Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
36


__ADS_3

Nathan memarkirkan mobilnya di bahu jalan dekat rumah Senja. Rumah itu tampak sepi. Nathan menarik nafas panjang dan berjalan menuju rumah Senja. Beberapa kali dia mengetuk pintu tak ada sahutan. Barulah ketukan yang ketiga ada suara seseorang dari dalam.


Senja menatap tak percaya dengan kehadiran Nathan yang datang tiba- tiba. Seketika Senja memeluk erat Nathan. Pria yang sangat dia rindukan kini hadir dihadapannya. Nathan membalas pelukan Senja lembut. Dia membelai punggung wanita itu dengan lembut.


Namun, tanpa disadari Nathan ada beberapa pasang mata yang diam- diam mengintai mereka. Mata yang penuh dengan kemarahan.


" Syukurlah kamu baik- baik saja." Ucap Senja lega ketika dia melepaskan pelukannya.


Nathan tersenyum dan menyeka air mata Senja yang menetes karena haru.


" Jangan menghilang tanpa kabar lagi." Pinta Senja di sela tangis bahagianya.


" Maaf. Ponselku hilang. Jadi aku tidak bisa memberi kabar apapun."


" Bagaimana wanita itu?" Tanya Senja sedikit kesal mengingat semua perbuatan Sintia.


" Entah. Mana Gio?"


" Dia baru saja tidur."


" Masuklah." Senja mempersilahkan.


Baru saja Nathan akan melangkah memasuki rumah Senja. Bahunya ditarik dari belakang oleh seseorang dan begitu badannya berbalik. Sebuah pukulan keras menghantam pipinya.


Senja menjerit ketakutan melihat apa yang terjadi di depan mata. Nathan langsung bangkit dan menyerang balik. Perkelahian yang tidak seimbang pun terjadi. Karena ternyata bukan hanya satu yang menjadi lawan Nathan. Tetapi enam orang berbadan tegap dan besar.


" Lari Senja." Perintah Nathan cepat dan langsung di iyakan Senja.


Secepat kilat, Senja berlari menuju kamar Gio dan membawa putranya keluar dari pintu belakang. Tinggallah Nathan seorang diri berhadapan dengan para lelaki berbadan besar.


Nathan yang kalah jumlah dan tenaga. Dalam sekejap berhasil mereka lumpuhkan. Ketika mereka akan membawa Nathan menuju mobil mereka. Ada lagi dua pria lain berbadan tegap dan berwajah garang menghadang mereka.


Perkelahian sengit tak terelakkan. Ketika perhatian dua pria itu teralihkan. Orang yang membawa Nathan segera membawa Nathan menuju mobilnya. Terlambat. Mobil yang membawa Nathan sudah jalan. Pria itu baru menyadari.


Senja yang bersembunyi di balik semak. Melihat semua kejadian yang aneh. Nathan kembali diculik entah siapa yang melakukan itu. Apakah Sintia lagi yang melakukannya. Tapi kenapa? Senja menunduk sedih. Air matanya lolos begitu saja membasahi pipinya.

__ADS_1


" Papa dibawa siapa lagi, Ma?" Tanya Gio yang terheran saat menyaksikan peristiwa itu.


" Mama gak tau sayang." Jawab Senja dan segera memeluk Gio dengan erat.


Nabila segera turun dari mobil. Wajahnya terlihat marah karena anak buahnya gagal menjaga Nathan. " Kalian ngapain aja?!" Bentak Nabila kesal pada anak buahnya yang tertunduk takut.


" Maaf Nona. Jumlah mereka lebih banyak dari perkiraan kita." Ujar salah seorang anak buahnya dan menunjuk empat orang anak buah Ringgo yang terkapar.


" Kita terlalu meremehkan mereka." Gumam Nabila kesal. Matanya memicing tajam.


" Bagaimana dengan Senja?" Nabila teringat dengan kekasih Nathan yang tidak terlihat.


"Sepertinya dia kabur lewat pintu belakang."


