
Dua bulan berlalu sudah sejak kejadian Rani...
Nathan menatap laporan yang baru saja dia terima dari Silvi. Susunan laporan yang tidak biasanya membuat Nathan sedikit penasaran dengan yang membuat laporan itu. Nathan meminta Silvi memanggilkan orang yang membuatnya. Beberapa menit berlalu.
' Tok Tok Tok.'
" Masuk." Sahut Nathan tanpa mengangkat wajahnya. Matanya masih serius memperhatikan laporan bulanan yang diberikan karyawannya.
" Maaf, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang karyawati itu.
" Duduk dulu." Ucap Nathan dan masih serius membaca laporannya.
" Hemm.. Pantas saja bisa sesukses ini. Ternyata kamu tidak berubah. Seteliti itu ya." Ledek karyawati itu dan membuat Nathan mengangkat kepalanya melihat siapa yang ada di hadapannya.
" Rani?!" Serunya tak percaya jika temannya itu menjadi karyawannya.
" Iya. Udah satu bulan aku kerja di sini." Ujar Rani menjelaskan tanpa diminta Nathan.
Nathan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. " Apa kabarmu?"
" Baik." Jawab Rani. " Apa ada yang salah dengan laporan yang aku buat?"
" Tidak ada. Tetapi formatnya saja yang berbeda. Membuatku sedikit bingung memeriksanya." Jawab Nathan dan memberikan kembali laporan yang dibuat Rani.
" Apa aku bisa lihat contohnya?"
" Kamu bisa memintanya pada Silvi."
" Oke." Sahut Rani. " Baik kalau begitu saya permisi, Pak." Ucap Rani masih terasa asing memanggil Nathan dengan sebutan Pak.
" Ya." Nathan kembali menatap berkas yang menumpuk di mejanya.
" Hemm.. Senja beruntung mempunyai suami sepertimu." Nathan kembali mengangkat wajahnya mendengar ucapan Rani. " Maaf jika dulu aku menyakitimu." Ucap Rani.
" Itu masa lalu dan kamu tidak pernah menyakiti aku, Ran. Jadi tidak perlu kita membahasnya lagi."
" Iya. Harusnya. Semoga sekarang bukan aku yang berniat mendekatimu." Ucap Rani dengan wajah tertunduk.
" Jika kamu mau. Aku bisa memindahkanmu di kantor cabang." Nathan memberikan usul agar mereka tidak saling bertemu.
" Tidak perlu. Sekarang perbedaan kita semakin jauh dan semoga aku masih bisa bersikap seperti dulu." Ujar Rani.
Nathan hanya memberikan senyum singkat dan tidak menanggapi apapun. Dia enggan harus kembali berkutat pada masalah wanita. Seakan tidak ada lagi yang harus dia urus.
" Regi sudah divonis. Dia di jatuhi hukuman 5 tahun. Tetapi aku memutuskan untuk memaafkannya dan memberikannya kesempatan kedua." Rani menceritakan prihal masalahnya walaupun Nathan sama sekali tidak ingin tahu tentang kelanjutan kasus itu.
" Bagus kalau begitu. Semoga dinginnya lantai lapas mengubah suamimu lebih baik." Sahut Nathan.
__ADS_1
" Apa kamu tidak menyarankan agar aku bercerai?"
" Tidak! Aku tidak ingin ikut campur dengan masalah kamu atau siapapun. Dan jujur saja. Saat itu yang sangat ingin menolongmu adalah istriku." Ujar Nathan datar.
Ada segurat kekecewaan yang tersirat dalam tatapan Rani mendengar hal itu. Nathan sama sekali tidak peduli dengannya.
" Kalau begitu aku kembali ke meja kerjaku."
" Silahkan." Sahut Nathan dingin.
Rani menghela nafas kecewa dan berjalan keluar dari ruangan Nathan. Sikap dingin Nathan yang sejak dulu ditampakkan pada wanita di kampus yang mengejarnya kini berlaku pada Rani. Sesak rasanya dada Rani rasakan. Entah kenapa sikap dingin Nathan sangat menusuk relung hatinya. Apakah karena dulu dia pernah merasakan sapaan hangat Nathan. Rani menghela nafas panjang dan menatap layar komputernya. Pikirannya sudah buyar. Tidak bisa lagi diajak konsentrasi untuk bekerja.
" Kamu baik- baik saja?" Tanya seorang karyawati yang duduk di sebelah meja Rani.
" Iya."
" Jangan dimasukkan ke hati jika Pak Nathan sedikit ketus. Tapi sebenarnya dia sangat baik." Ujarnya menghibur Rani.
Rani memaksakan dirinya menyunggingkan senyum.
" Jangan sekali- kali merayunya. Atau kamu akan di depak dari perusahaan ini dengan tidak hormat." Ucapnya lagi dengan mata mengawasi sekitarnya.
