
" Hari ini kamu ada acara?" Tanya Senja saat Nathan sedang menyantap sarapannya.
" Tidak. Ada apa?"
" Aku mau ke rumah Ayuna." Ujar Senja dan duduk di kursi samping Gio.
" Apa kamu yakin?" Nathan meletakkan sendoknya dan menatap Senja lekat.
Senja mengangguk.
" Ibunya Ayuna masih membenci Nathan, Senja." Bu Fitri tampak tidak setuju.
" Aku ingin dia menggendong Yusuf. Mungkin jika dia melihat Yusuf dia akan senang, Bu." Ujar Senja.
" Aku tidak yakin sayang." Nathan mencoba menolak permintaan Senja. Dia tidak ingin sikap kasar Ibu Laras juga di tunjukkan kepada Senja.
" Sekali saja sayang. Aku mohon." Ujar Senja memohon dengan wajah memelas.
Nathan menarik nafas panjang dan menjawab dengan anggukan kecil. Kebencian Ibu Laras muncul ketika kematian Ayuna. Dia yang belum bisa menerima kepergian anaknya selalu menyalahkan Nathan yang tidak bisa menjaga Ayuna dengan baik. Selama menjalani rumah tangga dengan Nathan. Beberapa kali Ayuna tampak sedih tetapi dia enggan bercerita dengan Ibu Laras.
Nathan dan Senja telah bersiap menuju rumah orang tua Ayuna. Nathan tampak sedikit ragu untuk melajukan mobilnya menuju kediaman Ibu Laras. Kekhawatirannya tentang sikap Ibu Laras pada Senja membuatnya tidak tenang.
Setelah menempuh perjalanan satu jam. Mereka sampai. Nathan memarkirkan mobilnya diluar gerbang rumah Ibu Laras. Rumah itu tampak masih sama. Hanya cat rumah ini yang tampak lebih cerah.
Nathan menggandeng tangan istrinya melangkah memasuki gerbang rumah Ayuna. Ada perasaan haru dan rindu berkecamuk dalam relung dadanya. Memori dalam ingatan Nathan kembali berputar tentang Ayuna. Senyum Ayuna yang masih dia ingat dengan jelas.
" Hei, Nath." Sapa Revan yang tengah mencuci mobilnya di halaman rumah.
" Kak."
Revan menghampiri Nathan dan menyalami Nathan. " Tumben dateng."
" Iya. Mama ada?"
" Ada. Mama lagi sakit." Ujar Revan dan mempersilakan Nathan dan Senja masuk.
" Assalammu'alaikum."
" Wa'alaikumsalam." Sahut Pak Sofyan dari dalam kamar. " Nathan." Serunya senang ketika dia melihat Nathan masih berdiri diambang pintu.
" Pa." Nathan mencium punggung tangan Pak Sofyan. Begitupun dengan Senja.
__ADS_1
" Dia istrimu?"
" Iya, Pa." Jawab Nathan dan melihat Pak Sofyan tampak berbinar melihat Yusuf yang berada di gendongan Senja.
" Duduklah. Papa panggilkan Mama." Ujar Pak Sofyan dan bergegas memasuki kamarnya kembali.
Senja melemparkan senyum senang pada Nathan melihat reaksi bahagia Pak Sofyan. Tak lama kemudian keluarlah Ibu Laras dengan wajah lesu namun tetap tersirat kemarahan di wajahnya.
Tangannya segera menepis tangan Nathan yang hendak mencium punggung tangannya. Dengan wajah ketus dia duduk di hadapan Senja dan Nathan.
" Mama sakit apa?" Tanya Nathan prihatin melihat Ibu Laras pucat.
" Bukan urusanmu!"
Nathan menarik nafas dalam.
" Dia istrimu?" Tanya Bu Laras pada Nathan sambil melirik Senja sinis.
" Iya, Ma."
" Itu mantan pacarmu kan? Yang hampir saja Ayuna mengalah pada pernikahan kalian dulu!"
Nathan tidak menjawab. Hanya tertunduk.
Senja semakin terdiam. Sesak sekali dadanya mendengar ucapan tajam dari Ibu Laras.
" Ma.." Pak Sofyan mencoba menghentikan ucapan istrinya.
" Ini saatnya mereka tau apa yang ada di hati Mama!" Omel Ibu Laras pada Pak Sofyan.
" Coba lihat anak Nathan sangat lucu. Mama tidak mau lihat?!" Pak Sofyan masih membujuk.
