Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
7


__ADS_3

" Pergi kamu dari sini!" Hardikku. Peluh telah membasahi keningku. Rasa takut dan traumaku kembali menjalar. Aku bisa apa. Saat ini aku hanya sendiri di rumah ini. Air mataku mengalir deras membasahi pipi.


" Jangan takut sayang. Aku cuma ingin tanggung jawab." Ucapnya lagi dengan nada merendahkanku.


" Aku tidak butuh." Bentakku lagi. Mana mungkin aku menerima dia yang telah menghancurkan hidupku.


" Kamu pikir dengan menjebloskan aku ke penjara. Bisa membuatmu aman?!!" Bentaknya masih terus menatapku lekat. Ada kemarahan besar dan dendam yang terpancar dari matanya. " Kamu pikir aku akan di penjara selamanya? Apa kamu lupa siapa keluargaku?" Bentaknya lagi dan di sambut gelak tawa kemenangannya.


" Jangan ganggu hidupku lagi!"


" Setelah aku puas denganmu." Ucapnya lagi dan seketika menarik tubuhku hingga terpelanting di atas kasur.


Aku menangis sejadi- jadinya saat Toni menindih tubuhku dan tangannya mulai menjalar menjelajahi tubuhku. Jijik rasanya mendapatkan perlakuan ini lagi. Aku masih berusaha memberontak namun kekuatanku tak seimbang dengannya.


Toni mulai merobek bajuku dan menyingkapnya. Namun tiba- tiba pintu kamar terbuka.


" Kurang ajar!" Bentak seseorang yang tiba- tiba masuk.


Aku melihat ke arahnya dan Nathan menatap marah melihat perbuatan Toni padaku.


Nathan langsung menarik tubuhnya dan meninju Toni. Seketika Toni tersungkur namun dengan cepat Toni segera bangun dan tiba- tiba dia mengeluarkan pisau lipat dari sakunya. Dengan cepat Toni menikam Nathan. Beruntung Nathan masih bisa mengelak tetapi dia tetap terluka di bagian pinggir perutnya.


Tanpa pikir panjang lagi. Aku membantu Nathan. Aku meraih vas bunga yang memang ada di meja samping ranjang. Dengan sekuat tenaga, aku memukul kepala Toni.


Toni berbalik arah menatap dengan kemarahan yang besar. Dia segera menghampiriku dan ingin menikamku dengan pisau yang ia pegang.


'BRUK' Sekuat tenaga, Nathan mendorong tubuh Toni hingga dia tersungkur dan kepalanya kembali terbentur.


" Arrrgghhh!" Erang Toni marah.


" Lari, Senja. Cari bantuan." Bisik Nathan padaku.


Dengan segera aku berlari keluar kamar dan berlari keluar rumah. Aku berteriak seperti orang gila meminta pertolongan kepada orang di sekitar.


Dalam sekejap orang- orang berdatangan menghampiriku. " Tolong, Pak. Ada yang mau menusukku. Sekarang dia di dalam sedang di cegah temanku." Ujarku panik.


Kami segera memasuki rumahku dan menuju kamar. Terlihat Nathan sudah berlumuran darah masih terus saja menghadang Toni yang ingin kabur. Setelah Toni sudah ditangkap warga. Perlahan tubuh Nathan juga ambruk. Entah apa yang terjadi saat aku meminta pertolongan.


*****


" Bagaimana Nathan?" Tanya Bu Fitri dan Ayuna cemas ketika mereka baru saja sampai.

__ADS_1


" Masih di tangani dokter." Jawabku.


" Bajumu.." Ayuna tampak heran melihat bajuku robek.


" Ini semua ulah Toni." Kataku lagi dan aku menundukkan kepalaku menutup wajahku. Tak kuat rasanya menjelaskan semuanya saat ini.


Bu Fitri memelukku erat seraya memberikan kekuatan padaku. Tuhan. Kenapa tidak kau ambil saja nyawaku.


" Aku ambil baju dulu di mobil." Ayuna pamit padaku dan Bu Fitri.


Sejak tadi, aku sudah tidak memikirkan seperti apa penampilanku saat ini. Jika Nathan tak datang. Mungkin saat ini aku sudah di jadikan pemuas nafsu Toni.


Aku sudah mendapatkan kabar jika Toni sudah di bawa ke kantor polisi. Kali ini, aku harus memastikan jika Toni mendapatkan hukuman yang setimpal.


*****


" Keluarga Bapak Nathan." Panggil suster. Segera kami menghampiri susternya.


