Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
101


__ADS_3

Dengan cuek Nabila masuk ke dalam ruang rawat inap Senja. Nabila hanya melihat sekilas Virni yang langsung mengangkat kepalanya dari bahu Nathan. Sedangkan Nathan masih dengan sikap santainya melihat ke arah Nabila yang berjalan menuju nakas samping ranjang Senja dan meletakkan sebuah bingkisan yang dibawanya.


" Apa aku mengganggu kalian?" Tanya Nabila cuek dan ikut duduk di samping Nathan. Jadilah Nathan duduk terapit oleh dua wanita ini.


Nathan yang ingin bangun dan berpindah tempat langsung ditarik tangannya oleh Nabila untuk kembali duduk.


" Siapa dia?" Tanya Nabila menatap tak suka pada Virni.


" Dia Virni. Sahabat Senja." Jawab Nathan. Virni menjulurkan tangannya mengajak Nabila berjabat tangan.


" Oh." Sahut Nabila dingin dan sini juga mengacuhkan jabatan tangan Virni. " Apakah sahabat juga bisa bermanja dengan suaminya?" Sindir Nabila pada Virni tajam.


" Jangan salah paham." Nathan mencoba menjelaskan.


" Kamu dan Senja satu frekuensi, Nathan!" Ujar Nabila kesal. " Kebaikan kalian selalu dimanfaatkan. Berhati- hatilah dengan dia." Ucap Nabila tajam.


Nathan hanya diam dan menatap Virni sekilas yang tertunduk merasakan ucapan Nabila menikam hatinya.


" Tadi aku ke rumahmu mau menemui Senja. Tapi kata ibu, Senja dirawat. Jadi aku kesini dan ternyata kalian malah bermesraan."


" Aku tidak bermesraan, Nabila." Sanggah Nathan yang memang tidak merasa tengah bermadu kasih dengan Virni.


" Jaga ucapan kamu!" Bentak Virni merasa kesal dengan Nabila yang terus memojokkannya.


" Kenapa kamu marah? Merasa ucapanku benar semua?!" Bentak Nabila tak kalah tegas dari Virni.


Nathan yang berada di tengah antara mereka mencoba melerai. " Tolong hentikan!"


" Diamlah Nathan!" Bentak Nabila kesal. Rasanya hatinya belum puas memaki wanita itu yang tengah memanfaatkan keadaan.


" Emmhh." Erang Senja mulai terbangun dari tidurnya karena suara gaduh yang ditimbulkan.


Mata Senja melihat sosok Nathan yang duduk di antara Virni dan Nabila yang sedang bertengkar. " Ada apa ini?" Tanya Senja lemah.


Mendengar suara Senja serentak perdebatan antara Virni dan Nabila terhenti.


" Tolong jangan ceritakan apapun pada Senja." Ucap Nathan pelan yang hanya dapat di dengar Virni dan Nabila. Nathan segera menghampiri Senja yang terlihat bingung.


" Maaf kamu jadi terbangun sayang." Ujar Nathan mencoba mengalihkan perhatian Senja.


" Kenapa kalian bertengkar?" Tanyanya masih menatap Virni dan Nabila.


" Tadi kami hanya sedang bermain. Nabila tidak mau kalah dari Virni. Jadilah mereka berdebat." Ujar Nathan berbohong di ikuti dengan anggukan Virni dan Nabila.


" Bermain apa? Kenapa kamu duduk di tengah?"


" Nathan kami jadikan wasit." Sahut Nabila asal. Ditanggapi dengan senyum canggung Nathan.


" Jangan dipikirkan sayang. Fokus pada kesembuhan kamu ya." Ujar Nathan lembut.


" Iya." Senja tersenyum mesra pada Nathan.


" Bagaimana keadaanmu, Senja?" Tanya Nabila sambil menghampiri Senja.


" Baik."


" Syukurlah. Aku bawakan kamu buah- buahan."

__ADS_1


" Terima kasih Nabila." Ujar Senja. " Terima kasih juga untuk bantuanmu kemarin. Berkali- kali kamu selalu jadi penyelamat kami. Entah bagaimana aku harus membalasnya." Ujar Senja penuh haru.


" Jangan dipikirkan. Aku hanya ingin memintamu menjaga pernikahan kalian. Kalian berhak bahagia tanpa ada gangguan apapun." Ujar Nabila sambil melirik Virni tajam.


" Iya."


Setelah berbincang cukup lama dengan Senja. Nabila pamit pulang. Nathan mengantarkan Nabila sampai lobby depan. Tinggallah Virni dan Senja.


Virni yang sejak tadi hanya bisa diam terus menerima sindiran Nabila langsung menghampiri Senja.


" Apa kamu tidak merasa jika wanita itu menyukai Nathan?" Tanya Virni mencoba menghasut Senja.


Senja hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Virni.


" Berhati- hatilah Senja. Nathan sepertinya juga cukup dekat dengannya." Ujar Virni.


" Mereka memang bersahabat. Calon suaminya juga sahabat Nathan."


" Tidak ada pertemanan yang murni antara lelaki dan perempuan, Senja. Berhati- hatilah pada wanita itu." Ucap Virni lagi yang membuat Senja terdiam memikirkan ucapan Virni yang dia rasa ada benarnya juga.


" Jangan ceritakan apapun dulu pada Senja, Nabila. Aku tidak ingin menambah beban pikiran dia." Ujar Nathan ketika mengiringi langkah Nabila menuju lobby.


" Iya. Aku mengerti. Tapi cobalah menjaga jarakmu dengan Virni. Sepertinya dia tidak sebaik yang kalian pikir." Nabila memperingati.


