Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
62


__ADS_3

Dengan gemas Senja mencubit lengan Nathan ketika mobil mereka meninggalkan kediaman Friska.


" Sakit sayang." Nathan meringis.


" Apa- apaan kamu. Udah nyetir ugal- ugalan di tambah lagi nawarin perempuan lain tumpangan lagi!" Omel Senja tidak suka dengan ucapan Nathan.


Nathan hanya tertawa. Senja kembali mencubit lengannya. " Sakit sayangku tercinta."


" Istri lagi marah- marah malah ketawa!" Protes Senja lagi.


" Maaf ya. Tadi aku sengaja nyetirnya begitu. Biar dia kapok ikutin aku. Maaf kalo kamu dan Gio jadi ikut kebawa suasana yang mencekam." Ujar Nathan dengan beberapa kali melihat ke arah Senja singkat.


" Kamu gak mau pindah ke depan?" Tanya Nathan kembali dengan nada menggoda.


" Enggak. Sebelum mobil ini dicuci. Aku gak mau duduk di kursi itu!" Sergah Senja tegas.


" Besok aku langsung bawa ke carwash. Sampe kursi- kursinya aku cuci." Ujar Nathan dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya tanda berjanji.


Senja sedikit tersenyum melihat suaminya selalu mengikuti apapun keinginannya.


" Kamu harus jaga jarak ya sama dia." Senja mengingatkan tetapi dengan nada yang mengancam.


" Iya sayangku. Tapi bahas hal ini nanti saja ya. Kalo udah sampe rumah."


" Oke."


******


Sejak semalam Senja menjadi gelisah ketika mendengar cerita Nathan tentang Friska yang meminta dirinya menemaninya makan malam bersama putranya. Juga kejadian saat di mall saat Nathan menuju restoran karena Friska terus saja berusaha menempel pada dirinya.


Senja percaya seratus persen pada Nathan tetapi yang membuat dia sedikit ragu adalah Friska. Dia adalah temannya sejak sekolah. Masa dia tega ingin merebut lelaki yang sudah menjadi suaminya setelah Friska tahu jika Nathan adalah miliknya. Jika Friska belum tahu mungkin tak akan Senja gelisah seperti ini. Saat ini bukankah Friska sudah tahu. Bahkan Nathan juga sudah memberitahu Friska sebelum Friska datang ke rumah mereka. Apakah jangan- jangan maksud kedatangan Friska saat itu hanya untuk melihat Nathan. Senja masih terus menerka- nerka. Jika memang benar. Masih akan sulit dipercaya Senja jika Friska bersikap seperti itu.


Berkali- kali Senja memutar ponselnya ingin rasanya dia menelepon Friska dan langsung menanyakan hal ini. Tetapi dia pasti tidak akan mengaku.


" Halo. Dona." Sapa Senja ketika panggilan teleponnya di jawab.


" Iya. Ada apa Senja?"


" Apa Friska ada di dekatmu?" Tanya Senja sedikit berhati- hati.

__ADS_1


" Engga. Aku lagi di toilet. Ada apa ya?" Tanya Dona.


" Bisa ketemuan gak?"


" Bisa. Tapi ada apa?" Tanya Dona sedikit penasaran.


" Soal Friska dan Nathan." Jawab Senja.


Dona sedikit terdiam dan matanya kembali melirik kiri kanan memastikan tak ada orang yang mendengar pembicaraannya.


" Dona." Senja memanggil Dona karena tidak ada jawaban apapun.


" Ohh.. iya. Nanti sore ya. Nanti aku kasih tau tempatnya." Ujar Dona.


" Oke. Terima kasih ya. Bye."


Nathan membaca laporan yang diberikan Randy padanya. Laporan tentang komplain karena yang bisnis mereka berjalan tidak sesuai dengan yang dijanjikan perusahaan Nathan.


" Jadi bagaimana solusinya? Walaupun sedikit meleset dari perkiraan. Kami tetap merasa dirugikan loh." Ujar Randy dengan menatap Nathan tajam.


Nathan masih terlihat serius membaca laporannya. Dan menarik nafas dalam.


" Baiklah. Saya akan menunggu kabar dari anda." Randy menyandarkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki.


" Selamat siang Pak Nathan." Sapa seseorang dengan senyum manja yang masuk begitu saja tanpa permisi.


