Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
79


__ADS_3

Nathan yang memang pernah berlatih bela diri saat tinggal di rumah Nabila. Sedikit banyak sudah hafal dengan jurus- jurus yang dipakai Nabila. Di tambah lagi dia memang selalu menyempatkan diri untuk olahraga ringan. Badannya bisa lebih tegap dari Randy. berkali- kali Nabila melakukan serangan namun berhasil ditepis Nathan.


Nathan yang tenang hanya menunggu serangan Nabila yang penuh amarah sangat mudah dibaca lawan untuk menghindar. Ketika Nabila lengah. Tangan Nathan melingkar pada bahu Nabila dan membanting Nabila juga menguncinya.


Jarak wajah diantara mereka hanya beberapa centimeter. Nabila bisa merasakan deru Nafas Nathan yang tersengal karena berusaha menghindari serangannya.


Nabila yang tak bisa bergerak dengan kuncian Nathan. Di tambah lagi jantungnya yang berdetak kencang karena bisa memandang wajah Nathan sedekat ini membuatnya tidak berdaya. Dalam pikirannya Nabila ingin sekali mengecup lembut sang pemilik wajah. Namun segera dia tepis jauh-jauh pikiran itu.


" Menyerah?" Tanya Nathan dengan senyum kemenangan.


Nabila mengangguk. Nathan segera melepas kunciannya. dan membantu Nabila untuk bangkit. Kemenangannya di sambut dengan sorak sorai anak buah Nabila yang sejak tadi dikalahkan Nabila.


" Kamu lagi beruntung saja!" Omel Nabila dan berjalan menghampiri kakeknya.


Nabila duduk di hadapan kakeknya yang sejak tadi tersenyum.


" Jadi yang mengusikmu, Nathan?" Tanya Pak Danny pada Nabila yang baru saja ingin meneguk air mineral.


" Dia selalu mengusik hatiku. Tapi yang mengusik pikiranku saat ini. Orang bod*h ini." Jawab Nabila ketus lalu meneguk kembali air mineral yang ada ditangannya.


" Kok Gue?"


" Iya. Kenapa lu kemarin bilang sayang sama gue?!" Omel Nabila. " Gak sadar ya. Lu tuh temen gue!"


" Dih! Gue sayang sama lu itu sebagai sahabat. Ngapain dipikirin. Baper lu ya?!" Omel Randy tak mau kalah.


Nathan dan Pak Danny yang mendengar perdebatan mereka hanya bisa tersenyum dan geleng- geleng kepala.


Kedua orang ini tidak sadar jika sebenarnya mereka sudah saling jatuh cinta.


Setelah perdebatan mereda. Nathan mohon pamit pada Pak Danny dan juga Nabila. Nabila mengantar Nathan sampai parkiran. Randy hanya mengikuti di belakang mereka.

__ADS_1


" Jadi apa maumu, Nath?" Tanya Nabila ketika akan melepas kepergian Nathan.


Nathan tersenyum. " Cium aku." Jawab Nathan asal. Seketika wajah Nabila terasa panas. Baru saja wajahnya akan mendekat Nathan menghentikannya. " Aku bercanda." Ujar Nathan membuat Nabila menjadi semakin malu.


" Kau mengerjaiku?" Omel Nabila dengan nada manja.


Nathan tertawa kecil. " Aku akan memikirkan dulu apa mauku. Kamu persiapkan diri saja." Ujar Nathan menggoda Nabila dan segera masuk ke mobilnya.


Nabila berdiri terpaku mendengar perkataan Nathan. Hatinya berdetak cepat tak karuan. Memikirkan hal apa yang akan diminta Nathan darinya.


" Heh! Ngelamun jorok ya!" Sergah Randy yang melihat Nabila dengan wajah merah dan sambil tersenyum- senyum sendiri.


" Dih siapa yang ngelamun jorok." Sergah Nabila sebal dan meninggalkan Randy begitu saja.


*****


Gio bersandar manja pada tubuh Nathan yang sejak tadi fokus menatap layar laptopnya sambil sesekali mengusap lembut pucuk kepala Gio. Senja hanya tersenyum melihat keakraban ayah dan anak ini. Walaupun mereka tidak ada hubungan darah sedikitpun.


" Maaf, Bu. Ada tamu." Ujar Pak Mamat dengan sedikit membungkuk ketika memberitahukan ada tamu yang datang.


