
Silvi hanya terus menundukkan wajahnya di hadapan Nathan yang kini menatapnya menunggu sebuah kalimat kembali meluncur dari mulutnya. Nathan melipat kedua tangannya di depan dadanya. Dia terus menunggu sekretarisnya yang awalnya bilang ingin bicara. Tetapi lima menit berlalu hanya terlihat Silvi yang tertunduk sambil meremas ujung blazer toscanya.
Nathan menarik nafas bosan. " Jadi apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Nathan akhirnya.
" Begini, Pak. Sayakan gak punya siapa- siapa di sini. Lagi pula Bapak juga pernah jadi adik iparnya." Ujar Silvi masih dengan wajah tertunduk.
Nathan mengangkat sebelah alisnya tak mengerti.
Silvi menarik nafasnya. " Menurut Bapak. Revan orangnya seperti apa?" Wajah Silvi bersemu merah.
" Oh.. Tentang Revan?!" Nathan mulai mengerti dan menyunggingkan senyumnya melihat Silvi dengan tatapan serius.
" Sudah beberapa hari ini, Revan kembali menghubungi saya, Pak."
" Lalu?"
" Dia mengajak saya jalan. Tapi saya takut kalo dia akan ngilang gitu aja kaya dulu."
" Kenapa kamu gak coba minta dia untuk mempertegas hubungan kalian." Saran Nathan.
" Saya takut kepedean aja, Pak. Gimana kalo dia malah ngiranya aku yang suka sama dia."
Nathan menutup mulutnya menahan tawanya. Merasa sedikit lucu dengan gengsi sekretarisnya itu.
" Selama dia menjadi kakak ipar saya. Revan adalah orang yang baik. Sayang sama keluarganya. Dan ketika dia menghilang dari kamu. Karena dia merasa minder. Ngerasa tidak sepadan sama kamu yang seorang sekretaris sementara dia masih bekerja sebagai kurir." Nathan menjelaskan.
" Tapi kan dia anak orang berada, Pak. Beda sama saya yang cuma orang miskin. Orang kampung juga. Kenapa harus malu sama saya?"
" Untuk masalah itu kamu tanyakan saja langsung." Ujar Nathan.
" Jadi saya terima aja nih Pak. Ajakannya dia?" Silvi menatap Nathan.
" Terserah kamu."
Silvi nampak sedikit berpikir dan menyunggingkan senyum. " Makasih atas waktunya ya, Pak. Mau dengerin curhatan saya." Ujar Silvi dan pamit kembali ke mejanya.
Nathan memutar pena yang ada di jarinya. Wajahnya terus menyunggingkan senyum bahagianya. Karena orang- orang yang ada disekitarnya akan segera mendapatkan kebahagiannya.
__ADS_1
Nathan menatap layar ponselnya yang masih menyimpan foto Ayuna. " Semoga kamu juga bahagia di sana. Aku mencintaimu." Nathan mengelus lembut layar ponselnya. Air mata haru menetes dari matanya begitu saja.
' Dddrrrttt'
" Iya, Bu."
" Ke rumah sakit sekarang, Nath. Senja mau melahirkan." Ujar Bu Fitri dengan nada panik.
" Bukannya dua minggu lagi?"
" Ini persalinan Nathan. Bisa terjadi kapan saja." Ujar Bu Fitri dengan gemas karena putranya malah merasa keheranan.
Nathan segera meluncur menuju rumah sakit. Sesampainya di sana. Nathan langsung menuju poli kandungan. Tempat Senja diperiksa terlebih dahulu.
Dokter Mirna yang baru saja selesai memeriksa Senja. Segera kembali ke mejanya.
" Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Nathan yang baru saja masuk pada dokter.
Dokter Mirna menyunggingkan senyumnya dan mempersilahkan Nathan untuk duduk terlebih dahulu di samping Bu Fitri.
" Apa induksi itu aman?"
" Insyaa Allah aman. Semua dalam pengawasan Dokter."
" Ini rujukan untuk rawat inap ya Pak. Setelah mendapat kamar. Ibu Senja bisa langsung pindah ke ruang perawatan. Kami akan melakukan pemeriksaan pada Ibu Senja setiap jam. Tapi jika terjadi sesuatu. Bapak bisa langsung memanggil kami."
