Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
66


__ADS_3

Senja menatap Gio yang tertunduk sedih. Tanpa terasa air matanya menetes. Dipeluknya erat putranya sambil membelai lembut punggung Gio.


" Maafin mama ya sayang. Gara- gara mama Gio jadi dikatain temen- temen Gio." Ucap Senja lirih.


Gio hanya mengangguk dalam pelukan Senja.


" Sekarang kan Papa udah tinggal bareng sama kita. Gio jangan sedih lagi ya." Senja mencium kedua pipi Gio.


" Iya. Gio mau pamer sama teman- teman Gio. Kalo Papa Gio ganteng." Ucapnya dengan senyum bahagianya. Jika mengingat Nathan selalu saja Gio merasa bahagia. Di hati Gio. Nathan bukan hanya sekadar seorang ayah tetapi juga seperti superhero yang akan selalu melindunginya dan ibunya.


*****


Nathan bersandar pada kursi penumpang. Di pijitnya pelan pelipisnya. Kepalanya sedikit berdenyut karena masalah yang tadi. Perusahaannya kembali merugi karena kecurangan karyawannya. Apakah ada yang salah dengan dirinya.


" Bapak kelihatan capek banget." Ucap Pak Tarno yang melihat bosnya hanya diam sambil memijit pelipisnya dari kaca spion.


Nathan menarik nafas panjang. " Menurut Pak Tarno. Saya ini bagaimana?"


" Bagaimana apanya, Pak?" Pak Tarno tidak mengerti.


" Yaa saya orang yang seperti apa dimata karyawan saya?" Nathan menjelaskan.


" Ohh itu... Bapak itu orangnya baik. Perhatian sama karyawannya. Kalo denger ada karyawan bapak yang sakit atau terkena musibah. Bapak gak pernah segan membantu. Iya toh." Pak Tarno menuturkan dengan senyum yang terus mengembang.


Nathan hanya tersenyum kecil mendengar hanya pujian yang dia terima.


" Tapi .. Bapak itu terlalu baik. Makanya terkadang ada oknum yang mencoba memanfaatkan kebaikan Bapak. Sesekali Bapak bertindak tegas gak papa. Untuk memberikan efek jera dan menjadi pelajaran untuk yang lain." Sambung Pak Tarno lagi.


" Saya bukan terlalu baik, Pak. Tapi saya cuma gak mau saya berbuat tidak adil." Nathan mencoba untuk berargumen.


" Iya.. Tapi maaf ya pak sebelumnya. Bapak jangan terlalu baik. Apa lagi terhadap karyawan yang ketahuan menggelapkan dana perusahaan. Kalo dibiarkan terus. Usaha Bapak bisa bangkrut. Gimana nasib karyawan Bapak yang mengabdi dengan sepenuh hati." Ujar Pak Tarno seperti mengetahui masalah apa yang sedang dialami bosnya itu.

__ADS_1


Nathan menarik nafas panjang dan kemudian berpikir. Ada benarnya juga apa yang dibicarakan Pak Tarno. Jika dibiarkan. Akan timbul tikus- tikus yang lain. Nathan harus mengambil kebijakan lain untuk melindungi perusahaannya.


' DRrrrrttt'


Ponsel Nathan bergetar. Dilihatnya ada nama Friska terpampang jelas pada layar ponselnya. Dengan perasaan segan dia mengangkat juga panggilan telepon itu. Karena biar bagaimanapun perusahaannya sudah terikat kontrak dengan perusahaan Friska.


" Selamat sore. Ada apa Ibu Friska?" Jawab Nathan dengan nada datar.


" Bisa kita bertemu sekarang? Ada hal yang mendesak harus kita bicarakan." Jawab Friska.


" Saya sangat lelah hari ini. Bagaimana jika besok saja."


" Ini mendesak, Pak Nathan. Saya tunggu anda di kantor saya ya." Ucapnya dan menutup panggilan telepon itu.


Nathan berdecak sedikit kesal. Ada masalah apa lagi yang akan menimpanya. Nathan mengusap kasar wajahnya. Dan menatap jalanan dari kaca mobilnya.


"Kita ke kantor Friska, Pak." Perintah Nathan.


" Ini sudah sangat sore, Pak. Kemungkinan sampai sana malam." Pak Tarno sedikit curiga.


Dirinya sudah sangat lelah karena masalah ini. Proyeknya sangat mandek. Padahal selama ini. Dia tidak pernah meleset dari target. Karena kecurangan anak buahnya. Dia harus mendapat kerugian yang sangat besar.


