Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
20


__ADS_3

Pov Nathan


Aku mengedarkan pandanganku menyusuri setiap sudut kafe mencari sosok Randy. Sudah semua ruangan aku susuri tapi tak terlihat juga sosoknya. Berkali- kali aku telepon tapi tidak diangkat. Jangan- jangan dia masih di jalan. Kebiasaan ngaretnya masih belum berubah. Dia bilang otw dari rumah. Tapi belum sampai juga. Akhirnya aku duduk di sudut ruangan menunggu dia.


Tak sampai sepuluh menit akhirnya sosoknya terlihat juga dan senyuman khasnya dia edarkan.


" Gila. Makin macet aja ni kota." Serunya sambil menjatuhkan badannya di kursi depanku sambil mengibas- ngibaskan bajunya agar udara masuk ke badannya.


" AC mobil lu mati?!" Sindirku karena terlihat dia seperti kepanasan.


" Seorang Randy, Gak mungkinlah kalo AC mobil gue mati." Tukasnya menyombongkan diri.


" Rena dan Rian mana?" Tanyaku yang tak melihat anak dan istrinya.


" Gue tinggallah. Gila aja lo mau nongkrong bawa anak bini." Sahutnya asal.


Aku hanya menggelengkan kepala. Tingkahnya masih sama seperti masih bujangan. Seenaknya sendiri.


" Udah dapet pengganti Ayuna belom?"


Aku hanya tersenyum tipis menanggapi ucapannya dan menyeruput cappucino.


" Jangan kelamaan, Nath. Keburu tua." Ejeknya.


" Doain aja."


Randy langsung menegakkan badannya mendengar ucapanku. Wajahnya berubah antusias. " Udah ada?" Tanyanya sangat penasaran.


" Kepo lu."


" Siapa? Cantik gak?"


" Lu juga kenal."


" Wahh sayang banget dong. Padahal gue mau kenalin elu sama seseorang."


" Siapa?" Tanyaku penasaran.


" Nanti lu tanya sendiri. Yang jelas orangnya cantik. Putri semata wayang yang hartanya gak bakalan abis tujuh turunan delapan tanjakan kalo lu gak kerja." Ujar Randy seperti seorang sales yang sedang menjelaskan produknya.


" Terus?" Aku masih santai.


" Kenal aja dulu deh. Gue udah terlanjur janji mau kenalin ke elu."


" Kalo dia suka sama gue gimana? Gue kan udah punya calon."


" Ck."Randy tampak bingung seperti memikirkan sesuatu. " Kenal dulu deh, Nath. Plis banget. Dia anaknya rekan bisnis gue." Bujuk Randy seperti serba salah.


Aku mengerutkan dahi melihat sikapnya. Seperti ada sesuatu yang dia rencanakan dibelakangku. " Cerita ke gue. Ada apa sebenarnya?" Desakku.


Randy berpikir sejenak dan kemudian wajahnya berubah serius. " Sebenarnya Dia ini temannya Rena. Gak sengaja liat elu pas foto pernikahan gue. Dari situ dia nanya- nanya terus tentang elu dan dia minta ke gue buat di kenalin ke elu. Kayanya dia suka sama elu. Mau ya ama dia." Randy menekankan kalimat terakhirnya padaku agar menerima wanita yang belum aku kenal sama sekali.


" Tunggu. Maksudnya gimana nih?" Tanyaku masih tidak mengerti maksud Randy.


" Jadi..."


" Hai Ran." Sapa seorang wanita yang membuat Randy langsung menoleh ke arahnya. Bisa aku tebak. Dia adalah wanita yang dimaksud Randy.


Wanita itu memberikan senyum terindahnya padaku yang masih santai saja melihatnya. Wanita yang harus aku akui sangat cantik berwajah oriental kulit putih tinggi dan berambut hitam panjang.


Dia menyalami Randy.


" Nath. Ini Sintia. dan Ini Nathan." Randy memperkenalkan kami.


Sintia mengulurkan tangannya. " Sintia." Ujarnya sambil terus tersenyum.


" Nathan." Aku menjabat tangannya.


" Duduk deh." Randy mempersilahkan dan Sintia duduk di sampingku.


" Kamu kerja apa Nathan?" Tanyanya. Logat bicaranya masih terdengar seperti orang bule pada umumnya.


