
Dedi menghentikan langkahnya sambil menelan saliva kasar. Dengan perasaan cemas dia kembali menoleh ke arah Nathan yang masih duduk di tepi meja sambil menatapnya tajam.
" Ada apa lagi, Pak?" Tanya Dedi sedikit gugup.
Nathan tersenyum tipis. " Uang yang ada di brankas itu yang kini berpindah di tas anda. Bukanlah hak anda."
" S- s - s- saya tidak membawa uang apapun." Dustanya lagi.
" Jika harus saya yang mengeluarkan maka urusan kita akan berakhir di kantor polisi." Ancam Nathan kali ini dia tidak main- main.
" Jangan, Pak." Sahut Dedi cepat dan dengan segera mengeluarkan beberapa gepok uang yang sempat dia masukkan ke dalam tas saat Nathan sedang bicara dengan para pekerja.
" Saya harap anda bisa berbuat jujur di tempat anda yang baru nanti." Ucap Nathan dingin dengan mata masih menatap Dedi yang dengan getar meletakkan uang itu di atas meja.
" Saya permisi." Ucap Dedi kali ini tidak digubris Nathan.
*****
Senja hanya mengaduk minumannya melihat Friska sibuk dengan ponselnya. Ketidak sengajaan mereka bertemu di pusat perbelanjaan kemudian Friska mengajak Senja untuk makan siang bersama. Walaupun sudah di tolak dia tetap memaksa Senja.
" Maaf ya Senja. Aku belakangan ini memang sedikit sibuk. Ini aja ada beberapa perusahaan menawarkan kerjasama denganku." Ujar Friska dan meletakkan kembali ponselnya.
" Aku ngerti kok. Suamiku juga terkadang seperti itu." Sahut Senja.
" Oh iya. Apa kabar anak dan suamimu hari ini? Apa mereka baik- baik saja?" Friska berbasa basi.
" Kenapa harus menanyakan suamiku?" Tanya Senja dengan mata memicing. " Apa kamu tidak bertemu dengannya di kantor?" Tanya Senja lagi.
Friska salah tingkah. " Bukan gitu maksudku. Aku kan cuma tanya kabar aja. Gak lebih." Friska masih mengelak. Padahal apa yang diterka Senja benar sekali. Pagi tadi dia tidak bisa bertemu dengan Nathan. Entah kemana pria itu hari ini. Hati Friska merasa gundah jika belum bertemu dengannya dan tidak tahu kabar tentangnya.
" Suamiku baik- baik saja." Ujar Senja dengan nada sinis. " Maaf aku tidak bisa lama- lama. Aku hanya izin untuk berbelanja pada mertuaku. Bukan untuk mengobrol berlama- lama." Senja berusaha untuk pergi. Malas rasanya melihat Friska terus saja bersandiwara di hadapannya.
Sebelum dia berangkat ke supermarket. Silvi melaporkan jika Friska ingin bertemu dengan Nathan. Tetapi Silvi menjawab sesuai yang diperintahkan Senja. Silvi tidak memberitahukan lokasi Nathan. Dia hanya bilang Nathan sedang tidak di tempat.
Wanita yang belakangan ini selalu berusaha bertemu dengan suaminya. Selalu mencoba untuk mendapatkan perhatian suaminya. Senja hanya ingin menjaga rumah tangganya. Itu saja.
__ADS_1
" Apa kamu marah padaku, Senja?" Friska kembali berbasa basi dengan wajah polosnya.
" Tidak. Aku hanya sedang tidak ingin berlama- lama di luar rumah. Aku duluan ya." Ucap Senja lagi dan meninggalkan Friska yang masih menatapnya sebal.
Senja menarik nafas lega karena dia tidak lagi melihat Friska. Seorang teman yang seperti bermuka dua. Sangat manis sekali di depan Senja sebenarnya dia ingin Senja membuat Senja menderita.
Senja berdiri di depan lobby mall menunggu pesanan taksi onlinenya. Beberapa kali dia melihat ponselnya untuk mengecek lokasi driver yang akan menjemputnya. Namun tiba- tiba.
'TIN'
Sebuah mobil sedan merah berhenti tepat di depan Senja. Kacanya terbuka hingga terlihat pengemudi yang ada di dalam mobil tersebut. Seorang pria berbadan tinggi hampir mirip dengan postur tubuh Nathan. Tetapi bedanya pria ini berambut sedikit panjang.
