
Sudah sepuluh menit Bu Fitri berdiri di depan pintu menanti anak dan menantunya. Matanya terus saja menatap pintu gerbang yang masih tertutup. Beberapa kali dia melirik jam dinding yang ada di ruang tamu. Dengan perasaan sedikit gelisah dia terus menanti dengan sabar.
Setelah penantian yang dia rasa teramat lama. Wajahnya menjadi ceria ketika dilihatnya mobil yang ditumpangi Nathan memasuki gerbang rumah mereka. Dengan segera dihampirinya mobil itu untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya.
" Nenek." Seru Gio senang sambil berlari dan memeluk Bu Fitri.
" Cucu nenek." Bu Fitri memeluk erat Gio.
" Ibu nungguin kami?" Tanya Senja dan mencium punggung tangan Bu Fitri.
" Ibu udah gak sabar." Jawab Bu Fitri senang dan menggandeng Senja masuk ke dalam rumah. " Ibu udah siapin makanan kesukaan kalian."
" Ibu kok repot- repot. Makasi ya, Bu." Ujar Senja.
" Udah punya menantu, lupa sama anak sendiri." Sindir Nathan pada Bu Fitri yang tidak menyambutnya.
Bu Fitri menoleh dan tertawa. " Maaf ya sayang." Bu Fitri menghampiri Nathan dan memeluk putra kesayangannya.
" Barangnya tolong langsung di bawa ke dalam aja ya, Pak." Pinta Nathan pada Pak Mamat dan Pak Tarno.
" Baik, Pak." Jawab Pak Tarno cepat.
Senja menyantap hidangan yang telah Bu Fitri siapkan. Canda tawa mewarnai suasana makan siang mereka. Tak pernah menyangka jika hidup mereka akan terasa sebahagia ini.
Dering ponsel Nathan menghentikan senda gurau mereka. Nathan melihat layar ponselnya dan tertera nama Silvi di sana.
" Aku angkat telepon dulu." Nathan permisi dan meninggalkan meja makan.
Senja hanya memperhatikan Nathan sebentar yang menuju teras samping rumah mereka dan melanjutkan kembali obrolannya dengan Bu Fitri. Gio hanya jadi pendengar setia yang tidak mengerti kemana arah obrolan mereka.
" Mama. Gio boleh nonton tv?"
Senja menoleh dan tersenyum melihat putranya. " Gio udah selesai makan?" Tanya Senja. Gio mengangguk. " Boleh. Tapi jangan terlalu dekat ya."
" Iya, Mama." Jawab Gio senang dan segera turun dari kursinya.
" Ada apa, sayang?" Tanya Senja pada Nathan yang terlihat sedikit bingung setelah menjawab telepon Silvi.
" Aku ada klien dari luar negeri. Mereka mau bertemu langsung denganku sekarang. Tidak mau bertemu dengan Silvi atau di wakilkan yang lain."
__ADS_1
" Yaudah. Temui klien kamu." Sela Senja melihat Nathan sedikit bingung dengan kata- katanya.
" Tapi kamu dan Gio baru aja aku ajak tinggal disini." Nathan terlihat ragu meninggalkan Senja. Senja masih mendengarkan. " Mereka juga tidak membuat janji sebelumnya." Lanjut Nathan.
" Kalau begitu tolak saja." Sahut Bu Fitri.
" Sudah, Bu. Tapi mereka tetap ingin bertemu aku dulu."
" Temui dulu. Siapa tau penting." Senja berusaha meyakinkan Nathan.
Nathan menarik nafas panjang dan " Yasudah. Aku berangkat dulu. Setelah bertemu mereka. Aku langsung pulang." Ujar Nathan dan mengecup kening Senja juga mencium punggung tangan ibunya.
" Kamu gak ganti baju dulu?" Tanya Senja merasa sedikit aneh melihat Nathan ke kantor hanya pakai kaos dan celana jeans.
" Mereka sudah ganggu waktu cutiku. Jadi inilah tampilanku kalo gak kerja." Jawab Nathan asal.
Senja hanya tersenyum mendengar jawaban Nathan. Bagaimana kalau karyawan kantornya melihat dia penampilan seperti itu. Kaos itu sangat menonjolkan bentuk tubuh Nathan yang atletis.
Senja segera berlari menyusul suaminya. " Nathan."
" Ada apa sayang?" Tanya Nathan yang sebenarnya tadi dia baru saja akan masuk ke dalam mobilnya.