" Kalian diminta menemui dokter." Kata sang suster.


Kami bergegas menuju ruangan dokter. Betapa tegangnya kami, kenapa tidak langsung di sampaikan saja kabar apapun itu.


" Silahkan duduk. Ibu dan sekeluarga harus tenang. Saya tidak ingin menyampaikan berita ini jika kalian seperti ini." Ujarnya karena kami memang sangat terlihat tegang dan cemas.


" Tolong, Dok." Pinta Ayuna memohon.


" Baiklah, tapi saya harap kalian harus menghadapi situasi apapun dengan kepala dingin." Kami serentak mengangguk. " Ada pendarahan yang cukup serius di bagian kepala Pak Nathan."


Deg!


Serasa ingin terhenti jantung ini mendengar berita menyakitkan ini. Walaupun sebenarnya itu baru kalimat pembuka.


" Pak Nathan harus melakukan operasi. Tetapi tentunya hal ini sangat beresiko." Sambung Dokter itu lagi.


" Kalau tidak di operasi bagaimana?" Bu Fitri mencoba untuk menimbang.


" Saya tidak yakin jika Pak Nathan akan sadar." Terangnya lagi. " Sepertinya sebelum ini, Pak Nathan pernah mengalami cedera otak?" Kami pun serentak mengangguk. " Pukulan ini ibaratnya seperti melukai di tempat yang sama. Jika tidak segera di tindak. Saya khawatir akan terjadi hal- hal yang tidak di inginkan." Terangnya lagi.


Ayuna dan Bu Fitri saling beradu pandang menimbang keputusan apa yang akan mereka ambil.


" Tolong operasi suami saya, Dok." Ujar Ayuna akhirnya.

__ADS_1


" Operasi ini sangat beresiko. Jika berhasil. Insya allah Pak Nathan selamat tetapi jika gagal, Pak Nathan akan mengalami kelumpuhan dan kemungkinan terburuknya adalah kematian. Apakah kalian sanggup menerima segala hal yang akan terjadi?"


" Sanggup, dok." Sahut Ayuna yakin walaupun air mata seketika itu juga jatuh membasahi pipinya.


" Baiklah. Kami akan segera menyiapkan operasi untuk Pak Nathan."


*****


Sejak keluar dari ruang dokter. Tak ada satupun dari kami yang saling berbicara. Kami terlalu sibuk dengan pikiran masing- masing. Aku melihat Ayuna yang sejak tadi bersandar lemas menatap pintu ruang operasi. Satu detik berlalu rasanya lama sekali.


" Maafkan aku, Na." Ucapku di sela tangisku.


" Untuk apa?" sahut Ayuna sedikit ketus.


" Atas apa yang menimpa Nathan." Tuturku


tulus.


" Kamu gak salah."


" Tidak seharusnya aku meminta pulang. andai saja aku mendengarkan kata- kata klian."


" Apa yang sudah terjadi, sudah di gariskan tuhan. Sekarang kita hanya bisa berdoa agar operasi Nathan berhasil." Sahut Bu Fitri menengahi. Wajah rentanya terlihat sangat lelah. Pandangan matanya menerawang jauh. Sejak tadi aku perhatikan. Mulut Bu Fitri selalu berzikir berharap ada keajaiban untuk Nathan.


*****


" Gio dengan siapa?" Tanya Ayuna memecahkan keheningan antara kami.


" Aku titip dengan tetanggaku. Saat kejadian itu, Gio sedang tertidur lelap." Tuturku masih dengan tubuh gemetar.


" Sabar, Senja. Sebisa mungkin kami akan melindungimu." Ucap Ayuna lagi dengan helaan nafas.


" Maaf merepotkan kalian." Ucapku akhirnya.


Keheningan kembali terjadi. Aku dan Ayuna kembali sibuk dengan pikiran sendiri- sendiri.


" Aku sangat berharap Nathan selamat. Anakku butuh ayahnya begitupun juga Gio." Ayuna menerawang jauh dan sebulir bening jatuh dari pelupuk matanya. Wajahnya sendu dan terlihat sangat lelah.


Aku hanya terdiam mendengar ucapannya. Aku sangat mengerti dengan perasaannya yang takut kehilangan dirinya. Karena tanpa dia tahu, aku pun merasakan hal yang sama.


' Tuhan, jangan ambil dia. Selamatkan dia.' Gumamku dalam hati, ku pejamkan mataku sejenak. Ingin rasanya aku bertukar tempat dengannya.

__ADS_1


__ADS_2