Nathan segera mengurus segala administrasi untuk persalinan Senja. Nathan yang pertama kali akan menemani istrinya melahirkan merasa sedikit gugup dan bahagia. Karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan anaknya.
" Jangan takut." Ujar Senja sambil mengelus lembut bahu Nathan.
Senja tampak santai menghadapi persalinannya yang kedua.
" Jika kamu butuh sesuatu. Bilang saja sayang."
Senja menyunggingkan senyumnya. " Kehadiranmu saja sudah lebih dari cukup." Jawab Senja masih terus berjalan mondar mandir dalam kamarnya.
Senja berhenti melangkah ketika kontraksi pada rahimnya mulai terjadi. Tubuhnya setengah membungkuk menahan rasa sakit yang menyerang area perut serta punggungnya. Nathan segera menghampiri Senja dan merangkul tubuh Senja. Senja mencengkeram kuat baju kemeja Nathan. Senja berusaha mengatur nafasnya. Menariknya dari hidung dan membuangnya dari mulut.
__ADS_1
Nathan menatap nanar wajah istrinya yang mulai dibasahi oleh peluh yang keluar.
" Apa sakit sekali?" Tanya Nathan dengan wajah cemas.
Senja hanya menganggukkan kepalanya dan perlahan mencoba kembali untuk berdiri dan kembali berjalan mondar mandir. Namun peristiwa yang sama terjadi lagi setiap lima menit. Nathan sangat khawatir dengan keadaan Senja yang mulai terlihat kelelahan.
" Duduklah, Sayang." Ujar Nathan.
Senja menggeleng. " Aku ingin dia segera lahir."
" Wajahmu terlihat lelah, Sayang. Biar aku panggilkan dokter ya."
Senja hanya tersenyum. " Tidak perlu sayang. Belum saatnya kita memanggil dokter." Senja masih bersikap tenang. Berbeda sekali dengan Nathan yang terlihat tegang dan takut.
" Tenanglah. Istrimu lebih tau apa yang terjadi dengan dirinya." Bu Fitri menepuk- nepuk bahu Nathan.
" Kasihan Senja, Bu."
" Memang begitulah proses melahirkan sayang." Bu Fitri tetap tersenyum menjelaskan.
" Sayang. Kita tanya dokter ya adakah cara yang cepat. Aku benar- benar tidak bisa melihatmu kesakitan seperti ini." Nathan kembali memohon agar Senja setuju dengan keinginannya ketika melihat Senja mengalami kontraksi kembali.
" Tidak semua wanita seberuntung aku merasakan perjuangan ini, sayang. Aku bahagia. Karena ada kamu di sisiku."
Nathan hanya menarik nafas pasrah dengan keadaan. Hatinya menggumamkan doa untuk istrinya agar diberi kemudahan. Setelah dua jam berlalu. Dokter Mirna kembali memeriksa Senja untuk yang kedua kalinya.
" Pembukaan jalan lahir Senja sudah lengkap. Kita akan memindahkan Senja ke ruang bersalin. Jika Pak Nathan mau menemani. Silahkan saja." Ujar Dokter Mirna.
Nathan membelai lembut pucuk kepala istrinya yang telah dipenuhi peluh. Betapa sakit rasanya melihat perjuangan seorang istri untuk melahirkan buah hati kita ke dunia. Entah sudah berapa banyak Nathan terus mengucapkan doa untuk keselamatan anak dan istrinya. Tak kuasa dia menahan tangisnya lagi. Air mata telah membasahi pipinya melihat perjuangan Senja.
' Ooeeekk Oooeeekkk Ooooeeekkk'
Sebuah tangisan dari bayi mungil yang telah mereka nantikan terdengar juga. Melihat anaknya telah lahir ke dunia Nathan langsung memeluk Senja dan menciuminya berkali- kali. Tangis haru dan bahagia kembali pecah.
" Terima kasih sayang." Ucap Nathan lagi dan kembali mencium Senja. Setelahnya. Nathan melakukan sujud syukur atas kelahiran putra pertama mereka.
Nathan menatap haru seorang bayi mungil yang diberikan dokter Mirna padanya. Seorang malaikat kecil yang akan menyempurnakan kebahagiaan mereka. Dengan lembut Nathan mengumandangkan Adzan dan Iqamah pada telinga bayi mungil itu. Setelah selesai dia menundukkan sedikit badannya agar Senja bisa melihat putra kecil mereka.
__ADS_1