
Senja menatap suaminya yang sedang asik bersandar sambil memainkan ponselnya. Kedatangan istrinya tidak dia sadari. Senja hanya tersenyum dan berjalan perlahan menghampiri Nathan.
" Kamu whatsapp ama siapa?" Tanya Senja sedikit penasaran karena terlihat suaminya tersenyum simpul.
" Temen di grup sekolahku dulu." Nathan memperlihatkan isi chat nya.
" Randy kenal?"
" Iya. Ada Randy juga di grup." Nathan meletakkan ponselnya dan merangkul istrinya yang duduk di sebelahnya.
" Kamu tau. Ini semua masih terasa seperti mimpi." Ujar Nathan yang kini sudah memeluk Senja.
" Aku juga. Bertahun- tahun aku berusaha keras melupakan kamu. Tapi ternyata sekarang kita berjodoh." Timpal Senja dan mengecup lembut pipi Nathan.
Nathan semakin mengeratkan pelukannya.
" Maafin aku ya." Ujar Senja.
" Untuk?"
" Seharusnya dulu aku tidak pernah ninggalin kamu. Seharusnya aku terus terang sama kamu tentang kehamilan aku. Bukannya pergi ninggalin kamu." Sesal Senja kembali jika mengingat kejadian yang dulu.
" Sssttt.." Nathan meletakkan jari telunjuknya pada bibir Senja tak ingin mendengarkan kalimat selanjutnya lagi. " Jangan dibahas lagi sayang." Ujar Nathan lembut dan mengecup kening Senja dengan penuh cinta.
Senja menangis haru. Dia bahagia jika yang pada akhirnya menjadi suaminya adalah pria yang sangat dia cintai. " Oh iya. Lukamu bagaimana? Maaf aku tidak perhatikan karena seharian ini aku asik temanin ibu."
Nathan tersenyum dan langsung saja menyingkap sedikit bajunya memperlihatkan luka yang sudah mulai mengering.
" Apa masih sakit?" Senja menyentuh luka Nathan.
" Sedikit."Jawab Nathan sembari meringis menahan sakit. Luka itu memang cukup dalam. Jadi butuh waktu yang lumayan lama agar luka itu benar- benar sembuh.
" Gio sudah tidur?" Tanya Nathan.
" Sudah. Dia senang sekali bisa tinggal satu rumah dengan kamu."
.Nathan tersenyum. " Maaf ya. Aku belum bisa buatin adik Gio." Goda Nathan berbisik di telinga Senja.
__ADS_1
Seketika wajah Senja merona malu. " Sudah. Kita tidur saja." Senja mengalihkan pembicaraan dan segera tidur dengan membelakangi Nathan.
Nathan hanya tersenyum melihat istrinya tersipu malu seperti itu. Dengan lembut dia memeluk istrinya dari belakang. Tanpa disadari Nathan. Jantung Senja berdegup sangat cepat tidak beraturan.
*****
Tiga hari berlalu sudah. Masa cuti Nathan telah berakhir. Hari pertama Nathan bekerja dengan status barunya. Menjadi suami lagi. Dengan cekatan. Senja menyiapkan semua perlengkapan Nathan bekerja. Mulai dari pakaian sampai sarapan. Gio juga sudah duduk dengan wajah cerianya di meja makan.
" Makan dulu, Nath." Ujar Bu Fitri ketika melihat Nathan keluar kamar dengan terburu- buru.
Nathan melirik sebentar jam tangannya. " Tidak sempat, Bu." Ujar Nathan dan mencium punggung ibunya lalu mengecup kening Senja dan Gio bergantian.
" Kenapa sayang?" Tanya Senja dengan raut wajah kecewa.
Nathan menarik nafas dan menghentikan langkahnya melihat istrinya kecewa. " Klien baruku sangat bawel. Dia minta meeting pagi ini." Jawab Nathan berharap Senja mengerti dan tidak kecewa lagi. " Sarapannya aku bawa ke kantor aja." Ujar Nathan mendapatkan ide.
Senja sumringah dan dengan cekatan dia memasukkan makanan yang telah dia siapkan sejak tadi. Tidak lupa dengan secangkir kopi susu yang sudah dia buat tadi. Lalu memberikan bekal makanan itu pada Nathan.
" Terima kasih sayang." Nathan menerima bekal itu.
" Insyaa Allah." ujar Nathan dan segera pamit.
