
Nabila kembali memukul stir mobilnya berkali- kali. Informasi yang dia terima tentang keberadaan Nathan selalu saja salah. Rumah yang diduga tempat Nathan berada adalah rumah kosong bahkan beberapa hanya rumah penduduk biasa. Randy hanya menghela nafas berat. Hari sudah mulai gelap. Tetapi pencarian Nathan pada hari ini berujung pada kegagalan.
" Kita harus kemana coba?"
Randy hanya mengedikkan bahunya sambil memperhatikan jalan di depannya.
" Nabila. Berhenti sebentar." Ujar Randy meminta Nabila menepi.
" Ada apa?"
" Berhenti aja sekarang!" Perintah Randy tegas. Matanya tak lepas menatap seseorang yang berada di sebuah warung kopi pinggir jalan.
Nabila segera menurut dan ikut menatap kearah mata Randy memandang.
" Itu orang yang ada di sketsa kan?" Randy menunjuk memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.
" Iya. Kita awasi dia." Bisik Nabila.
" Cepat hubungi anak buahmu agar mengikuti GPS kita."
" Oke." Nabila segera menghubungi anak buahnya dan juga mengirimkan lokasi mereka.
" Baiklah. Dia sudah selesai. Mau kemana kau?" Gumam Randy dan tanpa aba- aba Nabila mengikuti dua orang itu yang berboncengan dengan motor.
" Jangan sampai mereka menyadari sedang diawasi." Ucap Randy.
Nabila segera mengurangi kecepatannya agar jarak mereka sedikit menjauh.
" Bagus. Nahh. Itu mereka." Tunjuk Randy ketika melihat dua orang itu memasuki sebuah gerbang tinggi berwarna putih.
" Apa Nathan ada disini?" Tanya Nabila sedikit heran. Karena rumah yang ada di depan mereka sangat mewah dan megah.
" Kita periksa."
" Caranya?"
" Ayolah. Gunakan status wanitamu." Ucap Randy geram.
Nabila sejenak berpikir. Dan kemudian. Dia dan Randy turun. Bedanya. Randy bersembunyi diantara semak- semak yang berada tak jauh dari mobil mereka terparkir. Nabila mengolesi wajahnya dengan oli yang ada pada mesin mobilnya.
" Permisi." Ucap Nabila sambil menekan bel yang berada di luar gerbang.
" Ada perlu apa?" Terdengar suara dari intercom.
" Mobilku mogok. Hari sebentar lagi malam. Bisakah anda membantu?" Ujar Nabila dengan nada manja.
Orang yang ada di sana tak menjawab. Namun seseorang keluar dari pintu gerbang. Seorang lelaki berbadan kekar namun tidak terlalu besar.
" Bisa saya lihat keadaan mobilnya?"
__ADS_1
" Silahkan. Aku tidak mengerti mesin sama sekali. Tolonglah." Ucap Nabila dengan nada manja dan sedikit merayu.
Pria itu tersipu malu mendengar suara manja Nabila dan juga Nabila sedikit mengelus lengan kekarnya.
Pria itu sedikit mengotak atik mesin mobil Nabila.
" Apa aku bisa menumpang ke toilet. Aku sangat ingin buang air kecil." Ujar Nabila berusaha mencari alasan agar bisa masuk.
" Silahkan. Biar teman saya yang mengantar."
" Tidak perlu. Biar saya sendiri saja. Tunjukkan saja jalannya."
" Dari pintu garasi itu. Kamu lurus saja sampai dapur. Di sana ada toilet."
" Oh baiklah. Terima kasih sebelumnya." Ujar Nabila kemudian merangsek masuk ke dalam.
Randy yang hanya melihat dari balik semak- semak. Dibuat takut jika Nabila ikut disekap.
Nabila berjalan mengindik- indik agar tidak ketahuan. Perlahan dia menyusuri rumah itu dan membuka pintu itu secara perlahan. Ruangan di lantai dasar tidak ada Nathan sama sekali. Namun ada satu pintu ruangan yang terkunci. Itu membuat Nabila sedikit penasaran. Dia mencoba mengintip dari lubang kunci. Tetapi tidak terlihat apapun.
' Tap Tap Tap'
Suara sepatu membuat Nabila terkejut dan buru- buru dia sembunyi dibalik pilar besar. Seorang wanita berparas oriental membuka pintu yang terkunci itu dan
Nathan!
Nabila melihat Nathan sekilas sedang duduk di tepi kasur berwarna putih sebelum wanita itu menutup pintunya kembali. Nabila segera meninggalkan ruangan itu sebelum ketahuan. Baginya saat ini adalah mengetahui dimana Nathan berada.
" Aw." Nabila meringis kesakitan.
" Hei. Siapa kamu?" Tanya pria berbadan besar itu melihat Nabila terduduk di lantai.
