
Sabtu malam. Yaa tepatnya malam minggu. Reza benar- benar menjemputku untuk makan malam bersama orang tuanya. Meskipun aku belum mau bertemu. Tapi rasanya tak bisa menolak ajakan Reza. Lagi- lagi karena mengingat semua budinya padaku. Aku sudah siap dengan balutan dress berwarna maroon begitupun dengan Gio. Anakku sangat terlihat tampan dengan kemeja abu- abu. Padahal usianya baru mau menginjak enam tahun tetapi outfit itu membuatnya menjadi lebih dewasa.
" Kamu cantik sekali, Senja." Puji Reza.
" Terima kasih."
" Kamu juga ganteng banget." Pujinya pada Gio. Gio tersenyum lebar mendengarnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Reza, kami tak banyak membuka topik pembicaraan. Hanya sesekali terdengar Gio yang berseru jika melihat Bus atau truk. Dia suka sekali dengan kendaraan itu.
Tak butuh waktu lama. Kami sampai di rumah Reza. Sebuah bangunan model klasik berwarna putih. Cahaya lampu yang temaram mengingatkanku pada rumah Nathan.
Dengan ragu, aku mengikuti langkah Reza memasuki rumah tersebut.
" Selamat datang Senja." Sapa seorang wanita paruh baya tetapi wajahnya masih terlihat muda. Aku hanya menganggukkan kepala.
" Itu mamaku." Bisik Reza. Aku melemparkan senyum padanya.
Aku menyalami keluarga Reza satu persatu dan mereka memperkenalkan diri mereka padaku. Ada orang tuanya, Juga ada om dan tantenya. Semua anggota keluarga Reza sangat ramah.
" Apa rencana kamu sekarang, Senja?" Tanya mama Reza padaku.
" Belum ada, Tante." Jawabku masih merasa canggung.
" Kalo kamu menikah dengan Reza. Kira- kira kamu akan menitipkan Gio kemana?" Tanya Papa Reza tiba- tiba.
Pertanyaannya membuatku dan Reza terdiam. Tercekat sekali rasanya tenggorokan ini untuk menelan makanan yang sudah ada di mulutku.
Aku dan Reza saling beradu pandang.
" Kenapa Gio harus dititipkan?" Tanyaku dengan hati yang teriris.
" Gio kan bukan anak Reza. Lagi pula Gio juga anak yang tidak sah bukan?!" Sambung Papa Reza melanjutkan penjelasannya.
" Iya memang benar Gio bukan anak dari pernikahan yang sah. Tetapi Gio tetap anakku." Ucapku dengan nada bicara sedikit di pertegas membuat mereka saling terdiam dan beradu pandang.
" Sepertinya kami tidak diterima disini. Terima kasih atas sambutan hangatnya dan hidangannya. Kami permisi." Aku pamit dan meninggalkan ruang makan.
Gio hanya menurut saja ketika aku menyuruhnya untuk pulang. Sedih rasanya melihat hal itu. Padahal tadi Gio sedang makan dengan lahap.
" Senja." Panggil Reza yang mengejarku sampai pintu depan.
" Ada apa?" Tanyaku ketus.
" Maafkan sikap keluargaku."
__ADS_1
" Lupakan saja." Sahutku dengan nada dingin.
" Jangan pergi, Senja. Biar aku bicarakan hal ini pada mereka." Bujuk Reza lagi.
" Tidak perlu. Kita belum memulai saja mereka sudah menolak."
" Mereka tidak menolakmu, Senja." Reza menyela perkataanku.
" Mereka menolak Gio sama halnya menolak aku." Bentakku pada Reza yang kini menatapku dengan wajah sendunya.
" Mereka butuh waktu." Reza masih membujukku.
" Aku pulang." Ujarku marah dan membawa Gio keluar dari rumah itu.
" Biar aku antar." Tawar Reza.
" Tidak, terima kasih."
Aku pikir keluarga Reza menerima kami. Padahal sudah terlintas di benakku akan menerima Reza di hidupku karena sikap hangat keluarganya. Ternyata aku salah. Mereka tidak bisa menerima kehadiran Gio. Untuk alasan apapun aku tidak akan melepaskan Gio. Dia darah dagingku. Dia anakku. Walaupun ada kisah yang pahit atas kehadiran Gio. Tetapi aku sangat menyayanginya. Aku rela dibuang Kak Gilang agar tetap bersama Gio. Mana mungkin aku akan melepas Gio hanya untuk seorang lelaki yang baru beberapa bulan aku kenal.
*****
" Senja, maafkan sikap keluargaku." Bujuk Reza. Padahal hari masih pagi tetapi dia sudah bertengger di teras rumahku.
" Pulanglah, Za. Carilah perempuan yang jauh lebih baik dariku." Ucapku malas. Lelah rasanya jika harus berurusan dengan hal ini.
" Gak ada yang perlu di perjuangkan. Aku baik- baik saja." Ucapku dengan sedikit menekan intonasi bicaraku.