" Pakai jaket. Di kantor dingin." Ujar Senja dengan rona merah di pipinya.
Di dalam mobil Nathan terus tersenyum sendiri mengingat tingkah Senja yang sepertinya cemburu jika ada wanita lain yang akan menatap dirinya. Nathan mengambil jaketnya yang memang selalu tersimpan di bagian kursi belakang mobilnya.
" Mba Senja gak rela bagi- bagi, Pak." Canda Pak Tarno.
Nathan hanya tersenyum menanggapi gurauan Pak Tarno.
" Semoga pernikahan Bapak langgeng sampai di surganya Allah ya, Pak." Doa Pak Tarno. Nathan langsung mengaminkan doa tersebut.
" Bapak gantengnya kelewatan. Istri mana yang gak cemas, Pak."
" Saya biasa aja kok, Pak. Orang aja yang menganggap saya berlebihan." Sahut Nathan.
" Bapak bisa aja merendahnya."
" Bukan merendah, Pak. Tapi emang saya orang biasa. Di mata Tuhan, kita itu sama. Yang membedakan hanyalah amal dan ibadahnya."
__ADS_1
" Iya Pak. Tetep aja Bapak itu guanteng. Idola para karyawati di kantor." Pak Tarno bersikeras.
Nathan hanya tersenyum sambil menggeleng- gelengkan kepalanya mendengar ucapan Pak Tarno.
Jalanan ibukota yang sedikit macet membuat perjalanan Nathan menuju kantornya memakan waktu yang cukup lama. Nathan segera memasuki gedung perkantorannya.
Benar saja apa yang dikhawatirkan Senja. Banyak pasang mata yang memandang takjub melihat Nathan memakai pakaian kasual. Bagi mereka yang memandang melihat Nathan sangat keren dan macho.
" Aduh gantengnya Pak Nathan gak ada obat." Bisik salah satu karyawatinya ketika Nathan memasuki ruangan kantornya.
" Suami orang." Balas yang lain mengingatkan.
" Makanya itu.."
Nathan memasuki ruangannya terlihat ada dua orang wanita berpakaian rapih. Dan ketika melihat Nathan yang datang dengan pakaian kasual membuat mereka sedikit terpana. Antara heran karena dia berpakaian santai dan bisa juga mereka terpana.
" Ini klien yang tadi saya bicarakan." Bisik Silvi
" Oke." Sahut Nathan dan segera mendekat ke arah mereka.
" Kamu Pak Nathan?"
" Iya. Apa anda Camila?"
" Iya. Saya pikir anda sudah tua atau minimal seumuran dengan saya." Ujarnya dengan nada sedikit ketus.
Nathan hanya tersenyum menanggapi ucapan wanita itu.
" Saya sudah mempelajari profil perusahaan anda. Maka dari itu saya ingin bekerja sama dengan perusahaan anda." Camila membuka pembicaraan saat Nathan baru saja duduk.
" Boleh saya lihat proposal anda?" Tanya Nathan. Camila langsung memberikan berkas yang sejak tadi dia pegang.
Nathan tampak serius membaca setiap point yang ada di proposal Camila. " Saya akan mempelajari dulu proposal anda." Ucap Nathan dan menutup berkas itu.
Camila mengangkat alisnya seperti merasa keberatan. " Saya tidak punya banyak waktu." Camila mendesak agar Nathan segera memberikan kabar.
" Saat ini saya sedang cuti. Jika anda keberatan anda bisa pergi sekarang. Jika anda mau menunggu keputusan saya. Tiga hari lagi akan saya berikan jawaban." Nathan mempertegas kalimatnya.
Camila tampak menarik nafas panjang dan mengangguk. " Baiklah. Saya tunggu tiga hari lagi." Dengan terpaksa dia menyetujui keputusan Nathan.
__ADS_1
" Baiklah. Saya harus pulang. Terima kasih sudah mengganggu cuti saya." Ucap Nathan ketus dan langsung menyalami kedua wanita itu bergantian lalu pergi begitu saja.
Silvi hanya menggeleng- gelengkan kepalanya melihat tingkah bosnya. Selama dia bekerja dengan Nathan. Tidak pernah sekalipun Nathan mengambil cuti. Hanya saat dia menikah dengan Ayuna dulu dan saat kepergian Ayuna untuk selamanya. Silvi sangat tahu jika Nathan adalah orang yang tidak suka jika waktu liburnya diganggu.