" Maaf. Aku tadi menumpang ke toilet. Tetapi aku tersesat." ujar Nabila menutupi rasa gugupnya.
Fumiko yang baru saja ingin menggoda Nathan. Merasa terganggu karena suara di luar kamar. Dengan perasaan marah. Dia keluar dari kamar itu.
" Ada apa?" Tanyanya marah. " Siapa dia?" Tanyanya dengan nada tinggi. Nathan yang merasa aneh. Ikut keluar kamar dan melihat Nabila. Namun dia bersikap seperti orang yang saling tidak kenal.
" Kenapa kamu keluar?" Bentak Fumiko pada Nathan. " Masuk!" Bentaknya lagi. Tanpa bicara apapun. Nathan kembali ke kamar itu.
Syukurlah aku bisa menemukanmu. Sebentar lagi kamu akan bebas.
Gumam Nabila dalam hati.
" Jika tidak ada urusan lagi. Cepat keluar!" Bentak Fumiko lagi pada Nabila sambil melotot tajam.
" Maaf, Nyonya. Yang tadi itu anaknya ya? Ganteng ya." ujar Nabila semakin membuat Fumiko kesal.
" Bawa wanita ini keluar!" Perintahnya tegas pada anak buahnya.
__ADS_1
Pria berbadan besar itu segera membawa Nabila keluar dari rumahnya. Nabila dihempaskan begitu saja ketika sampai di luar gerbang. Pria yang membantu memperbaiki mobil Nabila masih berdiri di sana menyambut Nabila dengan senyum menggoda. Nabila melihatnya dengan tatapan jijik.
" Apa sudah selesai?" Tanya Nabila tegas. Tak ada lagi nada manja dan merayu seperti tadi.
" Sudah nona." Godanya dan mendekati Nabila.
" Menyingkir dari calon istriku!" Randy yang kesal mendorong tubuh pria kekar itu.
Randy dan Nabila segera masuk ke dalam mobil dan langsung menancap gas meninggalkan rumah itu.
" Kemana anak buahmu?" Omel Randy yang tidak melihat anak buah Nabila datang.
" Mana aku tahu!" Nabila segera memeriksa ponselnya. " Gak ada sinyal!" Nabila berdecak kesal.
" Bagaimana? Apakah ada Nathan?" Tanya Randy.
" Ya. Sepertinya dia akan mengalami situasi yang sama seperti dengan Sintia." Ujar nabila dengan anda lesu. " Malam ini juga. Kita harus membebaskan Nathan!" Ujar Nabila menggebu.
" Kita libatkan pihak kepolisian." Usul Randy.
" Ide bagus."
Di kamar itu..
Nathan terus menghindari Fumiko yang terus saja duduk berdekatan dengannya. " Kenapa kamu terus menjauh?" Tanya Fumiko kesal pada Nathan yang terus menghindar.
" Aku tidak nyaman. Lagi pula aku sudah mulai mengantuk." Nathan beralasan.
" Biar aku yang bekerja. Kamu menikmati saja. Lagi pula lukamu belum sepenuhnya sembuh bukan?" Fumiko kembali menggoda.
Nathan menelan salivanya kasar. Tidak ingin dia kembali terjerumus pada hal yang sama lagi.
" Aku sudah beristri."
" Tapi disini kamu milikku!" Sergah Fumiko geram dan langsung menyerang Nathan hingga Nathan terjatuh di kasur. Dengan cepat, Fumiko mengapit tubuh Nathan.
" Arrgghh.." Nathan merasa nyeri pada lukanya yang belum sepenuhnya sembuh karena tertindih tubuh Fumiko.
" Jangan melawan!" Fumiko semakin menggila.
Dia berusaha membuka baju Nathan Tetapi Nathan tetap berusaha melawan. Walaupun harus menahan sakit pada luka di perutnya. Nathan mendorong tubuh Fumiko hingga terjungkal ke lantai.
Segera Nathan bangun dan berlari menuju pintu kamarnya. Nathan berusaha membuka kunci itu dan dengan cepat. Nathan berlari keluar. Fumiko yang kesal mengejar Nathan yang masih tertatih karena lukanya kembali berdarah.
Nathan terus berlari menghindari kepungan anak buah Fumiko. Jika harus berduel. Nathan pasti kalah telak. Fumiko terus menjerit memerintahkan seluruh anak buahnya menangkap Nathan.
Nathan yang mulai terkepung segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci dirinya di sana. " Errgghh.." Nathan mengerang kesakitan ketika melihat lukanya kembali menganga. Darah yang keluar mulai banyak. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Gedoran pintu dari luar tak diindahkan Nathan yang mulai merasa pusing.
__ADS_1
Jika ini adalah akhirku. Aku ikhlas...