Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
89


__ADS_3

Randy dan Nabila langsung menuju rumah sakit begitu mendapat kabar dari Senja bahwa Nathan telah siuman. Tak sabar rasanya untuk melihat sahabatnya kembali membuka matanya. Begitu sampai di ruangan Nathan. Ruangan Nathan terlihat cukup ramai. Teman- teman Senja masih berada di sana serta Bu Fitri yang duduk di kursi sebelah ranjang Nathan sambil menyuapi putranya buah.


" Hai. Akhirnya kalian sampai." Sambut Senja senang.


" Iya. Aku harus menyelesaikan meeting dulu Senja." Ujar Nabila memberikan alasan.


" Apa Randy bekerja?"


Nabila menggeleng cepat. " Dia dari rumah menjemputku. Mungkin hampir sepanjang hari dia tidur." Ucap Nabila dengan gelak tawanya dan berjalan menghampiri Nathan menyusul Randy yang sudah berdiri di samping ranjang Nathan yang berseberangan dengan Bu Fitri.


" Aku senang kamu sadar." Ujar Nabila dengan senyum tulus.


Nathan hanya tersenyum. Dirinya masih lemah jika harus banyak bicara. Tenaganya belum pulih sempurna.


" Gue heran. Kira- kira Tuhan memberikan berapa nyawa ke elo ya." Gurau Randy seketika mendapat pelototan mata tajam dari Nabila.


Randy tertawa. " Gue senang penantian gue selama berhari- hari disini gak sia- sia." Ujar Randy lagi.


" Thanks." Sahut Nathan dan mengepalkan tangannya ke arah Randy.


Randy melakukan hal yang sama dan mereka beradu jotos pelan. " Cepat sembuh, Nath. Kasian Senja harus bolak balik rumah sakit, kantor polisi dan terkadang ke kantor lu. Padahal dia lagi hamil."


" Iya. Gue juga gak mau dia kecapean."


" Yaudah. Elo istirahat lagi. Gue mau ikut gabung ama ciwi- ciwi itu." Ucap Randy genit.


Nabila mencubit kencang lengan Randy. " Udah ada gue. Masih aja genit!" Omel Nabila.


" Kalian pacaran?"


" Engga. Kita cuma komitmen aja. Kalo kita akan menikah." Jawab Nabila cepat.


Nathan menyunggingkan senyum lebarnya. Ternyata selama dia terbaring di rumah sakit ada banyak kabar bahagia yang terlewat.


" Semoga lancar." Ujar Nathan.


" Aamiin." Sahut Randy dan Nabila berbarengan.


" Nathan. Cepat sembuh ya. Kita mau pamit dulu." Ujar Rayya. Prilly dan Dona hanya menyunggingkan senyum.


" Iya. Terima kasih."


" Tidak perlu mengantar Senja. Kamu harus istirahat." Prilly mencegah Senja yang berniat akan mengantar mereka sampai depan lobby.


" Oke. Sekali lagi terima kasih ya sudah menjenguk suamiku."

__ADS_1


" Iya. Sekali lagi kami minta maaf atas kejadian tadi, Senja." Ujar Prilly masih merasa bersalah.


" Aku sudah memaafkan."


"Bye."


' Cklek.'


Nabila, Randy, Senja dan Bu Fitri tertegun melihat sosok wanita yang masuk begitu saja dan langsung menghambur memeluk Nathan yang sedang tertidur. Nathan terkejut karena tiba- tiba ada yang memeluknya langsung terbangun.


" Aku senang kamu selamat." Ujar Angel berkali- kali mencium dada bidang Nathan yang tertutup baju dan selimut.


" Apa yang kamu lakukan, Angel?" Bentak Senja tak suka dengan kelakuan Angel yang seenaknya saja bersikap seperti itu pada Nathan.


" Aku hanya mencemaskan keadaan Nathan."


" Tidak perlu sampai memeluk bahkan menciumnya!" Omel Senja lagi.


" Dia kekasihku. Kamu yang merebutnya dariku!" Angel kembali berulah.


Mendengar hal itu, tanpa komando apapun. Randy langsung berdiri dan menghampiri Angel.


" Pergi kau perempuan ulat bulu!" Omel Randy sambil menarik tangan Angel.


" Aku mau disini!" Angel mempertahankan posisinya tetapi Angel kalah tenaga.


