Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
31


__ADS_3

" Aw...!" Senja meringis kesakitan ketika tubuhnya dihempaskan begitu saja oleh anak buah Sintia dari mobil hingga tubuhnya tersungkur di aspal persimpangan jalan ke rumahnya.


Dengan tubuh lemahnya. Senja berusaha bangkit. Telapak tangannya terasa perih karena menghantam aspal. Kepalanya juga sedikit berkunang karena sejak kemarin perutnya tidak masuk apapun.


Dengan tubuh terhuyung. Senja memaksakan tubuhnya berjalan menembus heningnya malam. Sengaja mereka mengantarkan Senja tengah malam seperti ini agar tidak ada yang melihat perbuatan mereka.


" Biar aku bantu." Suara seorang wanita menawarkan bantuan yang secara tiba- tiba ada di samping Senja.


Senja yang lemah hanya pasrah ketika dia memapah tubuhnya menuju rumah Senja yang sudah terlihat.


" Apa kamu sudah makan?" Tanya wanita yang tidak di kenal Senja. Senja menggeleng lemah.


Dia tersenyum dan menelepon seseorang untuk membawakannya makanan dan juga minuman.


" Aku Nabila. Kamu pasti Senja." Ujarnya memperkenalkan dirinya.


Senja hanya tersenyum. Dirinya sangat lemah bahkan untuk berbicara sekalipun rasanya sangat berat.


Nabila tersenyum menatap wanita di depannya. Dia kemudian mengambil handuk kecil yang sengaja dia bawa dan membasahkan sedikit handuk itu.


Perlahan Nabila menyeka peluh Senja di wajah tangan serta kakinya. Hingga terlihat kini wajah Senja jauh lebih baik daripada tadi.


Senja menyantap makanan yang diberikan Nabila dengan lahap. Tak dipedulikannya tatapan Nabila yang terus tersenyum menatapnya.


" Dari mana kamu tahu namaku?" Tanya Senja yang kini sedikit lebih bertenaga setelah makan.


" Nathan." Nabila tersenyum.


" Kamu kenal Nathan?" Senja menatapnya bingung.


" Iya. Aku juga kenal dengan wanita yang menculikmu."


Senja semakin bingung dengan wanita dihadapannya. " Tenang saja. Aku berada di pihak Nathan." Nabila menjelaskan.


Senja tersenyum lega. Walaupun semua ini masih membuatnya bingung.


" Kamu beristirahatlah. Tenang saja. Besok akan aku jemput pangeranmu."


" Terima kasih." Ucap Senja yang masih bingung harus berkata apa.


*****


Sintia menatap tajam ke arah Nathan yang masih berdiri karena tangannya masih terikat di teralis jendela kamarnya. Sintia menyeringai licik dan perlahan berjalan menghampiri Nathan. Dengan kasar dia memegang dagu Nathan hingga memaksa pria itu menatapnya.

__ADS_1


" Kamu tahu apa yang paling aku benci?" Sintia merapatkan giginya karena merasa geram dengan sikap Nathan. Nathan hanya diam tak menanggapi.


" Aku paling benci ketika apa yang aku inginkan tidak aku dapatkan." Sintia menghempaskan wajah Nathan Kasar.


" Baru kali ini aku mencintai lelaki. Tetapi ini yang aku dapatkan." Sintia terlihat marah.


" Kamu sudah mendapatkan aku." Sahut Nathan dengan wajah yang masih tenang.


Sintia kembali menyeringai kesal. " Aku ingin kamu seutuhnya!"


" Aku tidak bisa."


" Kamu harus bisa. Atau aku akan melenyapkanmu!" Ancam Sintia.


" Silahkan lakukan." Ujar Nathan pasrah.


" Kenapa kamu tidak memohon agar aku memberimu kesempatan!" Maki Sintia kesal karena Nathan tidak takut dengan ancamannya.


" Untuk apa meminta pada manusia. Jika aku punya Tuhan. Jika Allah masih memberiku umur yang panjang. Apapun yang kamu lakukan. Aku akan tetap hidup. Jika Allah hanya memberiku hanya hari ini. Tanpa kamu melakukan apapun. Aku akan kembali padaNya."


" Jangan menceramahiku!" Sintia menampar keras pipi Nathan.


Nathan hanya tersenyum. " Aku tidak menceramahi siapapun."


Nathan hanya diam tak menjawabnya. Sebenarnya kaki sudah sangat pegal berusaha menopang tubuhnya. Dan tangannya mulai terasa sedikit sakit. Karena ikatannya sangat kencang.


" Lakukan apapun yang bisa membuatmu lega." Ujar Nathan berpasrah pada keadaannya.


" Kamu yang meminta!" Sintia berbicara ketus dan membuka pintu kamarnya.