Dalam perjalanan. Nathan memanfaatkan waktu untuk kembali membaca proposal yang diberikan Camila saat itu. Beberapa kali Nathan seperti menimbang sesuatu dan kemudian dia mengkroscek kembali semua data yang ada di sana. Dia tidak mau ambil resiko jika dengan gegabah mengambil projek dari luar negeri itu.
" Silvi. Apa tamu saya sudah datang?" Tanya Nathan ketika dia baru saja sampai di depan meja Silvi.
" Sudah Pak. Mereka menunggu anda di dalam." Silvi mempersilahkan bosnya masuk ke dalam ruangan.
Nathan menarik nafas panjang. Benar saja ketika dia membuka pintu ruangan itu. Dua orang itu sudah menatapnya dengan tidak suka karena datang terlambat.
" Apakah begini sikap seorang direktur utama?" Sindir Camila pada Nathan.
" Ini belum masuk jam kerja saya." Jawab Nathan tegas tak ingin dia terintimidasi oleh Camila.
" Tetapi saya sudah memberikan kabar jika saya akan datang pagi ini." Camila mendebat Nathan tidak suka.
" Memberikan kabar dengan mendadak." Nathan sedikit mempertegas kalimatnya dan menatap Camila tajam.
__ADS_1
Camila mendadak terdiam. " Saya rasa tidak perlu lagi berurusan dengan anda lama- lama. Saya menolak kerja sama kita." Ucap Nathan dengan menyerahkan proposal yang pernah diberikan Camila padanya.
" Apa?!" Seru Camila tidak percaya dengan ucapan Nathan. " Perusahaan saya sudah sangat besar." Ucap Camila dengan nada tinggi.
" Saya tau. Tetapi saya tidak bersedia bekerja sama dengan orang yang suka seenaknya. Saya sudah bilang akan memberikan kabar. Tapi sebelum saya berikan kabar. Anda dengan seenaknya meminta meeting di jam yang sangat pagi. Saya harus selalu mengikuti kemauan anda. Lalu bagaimana saya akan melindungi bawahan saya jika saya tidak bisa melindungi hak saya pribadi!" Cecar Nathan dengan semua keluhan yang sudah dia simpan. Seandainya saja Camila tidak bersikap sombong. Dia pasti akan menyetujui kerja sama itu.
Tetapi Nathan adalah orang yang tidak suka merendahkan orang lain dan dia paling tidak suka jika di rendahkan oleh orang lain pula. Sikap Camila seakan sedang merendahkan Nathan agar selalu mengikuti kemauan dia.
" Anda akan menyesal tuan Nathan." Ucap Camila ketus dan menatap Nathan tajam.
" Silahkan anda keluar dari ruangan saya." Nathan tak kalah tajam menatap Camila.
Dengan perasaan kesal, Camila pergi dari ruangan Nathan. Hatinya terus saja mengutuk perkataan yang terlontar dari mulut Nathan. Baginya, Nathan sangat jual mahal dan sangat ingin dihargai.
" Sudah aku bilang. Nathan adalah orang yang menjunjung tinggi nilai kesopanan." Grace. Asisten Camila sekaligus sahabat Camila menyesalkan perbuatan Camila.
" Akan aku buat dia bertekuk lutut." Ancam Camila tidak mempedulikan ucapan Grace.
Grace hanya menarik nafas panjang.
" Kamu cari tahu semua tentang Nathan." Titah Camila.
" Untuk apa lagi. Kita tidak punya kerja sama dengan dia." Grace merasa keberatan dengan tugas yang diberikan Camila.
" Kamu hanya perlu cari tahu tentang dia." Bentak Camila kesal. " Dia adalah orang pertama yang menolak kerja sama dengan perusahaan kita. Aku ingin tahu. Seberapa hebat dia." Ucap Camila penuh dendam.
Grace hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Camila. Dia sudah tahu benar bagaimana sikap keras kepala Camila dan betapa arogannya dia. Perusahaan yang dibangun keluarganya bisa hancur jika terus dipegang Camila.
" Apa tidak sebaiknya kamu introspeksi diri dulu?" Saran Grace lembut.
Camila langsung menatap Grace tajam. " Aku tidak suka cara bicaramu!" Camila geram.
" Aku hanya memberi saran. Lagipula informasi yang aku dapatkan tentang Nathan sudah aku berikan semua kepadamu."
" Aku butuh informasi yang lebih dalam."
Grace hanya menarik nafas panjang dan berat.
__ADS_1