Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
6


__ADS_3

Ayuna masih menangis menyesali perbuatannya telah menuduhku. Dia masih tertunduk dan tak bergeming dari duduknya. Aku menatapnya sekilas dan selebihnya tidak terlalu aku hiraukan. Tuduhannya sangat menyakiti hatiku. Bagaikan dia menganggap ku wanita murahan.


" Kamu menginap lagi di sini ya Senja. Ibu sudah menelpon mama kamu." Bujuk Bu Fitri kepadaku yang masih terbaring lemas.


" Aku pulang saja, Bu." Tolakku halus. Tak enak rasanya jika kehadiranku malah merepotkan Bu Fitri.


" Jangan, Senja. Orang tuamu sudah berangkat keluar kota. Ibu akan sangat khawatir kalo kamu hanya berdua dengan Gio." Bujuknya lagi. Aku tahu dari siapa Nathan menurunkan sifat yang lembut dan penyayang.


" Aku tidak mau merepotkan ibu."


" Ibu tidak merasa direpotkan." Bujuknya lagi dengan senyum dan berlalu keluar kamar.


" Aku benar- benar minta maaf, Senja." Ayuna kembali bicara setelah Bu Fitri keluar dari kamar.


" Sudahlah. Lupakan saja." Ucapku datar.


" Aku menyesal Senja. Sejak kehamilanku ini entah kenapa perasaanku sangat sensitif." Ujar Ayuna setengah berbisik padaku seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu.


" Kamu hamil?" Seketika aku berseru gembira mendengar kabar itu dari Ayuna.


Segera Ayuna menutup mulutku agar tak ada yang tahu. Ayuna mengangguk senang. Seketika kesedihannya sirna melihat reaksiku begitu gembira.


" Aku mau kasih kejutan buat Ibu dan Nathan." Ujar Ayuna pelan. Aku hanya mengangguk setuju.


" Selamat ya, Na." Ucapku dan memeluk Ayuna erat.


Aku turut bahagia atas kehamilannya. Sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua. Iri sekali rasanya. Kehamilan Ayuna akan membawa kabar gembira di tengah keluarga mereka. Berbeda dengan kehamilanku dulu. Ketika mendengar kabar aku hamil. Seketika bagaikan langit runtuh terjadi dalam keluargaku. Perdebatan sengit mulai terjadi. Apalagi saat itu, statusku adalah calon pengantin. Sakit rasanya jika mengingat hal itu.


" Kamu mau beritahu kapan?" Tanyaku penasaran.


" Yang pasti saat kita di meja makan."


" Ayo. Aku ikut. Aku mau melihat wajah gembira Bu Fitri menyambut calon cucunya." Tuturku dan berusaha untuk bangun.


" Hati- hati Senja." Ucap Ayuna lembut dan memegang lenganku menuntunku menuju meja makan.


" Loh. Baru saja ibu akan antar makanan ini ke kamar." Seru Bu Fitri mendapatiku berjalan tertatih menuju meja makan.


Nathan langsung ikut membantuku agar aku tidak terjatuh. Karena sejujurnya saja saat ini tubuhku masih sangat lemas.


" Mama udah sembuh?" Tanya Gio dengan wajah polosnya.

__ADS_1


" Udah sayang." Jawabku dan membelai lembut anakku.


" Mama Una jangan marahin Mama lagi ya." Ujarnya lagi pada Ayuna.


" Iya sayang. Maafin Mama Una ya."


Gio mengangguk menanggapi ucapan Ayuna.


" Sayang." Panggil Ayuna lembut pada Nathan yang duduk di sebelahnya. " Ini buat kamu." Ujarnya lagi dan memberikan amplop putih pada Nathan.


" Apa ini?" Tanya Nathan dengan kening berkerut.


" Buka aja."


Dengan segera Nathan membuka amplop putih itu dan melihat alat tes kehamilan ada di dalamnya. Nathan segera mengambilnya dan mendapati dua garis terpampang jelas pada alat tes kehamilan tersebut.


Wajah Nathan seketika berubah cerah. Wajahnya ceria dan beralih menatap Ayuna.


" Kamu hamil?" Tanyanya antusias. Ayuna menjawab dengan anggukan.


" Alhamdulillah." Seru Nathan lagi dan segera memeluk erat Ayuna. Bu Fitri juga tak kalah gembira mendengar kehamilan Ayuna.


" Kalau begitu, mulai sekarang Ayuna jangan capek dan gak boleh stres." Ujar Bu Fitri ceria. " Nathan, Kamu harus jaga istri kamu. Jadi suami siaga."