Nathan dan Randy serentak menoleh ke arah sumber suara tersebut. Nathan langsung menunjukkan raut wajah tak suka berbeda dengan Randy yang beralih menatap Nathan dengan penuh tanya.


" Ada perlu apa? Bukankah kita belum ada janji?"


" Iya. Tetapi sepertinya ponsel saya kemarin tertinggal di dalam mobil anda." Ujar Friska.


Nathan mengernyitkan keningnya. Sejak semalam dia pulang. Dia sama sekali belum memeriksa mobilnya. Apakah ada barang yang terjatuh atau tidak. Lagi pula dia telah menyuruh supir kantornya untuk membawa mobil tersebut ke tempat pencucian mobil.


Nathan segera mengambil ponselnya dan menelepon Pak Tarno. Supir yang membawa mobil itu.


" Pak. Apa ada ponsel di dalam mobil?" Tanya Nathan tanpa berbasa basi.


" Iya, Ada Pak. Kata yang cuci. Ada di bawah kursi penumpang. Mungkin milik istri Bapak yo." Jawab Pak Tarno dengan logat Jawanya yang masih kental.

__ADS_1


" Setelah selesai. Langsung bawa ke ruangan saya Pak." Perintah Nathan dan langsung di iyakan Pak Tarno.


" Anda silahkan tunggu di sofa di luar ruangan saya saja. Supir saya akan segera mengantarkannya." Ujar Nathan yang enggan Friska untuk berada di dalam ruangannya berlama- lama.


" Kenapa tidak di ruangan Bapak saja. Biar kita bisa mengobrol mungkin. Karena saya paling tidak suka menunggu." Tolak Friska merasa sangat di acuhkan Nathan.


" Tidak pantas ada orang lain ketika saya masih ada tamu." Ujar Nathan sambil tangannya mengarah pada Randy agar Friska sadar jika di dalam ruangan ini bukan hanya ada mereka berdua. Randy tersenyum melihat Friska dan melambai kecil sambil tersenyum lucu ke arah Friska.


Dengan wajah kesal Friska segera keluar dari ruangan Nathan. Sepeninggal Friska. Dia berdecak kesal karena wanita itu seolah terus mencari alasan agar bisa bertemu dengannya. Randy nyengir bagaikan kuda melihat Nathan sambil memainkan alisnya turun naik.


" Rekan bisnis gue. Ternyata dia temannya Senja. Gak tau dah kenapa dia muncul mulu." Gerutu Nathan tampak tak nyaman dengan kehadiran Friska.


Randy memajukan tubuhnya dan meletakkan tangannya di atas meja Nathan. " Hati- hati Nath. Jangan bermain hati." Pesan Randy.


" Siapa yang bermain hati. Gue aja males ketemu dia. Kecentilan banget."


" Proyek lu sama dia?"


" Gue suruh karyawan gue yang handle." Jawab Nathan dengan wajah yang sangat bete.


Randy hanya tertawa lucu melihat raut wajah Nathan yang seperti itu. " Udah nikah. Masih ada aja perempuan yang ngejar. Heran gue. pake susuk apaan sih lu?!" Gurau Randy dengan gelak tawanya.


" Susuk sungsang jiwa!" Jawab Nathan asal menambah gelak tawa Randy yang semakin keras.


" Gokilll.. Pesona seorang Nathan Ferdinand. Mengalahkan pesona Leonardo De Caprio."


" Berisik lu." Sergah Nathan mulai sebal dengan gurauan Randy yang semakin ngaco.


Randy berusaha mengendalikan tawanya dan kembali membenarkan posisi duduknya. Wajahnya kali ini menatap Nathan serius. Nathan yang di tatap seperti itu oleh sahabatnya merasa sedikit aneh. Dia mengusap kasar wajah Randy dengan kertas yang ada di mejanya.


" Yah Salting." Ledek Randy lagi dengan gelak tawanya.


" Risih gue. Takut lu ikutan naksir juga." Ujar Nathan sambil bergidik.


" Sorry ya.. Bukan level eke.." Ucap Randy dengan nada bicara seperti seorang waria.


" Apaan dah!" Nathan semakin bergidik lucu. Randy kembali tertawa.


" Haduhh.. Perempuan. Liat yang mulus aja langsung ijo tuh mata. Gak tau ini udah punya pawang." Ujar Randy dengan sisa tawanya.

__ADS_1


" Lo pikir gue uler." Sahut Nathan.


__ADS_2