
Berkali- kali Friska memencet bel rumah Dona. Entah sudah berapa lama dia berdiri di depan gerbang rumah Dona. Dengan wajah yang mulai sebal dia kembali menekan bel rumah itu. Akhirnya suara bel terakhir membuat si penghuni rumah itu keluar juga dengan wajah yang tidak ramah.
" Ada apa?" Tanya Dona dengan wajah ketus.
" Apa aku tidak dipersilahkan masuk?" Sindir Friska yang dibiarkan berdiri di luar gerbang yang tertutup.
" Tidak perlu jika kamu hanya ingin berdiskusi menghancurkan rumah tangga Senja." Jawab Dona masih dengan wajah juteknya.
" Ayolah. Aku ingin berdamai." Bujuk Friska pada Dona dengan wajah yang sedikit memelas.
Dengan berat hati, Dona sedikit menggeser pintu gerbangnya dan dia berdiri diantara celah gerbang dengan tembok.
" Kita bicara seperti ini saja." Ujar Dona dengan nada cueknya.
Friska hanya bisa menahan kekesalannya dan tersenyum tipis. " Aku hanya ingin kita berbaikan, Dona. Apa hanya karena seorang Senja saja kita bisa bertengkar seperti ini? Apa kamu lupa siapa yang selalu ada di sampingmu?" Friska masih mencoba bersikap ramah.
" Apa kamu lupa aku berada di sampingmu untuk membantumu. Bukan benalu yang hanya menumpang hidup darimu. Tanpa aku bekerja. Suamiku masih bisa menghidupi aku dan anakku." Jawab Dona tak kalah telak.
Friska terdiam mendengar ucapan Dona yang sangat menohok. Dia sadar betul jika bukan karena dukungan dari Dona. Tidak akan mungkin dirinya bisa memiliki perusahaan seperti sekarang ini setelah berpisah dengan suaminya.
" Sebaiknya kamu pergi saja. Maaf aku terlalu sibuk jika harus mengurusi cinta butamu." Ucap Dona dingin dan langsung menutup pintu gerbangnya. Meninggalkan Friska yang terdiam melihat tingkah Dona yang menolak dirinya.
Friska menghentakkan kakinya kesal. Harapannya jika Dona bisa membantu rencananya kali ini telah sirna dengan penolakan Dona. Friska semakin menaruh dendam pada Senja. Yang sebenarnya Senja tak pernah membuat masalah dengan Friska. Hanya karena Friska tak mampu memiliki apa yang Senja punya. Rasa iri hatinya yang begitu besar. Membuatnya sangat ingin melihat Senja menderita.
" Aku akan mengambil yang paling berharga darimu, Senja." Gumam Friska penuh dendam.
*****
Nabila menatap Randy yang sedang serius mengerjakan laporannya. Tugas yang sebenarnya bisa dia kerjakan besok pagi. Randy hanya ingin menyibukkan pikirannya saja. Tidak ingin dia berlarut- larut memikirkan ucapannya pada Nabila kemarin.
" Kenapa gak kerjain di kantor aja sih?!" Protes Nabila yang gemas melihat Randy terlihat sibuk di hari libur.
" Biar besok bisa santai." Jawab Randy asal.
" Kasihan Ryan di rumah terus. Ajak jalan sana. Liburan. Kemana kek."
" Males."
" Ajak jalan anak sendiri pake males. Aneh." Sindir Nabila.
" Gue males kalo sendiri. Ryan selalu nanyain mamanya. Padahal mamanya peduli juga enggak sama dia."
Nabila berdecak kesal melihat Randy yang sedikit kekanakan. " Kasih pengertian. Tapi jangan menjelekkan Rena. Biar bagaimanapun dia tetap mamanya Ryan." Nabila terdengar bijaksana.
Randy seketika menatap Nabila dengan senyuman lebar. " Yaudah. Jalannya ama lu ya."
" Kenapa gue? Ama cewek lo aja sana!"
__ADS_1
" Ayolah. Biar Ryan seneng." Kali ini Randy membujuk Nabila dengan wajah memohon.
" Gak mau. Nanti disangkanya gue istri lu lagi!" Tolak Nabila dan segera meninggalkan Randy.
" Ayolah. Sekali- kali Nab. Biar Ryan seneng." Bujuk Randy lagi mengimbangi jalan Nabila yang cepat.
" Ayolah, Nab. Sekali- kali nyenengin Ryan." Bujuk Randy dengan wajah memelas yang terus mengekor kemanapun Nabila melangkah.
" Apaan sih. Sana ish." Omel Nabila sambil mendorong tubuh Randy yang sangat dekat dengannya.
" Oke ya." Bujuk Randy lagi sambil mengangkat kedua alisnya.
" Eerrhh.." Nabila memutar bola matanya kesal. " Iya. Gue mandi dulu." Akhirnya Nabila mengalah. Randy tersenyum penuh kemenangan dan segera berlari menuju kamar Ryan.
