
" Kamu belum tidur, Vir?" Tanya Senja ketika melihat Virni sedang membuat teh di dapurnya padahal jam sudah menunjukkan jam sembilan malam.
Virni menoleh sekilas. " Aku tidak bisa tidur. Apa kamu mau teh?" Tanya Virni menawarkan.
" Boleh." Senja duduk pada kursi di meja makan.
" Tadi aku sempat tertidur. Tetapi mimpi itu terus bermunculan. Membuatku takut." Ujar Virni dan menyuguhkan segelas teh hangat pada Senja.
" Terima kasih. Mimpi apa?"
" Suamiku yang terus memukuliku." Ujar Virni dengan wajah tertunduk.
" Sabar, Virni. Apa Langkah selanjutnya yang mau kamu ambil?"
" Aku ingin berpisah darinya Senja. Aku tidak tahan harus hidup bersamanya lagi." Ucap Virni dengan derai air mata.
" Aku akan membantu." Senja menenangkan Virni.
" Berkali- kali aku kehilangan calon anakku hanya karena dia meragukan itu anak siapa yang aku kandung. Apa aku serendah itu dimatanya?" Air mata Virni kembali mengalir deras mengenang kejadian yang dia alami.
Senja menarik nafas panjang. " Tenanglah. Sekarang kamu aman." Ujar Senja. " Aku ke depan dulu. Sepertinya suamiku pulang."
Virni menyeka air matanya. Senja sedikit mengintip dari balik jendela dan benar saja. Nathan sudah berjalan menghampiri pintu utama.
" Assalammu'alaikum."
" Wa' alaikumsalam." Sahut Senja dan segera mencium punggung tangan suaminya mengambil tas yang dibawa Nathan.
Nathan mengecup mesra kening Senja. " Kenapa belum tidur sayang?"
" Aku menunggumu." Jawab Senja dan mengiringi langkah Nathan menuju kamarnya.
Nathan hanya melemparkan senyum ketika melihat Virni duduk di meja makan dan berlalu memasuki kamarnya.
" Aku mau bantu Virni mengurus perceraiannya pada suaminya. Apa boleh?" Tanya Senja ketika Nathan melepaskan satu persatu kemeja dan jasnya.
" Memang ada masalah apa sampai harus bercerai?"
" Virni selalu dianiaya bahkan dia sampai mengalami keguguran. Kasihan jika dia harus hidup dengan lelaki seperti itu." Ujar Senja dengan nada lirih.
Nathan duduk di samping Senja. " Aku tidak mau kamu ikut campur dengan masalah temanmu." Ujar Nathan lembut.
" Tapi kasihan Virni, Nath."
" Aku mengerti. Tapi kita tidak berhak ikut campur dalam urusan mereka. Jika dia mau mengurus perceraiannya. Biarlah dia yang mengurusnya sendiri." Ujar Nathan memberi pengertian pada Senja.
__ADS_1
" Kamu tidak mau bicara dengannya, sayang? Sejak kemarin kamu dan Virni belum bicara sama sekali."
" Ini sudah malam. Aku sudah lelah sayang."
" Baiklah. Apa kamu sudah makan?"
" Sudah. Aku mau mandi dulu. Kamu tidurlah. Kasihan anak kita diajak begadang ibunya."
Senja tersenyum mendengar gurauan kecil Nathan dan merebahkan tubuhnya pada kasurnya yang empuk.
" Selamat pagi, Papa." Sambut Gio manja pada Nathan yang baru keluar kamar dengan pakaian rapi.
" Apa kamu buru- buru lagi?" Tanya Bu Fitri melihat putranya sudah siap untuk berangkat bekerja.
" Sedikit santai, Bu." Nathan duduk pada kursinya.
Dengan sigap. Senja menyiapkan sarapan untuk Nathan.
" Bagaimana rasanya? Apa enak?" Tanya Senja dengan wajah antusias.
" Apa kamu mencoba resep baru?"
Senja menggeleng cepat. " Bukan aku yang memasak. Tetapi Virni." Jawab Senja.