" Dia pengusaha." Randy mendahuluiku menjawab. Padahal aku mau menjawab hanya kerja kantoran biasa.


Diam- diam aku menendang kaki Randy dan dia sedikit meringis. Tapi detik selanjutnya dia malah melemparkan senyum yang menyebalkan.

__ADS_1


" Oh ya?!" Seru Sintia senang. " Perusahaan apa?"


" Perusahaannya bergerak di bidang property dan juga kontraktor." Randy kembali mendahuluiku. Terlalu rinci dia menjelaskan.


Aku kembali menendang kakinya lebih keras kali ini. Dan melemparkan senyum canggung pada Sintia.


" Wajah kamu oriental. Tapi nama kamu Indonesia logat kamu seperti orang Amerika." Ujarku sedikit bingung dengan asal usulnya.


" Oh Iya. Papa aku Indonesia dan Mama aku Jepang. Aku tinggal di California. Baru beberapa bulan ini aku tinggal di Indonesia. Mengurus bisnis papa. Dia baru mendirikan perusahaan disini." Jelasnya panjang lebar.


Aku hanya diam mendengarkan dia.


" Kamu sudah pernah menikah?" Tanya Sintia.


" Iya."


" Aku sudah mendengar sedikit kisahmu dari Randy dan istrinya. Aku turut berduka." Ujar Sintia bersimpati atas kisah hidupku yang mungkin menurutnya menyedihkan.


"Thanks." Sahutku pelan.


" Aku boleh minta nomor ponselmu?" Tanyanya dan menyodorkan ponselnya.


" Untuk?"


" Siapa tau saja kita bisa kerjasama." Ujarnya beralasan.


Aku menghela nafas panjang melihat Randy melirik ponsel Sintia agar aku memberikan nomor ponselku. Dengan berat hati aku mengetikkan nomor ponselku di ponselnya.


Sintia tersenyum dan segera misscall. " Itu nomor ponselku."


" Oke." Aku menyimpan nomornya. Entah akan penting atau tidak nomor ponsel ini nantinya.


" Aku harus pergi sekarang. Ada urusan." Ujar Sintia sembari melihat jam tangannya.


" Okey."


" Nice to meet you, Nathan." Ujarnya dan menyalamiku juga mengecup pipiku.


Aku hanya senyum canggung lagi menanggapi sikapnya. Randy terbelalak melihat sikap Sintia.


Aku sibuk melap pipiku yang di kecup Sintia tadi.


" Kayanya dia makin suka sama lu, Nath." Ujarnya lagi.


" Ini masalah lu. Gue gak ikut campur." Ucapku kesal dengannya.


" Putusin aja dah cewek lu." Pinta Randy.


" Gila lu. Baru jadian udah diputusin." Aku menolak.


" Mumpung masih baru, Nath. Rasanya belum terlalu dalam." Bujuknya lagi sambil mengerjapkan matanya biar terlihat imut.


" Sialan lu! Gue jadian ama Senja."


" Apa?!" Seru Randy terkejut mendengar nama kekasihku.


" Masih mau minta gue putusin?" Geramku.


Randy hanya menggelengkan kepalanya dan terlihat sangat bingung. Aku jadi bingung melihat sikapnya yang sepertinya takut dengan sosok Sintia.


" Gue mau balik." Ujarku. Belum juga melangkah ponselku berdering dan tertera nama Sintia di sana. Aku melirik Randy.


" Angkat Nath."


Malas rasanya menerima panggilan itu. " Halo." Sapaku.


" Hai, Nath. Bisakah besok kita bertemu?"


" Maaf. Sepertinya besok tidak bisa." Tolakku.


" Kenapa?"


" Aku banyak pekerjaan." Jawabku asal. Walaupun memang selalu banyak pekerjaan di kantor.


" Lalu kapan kita akan bertemu lagi?"

__ADS_1


" Nanti aku kabari jika ada waktu." Ucapku. Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat untuk menemuinya kembali.


" Dia kalo udah punya mau. Harus dapat." Ujar Randy setelah aku memutuskan panggilan telepon.


" Gue bukan barang, Ran." Aku tidak setuju dengan ucapan Randy.


" Begitu sifatnya, Nath." Randy tampak putus asa.