*****


" Biar aku bantu." Aku segera merebut tas besar yang dibawa Ayuna dengan tergopoh- gopoh.


" Gak papa Senja." Tolak Ayuna.


" Biar aku saja. Kamu lagi mengandung." Ujarku sedikit memaksa dan Ayuna mengalah.


Nathan membawa koper berukuran sedang dan satu tas besar lagi ke dalam rumah.


" Jangan biarkan istrimu angkat beban berat, Nath." Tegurku pada Nathan.


" Iya." Sahut Nathan malas.


Mendengar berita kehamilan Ayuna. Bu Fitri langsung memaksa Ayuna dan Nathan untuk tinggal di rumahnya sampai fase ngidam Ayuna lewat. Karena biasanya wanita yang sedang hamil muda sangat kepayahan. Bu Fitri tidak ingin itu terjadi pada Ayuna.


Ayuna dan Nathan mengiyakan dan menuruti keinginan Bu Fitri.

__ADS_1


" Kamu istirahat saja. Biar ibu dan Senja yang merapikan barang- barang kalian." Ujar Bu Fitri sembari menyuguhkan segelas susu hangat.


" Terima kasih, Bu. Tapi biar aku dan Nathan yang merapikan barang- barang." Tolak Ayuna halus.


" Istirahat aja, Na. Aku gak masalah kok." Sahutku.


" Jangan Senja. Kamu sudah cape mengurus Gio. Lagi pula hamilku ini masih kecil."


" Justru karena masih kecil. Masih sangat rentan." Bu Fitri menimpali.


" Sudah, turuti aja apa kata Ibu, Na. Percuma debat. Kita gak akan menang." Sahut Nathan sambil menggoda Bu Fitri.


" Anak nakal."


*****


Setelah selesai merapihkan barang- barang Ayuna. Aku tetap memaksa pamit pulang. Tak enak rasanya jika aku menginap sementara di rumah Bu Fitri sudah ada Nathan dan Ayuna. Aku hanya tidak ingin orang lain berpikiran yang tidak- tidak dengan hubungan kami.


" Kamu yakin tinggal sendirian di rumah?" Tanya Nathan saat kami baru saja berhenti tepat di depan rumahku.


" Iya. Gak enak selalu merepotkan keluargamu." Ucapku meyakinkan.


" Yaudah kalo begitu." Ujar Nathan masih ada keraguan di wajahnya. " Biar aku yang menggendong Gio." Ujarnya lagi dan segera mengambil Gio yang terlelap di kursi belakang.


Nathan bergegas memasuki kamar Gio dan membaringkan tubuh kecil itu setelah aku membukakan pintunya.


" Kalau ada apa- apa. Segera hubungi aku." Ujar Nathan sebelum meninggalkan aku di rumah. Aku hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


Ku tatap punggung lelaki yang dulu hampir menjadi milikku. Masih sama. Bahkan sekarang dia jauh lebih berwibawa. Memimpin dua perusahaan yang sedang berkembang pesat membuatnya memiliki wibawa dan juga tanggung jawab besar. Masih adakah rasa untukku, Nath. Gumamku hanya di hati.


Setelah mobil Nathan sudah menghilang dari pandangan. Aku baru memasuki rumahku. Namun,


" Toni!" Seruku terkejut mendapati seseorang tiba- tiba saja menahan pintu yang hendak aku tutup.


" Akhirnya pulang juga." Ujar Toni dengan seringainya yang menakutkan.


" Mau apa kamu?" Cetusku sambil melotot ke arahnya. Sebisa mungkin kubuat diriku agar terlihat berani di hadapannya.


Toni tak langsung menjawab. Dia malah memandangku dari atas sampai kebawah membuatku muak dan jijik. Ingin rasanya ku ludahi wajahnya dan menendangnya. Bagaimana jika dia marah dan malah berbalik menyerangku.


" Jangan tegang begitu sayang." Katanya sambil menyentuh daguku. Segera ku tepis tangannya. Tak sudi rasanya jika dia menyentuhku.

__ADS_1


" Jangan galak begitu. Aku jadi semakin gemas." Ujarnya lagi masih dengan tatapan seperti ingin memakanku.


Perlahan aku mundur. Dalam sekejap. Aku berlari memasuki rumahku dan menuju kamar. Dengan segera aku menutup pintu kamarku namun lagi- lagi aku kalah cepat. Toni kembali menghadangku. Entah kenapa rasanya dia jauh lebih kuat. Dia seperti orang yang kesetanan.


__ADS_2