" Karena sudah ada Nathan?" Tanya Reza tiba- tiba dengan nada suara yang sedikit meninggi.
Aku menatapnya tak mengerti. Kenapa dia mengaitkan masalah ini dengan Nathan.
" Kamu akan mengejar cinta butamu lagi setelah kamu tau dia seorang duda?" Tanya Reza tapi lebih terdengar sedang mencemooh aku.
" Masalah ini tidak ada kaitannya dengan Nathan."
" Akan selalu ada, Senja. Karena hatimu masih mengikatnya disana." Reza berlalu meninggalkan aku yang tertegun mendengar ucapannya.
Reza benar. Aku dan Nathan akan selalu berkaitan karena hatiku telah mengukir namanya. Tetapi untuk masalah semalam sama sekali tak ada kaitannya dengan Nathan. Aku marah karena secara tidak langsung keluarga menghina Gio dan terang- terangan ingin memisahkan aku dengan Gio.
*****
Pov Nathan
Senang rasanya melihat ibu sudah mau di terapi bahkan dia sudah makan dengan lahap. Sejak pertemuannya dengan Gio dan Senja seolah mengembalikan semangat hidup ibu lagi. Baru beberapa kali terapi, dia sudah mulai menunjukkan perubahan. Tangannya sudah tidak sekaku dulu.
__ADS_1
Syukur Alhmdulillah. Semua terjadi atas kuasa Allah. Kini tiga bulan sudah berlalu sejak pertemuanku dan Senja yang terjadi secara tidak sengaja itu berlalu. Ibu benar- benar sudah sehat. Bicaranya sudah mulai lancar. Hanya tinggal melatih otot kakinya agar berjalan normal.
" Kapan Gio kesini?" Tanya ibuku yang sangat merindukan Gio.
" Nanti aku tanyakan ya, Bu." Jawabku berbohong. Karena selama ini aku sama sekali tidak bertemu Senja. Terakhir bertemu saat tak sengaja aku melewati sekolah Gio. Aku memintanya datang menjenguk ibu. Tetapi dia tidak kunjung datang. Mungkin dia sudah bahagia dengan Reza. Semoga.
" Ibu sudah kepingin sekali ketemu dia." Ujarnya lagi dengan mata yang nanar.
" Kalo aku libur. Aku akan jemput mereka ya, Bu." Ujarku akhirnya untuk membahagiakan Ibu.
" Benar ya?!" Tanya berantusias. Aku mengangguk tak sanggup lagi jika aku harus mematahkan kebahagiaannya.
Dering ponselku mengusik obrolanku dengan ibu. Aku segera mengambilnya dari saku jasku.
" Reza" Gumamku saat melihat nama Reza yang tercantum.
Reza ingin bertemu denganku membahas kerja sama kita. Aku menyetujuinya.
Setelah aku pamit dengan ibuku. Aku segera melajukan mobilku ke kantor. Karena Reza yang akan datang ke kantorku. Entah kenapa sejauh apapun aku melangkah tetapi keadaan selalu mengembalikan langkahku padanya. Reza adalah kekasih, tunangan atau suami Senja. Aku bahkan tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu. Aku biarkan dia bahagia bersama orang lain.
" Silvi. Tolong kosongkan jadwalku untuk jam sebelas nanti." Ucapku saat Silvi baru akan menyapaku.
" Baik, Pak." Jawabnya patuh. " Tapi Pak ada...."
Belum selesai kalimat Silvi aku sudah membuka pintu ruanganku dan mendapati Angel sudah duduk manis di kursiku.
" Saya baru mau bilang kalo di dalam ada Mba Angel." Bisik Silvi.
" Gak papa." Sahutku singkat dan mengisyaratkan untuk keluar dari ruanganku.
" Hai, Sayang." Sapa Angel sok manis mendapati diriku yang masih berdiri di dekat pintu.
" Ini masih pagi. Apa kamu tidak ada kerjaan?"
" Jangan ketus begitu. Aku kan calon istrimu." Timpalnya lagi dengan nada yang menggoda. Tapi sayang, aku tidak pernah tergoda.
Sejak kematian Ayuna, Angel memang semakin gencar mendekatiku. Bahkan dia dengan tega akan mengancam mengusirku dan ibuku yang sedang sakit keluar dari rumah ayahku jika aku menolaknya lagi.
Keluar dari rumah itu akan semakin membuat kondisi ibuku semakin drop. Dan itu tidak aku inginkan. Jadi tanpa memberikan jawaban apapun aku membiarkannya mendekatiku.
" Aku belum menyetujuinya." Sahutku dingin dan meletakkan tas kerjaku di meja tamu yang masih berada di ruanganku.
" Suka tidak suka. Mau tidak mau. Kamu harus mau." Angel mulai mendekatiku yang duduk di sofa.
" Aku banyak kerjaan, Angel." Aku merasa risih melihat kelakuannya yang terus menghimpitku.
__ADS_1
" Jangan menolakku!" Ancamnya.
Aku hanya menghela nafas panjang.