Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
123


__ADS_3

Randy terus mengembangkan senyumnya pada sahabatnya yang sejak tadi terlihat sedikit lesu. Sesekali Nathan memijat pelipisnya. Kepalanya sedikit berdenyut sejak pagi tadi.


" Kamu sakit Nath?" Tanya Randy.


Nathan menggeleng. " Cuma pusing dikit."


" Udah sukses masih aja sering pusing." Ledek Randy.


" Masih banyak yang belum tercapai. Jadi belum sukses." Sahut Nathan.


" Aish.. Kebanyakan maunya."


Nathan hanya menyunggingkan senyum tipisnya.


" Kamu masih ingat Rani anak fakultas ekonomi?" Tanya Nathan pada Randy.


Randy tampak sedikit berpikir mencoba mengingat sosok yang dimaksud Nathan.


" Ah.. Rani yang dulu sempet mau jadi gebetanmu." Ledek Randy dengan tawa renyahnya.


" Si*lan!" Nathan menyambit Randy dengan pulpen yang tadi dipegangnya.


" Lah.. benerkan. Dulu sempet kamu lirik." Ledek Randy lagi.


" Bukan dilirik. Cuma sedikit memuji." Ralat Nathan.


" Sama aja lah." Randy tak mau kalah.


" Terserahlah."


" Ada apa ni bahas Rani? Jangan bilang CLBK ya."


" Sembarangan." Sanggah Nathan cepat. " Kemarin sempat ketemu ama dia. Dan singkatnya cerita dia jadi korban KDRT dari suaminya."


" Gak usah di singkat kenapa. Gak ngerti tau!" Protes Randy.


" Udahlah. Pokoknya begitu." Sahut Nathan tak ingin menjelaskan lebih detail.


" Terus kenapa?"


" Gak apa- apa. Cuma mau kasih tau itu aja."


" Dih! Gak jelas banget!" Omel Randy merasa cerita Nathan sangat menggantung dan abu- abu.


" Penasaran yaaa." Ledek Nathan. Dia tahu betul bagaimana sifat ingin tahu sahabatnya ini. Senang sekali bisa mengusiknya.


" Ya terus bagaimana Nathan Ferdinand. Dia jadi korban kekerasan sama suaminya. Lalu apa lagi?" Tanya Randy sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


Nathan tertawa melihat reaksi Randy yangl


begitu penasaran. " Gak tau lagi." Nathan mengangkat kedua bahunya.


" Jangan cerita kalo gantung begini!" Protes Randy kesal.


" Dasar bapak- bapak rumpi!" Ledek Nathan lagi dan keluar dari ruangannya.


" Hoi! Nathan Ferdinand!" Teriak Randy kesal.


******


Senja yang tadi didatangi pihak kepolisian karena dimintai keterangan terkait laporannya dan Nathan tentang kasus Rani. Senja juga menyempatkan diri menjenguk Rani yang masih dirawat intensif di rumah sakit.


Wajah Rani penuh dengan luka lebam dan kepalanya diperban akibat di benturkan ke sudut meja oleh Regi. Suaminya.


" Kamu siapa?" Tanya Rani yang belum kenal dengan Senja.


Senja memberikan senyumnya dan menghampiri Rani. " Aku Senja. Istri Nathan." Jawab Senja dan duduk di kursi samping ranjang Rani.


Begitu mendengar nama Nathan. Air mata Rani jatuh begitu saja. " Terima kasih sudah menolongku." Ucap Rani dengan isak tangisnya.


" Sabarlah. Aku senang lukamu tidak ada yang serius." Ujar Senja.


Rani hanya bisa menangis membayangkan bagaimana dia selalu dibayangi ketakutan karena sikap suaminya. Bahkan anak tirinya yang masih berusia sembilan tahun bisa berlaku tidak sopan padanya.


Pengorbanannya selama lima tahun berakhir dengan meninggalnya sang ayah karena tidak mampu lagi melawan penyakitnya. Rani yang terus diam menerima perlakuan buruk suaminya. Hanya mampu pasrah ketika ancaman akan menghentikan pengobatan sang ayah. Kini dua bulan sudah setelah kepergian ayahnya. Rani sudah tidak tahan dengan kelakuan suaminya.