Nathan hanya sedikit berO saja dan kembali makan tanpa berkomentar. Setelah sarapan. Nathan berpamitan untuk bekerja.
" Maaf sebelumnya. Kamu tidak perlu repot menyiapkan makan untukku."
" Aku merasa tidak enak saja jika menumpang dengan cuma- cuma." Ujar Virni tak berani menatap wajah Nathan.
" Bersantailah. Jika sudah lebih baik. Kamu bisa pindah dari sini." Sahut Nathan dengan nada dingin dan berlalu tanpa menerima kotak makan yang diberikan Virni.
Dengan cepat, Senja meraih kotak makan yang disodorkan Virni dan membawakannya pada Nathan yang sudah sampai di pintu mobilnya.
" Bekalmu ketinggalan sayang." Ujar Senja memberikan kotak makan itu.
Nathan hanya tersenyum. " Untukmu saja." Tolak Nathan halus dan masuk ke dalam mobilnya.
" Tapi kasihan Virni sudah cape membuatkan ini untukmu." Senja kembali memaksa.
Nathan menarik nafas panjang. Tak tega melihat wajah kecewa istrinya. " Aku akan terima kali ini. Tetapi tidak ada lagi lain kali jika dia kembali membuatkan aku bekal." Ujar Nathan.
" Kenapa?"
Nathan kembali menarik nafas dan membuangnya kasar. Entah pikiran Senja yang terlalu polos atau dia terlalu b*doh hingga tidak sadar jika temannya berusaha mengambil hati orang- orang rumah.
__ADS_1
" Aku harus ke kantor Senja." Ujar Nathan dan segera melajukan mobilnya.
Senja berjalan kembali memasuki rumahnya dan bersiap untuk mengantar Gio ke sekolah. Virni juga telah selesai merapikan meja makan dibantu Bi Sumi.
" Bagaimana ini?" Senja berseru riuh sambil membawa berkas Nathan yang tertinggal.
" Ada apa, Senja?"
" Berkas Nathan tertinggal. Aku harus mengantar Gio. Aku takut dia membutuhkannya pagi ini." Ujar Senja bingung.
Dengan cepat Virni langsung mengambil berkas itu. " Biar aku mengantarnya. Berikan saja alamatnya, Senja." Ujar Virni.
" Terima kasih Vir. Maaf merepotkan mu."
" Tidak masalah."
Dengan senyum yang terus merekah pada wajahnya. Virni berjalan menuju kantor Nathan yang berada di lantai 17.
" Mau bertemu siapa, Bu?" Tanya security yang berjaga.
" Pak Nathan. Mau memberikan berkas yang tertinggal." Ujar Virni.
" Sebentar." security itu meminta Virni menunggu dan menghubungi Silvi.
" Sekretarisnya bilang ibu bisa titipkan saja pada saya. Nanti biar saya yang memberikan pada beliau."
Virni tampak kesal. " Aku akan memberikannya langsung. Ini dokumen penting yang tidak boleh sembarangan orang melihat." Ujar Virni dan menerobos masuk.
" Ibu jangan membuat gaduh." Security itu kembali mencegah Virni.
Virni menarik nafas panjang. Dan kedua netra matanya membesar ketika melihat Nathan keluar dari ruangannya.
" Nathan." Panggil Virni.
Nathan melihat Virni yang dihadang security segera menghampiri. " Ada apa?" Tanyanya dengan wajah dingin.
" Senja memintaku mengantarkan ini." Virni memberikan berkas yang sejak tadi dipegangnya.
" Bukankah sudah saya suruh dia menitipkannya pada kalian?" Tanya Nathan beralih pada security itu.
Mereka tertunduk." Sudah, Pak. Tetapi ibu ini memaksa ingin memberikan langsung pada Bapak." Jawab Security itu.
Nathan beralih melihat Virni dengan menatap tajam. " Kamu bisa pulang." Ucap Nathan dingin.
" Bisakah kita minum kopi bersama?"
__ADS_1
Nathan melirik jam tangannya. " Masih terlalu pagi untuk bersantai." Ucap Nathan dengan nada dingin dan meninggalkan Virni yang tertegun karena merasa diacuhkan Nathan.