Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
118


__ADS_3

Nathan mengecup lembut pipi istrinya yang tengah terlelap. Di sampingnya terbaring bayi Yusuf tengah tidur dengan nyenyak. Nathan menatap lekat wajah lelah Senja yang begitu larut dalam mimpinya hingga tak menyadari kehadirannya.


Nathan segera membersihkan tubuhnya dan dengan sendirinya ke meja makan. Hanya ada ibunya yang sibuk menyiapkan makanan untuknya. Nathan menghampiri ibunya dan memeluk erat.


" Anak ibu kenapa?" Bu Fitri menepuk- nepuk lengan Nathan yang melingkar.


" Apa waktu aku kecil, Ibu juga kelelahan?" Tanya Nathan masih memeluk ibunya.


Bu Fitri tersenyum. " Setiap ibu pasti merasakan lelahnya mengasuh bayinya. Tetapi semua ibu juga merasakan bahagia di saat yang sama." Bu Fitri melerai tubuhnya dari putranya.


" Ibu dan ayah begitu bahagia ketika kamu lahir. Kami bergantian mengasuh mu. Melihat Yusuf. Mengingatkan ibu padamu saat bayi dulu." Ujar Bu Fitri.


Nathan mengecup lembut kening wanita yang telah melahirkannya. " Terima kasih atas semua jerih payah ibu merawatku. Entah harus bagaimana aku bisa membalas semua yang ibu lakukan."


" Semua ibu tidak mengharapkan imbalan dalam merawat dan membesarkan anaknya. Sekarang ibu sudah sangat bahagia melihat kamu sukses dan sudah memiliki keluarga sendiri. Pesan ibu hanya satu. Bahagiakan istrimu. Jangan biarkan air mata kesedihan jatuh dari matanya karena dirimu." Ucap Bu Fitri kini matanya mulai basah.


" Iya, Bu."


" Sudah sedih- sedihnya." Bu Fitri segera menyeka air matanya dan menarik Nathan agar duduk di meja makan.


Nathan yang memang pulang agak telat. Karena setelah bertemu dengan Nabila dia menyempatkan dirinya untuk berhenti membeli kue kesukaan istri dan ibunya. Juga tak lupa membeli cemilan untuk Gio.


" Wajahmu kenapa, Nath?"


Nathan memegang pipinya yang di pukul Randy sore tadi. Memang meninggalkan lebam di sana.


" Ada kesalahpahaman sedikit. Tapi ini gak apa- apa, Bu." Jawab Nathan.


" Jangan mencari musuh lagi, Nath."


" Iya, Bu."


Nathan yang sudah selesai makan malam segera masuk ke kamarnya dan mengambil laptopnya memeriksa email yang baru saja dikirim Silvi. Nathan membaca email yang berisi laporan hasil meeting siang tadi.

__ADS_1


' Ooeekk Ooeekk Ooeekk'


Nathan segera menutup laptopnya ketika mendengar Yusuf menangis. Nathan segera menghampiri bayi Yusuf yang terlihat tak nyaman. Segera Nathan mengecek popoknya dan benar saja. Popok Yusuf sudah harus di ganti. Lagi pula anak ini baru saja buang air besar. Dengan cekatan Nathan membersihkan kotoran Yusuf dan mengganti popoknya tanpa membangunkan Senja yang terlihat begitu nyenyak tidurnya.


Setelah selesai mengganti popoknya. Nathan menggendong putranya dan menimang- nimang anaknya agar kembali tertidur. Satu jam berlalu. Nathan mulai merasakan kantuk menyerangnya. Beberapa kali dia menguap panjang dan melihat Yusuf masih segar dalam buaiannya.


" Tidur ya nak. Sudah malam." Ujar Nathan lembut pada putranya yang seperti mengerti ucapannya.


" Yusuf mau ngomong apa sayang?" Nathan merasa gemas melihat putranya seperti ingin berbicara dengannya.


" Papa ngantuk. Mainnya besok lagi ya, sayang."