Cemburu buta dan juga perfeksionis. Jika ada kesalahan sedikit saja yang Rani lakukan. Pasti akan mendapat cacian bahkan tak jarang. Tangannya akan melayang memukul, menampar atau menjambak rambut Rani.


Pertemuan yang tidak sengaja dengan Nathan. Sosok lelaki yang dulu pernah mendekatinya tetapi dia langsung mundur begitu saja ketika Rani seolah menghindar darinya karena merasa tidak pantas bersanding dengan lelaki sempurna seperti Nathan. Lelaki yang banyak diagungkan dan di dambakan banyak wanita di kampusnya. Sedangkan Rani hanyalah seorang anak tukang sayur keliling yang beruntung bisa kuliah dengan beasiswa. Pertemuan dengan Nathan seolah memberikan sebuah harapan untuk kebebasannya dari jeratan lelaki seperti Regi.


" Kamu jangan sedih." Senja menepuk pelan bahu Rani yang sedikit berguncang.


" Entah bagaimana aku harus mengucapkan terima kasih pada kalian." Ujar Rani.


" Saling tolong menolong. Adalah suatu kewajiban kita. Aku dan Nathan hanya bisa membantumu sebatas ini." Ucap Senja.


Rani mengangguk mengerti.


" Sampaikan rasa terima kasihku pada Nathan." Ujar Rani menggenggam tangan Senja.


" Iya. Kamu harus bangkit lagi. Jangan meratapi lelaki seperti itu."


" Iya." Rani tersenyum. Sedikit merasa iri pada Senja. Dia pasti sangat bahagia menjadi istri Nathan. Lelaki yang sangat mengormati dan menghargai perempuan.


" Aku pamit ya. Jika ada apa- apa. Hubungi aku saja."

__ADS_1


" Terima kasih Senja." Ujar Rani.


Senja tersenyum dan keluar dari ruangan Rani.


******


" Assalammu'alaikum." Ucap Nathan ketika memasuki rumahnya.


" Wa'alaikumsalam."


Gio yang asik mengajak Yusuf bermain langsung berhambur menyambut Nathan dan mencium punggung tangan Nathan. Nathan mengacak pelan rambut Gio dan menghampiri istri dan ibunya yang sibuk menata meja makan.


" Kebetulan sekali kamu pulang cepat sayang." Senja mencium punggung tangan Nathan.


" Kita kedatangan tamu." Ujar Senja lagi.


" Oh ya. Siapa?"


" Nah. Itu." Senja menunjuk ke arah toilet.


Terlihat Gilang baru saja keluar dari toilet. Nathan segera menghampiri kakak iparnya dan mencium punggung tangan Gilang.


" Apa kabar, Kak?"


" Baik. Tumben kamu tidak lembur."


Nathan hanya menanggapi dengan senyuman kecil sindiran dari kakak iparnya.


" Kak Gita mana?"


" Dia tidak bisa ikut. Maklum sedang hamil muda." Ucap Gilang setengah berbisik namun Senja dan Bu Fitri tetap bisa mendengar jelas ucapan Gilang.


" Wah. Sayang. Kita akan punya ponakan lagi." Nathan berseru senang.


Senja hanya tertawa kecil melihat Nathan yang sebahagia itu mendengar istri kakak iparnya hamil. Nathan yang memang terlahir sebagai anak tunggal. Merasa hidupnya kini lebih berwarna dengan kehadiran keluarga Senja di hidupnya. Begitu menyenangkan jika kita mempunyai saudara kandung. Dimana kita bisa saling tumbuh bersama dan saling mendukung juga melindungi.


" Kak Gilang menginap kan?"


" Tidak. Kakak ke sini cuma minta kue buatan ibumu. Gita menginginkan itu." Ujar Gilang.


" Ahh iya. Terkadang memang keinginan wanita hamil ada- ada saja." Sahut Nathan dan di sambut gelak tawa yang lain.


" Waktu Gio di perut Mama. Papa belikan apa untuk Gio?" Sebuah pertanyaan polos meluncur begitu saja dari mulut Gio.


Tawa Nathan terhenti saat itu juga ketik mendengar pertanyaan Gio. Begitupun yang lain.


" Gio tidak pernah menyusahkan mama atau papa ketika Gio di perut Mama. Gio anak yang pintar." Ujar Nathan sambil menatap Gio dengan bangga.

__ADS_1


Gio tersenyum lebar mendengar jawaban Nathan.


__ADS_2