" Tolong ingat wajah perempuan ini. Jangan di izinkan masuk selama Nathan dirawat disini. Kalian mengerti!" Ucap Randy tegas pada petugas keamanan juga resepsionis.


Mereka hanya mengangguk patuh pada Randy sambil memperhatikan wajah Angel.


" Jangan pernah kembali lagi menemui Nathan!" Bentak Randy ketika menghempaskan tangan Angel.


" Erhghh.." Angel menghentakkan kakinya kesal karena merasa dipermalukan oleh Randy.


" Udah di usir tuh perempuan?" Tanya Nabila tak sabar ketika melihat Randy baru saja kembali ke ruangan Nathan.


Randy menepuk- nepuk telapak tangannya seperti orang yang selesai bersih- bersih. " Beres." Ujarnya sambil memainkan alisnya naik turun.


" Kerja bagus." Nabila mengacungkan kedua ibu jarinya pada Randy.


*****


Seminggu kemudian...


" Bagaimana keadaan di perusahaan, Silvi?" Tanya Nathan pada Silvi.

__ADS_1


" Saham kita sedikit menurun, Pak." Jawab Silvi. Dia menyodorkan sebuah berkas yang membutuhkan tanda tangan Nathan.


Nathan hanya menghela nafas panjang. Setelah dia sembuh akan ada banyak pekerjaan yang akan menantinya. Dua minggu lebih dia tidak masuk kantor.


" Bagaimana keadaan Bapak?"


" Jauh lebih baik. Hanya saja masih terasa nyeri di perut jika berjalan."


" Saya harap pelakunya mendapat hukuman yang setimpal." Rutuk Silvi kesal.


" Saya sudah memaafkan. Biarlah pengadilan yang memberikan hukumannya." Ujar Nathan dengan wajah tenang dan memberikan kembali berkas yang baru saja ia bubuhkan tanda tangannya.


" Bapak terlalu baik sih. Sekali- kali kalo ama perempuan itu galak, Pak."


Nathan hanya menyunggingkan senyumnya sambil menggelengkan kepalanya merasa lucu mendengar ucapan Silvi yang asal.


" Tuh kan malah senyum. Gimana saya mau move on." Omel Silvi lagi dengan wajah lucu.


"Cari calon suami dong biar bisa move on." Sahut Nathan asal.


" Cowonya gak lebih baik dari Bapak. Gimana dong?!"


" Biar kamu gampang move on. Cepat kembali ke kantor. Lama- lama bisa lepas jahitan saya karena kamu." Ujar Nathan menahan dirinya untuk tertawa. Tingkah lucu Silvi memang selalu membuat Nathan sedikit terhibur.


" Ihh Bapak nih. Tadi suruh saya datang. Sekarang malah diusir." Silvi ngedumal sambil membereskan barang- barangnya.


Nathan hanya tersenyum mendengar celotehan dan omelan kecil sekretarisnya itu. Bagi Nathan. Silvi sudah seperti keluarga.


" Saya pamit, Pak."


" Iya. Hati- hati. Semoga cepat dapat jodoh ya.." Gurau Nathan.


Silvi hanya mencibirkan bibirnya sebelum menghilang dari balik pintu.


Nathan kembali berkutat dengan ponselnya. Senja tidak datang hari ini karena kondisi badannya kurang vit. Randy dan Nabila juga sedang sibuk mengerjakan proyek baru mereka. Kini tinggallah Nathan seorang diri di dalam ruangan ini. Beruntungnya saat ini Nathan sudah mampu berjalan ke toilet sendiri.


' Cklek'


Nathan segera menoleh ke arah pintu melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya. Karena biasanya setiap ada yang ingin masuk akan mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Siapa kalian?" Tanya Nathan ketika melihat dua orang berbadan besar masuk ke dalam ruangannya.


" Selamat siang menjelang sore, Pak Nathan." Sapa seorang pria yang memiliki kumis serta jenggot yang lebat.


Nathan yang sedikit curiga dengan kedatangan mereka segera menekan tombol untuk memanggil perawat.

__ADS_1


Salah seorang lagi dari mereka segera menghampiri Nathan dan membekap mulut serta hidung Nathan dengan obat bius. Beberapa detik kemudian, Nathan tidak sadarkan diri.


Dengan segera mereka langsung mendudukkan Nathan pada kursi roda dan tidak lupa membawa infus yang masih terpasang pada lengan Nathan.


__ADS_2