
" Papa. Nanti temenin Gio ya ke sekolah." Ujar Gio saat mereka semua sedang duduk di meja makan.
Nathan yang sejak tadi mengunyah makanannya menatap Gio lekat. " Emangnya ada apa? kok tumben kakak minta di temenin papa."
" Hari ini kan pembagian raport, Pa. Kasian kalo mama. Kan udah repot jagain dede Yusuf." Jawab Gio.
Nathan yang memang sama sekali jadwal kegiatan Gio di sekolah segera menatap Senja penuh tanya dan Senja hanya menjawab dengan Anggukan kecil seolah mengerti arti tatapan Nathan. Nathan beralih menatap Gio. " Oke. Papa ke kantornya setelah ambil raport kamu." Jawab Nathan membuat reaksi Gio bersorak kegirangan.
" Jangan tebar pesona ya sayang." Ujar Senja pada Nathan yang sudah berada di dalam mobil dengan Gio.
" Iya sayang." Sahut Nathan lembut dan melajukan kendaraannya saat gerbang sudah dibuka Pak Mamat.
" Kamu kenapa senyum- senyum?" Tanya Nathan pada Gio yang diam- diam menahan senyumnya.
" Mama lucu. Mama cemburu sama Papa." Ujar Gio polos.
Nathan mengusap pelan wajah Gio. " Anak kecil." Ucapnya. " Emangnya kamu tau cemburu itu apa?"
" Mama takut kehilangan papa." Jawab Gio dengan wajah polosnya.
" Anak SD udah mulai tau ya cemburu. Tau darimana kamu?"
" Dari handphone." jawab Gio.
Nathan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia yang terlalu sibuk terkadang lupa bahwa anak pertamanya masih harus diawasi. Nathan mengacak lembut pucuk kepala Gio.
Tak membutuhkan waktu lama. Nathan dan Gio telah tiba di sekolah Gio. Nathan menggandeng tangan Gio. Seperti biasa. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri para kaum hawa. Nathan tampak tak peduli dengan tatapan penuh kekaguman yang mengarah padanya. Nathan menuju kelas Gio yang memang berada disudut sekolah.
" Permisi." Ucap Nathan sebelum masuk.
" ya." jawab wali kelas Gio dan terperangah ketika melihat Nathan berada diambang pintu.
Begitupun para wali murid yang lain. Mereka yang pernah dengan sengaja ke rumah mereka dengan alasan menjenguk Gio pun masih menatap Nathan lekat. Seolah ingin menerkam mangsanya.
Nathan tampak berjalan cuek tak menanggapi ataupun sekadar memberi senyuman pada mereka. Nathan dan Gio memilih duduk di belakang agar tak menjadi objek tatapan mata mereka yang mayoritas wali murid ini adalah perempuan.
" Papa jadi bahan lirikan." Bisik Gio yang menyadari beberapa pasang mata tampak mencuri pandang.
" Biarkan saja." Bisik Nathan juga agar Gio tidak menghiraukan mereka.
Gio menahan tawanya. " Papa jadi idola. Kaya artis." Gurau Gio.
Nathan hanya tertawa kecil menanggapi gurauan putranya.
__ADS_1
Setelah menunggu tiga puluh menit lebih. Nama Gio dipanggil juga. Nathan maju. Dan anehnya walaupun Gio paling belakang dipanggil. Entah kenapa beberapa wali murid ini tidak langsung meninggalkan kelas. Nathan maju dan berbincang sebentar dengan wali kelas Gio dan kemudian segera pamit.
' Bruk'
Seseorang tiba- tiba saja menabrak Nathan yang sedang menuju parkiran ditabrak seseorang dari belakang.
" Maaf Pak. Maaf Pak." Ujarnya dan membereskan barang yang tercecer.
Nathan ikut membantu mengumpulkan barang- barang wanita tersebut dan memberikan padanya.
" Nathan." Serunya sedikit terkejut dengan pria yang telah membantunya.
Nathan menyipitkan matanya sejenak berpikir mengingat sosok di depannya.
" Rani. Anak Fakultas ekonomi." Jawabnya.
" Ahh. Iya. Rani." Nathan sedikit mengingat sosok wanita tersebut. " Apa kabar?"