Randy dan Nabila menggandeng tangan Ryan pada sisi kiri dan kanannya. Ryan yang memang jarang diajak keluar semenjak kepergian Rena. Tampak sangat bahagia. Berkali- kali dia menunjuk baju, mainan ataupun jajanan tetapi belum ada satupun yang dikabulkan Randy. Melihat hal itu. Nabila hanya melirik Randy tidak suka dan segera mengarahkan Ryan menuju toko mainan yang cukup besar.
" Jangan mainan, Ryan sudah besar Nabila." Ujar Randy mencoba menghentikan langkah Nabila dan Ryan.
" Ryan baru akan menginjak usia enam tahun, Ran. Dia masih suka dengan mainan." Bantah Nabila cepat dan mengajak Ryan memasuki toko tersebut.
Nabila sibuk memilihkan mainan yang bagus untuk Ryan sesekali ekor matanya tetap mengawasi Ryan. Ada beberapa mainan yang dia pegang namun tidak dia ambil. Nabila berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Ryan.
" Ryan mau yang mana?" Tanya Nabila lembut
Ryan menggelengkan kepalanya cepat.
" Ryan mau liat- liat aja, Tante. Mama selalu gak bolehin Ryan beli mainan yang Ryan suka." Ujarnya polos.
Mendengar ucapan polos Ryan membuat hati Nabila terenyuh. " Sekarang Ryan boleh ambil mainan yang Ryan suka. Tante yang bayar." Ucap Nabila.
" Beneran?!" Seru Ryan senang. Nabila mengangguk dan Ryan langsung loncat kegirangan.
Ryan langsung sibuk memilih mainan dengan mata berbinar.
" Elo dan Rena keterlaluan, Ran." Ujar Nabila saat Randy ada didekatnya.
" Kenapa?"
" Ryan yang sekecil itu sampe takut pilih mainan yang dia suka. Dia berhak pilih yang dia suka, Ran." Nabila yang tidak suka dengan cara Randy memulai protes.
" Tapi buat kebaikannya Nab."
" Iya. Tapi jangan selalu kita sebagai orang tua memaksakan kehendak kita. Ada kalanya dia harus memilih yang dia suka atau engga. Kasihan Ryan. Dia masih kecil." Sanggah Nabila cepat dan segera menyusul Ryan yang mulai jauh dari tempatnya berdiri.
' Bruk.'
Nabila menabrak seseorang hingga jatuh tersungkur. " Maaf." Ujar Nabila cepat karena dirinya membuat mainan yang dibawa orang itu jadi tercecer.
__ADS_1
" Nabila."
Nabila segera melihat pemilik suara yang sangat dia hafal. Matanya terbelalak tak percaya karena bertemu kembali dengan pria ini.
" Ama siapa?" Tanya Nathan membantu Nabila berdiri dan mulai mengambil mainan yang terjatuh.
" Tuh." Nabila menunjuk ke arah Randy dengan wajahnya.
" Weits. Borong nih." ujar Randy yang melihat Nathan membawa cukup banyak mainan dalam keranjang belanjanya.
" Biasa. Udah lama gak kirim anak- anak panti mainan." Ujar Nathan.
" Senja mana?"
" Gak ikut. Dia kecapean tadi habis ada tamu banyak."
" Owhh.." Nabila hanya mengangguk.
" Ryan. Mau beli mainan apa?" Tanya Nathan pada Ryan yang baru saja menghampiri mereka dengan sebuah mainan helikopter dengan remote kontrol.
" Ryan suka helikopter?" Tanya Nathan. Ryan mengangguk cepat. " Ini biar Om Nathan yang belikan ya."
" Terima kasih, Om." Ucap Nathan.
" Yaudah Ryan pilih lagi. Nanti biar Tante yang belikan." Ujar Nabila.
Ryan sekilas memandang Randy. Mendapati Nabila yang menatap Randy tajam. Randy mengangguk mengizinkan Ryan untuk mengambil mainan lagi.
Setelah Ryan puas berkeliling. Nathan dan Randy juga Nabila mengantri.
" Mau ke panti kapan?" Tanya Nabila.
" Habis ini langsung ke sana. Udah lama juga gak nengokin. Kalian mau ikut?" Tanya Nathan.
" Oke." Sahut Nabila cepat.
Nathan membawa beberapa kantung belanja dan di masukkan kedalam bagasi mobilnya dibantu dengan Randy.
" Ternyata kegiatan lo masih sama." Ujar Randy yang memang sudah lama tidak mendengar Nathan datang ke panti asuhan.
" Masih. Cuma lebih seringnya mampir cuma kasih uang aja. Sekarang gak tau kenapa. Lagi pengen main sama anak- anak aja." Ujar Nathan. " Hemm.. Ngomong- ngomong. Makin deket aja nih.. PDKT lancar dong ya." Goda Nathan pada Randy.
" Galak cuy." Bantah Randy. Nathan hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
" Yaudah ikutin gue." perintah Nathan dan masuk ke dalam mobilnya.
Randy sedikit berlari menuju mobilnya yang terparkir lumayan jauh dari mobil Nathan.
__ADS_1