Tiga anak buah Sintia yang berbadan besar dan tegap memasuki ruangannya berjalan menghampiri Sintia.


" Beri dia pelajaran!" Perintah Sintia pada mereka.


Ketiga anak buahnya segera mengepung Nathan yang masih terikat tak berdaya. Secara bersamaan mereka memukuli Nathan. Kepala, wajah perut hingga kaki tak luput dari pukulan dan tendangan mereka.


Sintia duduk di sofa yang ada di kamarnya menikmati pemandangan yang menurutnya menakjubkan. Sangat dia nantikan Nathan akan memohon ampunan kepadanya. Tetapi sepuluh menit berlalu. Wajah Nathan sudah babak belur tak karuan. Bibir hingga hidungnya sudah mengeluarkan darah segar. Tak juga terdengar dia memohon pada Sintia. Hanya erangan kesakitan yang terdengar ketika menerima pukulan yang bertubi-tubi.


" Hentikan!" Perintah Sintia tiba- tiba.


Ketiga anak buahnya pun menuruti perintah Sintia. Mereka serentak menghadap Sintia yang berjalan menghampiri mereka. Hanya Nathan yang tertunduk lemah.


Tubuhnya bergelayut karena kakinya sudah benar- benar tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Darah segar menetes dari mulut dan hidungnya.

__ADS_1


" Kenapa kalian membuat wajahnya seperti itu?!" Teriak Sintia marah.


" Maaf!" Hanya kata itu yang terdengar dari ketiga anak buahnya dengan wajah tertunduk merasa bersalah.


" Dasar bodoh!" Maki Sintia lagi.


Sintia mendekatkan wajahnya pada wajah Nathan yang kini lebam. " Kenapa kamu tidak memohon padaku?!" Geram Sintia. " Kenapa Tuhanmu tidak membantumu?!" Ejek Sintia lagi.


Nathan menatap tajam Sintia. Bola matanya merah karena mendapat pukulan dari anak buah Sintia. " Tuhanku tidak pernah meninggalkan aku!"


" Aku akan melepaskanmu. Jika kamu memohon padaku."


Nathan hanya tersenyum mengejek. Dia hanya memalingkan wajahnya dari Sintia. Perempuan iblis sepertinya tidak akan pernah memahami apa itu Tuhan, cinta dan ketulusan. Nathan juga sudah lelah jika harus hidup di bawah ancamannya. Biarlah kini dia serahkan sepenuhnya pada Allah. Dia percaya bahwa Allah akan menolongnya.


" Bersihkan wajahnya." Perintah Sintia pada anak buahnya.


Dengan sigap salah satu dari mereka segera mengambil tisu dan perlahan menyeka darah yang ada di wajah Nathan.


" Apakah harus kita beri obat?" Tanya seorang lagi yang melihat wajah Nathan terluka cukup parah karena perbuatan mereka.


" Tidak perlu. Kecuali dia mau menuruti yang aku mau." Larang Sintia.


Sintia menatap Nathan geram. Baru kali ini dia menemukan pria yang sangat teguh pendiriannya. Biasanya pria yang sudah- sudah. Akan langsung bertekuk lutut kepadanya ketika mereka tahu siapa Sintia. Kekayaan dan kekuasaan ada dalam genggaman tangannya. Hingga tak jarang dari mereka yang enggan pergi dari sisi Sintia. Sampai Sintia sendirilah yang akan membuang mereka. Nathan. Lelaki yang malah membuatnya bertekuk lutut. Sangat sulit dia dapatkan.


Nathan masih terkulai lemah dengan tangan masih terikat. Sintia melihatnya nanar. Ada perasaan tidak tega melihat orang yang dia cintai menderita seperti itu. Tetapi mengingat Nathan yang selalu menolaknya membuatnya ingin memberi pelajaran pada pria ini. Sintia ingin Nathan takluk dan bertekuk lutut kepadanya. Seperti lelaki lain yang pernah dia miliki.


" Sintia." Panggil Nathan lemah.


" Ada apa?"


" Bolehkah aku minum?" Tanya Nathan yang merasa tenggorokannya sangat kering.


" Aku tidak akan memberimu apapun kecuali jika kamu memohon padaku." Tolak Sintia tegas.


" Baiklah." Ujar Nathan dan kembali berusaha berdiri menopang tubuhnya.


Sintia menyeringai penuh kemenangan.


" Apa kamu menyerah?" Tanya Sintia tak sabar menunggu kalimat Nathan.


Nathan tersenyum tipis dan hanya diam menyandarkan dirinya.


Sintia kembali menatap Nathan marah. Perkiraannya kembali meleset. Pertahanan Nathan lebih kuat dari yang dia kira.

__ADS_1


__ADS_2