Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
111


__ADS_3

" Assalammu'alaikum."


" Wa'alaikumsalam." Sahut Senja yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.


Senja segera membukakan pintu dan langsung berseru senang melihat Gilang dan keluarganya datang sepagi ini. Senja langsung berhambur memeluk Gilang erat. Bergantian memeluk Gita serta keponakannya.


" Masuk kak.Kebetulan kita akan sarapan. Sekalian saja ya." Ujar Senja mempersilahkan mereka bergabung di meja makan.


" Loh. Ini Virni kan?" Gilang terkejut melihat Virni ada di rumah Senja.


" Iya. Nanti aku ceritakan." Ujar Senja dan meminta Gilang untuk duduk.


Baru saja Senja ingin memanggil suaminya. Nathan sudah muncul. " Kak Gilang." Seru Nathan senang dan mencium punggung tangan Gilan dan Gita bergantian.


" Rencananya kami ingin menginap beberapa hari di sini. Apa boleh?" Tanya Gilang pada Nathan.


" Tentu."


" Terima kasih."


Nathan hanya menyeruput kopinya dan segera pamit karena pekerjaannya hari ini cukup padat.


Gilang dan Senja duduk bersama di halaman samping mereka. Gita sedang beristirahat di kamar tamu yang semula ditempati Virni.


" Kenapa Virni ada di rumahmu, Senja?" Tanya Gilang masih penasaran.


" Aku hanya membantunya, Kak. Setelah berpisah dari suaminya. Dia hanya sebatang kara."


Gilang menarik nafas dalam mendengarkan cerita Senja. " Tapi kamu sudah bersuami. Jangan sampai kehadirannya menjadi fitnah untuk suamimu."


" Iya. Aku tau. Dan aku juga percaya jika Nathan tidak akan macam- macam dengan Virni."


" Bukan Nathan yang Kakak khawatirkan. Tetapi Virni. Sepertinya wanita itu tertarik dengan suamimu." Gilang memperingatkan Senja.


Senja tersenyum dan sedikit membenarkan perkataan Gilang karena dia juga mendapati Virni tampak mencuri pandang ke arah Nathan saat sarapan tadi.


" Kamu yang lebih tahu rumah tanggamu. Kakak hanya memberikan nasihat. Selebihnya itu adalah keputusanmu dan Nathan." Ujar Gilang dan masuk ke dalam menyusul istrinya yang sudah kembali merajut mimpi. Karena dia dan keluarganya berangkat dari tengah malam buta hanya untuk memberikan kejutan kecil untuk adiknya yang terus memintanya berkunjung.


Senja menarik nafas panjang memikirkan apa yang diucapkan Kakaknya barusan. Dia menghampiri Virni yang berada di dalam kamarnya yang pindah kebelakang. Bersebelahan dengan kamar Bi Sumi. Terlihat Virni tengah merapikan baju- bajunya yang kemarin diberikan Senja. Walaupun semua baju yang Senja berikan adalah bekas dia pakai. Tetapi itu semua masih sangat layak.


Senja menatap Virni nanar ketika melihat wanita itu merapikan barang- barangnya dengan wajah lesu.


" Maafkan aku ya, Vir. Kamu tidur di tempat sekecil ini." Senja menghampiri Virni dan duduk di tepi kasur.


" Tidak apa. Dari pada aku terus hidup di jalanan." Virni tersenyum getir.


" Aku tidak menyangka jika kehidupanmu semakin sulit ketika keluar dari rumahku."


" Itu pantas aku dapatkan Senja." Ungkap Virni dan air mata kembali menggenang.


" Ada yang mau aku tanyakan."


Virni hanya diam menatap Senja mengajukan pertanyaannya.


" Apa kamu masih menyukai suamiku?" Tanya Senja lembut takut menyinggung perasaan Virni.

__ADS_1


Virni tersenyum getir. " Iya. Tapi aku mencoba mengalihkannya. Tak mau lagi aku seperti dulu. Terhanyut dengan suamimu." Ungkap Virni.


Senja sedikit terkejut namun dia merasa bersyukur karena Virni berniat untuk berubah.


" Baiklah. Tolong menjaga jarakmu dengan Nathan. Sepertinya Nathan masih tidak nyaman berada di dekatmu, Vir."


" Iya. Aku usahakan." Ucap Virni.


Aku akan membuat suamimu nyaman, Senja.


Senja meninggalkan Virni.


******


" Hai, Nath." Sapa Vera yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.


" Vera."


" Iya. Kamu senang melihatku?"


" Biasa saja." Ujar Nathan datar. " Bagaimana kamu bisa masuk begitu saja. " Security di depan tidak ada. Dan sepertinya karyawanmu juga sudah pulang."


" Ya. Aku juga sudah ingin pulang. Ada apa kamu kesini?"