" Siapa, Pak?"


" Gak tau. Katanya mau bertemu neng Senja." Bisik Pak Mamat pada Bu Fitri.


Senja yang berdiri tak jauh dari Bu Fitri dapat mendengar hal itu. Dia langsung menghampiri pintu depan setelah Pak Mamat berjalan terlebih dahulu.


Senja segera menemui tamu itu yang masih berdiri di depan pintu karena belum dipersilahkan masuk oleh Pak Mamat tadi.


" Mau apa kalian?" Tanya Senja ketus ketika mengetahui bahwa tamunya ada kedua orang tua Toni. Lelaki yang menjadi dalang atas peristiwa paling menyakitkan dalam hidup Senja.


" Jangan marah dulu, Kami kesini ingin bertemu dengan cucu kami." Ujar Bu Sukma mencoba membujuk Senja.

__ADS_1


" Tidak ada cucumu disini!" Senja masih bersikap ketus.


" Biar bagaimanapun anakmu itu adalah cucu kami Senja." Pak Dito ikut menimpali.


" Apa kalian lupa siapa yang merenggutku malam itu. Bukan hanya putramu seorang. Aku tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu benih siapa yang tertanam di rahimku saat itu. Sekarang dia hanya anakku. Bukanlah cucu kalian!" Senja tetap bersikap ketus.


Mendengar ada sedikit keributan. Nathan segera menghampiri istrinya yang berdiri diambang pintu dengan wajah kesal dan mata yang mulai basah.


" Ada apa sayang?" Tanya Nathan saat menghampiri Senja.


Senja hanya melihatnya sekilas dan segera beralih lagi menatap tajam dua orang paruh baya itu.


" Kami akan mengambil hak asuh anak itu!" Ucap Pak Dito mulai kesal.


" Apa kalian tahu siapa nama anakku?!" Bantah Senja. Mereka terdiam. " Bahkan kalian saja tidak tahu siapa nama anakku. Bagaimana bisa hakim mempertimbangkan akan memberikan hak asuh kepada kalian." Sahut Senja tak kalah kesal dengan perkataan Pak Dito.


Nathan menghampiri Senja dan mengelus lembut punggung istrinya. Nathan ikut menatap tajam sepasang suami istri paruh baya itu.


" Oh.. Jadi dia lelaki yang menikahimu. Apa dia tidak tahu berapa orang yang sudah menyentuh tubuhmu?!" Ujar Pak Dito dengan wajah sinis.


Nathan menatap tajam kedua orang itu dan menatap Senja sekilas.


" Mereka orang tua Toni." Bisik Senja.


Nathan menyeringai tajam. " Apa kalian lupa siapa calon suami Senja saat itu? Apa kalian lupa siapa orang yang pertama kali menemukan Senja saat itu? Apa kalian lupa bukan hanya Senja yang hancur saat itu?!" Bentak Nathan kesal. " Anak kalian yang sudah menghancurkan kebahagiaan kami. Menghancurkan mimpi kami saat itu. Dan sekarang ketika kami sudah bisa meraih kembali mimpi kami yang dulu. Justru kalian yang ingin menghancurkannya. Sekarang anak itu adalah anak kami. Bukan cucu kalian ataupun anak dari dua lelaki bej*d lainnya."


" Saya akan menuntut kalian!" Teriak Bu Sukma merasa dirinya dipermalukan.


" Silahkan. Kita lihat siapa yang membuat onar di rumahku dari rekaman cctv itu. Kami atau kalian yang harus menginap di kantor polisi." Sahut Nathan kesal.


" Awas kalian!" Maki Pak Dito kesal dan segera berlalu dari rumah Nathan dengan menggandeng istrinya.

__ADS_1


Senja menghela nafas lega. Sejak tadi dadanya terasa sesak jika mengingat kejadian buruk di masa lalunya. Senja langsung membenamkan wajahnya dalam dada bidang Nathan dan menangis terisak. Rasa sakit itu kembali menghujam hati Senja jika mengingat kejadian itu. Nathan yang juga ikut merasakan rasa sakit itu. Rasa hancur ketika melihat orang yang dicintainya terbaring tak berdaya. Berusaha tetap tegar dihadapan Senja dan menenangkan istrinya dengan dekapan hangat dan mengecup pucuk kepala Senja.


__ADS_2