" Gue balik." Ujarku malas.


" Jangan dulu, Nath." Cegah Randy. Wajah seketika tampak suntuk.


Aku duduk kembali di kursiku dan menunggu Randy bicara. Dia berkali- kaki mengusap wajahnya kasar. Terlihat sekali dia sedang ada masalah.


" Kalo masih diam. Gue cabut." Ancamku.


Randy menghela nafas panjang dan .. " Perusahaan gue tergantung elu, Nath. "


" Kok gue?" Aku bingung mendengarnya.


" Jujur nih. Gue harap banget elu bisa nerima Sintia."


" Kenapa?"


" Terima aja." Paksa Randy agar aku mengikuti kemauannya.


" Pasti ada alasan di balik ini." Ujarku lagi masih memaksa dia bicara yang sebenarnya.


" Gue butuh bantuan lu, Nath. Sintia akan menyuntikkan modal di perusahaan gue asal lu jadi pasangannya." Ujar Randy akhirnya.


" Kenapa gue. Gue gak ada kaitannya sama perusahaan lu, Ran. Jangan gila." Seruku tak terima dengan perjanjian Randy.


" Gue bisa apa, Nath?! Saham gue anjlok. Perusahaan gue bakal gulung tikar. Anak istri gue gimana?"


" Bisnis hotel bokap lu?"


" Udah di ambil alih kakak gue. Dia gak mau bantu perusahaan gue." Jawab Randy lesu. Semenjak ayahnya Randy sakit- sakitan Randy memang memutuskan mengadu nasibnya mendirikan perusahaan di luar negri. Tahun pertama dan tahun kedua masih baik- baik saja. Ternyata di tahun berikutnya perusahaannya terancam gulung tikar. Aku turut prihatin mendengar masalahnya.


Aku menarik nafas dalam. " Berapa modal yang lu butuhin?" Tanyaku.


" Seenggaknya lima puluh persen dari modal awal gue."


Aku terbelalak tak percaya. Darimana uang sebanyak itu. Aku sudah berencana membangun gedung kantor sendiri. Belum lagi banyak proyek yang sedang aku tangani. Semua butuh modal yang besar. Aku tahu berapa modal pertama Randy mendirikan perusahaan itu. Uang sebanyak itu belum bisa aku raup dari kedua perusahaanku.


" Bisa, Nath?" Tanya Randy penuh harap.


Dengan menyesal. Aku menggelengkan kepala. " Tiga puluh persen bisa gue bantu."


" Gak bisa Nath." Ujar Randy nadanya masih putus asa.


" Kalo gue belum mulai proyek gedung. Mungkin bisa. Tapi.." Kalimatku menggantung. Tidak mungkin juga aku membatalkan proyek pembangunan gedung kantor. Semua perizinan sudah lengkap dan semua sudah di siapkan.


" Siapa Sintia sebenarnya?" Tanyaku akhirnya.


" Dia anak pengusaha besar. Orang tuanya punya bisnis dimana- mana."


" Indonesia?"


" Setelah dia tahu kamu. Sintia meminta dibuatkan perusahaan disini." Jelas Randy.


" Apa gue bisa melawan mereka?"


Randy menggeleng lesu. " Mereka perusahan besar, Nath. Ayahnya terkenal kejam."


" Kenapa lu mau kerjasama dengan mereka. Apa gak ada yang lain?" Aku mulai kesal dengan keputusan Randy.


" Mereka yang menawarkan. Dana mereka udah masuk separuhnya. Setelah itu Sintia baru melakukan perjanjian itu. Kalo lu atau gue nolak. Dia minta uangnya balik dua kali lipat."


Aku memijit pelipisku. Pening mulai terasa dengan permasalahan Randy yang secara tidak langsung melibatkan aku di dalamnya.


" Terima Sintia ya Nath." Randy mengatupkan kedua tangannya dengan wajah memohon.


Aku menghela nafas panjang dan berat. Tak tega rasanya melihat dia kesusahan seperti ini.


" Senja gimana?" Aku masih bingung. Selalu saja di saat aku menjalani hubungan pasti datang orang lain yang akan mengganggu.

__ADS_1


Randy hanya menggeleng lemah. Dia belum mempunyai ide tentang itu.


__ADS_2