" Iya, Aku mengerti. Terima kasih sudah peduli."


" Sama- sama. Jujur saja. Sampai saat ini perasaanku masih sama untukmu. Tapi aku sangat sadar. Itu salah. Aku hanya mencoba mengalihkan rasa itu untuk sebuah persaudaraan, Nathan. Tak ada sedikitpun niatku mengganggu rumah tangga kalian." Ujar Nabila. " Sebisa mungkin. Buatlah Virni keluar dari rumah kalian."


" Iya. Itu yang sedang aku usahakan. Senja terus menolak semua alasanku untuk membuatnya meminta Virni pindah dari rumah kami."


" Senja terlalu percaya padanya. Berhati- hatilah, Nath." Ujar Nabila sambil menepuk pelan bahu Nathan dan segera berpamitan karena mobilnya sudah tiba di depan pintu lobby.


*****


Nathan melemparkan senyum manisnya pada Senja yang terus menatapnya tajam tanpa senyuman. Dari raut wajahnya terlihat seperti orang yang sedang kesal. Dengan lembut Nathan membelai pucuk kepala Senja dan mengecup keningnya.


" Aku akan menjagamu malam ini." Ujar Nathan.


" Kamu pulang saja."


" Ada apa, sayang?" Tanya Nathan lembut melihat perubahan sikap Senja.


" Tidak ada." Jawab Senja sinis.


Nathan menarik nafasnya dalam. " Jika bukan aku, siapa yang akan menjagamu?"


" Biar Virni saja."


Nathan menarik nafas dalam. " Baiklah jika itu mau kamu."


" Maaf merepotkan mu, Vir." Ujar Nathan pada Virni.


" Sama sekali tidak repot." Sahut Virni dengan senyum penuh kemenangan. Senja yang dulu sama sekali tidak berubah. Sangat mudah percaya dengan setiap kata- katanya.


" Aku pulang dulu." Ucap Nathan pada Senja berpamitan. " Jika ada apa- apa. Segera hubungi aku."


" Iya." Sahut Senja sinis.

__ADS_1


*****


Pagi- pagi sekali, Nathan sudah melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sejak semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena pikirannya selalu tertuju pada Senja. Virni pun tidak membalas chat darinya.


Nathan menarik nafas lega ketika mendapati Senja tertidur nyenyak ketika dia sampai di ruang rawat inap Senja. Virni yang tengah duduk di sofa meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya agar Nathan diam.


" Kenapa pagi sekali?" Tanya Virni berbisik pada Nathan yang mendekat ke arahnya.


" Kenapa kamu tidak memberikan kabar sama sekali?"


" Oh maaf. Ponselku mode silence." Ujar Virni yang baru saja membuka ponselnya.


" Apa dia baik-baik saja?" Tanya Nathan dengan wajah cemas.


" Iya. Tenanglah. Aku menjaganya dengan baik." Ujar Virni dengan senyum simpulnya.


Nathan yang awalnya ingin duduk bersandar di sofa segera diurungkan niatnya ketika Virni dengan santainya menyilangkan kakinya hingga terlihat dengan jelas kaki jenjang Virni.


Nathan duduk pada kursi di samping ranjang Senja. Nathan mengecup lembut kening Senja.


" Nathan." Gumam Senja yang terbangun karena mendapat kecupan dari Nathan.


" Maaf membangunkanmu." Ujar Nathan sambil mengelus lembut kening Senja.


Senja tersenyum manja pada Nathan. Virni hanya menatap sinis pada pasangan suami istri itu.


" Aku mau beli sarapan. Apa kamu mau?" Virni menawarkan pada Nathan.


" Tidak, terima kasih. Oh iya. Kamu pulang saja. Biar aku yang menjaga Senja." Ujar Nathan.


" Baiklah. Tapi aku mau sarapan dulu. Boleh?"


" Silahkan."


Senja menatap Nathan dengan wajah sendu. Seketika air matanya menggenang di pelupuk matanya.


" Ada apa sayang?"


" Apa kamu akan meninggalkan aku?" Tanya Senja dengan nada lirih.


Nathan mengecup punggung tangan Senja dan tersenyum. " Tidak akan."


" Aku sangat mencintaimu, Nathan. Entah bagaimana jika aku melihatmu dengan wanita lain." Ujar Senja beriringan dengan jatuhnya air matanya.


Nathan menyeka lembut air mata yang jatuh dari pelupuk mata Senja. " Jangan memikirkan hal yang aneh- aneh sayang. Kamu adalah satu- satunya wanita di hati ini."


" Benarkah?"


" Iya." Nathan kembali mengecup lembut kening Senja serta kedua belah pipinya dan mengecup singkat bibir manis Senja.


Tanpa mereka sadari sejak tadi sepasang mata sinis menatap mereka dengan tatapan tak suka dan juga iri.


" Apa kamu cemburu?" Sindir suara seseorang di belakangnya yang membuat si pemilik mata tersebut tersentak kaget.


Virni menatap sinis Nabila yang datang tiba- tiba. " Siapa yang cemburu?!" Sanggah Virni cepat.


" Kamu pikir aku sepolos Senja? Jika kamu berani mengganggu mereka. Kamu akan berhadapan denganku!" Ancam Nabila sambil menatap tajam Virni.

__ADS_1


" Kamu berurusan dengan orang yang salah." Sahut Virni tak kalah menatap Nabila tajam dan kembali masuk ke dalam ruangan Senja.


__ADS_2