Senja yang meraba- raba mencari sosok Yusuf yang tadi berbaring di sampingnya tampak terkejut ketika mendapati anaknya tidak ada. Senja segera duduk dan menoleh.


" Ya Allah. Aku kaget sayang."


" Tadi dia bangun. Abis pup." Ucap Nathan dengan senyum manisnya.


" Kamu pasti lelah. Biar Yusuf aku gendong." Senja mengambil Yusuf dari gendongan Nathan.


" Maaf ya. Aku gak tau kamu pulang."


" Gak papa. Aku belikan kamu kue. Aku letakkan di kulkas." Ujar Nathan.


" Terima kasih." Senja tersenyum senang karena suaminya begitu perhatian.


" Aku tidur duluan ya sayang. jika kamu cape. Bangunkan aku." Ucap Nathan dan membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah.


******


Nabila menarik nafasnya dalam mempersiapkan dirinya untuk menemui suaminya yang mungkin masih sibuk dengan game di ponselnya. Sekali lagi Nabila menatap dirinya yang hanya terbalut dengan baju tidur yang lumayan transparan hingga menampakkan siluet tubuhnya dengan jelas.


Dengan satu tarikan nafas panjang. Nabila membuka pintu kamar mandi dan menghampiri Randy yang masih asik bermain ponsel sambil berbaring pada sofa tempat dia tidur semenjak mereka menikah.

__ADS_1


" Randy." Panggil Nabila yang kini berada di sampingnya.


" Hemm" Randy hanya berdehem dan masih fokus dengan ponselnya.


" Apa kamu tidak mau melihatku?" Tanya Nabila gemas melihat Randy masih asik dengan ponselnya.


Randy melihat sekilas kearah Nabila yang berdiri di dekatnya dan kembali menatap layar ponselnya. Namun, Randy baru menyadari apa yang dipakai Nabila.


Randy kembali melihat ke arah Nabila yang tengah tersenyum menggoda pada dirinya. Kedua mata Randy terbelalak menatap tubuh molek istrinya.


" Apa yang kamu lakukan Nabila?" Tanya Randy merasa sedikit aneh dan takut jika dia salah dalam menafsirkan.


" memberikan hakmu." Ucap Nabila dan semakin mendekat ke arah Randy.


Randy menelan salivanya kasar. " Apa kamu yakin?"


" Menurut kamu?" ucap Nabila kini duduk di pangkuan Randy.


Randy masih terlihat takut untuk menyentuh Nabila. Dia hanya mampu memandangi tubuh istrinya yang berada di pangkuannya.


Nabila memeluk tubuh Randy erat dan seperti ingin merasakan kehangatan pada tubuh suaminya.


" Nabila. Aku tidak mau kamu melakukan ini karena terpaksa."


" Tidak ada yang bisa memaksaku." Perlahan Nabila mengecup pipi Randy.


" Tapi Nathan..


Nabila meletakkan telunjuknya pada bibir Randy. " Jangan ada nama lain dalam hubungan kita." Nabila mendaratkan bibirnya pada bibir Randy dan selanjutnya.... Dipikirkan sendiri aja ya, buat yang sudah punya pasangan pasti tahu kelanjutannya apa. Heheheee.


Nafas Randy dan Nabila tersengal- sengal setelah pelepasan yang mereka lakukan. Randy menatap wajah Nabila yang penuh dengan peluh membasahi wajahnya. Perlahan Randy menyeka keringat yang membasahi wajah Nabila.


" Terima kasih, Sayang." Randy mengecup singkat bibir Nabila kembali dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


Nabila hanya menyunggingkan senyumnya. Pikirannya menerawang jauh. Apakah yang dia lakukan sudah benar. Nabila masih tidak percaya jika dia benar- benar menyerahkan tubuhnya pada suaminya yang memang memiliki hak atas itu. Nabila hanya bisa berharap cintanya akan tumbuh seiring berjalannya waktu.


__ADS_2