Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
145


__ADS_3

Pak Somad dan Bu Somad masih saling beradu pandang. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka ketahui tentang Nathan. Amel masih tertunduk menelan kekecewaan. Cinta yang baru saja tumbuh harus ia paksa untuk mati agar tidak semakin bermekaran. Nathan duduk berhadapan dengan mereka bertiga bagaikan tersangka.


" Sejujurnya kami tidak mengerti dengan situasi kamu. Bisa kamu jelaskan semuanya?" Pinta Pak Somad.


" Saya juga bingung harus menjelaskan apa, Pak. Saya juga tidak tau dengan wanita itu yang datang tiba- tiba ke rumah sakit dan bilang jika kami menjalin hubungan sementara saya sendiri sudah punya istri."


" Kamu serius sudah beristri?" Amel menegaskan.


" Ya. itu yang dikatakan Randy, Brama serta Senja sendiri. Anak pertama kali namanya Gio dia sudah duduk di bangku sekolah dasar sedangkan Yusuf dia baru berusia lima bulan."


Amel menarik nafas dalam. Sesak sekali. Seakan tiba- tiba saja atmosfer menghilang dari rumah ini.


" Kenapa kamu dipaksa menikah?" selidik Pak Somad lagi.


" Dia mengaku sedang hamil." Jawab Nathan membuat ketiganya terhenyak. " Tapi entah kenapa saya merasa kalo dia bohong. Dia ada didekat saya pun saya tidak pernah merasakan adanya getaran. Yang ada semakin dia menggoda saya. semakin saya mengingat istri saya. Dan kemarin. Bayangan istri saya sangat jelas di mata saya dan seakan menuntun saya untuk segera pergi." Tutur Nathan yang bercerita apa adanya. Dia tidak bisa menjelaskan lebih detail lagi karena hanya itu yang dia ingat.


Pak Somad dan Bu Somad tampak beradu pandang seakan sedang berdiskusi memberikan penilaian pada Nathan. Bu Somad beralih memandang Nathan.


" Kami percaya sama kamu. Tapi tolong jaga kepercayaan kami." Ujar Bu Somad.


" Baik, Bu."


" Nanti biar bapak yang lapor Pak RT." Ujar Pak Somad.


" Semoga keluarga kamu bisa sampai ke desa ini ya." ucap Pak Somad.


*****


Wulan kembali berteriak marah pada kedua anak buahnya yang gagal mendapatkan Nathan kembali. Bimo dan Deki hanya tertunduk merasa bersalah pada bosnya. Jika bukan karena bayaran. Sudah bisa dipastikan mereka tidak akan menuruti perintah Wulan. Bicaranya ketus.


" Saya tidak mau kalian gagal. Cari sekali lagi. Tapi kali ini jangan menanyakan pada penduduk. Kalian coba saja sengaja berlalu lalang." Usul Wulan.


" Baik bos. Tapi jangan hari ini. warga pasti sudah bisa tau maksud kita."


" Atur saja kalo seperti itu." Ucap Wulan tampak tak peduli kapan mereka akan mencari lagi.


*****


Nathan duduk bersandar pada kursi panjang yang ada di ruang tamu Pak Somad. Merasa sangat bosan karena tidak di izinkan Pak Somad untuk ikut ke kebun. Andi juga sedang sekolah. Bu Somad juga sedang berada di kebun. Jadilah hanya tinggal Nathan dan Amel di rumah. Berkali- kali Nathan menguap di depan televisi. Dia menonton televisi untuk mengusir kebosanannya dan merebahkan tubuhnya di lantai yang hanya berlapis karpet.

__ADS_1


Rumah Pak Somad memang masih sederhana. Tapi terasa sangat nyaman karena penghuni rumahnya ramah dan sangat baik. Perlahan namun pasti. Mata Nathan seakan berat untuk tetap terjaga. Hingga akhirnya Nathan terlelap.


Amel yang baru selesai dengan pekerjaan rumahnya di dapur. Segera ke ruang depan untuk ikut nimbrung menonton televisi.


" Loh. Kok dia tidur di lantai." Gumam Amel melihat Nathan tidur begitu saja di lantai tanpa bantal.


Perlahan Amel mendekati Nathan dan berjongkok di dekatnya. Di tatapnya lekat wajah yang bersih dan sedang terlelap itu.


" Padahal saya baru aja suka sama kamu. Ternyata kamu udah punya istri." Keluh Amel seakan sedang curhat dengan Nathan. " Saya benar- benar jatuh cinta, Nathan. Wajah kamu selalu aja muncul di mataku." Keluh Amel lagi.