" Itu anak Nathan dengan wanita itu! wanita yang jangan- jangan merencanakan kecelakaan Ayuna."
" Astagfirullah." Senja langsung beristighfar mendengar tuduhan Ibu Laras.
" Ma. Aku kesini untuk melihat keadaan Mama dan Papa. Bukan mau mendengar tuduhan mama pada istriku." Ucap Nathan masih berusaha bersikap lembut pada mantan mertuanya itu.
" Kamu membelanya? Kamu bukan siapa- siapa lagi. Jangan pernah menginjakkan kakimu di rumahku!" Hardik Bu Laras makin menjadi pada Nathan. Telunjuknya mengarah tepat ke wajah Nathan.
Tanpa berbicara lagi. Nathan langsung menggenggam tangan Senja dan mengajaknya keluar dari rumah Ayuna. Dia tidak ingin emosinya meledak dan berbicara lantang pada mantan mertuanya yang sangat dia hormati.
__ADS_1
" Ibu belum melihat Yusuf, Nath." Senja membujuk agar tetap di sana.
" Jangan bodoh, Senja. Kehadiran kita tidak diinginkan disini." Ucap Nathan tegas dan tetap menarik tangan Senja menuju mobil.
Revan yang sejak tadi sibuk mencuci mobilnya melihat Nathan yang berwajah garang keluar dari rumahnya dan tanpa pamit pergi dari rumahnya. Revan langsung masuk ke dalam rumahnya dan menghampiri orang tuanya.
" Kematian Ayuna tidak ada kaitannya dengan Nathan, Ma."
" Mungkin bukan dengan Nathan. Tapi bagaimana dengan istrinya. Bukankah wanita itu sejak dulu mengejar Nathan?!"
" Ma!"
" Mama tidak akan pernah memaafkan mereka!"
" Nathan anak yang baik, Ma. Ayuna selalu bahagia selama jadi istrinya." Sahut Revan. " Bukankah dulu mama sering diberikan uang belanja oleh Nathan? Dia tidak pernah membedakan antara mama dan ibunya." Sahut Revan.
" Kenapa kalian selalu membela Nathan!" pekik Ibu Laras kesal dan membanting pintu kamarnya.
Senja terus mengelus bahu Nathan yang masih terlihat marah. Berkali- kali Senja harus menarik nafasnya saat Nathan menyalip kendaraan yang ada di depannya.
" Pelan- pelan sayang." Bujuk Senja yang merasa khawatir.
Nathan tetap tak bergeming dan terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tiba di tepi danau Nathan menghentikan laju kendaraannya dan memukul setirnya berkali- kali meluapkan kekesalannya.
" Istighfar sayang." Senja mengelus lembut punggung Nathan.
Nathan terus beristighfar dan berzikir dalam hatinya. Dia sandarkan kepalanya dan berkali- kali menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Senja terus menatap suaminya dengan perasaan bersalah.
Nathan memejamkan matanya. Kembali terputar dalam memori ingatannya ketika kabar duka sampai pada ibu Laras dan Pak Sofyan. Kedatangan pasangan suami istri itu ke rumah duka.
Ibu Laras menangis meraung- raung di depan jenazah Ayuna. Dia meracau dan berteriak tidak jelas. Nathan yang menyaksikan betapa hancurnya hati ibu Laras hanya diam dan tertunduk. Hatinya tak kalah hancur. Nathan dan Ayuna yang sedang bahagia menanti kelahiran buah hati mereka harus dihadapkan dengan kenyataan kepergian istrinya. Nathan tak kalah hancur dari ibu Laras.
Dengan wajah marah Ibu Laras menghampiri Nathan dan menunjuk- nunjuk wajah Nathan. Menyalahkan Nathan atas kematian Ayuna. Nathan yang juga hancur hatinya hanya bisa diam dan pasrah menerima segala tudingan dari mertuanya saat itu.
Sesak kembali dirasakan Nathan saat ini. Rasa sesak yang tidak akan pernah hilang jika mengingat hari paling berat untuknya selama dalam hidupnya.
Nathan menatap lekat wajah Senja dan memeluknya erat. Air mata telah membasahi kedua pipinya. Nathan yang selalu bersikap tegar kini rapuh ketika mengingat semua peristiwa menyakitkan itu.
" Sabar sayang." Senja terus menenangkan Nathan.
Nathan menarik nafas panjang dan menyeka air matanya. Dia mendongakkan kepalanya agar tak ada lagi air mata yang jatuh.
__ADS_1
" Maaf sayang." Ujar Nathan dengan suara parau.