tiba saja muncul di belakangku seolah dia tahu apa yang ada di benakku.


Aku tak mampu lagi berkata- kata. Air mataku jatuh membasahi pipiku. Selama ini, Bu Fitri sudah aku anggap seperti ibu kandungku sendiri. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi.


" Kematian Ayuna sangat memukul jiwa ibuku, jadi yaa seperti itulah keadaannya." Ujarnya singkat.


Apa? Ayuna meninggal. Berita ini sangat mengagetkanku. Aku hanya menutup mulutku, agar isak tangisku tak terdengar.


" Ibu sudah siap di ajak keluar, Sus?" Tanya Nathan pada suster itu.


" Sudah, Pak. Tapi jangan terlalu lama ya." Saran suster itu.


Dengan sigap, Nathan menggendong Bu Fitri dan perlahan menduduki Bu Fitri di atas kursi rodanya.


Tangan Bu Fitri terlihat sangat kaku. Bahkan dia tidak bisa menoleh ke arah manapun. Air matanya seketika jatuh ketika melihatku yang masih berdiri di ambang pintu.


Oh Tuhan. Betapa hancurnya hatiku melihat hal itu. Perlahan aku mendekati Bu Fitri dan mencium punggung tangannya.


" Maafin Senja, Bu. Senja gak tau keadaan ibu begini." Ucapku dengan isak tangis yang tak tertahankan.


Aku peluk tubuh rentanya yang sangat kurus. Benar- benar hatiku sangat hancur melihat Bu Fitri sakit seperti ini.


" Jangan nangis, Senja. Kasihan ibu." Ucap Nathan datar.


Aku segera melepaskan pelukanku dan menghapus air mataku juga Bu Fitri. " Aku akan bantu merawat Bu Fitri." Ujarku.


" Gak perlu. Udah ada suster yang jaga dia." Tolak Nathan dengan suara dingin.


Aku mengerti kenapa dia berubah. Semua hal yang dia alami terlalu menyakitkan. Kehilangan istri dan sekarang dia harus melihat ibunya tidak berdaya setiap hari.

__ADS_1


Nathan memang tampak gagah dan kuat di luar. Tetapi aku sangat tahu jika hatinya sangat rapuh.


__ADS_2