Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
8


__ADS_3

Pov Nathan


Secercah cahaya perlahan masuk. Silau namun perlahan aku membuka mataku. Tubuhku masih terasa sakit dan lemas. Tangan kananku menyentuh rambut. Perlahan aku menoleh ke kanan ku terlihat Senja terlelap di sana dan aku juga mendapati Ayuna tidur berbaring di sofa ruangan. Aku yakin saat ini aku berada di rumah sakit. Melihat tanganku yang di infus dan berbagai macam peralatan rumah sakit masih menempel di tubuhku.


Kejadian ini mengingatkan ku pada kejadian yang dulu. Di mana aku berada di ambang kematian setelah bertarung melawan begal. Tetapi saat ini berbeda. Aku bertarung melawan orang yang sudah menghancurkan wanita yang aku cintai. Tenaganya yang sekarang jauh lebih kuat. Mungkin saat dia mendekam dalam sel tahanan. Dia melatih otot- otot ditubuhnya. Entah bagaimana dia bisa bebas padahal masa tahanannya belum selesai.


Untunglah saat itu aku kembali. Perasaanku benar. Saat aku meninggalkannya sendiri. Aku merasakan perasaan yang seperti dulu. Gelisah dan cemas yang berlebihan. Itu sebabnya aku memutuskan untuk kembali ke rumahnya untuk memastikan keadaannya. Aku tidak ingin kejadian yang dulu terjadi lagi padanya. Aku tidak mau lagi melihatnya hancur.


" Alhamdulillah. Nathan." Seru ibuku ketika baru saja memasuki ruangan ku di rawat.


" Senja, Ayuna. Nathan sadar." Ibuku membangunkan dua wanita itu.


" Syukurlah Nath." Ayuna segera menghampiriku dan mengecup lembut keningku.


Ibu segera memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanku. Dan sudah dapat di pastikan keadaanku sudah stabil dan bisa segera pulang jika keadaanku semakin membaik.


Selang oksigen telah di lepas. Aku sudah bisa bernafas normal tanpa bantuan itu. Aku menunjukkan kemajuan yang pesat. Tak ingin berlama lama di sini. Kasihan istriku harus mengurusku yang sedang sakit sementara dia sedang mengandung buah hati kami.


" Biar aku saja, Senja." Ucap Ayuna dan mengambil alih menyuapiku. Dia baru saja sampai. Semalam aku menyuruhnya pulang untuk istirahat. Aku tidak ingin dia kelelahan.


" Toni bagaimana?" Tanyaku pada Senja yang asik mengutak atik ponselnya.


Sejak kejadian itu, Senja lebih banyak diam. Entah kenapa dan entah apa yang terjadi. Setelah Toni di tangkap warga. Aku tidak ingat apa- apa lagi.


" Udah di tangkap. Dan aku akan memastikan dia mendekam di penjara selama- lamanya." Ucap Senja pelan namun penuh dengan kebencian.


" Aku akan membantu." Sahutku.


" Setelah kamu keluar dari rumah sakit. Apa tidak masalah jika kamu ke kantor polisi?" Tanya Senja.


" Gak masalah."

__ADS_1


" Boleh aku tanya?" Ayuna menyela pembicaraan kami.


" Tentu." Jawabku.


" Saat kejadian itu. Kenapa kamu bisa di sana?" Tanya Ayuna sedikit memilah kata- katanya mungkin dia takut aku dan Senja akan tersinggung.


" Aku cuma ikuti insting aja, Sayang." Jawabku singkat. Dan memang itu yang terjadi.


" Kamu ingin melindungi Senja?"Tanya Ayuna lagi. Aku menjawabnya dengan anggukan.


Ayuna tampak menarik nafas dalam.


" Sejujurnya, Aku gak mau kalo Senja harus mengalami kejadian yang sama untuk yang kedua kalinya. Dan sejujurnya pula, sampai detik ini. Aku belum bisa memaafkan diriku karena gak bisa melindungi Senja dulu. Andai aja aku gak berada di luar kota. Kejadian itu gak akan terjadi."


Yah, Hal itu masih terus aku sesali. Kejadian yang pernah menimpa Senja membuatku marah dan frustasi. Selalu saja aku berandai- andai dan berharap waktu bisa dimundurkan. Betapa marah dan frustasinya aku tidak aku tunjukkan karena Senja sendiri mengalami depresi berat. Dia mengurung diri dan takut jika bertemu dengan lelaki. Hampir dua bulan aku mencoba membantu untuk menyembuhkan kesehatan mentalnya.


