Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
52


__ADS_3

Nathan menatap jendela kantornya. Pikirannya masih berputar tentang keputusannya menolak kerjasama dengan perusahaan besar. Tidak bisa dipungkiri. LC Group yang dipimpin Camila adalah sebuah perusahaan besar di tingkat Asia. Akan sangat menguntungkan jika bisa bekerja sama dengan mereka. Tetapi ada yang membuat Nathan menyesalkan sikap Camila yang arogan. Nathan sangat tidak suka jika harus di diktator seperti itu.


' Tok Tok Tok'


" Masuk."


Silvi memasuki ruangan Nathan hanya sebatas di ambang pintu saja. " Maaf, Pak. Ada Pak Reza datang." Silvi mengutarakan maksudnya.


" Suruh dia masuk." Ucap Nathan dan duduk di kursi kerjanya.


Reza memasuki ruangan Nathan. " Pengantin baru." Seru Reza dan menyalami Nathan. Nathan tersenyum dan mempersilahkan Reza duduk.


" Maaf, di hari pernikahanmu aku tidak datang." Ucap Reza.


" Gak masalah. Doakan yang terbaik saja untuk kami." Sahut Nathan santai. " Ada keperluan apa?"


"Ini laporan pembangunan kantor." Reza menyerahkan map berwarna biru.


Nathan mengambilnya dan mengamati semua dengan detail termasuk laporan pengeluaran yang ada di proyek itu.


" Cepat juga progressnya." Puji Nathan merasa puas dengan kerja Reza. " Apa dananya masih cukup?"


" Masih. Nanti jika ada kekurangan saya akan hubungi." Jawab Reza. Merasa sungkan ketika Nathan segera mengeluarkan cek dan hendak menulisnya.


Nathan hanya tersenyum dan tetap melanjutkan menuliskan nominal uang yang siap dicairkan Reza untuk operasional pembangunan kantornya.


" Saya percaya anda, Pak Reza." Nathan memberikan selembar cek pada Reza.


Reza menerima walaupun sebenarnya dalam hati dia merasa tidak enak hati dengan Nathan yang terlalu mempercayainya.


" Kalau begitu saya permisi." Reza pamit.


" Oh iya. Mungkin dalam minggu ini saya akan datang mengecek pembangunan di sana."


" Silahkan saja, Pak." Reza sedikit menganggukkan kepalanya lalu berlalu dari hadapan Nathan.


Nathan menarik nafas panjangnya. Entah kenapa hari ini terasa sangat berat untuknya. Apakah kejadian pagi tadi sangat mempengaruhi suasana hatinya.


*****


Randy mengibaskan tangannya di depan wajah Nabila. Tapi tidak ada reaksi apapun dari gadis itu. Dia termenung. Pikirannya menerawang entah kemana. Hanya duduk bertopang dagu di depan laptopnya.


" Woi!" Randy akhirnya menggebrak meja kerja Nabila dan membuat gadis itu terlonjak kaget.


" Ahh.. Ngagetin aja!" Omel Nabila. " Kalo masuk ketok pintu dulu!" Protesnya lagi yang melihat Randy tetap santai dan duduk di depan meja kerjanya.

__ADS_1


" Udah, Ibu Nabila. Tapi gak ada jawaban. Saya kira ibu kenapa. Eh ternyata melamun." Sindir Randy sambil menahan tawanya.


Nabila hanya bersungut kesal dan mengambil dengan kasar map yang sejak tadi dibawa Randy.


" Masih pikirin Nathan ya." Kini Randy tampak peduli.


" Engga." Nabila menjawab cepat.


" Masih banyak lelaki diluaran sana. Pliss jangan ganggu keluarga Nathan." Ujarnya.


Nabila melotot tajam ke arah Randy. " Lo pikir gue akan rebut suami orang. Gila kali gue!" Omel Nabila kesal dengan ucapan Randy.


" Bukan gitu. Gue cuma prihatin aja sama hidup Nathan. Tapi gue seneng karena perempuan ini naksir dia tapi gak sampe gila." Ucap Randy di akhiri dengan mimik wajah lucu.


" Cuma butuh waktu aja. Makanya gue gak mau ketemu dia dulu."


" Lo pasti bisa. Oh iya. Laporannya ada yang salah gak?" Tanya Randy dan menyadarkan Nabila dengan berkas yang ada ditangannya Sejak tadi hanya dia bolak balikkan saja.


" Biar gue periksa dulu. Lanjut kerja lagi sana."


Tanpa dikomando lagi. Randy pergi meninggalkan ruangan Nabila.