" Aku sudah mengirim pesan kemarin. Aku akan datang menemuimu."


" Oke. Lalu mau apa?" Tanya Nathan datar.


" Bagaimana kalau kita nonton dan makan malam." Usul Vera.


Nathan sedikit berpikir dan menyetujui ajakan Vera. Dia yang selalu kesal berada di rumah karena melihat Virni. Memutuskan untuk menghibur dirinya sebentar.


" Tadaaa.." Virni dengan bangga menunjukkan tiket bioskop mereka dan segera berjalan menuju studio pemutaran film yang sebentar lagi akan dimulai.


Vera terus menatap Nathan dengan wajah senang. Hatinya kembali berbunga. Dengan mudahnya Nathan kembali menumbuhkan cinta yang dulu terpendam kembali muncul ke permukaan. Vera memberanikan diri menggenggam tangan Nathan. Nathan langsung menarik tangannya. Mereka memang berteman. Tapi aneh jika mereka sambil bergandengan.


" Maaf." Nathan melipat tangannya pada dadanya. Vera mendengus nafas kesal.


Setelah hampir dua jam. Mereka keluar dari bioskop menuju restoran cepat saji yang ada di mall tersebut.


" Apa kamu tidak senang?" Tanya Vera yang melihat Nathan hanya memasang wajah biasa saja.


" Senang. Tapi pikiranku masih terasa suntuk."


" Kenapa?"


" Tidak apa- apa." Nathan kembali diam dan hanya menyantap makanannya sampai habis.


" Aku akan langsung pulang." Ujar Nathan pada Vera yang terus mengikutinya sampai parkiran.


" Antarkan aku dulu. Kamu tega jika aku naik taksi selarut ini?"


Nathan melihat jam tangannya. " Baru jam sembilan."


" Ayolah, Nathan." Vera memohon.

__ADS_1


" Oke. Kali ini saja." Ujar Nathan mengingatkan.


Vera mengangguk senang dan kembali Vera mencoba menggenggam tangan Nathan yang memegang perseneling mobil ketika mereka dalam perjalanan.


" Ayolah, Nath. Sebentar saja." Ujar Vera yang melihat Nathan kembali menolak tangannya di pegang Vera.


" Aku sudah beristri."


" Aku tau. Aku hanya mau menggenggam tanganmu sebentar. Apa itu akan membuatmu berubah?"


" Tidak." Nathan kembali menolak.


Vera hanya memasang wajah masam ketika Nathan dengan tegas kembali menolak. Vera melipat tangannya di depan dadanya dengan wajah masam. Nathan sama sekali tak menghiraukan. Dia hanya fokus menyetir dan berhenti tepat pada titik yang ditunjukkan google map.


" Sudah sampai." Ujar Nathan mengingatkan Vera yang masih diam tak bergeming.


" Ayolah, Vera. Ini sudah malam. Istriku pasti menungguku." Nathan tampak geram dengan tingkah Vera yang kekanakan.


" Apa kamu senang bisa jalan denganku?" Tanya Vera menyelidik.


" Sedikit."


" Kamu terlalu kaku, Nathan." Omel Vera dan ingin menubruk tubuh Nathan. Nathan langsung mundur dan menahan tubuh Vera agar tidak bisa menyentuhnya.


" Kita hanya sekadar berteman, Vera. Aku sudah beristri." Ucap Nathan tegas.


" Sedikit saja Nathan."


" Tidak akan." Nathan kembali menolak dan membuka pintu mobilnya dan turun menunggu Vera keluar dari mobilnya.


" Ayolah Vera. Aku ingin pulang." Ujar Nathan kesal dengan Vera yang tidak kunjung turun dari mobilnya.


" Berikan aku sedikit saja. Aku akan turun."


" Tidak akan."


" Nathan."


" Cepat turun. Aku harus segera pulang." Nathan kembali mendesak Vera. Nathan membuka pintu di kursi penumpang.


" Turunlah." Nathan masih berusaha bersikap baik.


" Tidak akan."


" ck." Nathan berdecak sebal dan menarik tangan Vera agar keluar dari mobilnya.


" Tidak akan Nathan." Vera mempertahankan posisinya.


Nathan menarik nafas panjang dan menatap Vera.


" Jangan di mobil. Terlihat orang lain bisa berbahaya." Ujar Nathan lembut.


Vera mendongakkan kepalanya dan melihat Nathan tak percaya dengan apa yang didengarnya.


Nathan menyunggingkan senyum nakalnya. " Mari kita bersenang- senang." Ujar Nathan dengan senyum nakalnya membuat dada Ver seketika terasa panas membayangkan apa yang akan mereka lakukan malam ini.

__ADS_1


" Kamu serius?"


Nathan mengangguk.


__ADS_2