" Kenapa begitu?"
" Memang begitulah. Pak Nathan sangat mencintai istrinya." Ucapnya lagi dan kembali menatap layar komputer di mejanya begitu melihat Nathan keluar dari ruangannya.
Rani hanya bisa mengerutkan keningnya tak mengerti. Kenapa dia begitu bisa bahagia hanya dengan menatap lelaki itu.
******
Nabila menatap tak percaya dengan dua garis merah yang terpampang jelas pada alat tes kehamilannya. Apakah dia benar- benar hamil sementara cinta untuk suaminya belum tumbuh sempurna. Nabila menundukkan kepalanya dan merasakan kembali dada yang sedikit sesak. Entah kenapa sulit sekali dia menerima Randy di hatinya. Padahal pernikahannya sudah berjalan enam bulan.
" Halo, Nath." Nabila menelepon Nathan ketika masih di dalam kamar. Sementara Randy sedang bermain bersama Ryan.
" Ada apa?"
" Aku mau bicara sesuatu. Bisakah kita bertemu?"
" Oke. Kamu ke rumahku saja." Jawab Nathan datar.
" Engga bisa, Nath. Ada hal yang mau aku bicarakan pribadi denganmu." Ucap Nabila.
Nathan terdengar sedikit menarik nafas untuk berpikir. " Oke."
" Di kafe dekat kantormu saja. Satu jam lagi kita ketemu di sana." Ujar Nabila.
" Oke."
__ADS_1
Nabila mengaduk minumannya. Sudah sepuluh menit lebih dia menunggu Nathan yang tidak kunjung datang. Wajahnya terlihat sedikit gelisah. Menunggu adalah hal yang paling menyebalkan untuk siapapun. Bahkan tidak akan ada orang yang rela menunggu satu menitpun. Entah kenapa saat kabar kehamilan dirinya. Nathan adalah orang yang terlintas dalam pikiran Nabila.
Nabila kembali menatap jam tangannya yang melingkar manis pada pergelangan tangannya. Matanya kembali melirik pintu masuknya tak kunjung juga terlihat sosok Nathan. Nabila mengambil ponselnya dan segera menelepon Nathan. Hampir setengah jam sudah dia menunggu. Minuman yang dipesannya sudah tersisa setengah.
" Aku sudah di parkiran." Jawab Nathan singkat dan langsung menutup panggilan teleponnya padahal Nabila belum mengatakan sepatah kata pun.
" Maaf telat. Yusuf sedikit rewel hari ini. Aku membantu Senja menjaganya." Ujar Nathan ketika Nabila langsung menatapnya dingin.
" Its ok. Walaupun waktuku terbuang sia- sia." Sindir Nabila.
Nathan hanya melemparkan senyum dan memanggil pelayan untuk memesan minuman juga cemilan.
" Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Nathan beralih pada Nabila setelah selesai memesan makanan.
Nabila mengambil alat tes kehamilan dari tasnya dan menunjukkannya pada Nathan.
" Kamu hamil?" Seru Nathan senang melihat dua garis merah pada Nabila.
Nabila mengangguk.
Nathan langsung menjabat tangan Nabila memberikan selamat. Akhirnya Randy yang di anggapnya sebagai saudara dan Nabila yang di anggapnya sebagai adik bisa segera memiliki momongan.
" Sebahagia itu kamu, Nath?" Nabila sedikit aneh dengan sikap Nathan yang bahagia.
" Kenapa engga. Randy juga gak kalah senang bukan dariku?"
" Randy belum tau." Ujar Nabila.
Senyum Nathan langsung menghilang dan menatap Nabila bingung. " Kenapa?"
" Aku sendiri gak tau harus senang atau sedih. Aku mengandung anak Randy tetapi hatiku masih milikmu, Nath." Ujar Nabila dengan wajah tertunduk.
" Aku tau, Gak pantas aku bicarakan hal ini. Tapi gak tau kenapa. Kamu sulit aku gantikan di hati ini." Nabila memegang tangan Nathan yang memang berada di atas meja.
Nathan langsung reflek menarik tangannya. Melepaskan genggaman Nabila.
" Maaf."
" Aku yakin. Kamu pasti bisa mencintai Randy, Nabila." Ujar Nathan meyakinkan.
" Kapan, Nath? Udah enam bulan aku berbagi kamar dan tempat tidur. Sekarang aku hamil anaknya. Tetapi kenapa hati ini masih saja untukmu!" Maki Nabila pada dirinya sendiri.
" Mulai sekarang. Aku akan pergi dari hidup kalian." Ujar Nathan.
" Kamu pergi dariku. Tetapi apa artinya jika hati ini masih mencarimu." Sanggah Nabila.
" Jadi ini kelakuan kalian di belakangku?!"
__ADS_1