" Cari wanita itu dan lindungi dia." Perintah Nabila dan segera memasuki mobilnya.


" Aku disini." Sahut Senja dan keluar dari tempat persembunyiannya yang memang berjarak dekat dengan mereka sehingga dia mendengar semua percakapan mereka.


Nabila menoleh dan tersenyum lega melihat Senja baik- baik saja. " Syukurlah. Sebaiknya sementara waktu kamu tinggal denganku." Ujar Nabila.


" Silahkan."


*****


Senja masih terdiam. Kejadian tadi masih terlihat jelas dibenaknya. Kenapa selalu saja ada yang menghalanginya dan Nathan. Apakah mereka memang tidak berjodoh. Tapi kenapa mereka kembali dipertemukan dan masih sama- sama menyimpan perasaan yang dulu. Senja menitikkan air matanya kembali. Semua yang terjadi sangat membuatnya takut dan sedih.


" Tenanglah Senja. Aku akan segera membebaskan Nathan." Ujar Nabila seperti tahu apa yang dipikirkan Senja.


" Terima kasih."


" Nathan pria yang baik dan tampan. Wajar saja jika banyak wanita yang mengaguminya." Nabila duduk di samping Senja. " Jujur saja. Aku juga tertarik dengannya. Tetapi aku tahu sebatas mana aku boleh mendekatinya." Nabila menatap Senja dengan wajah santai. Berbeda dengan Senja yang sedikit terkejut.


" Kamu tenang saja. Aku tidak segila Sintia." Nabila kembali paham apa yang dibenak Senja. Seketika Senja langsung mengalihkan tatapannya.


" Aku tidak tahu harus bilang apa. Tapi yang jelas. Kami berhutang budi denganmu."

__ADS_1


" Tidak masalah. Oh iya. Dimana ayah Gio?"


Senja terdiam dan memalingkan wajahnya. Tak ingin menjawab pertanyaan itu. Kejadian yang paling pahit selama hidupnya harus kembali teringat lagi hanya karena sebuah pertanyaan.


" Maaf Senja."


" It's ok."


Nabila terdiam dan merasa tak enak hati melihat mimik wajah Senja yang begitu terluka karena pertanyaannya. Apakah begitu pahitnya hidup yang dijalani Senja saat bersama ayah Gio.


" Kenapa kamu gak mau mengejar Nathan seperti perempuan yang lain?"


Nabila menarik nafas panjang dan menatap Senja. " Aku tidak buta Senja. Nathan sangat mencintai kamu." Nabila menyeruput kopi yang sejak tadi dibawanya. " Kalian harus bersama."


*****


Nathan mengerjapkan matanya. Tubuhnya terikat di kursi kayu. Perih terasa di pipi dan pelipisnya yang terluka karena perkelahiannya dengan anak buah Sintia.


" Sadar juga kamu rupanya." Ringgo menatap Nathan kesal. " Kamu harus menikah dengan putri saya!"


Nathan hanya diam. Tak mengacuhkan ucapan Ringgo. " Ergh!" Erang Nathan ketika Ringgo menarik keras rambutnya.


" Aku tidak suka dengan penolakan!" Geramnya lagi.


" Aku tidak akan pernah menikahi putrimu!" Ucap Nathan dengan penegasan kata.


" Berani kamu menolak?!" Bentak Nathan dan meninju perut Nathan hingga Nathan terbatuk- batuk.


" Lebih baik aku mati daripada harus menjadi suami wanita gila!"


' Cuih!' Ringgo meludahi wajah Nathan. " Kamu pikir kamu siapa? Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga!"


" Lakukan saja!" Nathan menatap Ringgo tajam. Tak ingin kalah dengan tatapan Ringgo yang penuh dengan kemarahan.


' Buk' Sekali lagi Ringgo melayangkan pukulan kerasnya pada perut Nathan.

__ADS_1


" Jangan sampai dia kabur. Apapun yang terjadi!" Perintah Ringgo pada anak buahnya dan pergi meninggalkan Nathan yang kesakitan begitu saja.


__ADS_2