" Baik. Sorry ya udah nabrak. Aku buru- buru."
" Gak masalah."
" Ini anak kamu?" Tanya Rani sambil menunjuk ke arah Gio.
" Iya."
" Mama! Cepat dong!" Teriak seorang anak kecil pada Rani dengan nada ketus.
" Itu Vira. Anak tiri aku." Rani menjelaskan. " Aku permisi dulu ya, Nath. Ini nomor telepon aku." Rani memberikan sebuah kartu nama pada Nathan. " Tolong berikan kabarmu ya." Ucap Rani dengan wajah sedikit takut dan langsung menghampiri mobilnya dengan setengah berlari.
Nathan hanya menatap Rani dengan wajah bingung. Rani terlihat sangat takut dengan anak itu. Tetapi Nathan tidak mempedulikan perasaannya. Dia segera mengajak Gio masuk ke dalam mobil dan pulang.
*****
Nathan yang merasa sedikit lelah pada tubuhnya. Membuka jasnya ketika sampai di rumah. Senja mengambil sesuatu yang jatuh dari saku jas itu dan membacanya.
" Ini kartu nama siapa sayang?" Tanya Senja.
Nathan yang hendak menuju kamar. Langsung menoleh ke arah istrinya dan menghampiri.
" Oh. Teman kuliahku. Tadi ketemu waktu ambil raport Gio." Jawab Nathan datar.
" Kenapa dia memberikan kartu nama?"
__ADS_1
Nathan hanya mengedikkan bahunya dan kembali menuju kamar mereka.
" Perasaanku tidak enak." ujar Senja.
" Aku juga begitu saat dia memberikan kartu nama itu. Dia terlihat ketakutan saat anak tirinya manggil dia. Wajahnya juga terlihat luka lebam walaupun sudah disamarkan dengan make up." Ujar Nathan menjelaskan situasinya.
" Apa dia mengalami hal yang sama seperti Virni?" Terka Senja.
" Entahlah. Aku tidak mau ikut campur." Ucap Nathan merasa enggan.
" Kasihan dia jika itu benar terjadi." Ujar Senja dengan wajah memohon.
" Jangan mulai sayang."
" Setidaknya kamu hubungi dia." Pinta Senja lagi.
" Ini sudah terlalu malam. Tidak baik rasanya aku menghubungi dia." Nathan tetap menolak.
" Kali ini saja." Senja tetap memaksa. " Perasaanku tidak enak." Ucap Senja kembali.
Nathan menarik nafasnya dan kemudian mengambil ponselnya menekan angka yang tertera pada kartu nama itu.
Beberapa kali panggilannya tidak terjawab. Nathan ingin meletakkan ponselnya kembali namun Senja membujuknya kembali untuk meneleponnya.
" H -h-halo." Terdengar suara diseberang sana dengan terisak dan nafas tersengal.
" Apa yang terjadi, Ran?" Tanya Nathan cemas mendengar suara Rani begitu ketakutan.
" *-*-*-tolong aku Nathan. Aku tidak sanggup lagi." Ucap Rani.
" Bicara dengan siapa kamu? Dasar wanita m*rahan!" Terdengar suara di seberang sana dan di sambut dengan suara sebuah tamparan dan seperti orang yang membanting barang.
" Ampun Mas." Terdengar sayup- sayup suara Rani memohon.
Nathan dan Senja yang mendengarkan suara tersebut dari dalam ponselnya. Hanya bisa saling adu pandang. Penyerangan pria itu terhadap Rani terdengar terus berulang.
" Kita lapor polisi, sayang." Ucap Senja cepat.
" Iya." Nathan segera menghubungi pihak kepolisian.
" Apa kita harus ke sana juga?" Tanya Senja ketika Nathan sudah selesai memberikan laporannya pada polisi dan menutup panggilan teleponnya.
" Tidak perlu sayang. Aku tidak mau ikut campur. Aku hanya ingin menolongnya saja. Tidak lebih dari itu." Ujar Nathan dan segera menuju kamar mandi yang memang berada di kamarnya untuk membersihkan badannya.
__ADS_1
Senja hanya menghembuskan nafas kecewa. Dan menatap suaminya berjalan memunggunginya. Senja hanya bisa berharap. Semoga Rani baik- baik saja.