Hari telah malam. Setelah tadi Nathan menyempatkan berhenti di sebuah Masjid untuk melaksanakan shalat. Dia menuju kantor Friska. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sudah terlalu malam sebenarnya untuk bertamu menemui klien.


Kantor Friska terlihat mulai sepi karyawan. Dengan perasaan ragu. Nathan membuka pintu ruangan Friska dan melihat Friska sedang duduk di sebuah sofa menunggunya.


" Akhirnya anda sampai juga. Maaf harus memaksa anda ke sini sekarang juga." Ucap Friska dengan senyumnya mempersilahkan Nathan untuk duduk.


Nathan duduk di hadapan Friska. " Sebenarnya ada masalah apa?"


" Minumlah dulu. Anda pasti sangat lelah dalam perjalanan."

__ADS_1


" Terima kasih." Nathan menyeruput sedikit teh hangat yang memang telah terhidang. Mungkin security di depan sudah mengabari Friska. Jadi dia meminta OB nya untuk segera menyiapkan minum untuknya.


Friska tersenyum. Di tatapnya tajam wajah Nathan yang mulai tampak kegerahan.


Nathan sedikit melonggarkan dasinya. Entah kenapa tiba- tiba saja badannya terasa panas. Berkali-kali dia menggosok tengkuknya yang terasa panas. Dia berusaha mengendalikan hasrat besar yang tiba- tiba saja muncul.


" Anda baik- baik saja?" Tanya Friska dan mendekati Nathan. Friska mencoba untuk menyentuh pundak Nathan. Tapi dengan sigap. Nathan menepis tangan Friska.


" Maaf saya harus pulang." Ucap Nathan segera bangkit. Dirinya mulai tidak tahan dengan gairah yang mulai memuncak. Dia tidak ingin melepaskan pada orang yang salah. Walaupun tidak bisa dipungkiri dia sangat ingin mengungkung tubuh Friska saat itu juga.


Nathan segera berjalan cepat menuju pintu ruangan Friska. Namun Friska kembali menghadang Nathan. " Ku mohon. Aku harus pulang sekarang juga."


" Kita belum membahas masalah kita." Ucap Friska dengan senyum menggoda.


Nathan yang sudah sangat tidak tahan dengan yang muncul pada dirinya hanya mendengus kesal. Sebisa mungkin dia mengendalikan hasratnya. " Apa anda memasukkan obat pada minuman saya?" Tanya Nathan ketus.


Friska tersenyum licik dan mendekati Nathan. Nathan mundur menjauhi Friska tetapi Friska terus saja mendekatinya seperti orang yang sedang menawarkan dirinya untuk melepaskan yang sedang ditahan Nathan.


" Jangan gila kamu!" Bentak Nathan akhirnya dan segera menggeser tubuh Friska kasar hingga wanita itu tersungkur.


Nathan segera berlari keluar ruangan Friska. Dia segera menuju mobilnya. Pak Tarno yang sejak tadi terlihat asik sedang mengobrol dengan security yang berjaga di sana. Langsung berlari menuju mobil melihat Nathan dengan terburu- buru masuk ke dalam mobil.


" Sudah selesai masalahnya, Pak?" Tanya Pak Tarno sebelum melajukan kendaraannya.


Nathan tidak menjawab. Dia melepas dasi yang melingkar. Tubuhnya semakin terasa panas.


Pak Tarno menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh bosnya. Tidak biasanya bosnya itu melepaskan dasinya sebelum sampai di rumah. Peluh juga membasahi diri Nathan.


Pak Tarno segera melajukan mobilnya menuju kediaman bosnya.


Sesampainya di rumah. Dengan wajah terhuyung. Nathan mendatangi Senja yang sejak tadi asik menonton tv bersama Bu Fitri sambil menunggu dirinya.

__ADS_1


Tanpa salam apapun, Nathan menarik tangan Senja. Dia tidak ingin menahan semuanya lebih lama. Nathan segera melakukan pelepasan pada istrinya. Senja hanya menatap Nathan dengan wajah sedih. Tidak seperti biasanya. Suaminya melakukan hal itu dengan sedikit kasar. Ada apa dengan suaminya hari ini. Dia menatap lekat wajah lelah suaminya yang habis memacu dirinya. Senja membelai lembut pucuk kepala Nathan. Dengan air mata yang membasahi pipinya. Senja mengecup lembut kening Nathan.


Nathan yang merasakan kecupan hangat istrinya membuka matanya. Kesadarannya mulai pulih. Dia melihat istrinya tengah menangis dalam diam. Nathan menyeka air mata yang Senja teteskan.


__ADS_2