Saat itu, aku berjanji tidak akan meninggalkan Senja apapun yang terjadi, Namun bagaikan tersambar petir saat Senja menginginkan perpisahan. Aku bisa apa saat itu. Aku hanya bisa menuruti keinginannya dan berharap dia akan bahagia. Namun, lagi- lagi aku salah. Dia jauh lebih menderita karena ternyata dia hamil akibat perlakuan bejat orang- orang itu. Entah siapa yang berhasil membuahi Senja.


Mendengar ucapanku membuat Senja seketika menatapku nanar. Matanya berkaca- kaca menahan tangis. Berbeda dengan Ayuna. Bulir bening sudah jatuh membasahi pipinya.


" Maaf." Ucapku pelan dan menyeka air mata Ayuna.


Ayuna hanya tersenyum getir. Dan segera berlalu keluar dari ruanganku.


" Aku harus pulang. Kasian Gio." Ujar Senja beralasan.


Aku hanya mengangguk. Ya. Aku memang salah. Aku sudah mempunyai istri. Namun, aku masih mencintai wanita lain.


*****


Akhirnya, setelah hampir dua minggu aku dirawat. Aku diperbolehkan untuk pulang. Ayuna jarang berbicara. Mungkin hatinya masih terluka. Wanita mana yang tidak terluka jika pasangannya masih menyimpan rasa dengan orang lain.

__ADS_1


" Istirahatlah. Panggil aku jika butuh apapun." Ujarnya setelah membantuku berbaring di kasur dan langsung keluar kamar.


Aku menarik nafas dalam menatap kamarku yang dulu. Andai saja rasaku dengan Senja sudah menghilang. Pasti tidak akan sulit menumbuhkan cinta untuk Ayuna.


" Ibu telepon Senja ya. Kasian dia kalo jenguk kamu di rumah sakit." Ibuku segera menghampiriku saat memasuki kamarku.


" Kabarkan saja aku sudah pulang. Tapi jangan memintanya ke sini, Bu." Ucapku.


Ibu menatapku dengan tatapan penuh tanya. Aku tahu jika ibuku merasa ada sesuatu yang terjadi melihat sikap Ayuna yang lebih banyak diam dan Senja yang menjadi jarang menjenguk.


" Kalian bertengkar?" Tanya ibuku dengan menggenggam tanganku. Aku hanya menggeleng.


.


" Lantas kenapa?" Tanya ibuku tak mengerti.


" Karena kejadian ini, Ayuna dan Senja tau bagaimana perasaanku selama ini." Kataku.


" Kamu masih mencintai Senja?" Tanya ibuku memastikan dugaannya.


Aku menarik nafas dalam dan hanya menjawab dengan senyuman pahit. Bagaimana aku bisa lupa jika istriku sendiri yang selalu mengingatkan aku tentangnya. Selalu menghadirkan dia di kehidupan rumah tangga kami. Jika aku melarangnya dia akan keras kepala. Jadi aku hanya mengizinkannya tetapi perlahan namun pasti. Hal itu membuat perasaanku pada Senja tidak kunjung menghilang.


Di satu sisi aku menyayangi istriku. Namun, disisi lain. Aku masih mencintai Senja.


" Hilangkan perasaanmu pada Senja. Sebentar lagi kamu dan Ayuna akan punya anak." Nasihat ibuku dengan mata sendunya.


" Sudah, Bu. Tapi bagaimana aku bisa lupa jika Ayuna sendiri yang selalu mengingatkan aku tentang Senja." Ujarku dengan suara yang berat. Ya, Kalimat itulah yang selalu aku simpan. Sejak hari pernikahan sampai detik ini. Aku mencoba menahan perasaanku pada Senja dan selalu berusaha untuk memikirkan Ayuna.


Tetapi aku sedikit merasa sulit. Mulai Ayuna yang tiba- tiba saja menjaga jarak dengan ibuku dan hampir setiap hari dia selalu meminta Senja ke rumahku dengan alasan untuk mengajarinya memasak.


Entah pemikiran ini termasuk berusaha membela diri atau tidak. Aku tidak tahu.

__ADS_1


" Ceraikan aku, Nath." Seru Ayuna tiba- tiba saat memasuki kamar. Matanya menatapku tajam.


__ADS_2