" Cium sedikit boleh ya." Amel mendekatkan wajahnya pada wajah Nathan. Jantung Amel semakin berdetak tak karuan karena baru kali ini dia akan bersentuhan dengan lelaki lain selain adik dan ayahnya. Hingga jaraknya tinggal satu centi lagi.


" Astagfirullah!" Teriak Bu Somad yang memergoki perbuatan Amel.


Amel yang mendengar suara ibunya langsung menoleh dengan wajah gugup dan takut pada ibunya. " I__ibu sudah pulang?"


" Iya! Kamu ngapain?!" Tanya Bu Somad dengan mata nyalang.


" Enggak ngapa- ngapain, Bu." Jawab Amel sedikit terbata- bata.


" Bohong kamu!" Bentak Bu Somad lagi membuat Amel semakin menunduk ngeri.


" Ampun, Bu." Ucap Amel. " Amel belum ngapa- ngapain." Ucapnya memohon.


" Nah kan. Belum. Berarti mau ngapa- ngapain kamu ya! Kamu tuh perempuan Amel!" Bu Somad menjewer gemas telinga Amel.


" Amel suka sama Nathan." Ucap Amel dengan wajah tertunduk.


" Apa?!" Pak Somad yang baru datang dari pintu belakang terkejut mendengar pengakuan Amel.


" Dia suami orang, Mel." Bentak Pak Somad.


" Iya. Amel tau."


" Nih Pak. Tadi Amel kepergok mau cium- cium si Nathan tadi." Bu Somad mengadu pada suaminya.


" Astagfirullah. Dosa, Mel." Ucap Pak Somad lagi. Entah harus bilang apalagi dengan anak gadisnya.


Nathan yang mulai terusik dengan perdebatan yang ada di dapur. Terbangun dari tidurnya dan berjalan menghampiri sumber suara.

__ADS_1


" Kalo si Nathan tau kamu suka sama dia gimana? Bahkan kamu tadi mau cium- cium dia." Seloroh Bu Somad benar- benar kesal dibuat anak gadisnya.


" Apa?!" Kali ini Nathan yang terkejut dengan ucapan Bu Somad. Serentak mereka bertiga menoleh ke arah Nathan.


" Kamu sudah bangun?" Tanya Pak Somad.


" Iya, Pak." Jawab Nathan. " Maksudnya apa pak yang suka sama saya dan mau mencium saya?"


" Kamu salah dengar sepertinya. Bu tolong buatkan bapak kopi." Ucap Pak Somad dan mengajak Nathan kembali duduk di kursi ruang tamu.


" Awas kamu ya kalo begitu lagi!" Ancam Bu Somad pada Amel. " Bikin malu saja!" tambahnya lagi.


" Iya, Bu." Sahut Amel dengan wajah tertekuk dan meninggalkan dapur.


Bu Somad menyuguhkan dua cangkir kopi dan sepiring singkong rebus di hadapan Nathan dan suaminya. Bu Somad ikut duduk bersama mereka yang sedang bersenda gurau.


" Bapak jadi penasaran pekerjaan kamu itu apa sebenarnya." Ujar Pak Somad di sela gurauan mereka.


" CEO, Pak." Jawab Nathan.


" CEO itu apa?" Tanya Bu Somad tak mengerti.


Nathan juga menggeleng. Dia sendiri juga belum tau apa itu CEO. " Tapi yang saya tau di perusahaan itu saya seorang pimpinan." Jawab Nathan yang memang baru sekali ke kantornya.


" Semacam direktur gitu ya?"


" Mungkin." Nathan kembali menerka.


" Berarti kamu orang kaya." Ucap Bu Somad. " Pantes aja muka kamu kinclong." Imbuhnya lagi.


Nathan hanya tersenyum. Dia sama sekali tidak tahu. Apa itu CEO ataupun direktur.


" Nama perusahaan kamu apa?" Tanya Amel yang baru saja keluar dari kamarnya. Ternyata sejak tadi Amel mendengarkan pembicaraan mereka.


" NATH Group."


" Apa?" Amel kembali tercengang.


" Biar Amel hubungi perusahaan itu." Ucap Amel dan disetujui oleh orang tuanya.

__ADS_1


Amel mencari informasi tentang perusahaan tersebut dari mbah google. Segera Amel menekan nomor yang tertera.


__ADS_2