*****


Senja sudah sibuk berkutat di dapur sejak tadi. Bu Fitri hanya sesekali menengok pekerjaan Senja. Dia ingin membantu tetapi Senja selalu bersikeras menyuruhnya menunggu sambil beristirahat. Sejak Senja menjadi menantunya dan tinggal bersama. Bu Fitri memang sudah jarang menyentuh area dapur. Senja sangat memperhatikannya dan begitu sayang padanya. Berbeda saat Nathan bersama Ayuna. Kedekatannya dengan Ayuna hanya berlangsung saat sebelum menikah. Ketika menikah. Ayuna mengajak Nathan untuk tinggal terpisah. Tapi biar bagaimanapun. Itu semua adalah masa lalu. Lagi pula Ayuna kini sudah tiada. Dia sudah memaafkan semua atas sikap Ayuna.


" Sudah butuh bantuan?" Bu Fitri menawarkan.


" Engga, Bu. Ibu duduk aja. Sebentar lagi selesai." Jawab Senja lembut.


" Semoga pernikahan kalian langgeng ya." Harap Bu fitri. Dia sangat menyayangi Senja dan Gio.


" Aamiin." Senja mengangkat kedua tangannya dan mengusap wajahnya mengaminkan harapan dan doa Bu Fitri.


" Mama. Ada telepon." Ujar Gio dan menghampiri Senja memberikan ponselnya yang terus saja berdering.


Senja menerima ponselnya dan melihat nomor yang tidak dia kenal. Enggan dia mengangkatnya. Segera dia tolak panggilan tersebut.


" Dari siapa?" Tanya Bu Fitri heran.


" Gak ada namanya, Bu." Jawab Senja dan meletakkan ponselnya di meja.


Baru saja akan melanjutkan pekerjaannya lagi. Ponsel Senja kembali berdering dari nomor yang sama. Senja berdecak kesal dan tidak menggubris panggilan telepon itu.


" Angkat, Nak. Siapa tahu penting." Saran Bu Fitri.

__ADS_1


Dengan malas. Senja menuruti ucapan mertuanya. " Halo." Sapa Senja sedikit ketus. Sengaja dia loudspeaker. Malas jika harus mendengarkan hal yang tidak penting.


" Ini dengan Senja? Istri Nathan?" Tanya seorang wanita di sebrang sana.


Senja seketika langsung menatap Bu Fitri dengan cemas. " Iya. Kamu siapa?"


" Gak perlu tahu. Tapi aku punya sesuatu buat kamu." Ujarnya dan menutup panggilan telepon itu.


Senja mengerutkan keningnya tidak mengerti namun detik berikutnya sebuah pesan gambar muncul di ponselnya. Ada gambar Nathan sedang memeluk seorang wanita yang tidak tahu siapa karena wajahnya tidak terlihat tertutupi oleh rambutnya yang panjang.


" Ada apa Senja?" Tanya Bu Fitri cemas karena melihat Senja menjadi diam setelah membaca pesan tersebut.


" Aku mandi dulu, Bu." Ucap Senja dan meninggalkan Bu Fitri yang masih menatapnya heran.


Tiga puluh menit berlalu sudah. Senja masih belum muncul dari kamarnya. Biasanya dia selalu duduk di ruang keluarga sambil menunggu Nathan pulang. Tetapi tidak hari ini.


" Assalammu'alaikum." Sapa Nathan ketika memasuki rumah.


" Wa'alaikumsalam." Sahut Gio dan berlari menyambut Nathan.


" Anak ganteng, Papa." Nathan mengacak gemas pucuk rambut Gio dan beralih mencium tangan Bu Fitri.


" Senja kemana, Bu?" Tanya Nathan yang tidak melihat istrinya menyambutnya.


" Di kamar. Dari tadi gak keluar kamar habis dapat telepon dari wanita." Jawab Bu Fitri sedikit khawatir dengan menantunya.


" Wanita? Siapa?" Gumam Nathan heran.


" Kamu lihat dulu sana. Senja kaya sedih banget tadi." Pinta Bu Fitri.


Nathan segera masuk ke dalam kamarnya dan menemukan Senja menangis sesenggukan di depan meja rias.


" Kamu kenapa sayang?" Tanya Nathan lembut dan mengecup rambut Senja.


" Siapa perempuan ini, Nath?!" Tanya Senja dengan marah. Dia tunjukkan foto yang tadi dia terima.


Nathan memperhatikan foto itu dan sedikit kaget karena mendapati dirinya tengah memeluk mesra wanita lain.


" Siapa Nathan?!" Teriak Senja tak sabar karena melihat Nathan hanya diam saja.


" Aku gak tahu."


" Bohong!" Sergah Senja kesal. " Aku kecewa sama kamu!" Maki Senja lagi.


" Aku benar- benar gak tahu Senja. Itu bukan foto asli. Aku tidak pernah berpelukan dengan siapapun." Nathan mencoba menjelaskan.

__ADS_1


" Ceraikan aku!" Gertak Senja.


__ADS_2