" Senja. Masuklah. Aku akan mengantarmu." Ucap pria itu.
Senja tersenyum. " Tidak terima kasih. Aku sudah memesan taksi online." Senja menolak ajakannya halus.
" Cancel aja. Biar aku antar."
" Aku tidak mau merepotkan." Senja tetap menolak.
" Taksiku sudah datang. Aku duluan ya." Ujar Senja tetap menolak dan segera berlalu menghampiri mobil SUV berwarna putih yang berhenti di belakang mobil Riza.
Riza berdecak kesal karena entah untuk yang keberapa kalinya. Senja selalu menolaknya. Riza memukul pelan setir mobilnya dan dengan terpaksa melajukan mobilnya.
Tanpa Senja sadari. Sejak dari mall tersebut, Riza diam- diam mengikuti mobil yang di tumpangi Senja. Riza sangat penasaran dengan kehidupan Senja. Seperti apa suaminya karena Senja masih saja menolak dirinya.
Senja turun dari mobil yang tadi di tumpanginya dan sekilas dia melihat mobil Riza berhenti di depan sebuah rumah yang hanya berjarak sekitar dua rumah dari rumahnya. Senja tidak ingin berpikiran jelek tentang temannya itu. Jadi dengan acuh dia masuk begitu saja ke dalam rumahnya.
" Assalammu'alaikum." Sapa Senja riang pada putra dan mertuanya itu yang sedang asik menonton tv bersama.
" Wa'alaikumsalam." Sahut Gio dan Bu Fitri bersamaan.
Senja meletakkan belanjaannya di atas meja makan. Bi Sumi dengan cekatan membantu Senja mengeluarkan belanjaan Senja dan menatanya di lemari pendingin dan ada yang dia cuci terlebih dahulu sebelum di simpan.
Senja menghampiri Gio dan duduk di sampingnya.
__ADS_1
" Kok lama?" Tanya Bu Fitri yang terheran melihat menantunya pulang sedikit telat.
" Iya.. Maaf Bu. Tadi aku gak sengaja ketemu temen. Dia ngajakin aku makan siang bareng." Jawab Senja.
" Teman?" Bu Fitri memastikan. Senja mengangguk cepat.
" Teman sekolah aku. Nathan juga kenal kok. Namanya Friska. Itu aja aku maksa pulang duluan."
Bu Fitri tersenyum dan mengangguk mengerti. Dia sangat mengenal menantunya. Tidak akan mungkin dia mengkhianati putranya. Dia hanya khawatir jika terjadi sesuatu di luar dan Senja tidak mau bercerita.
" Ibu jangan khawatir. Senja akan baik- baik saja." ujar Senja yang mengerti jika mertuanya sangat mengkhawatirkan. " Maaf ya aku gak kabarin." Senja memeluk Bu Fitri.
" Iya anak kesayanganku." Ujar Bu Fitri gemas dan menarik pelan hidung Senja.
Gio ikut berhambur memeluk Senja dan Bu Fitri. Mereka bertiga tertawa bersama menikmati setiap suasana.
Bu Fitri menatap lekat wajah menantunya yang sangat cantik. Di balik kecantikan dan keceriaannya. Ada sebuah luka yang sangat menganga dihatinya. Perjalanan hidup Senja yang sangat berliku dan terjal. Harus dia hadapi hingga akhirnya pernikahan mampu menghapus kesedihan itu sedikit demi sedikit.
" Minggu depan di sekolah aku ada acara, Ma." Ujar Gio menatap Senja dengan tatapan polosnya.
" Oh ya? Acara apa?"
" Pertunjukkan Seni. Ada drama. Tarian. Nyanyian. Dan banyak lagi Ma." Cerita Gio antusias.
" Mama harus datang nih." Sahut Senja.
" Ajak Papa ya, Ma." Pinta Gio. " Gio mau teman- teman Gio tahu kalo Gio punya papa."
Senja membelai lembut pucuk kepala Gio dan melemparkan senyum. " Kenapa harus teman- teman Gio tahu?"
Gio tertunduk. Raut wajahnya berubah menjadi sedih.
" Gio kenapa?" Tanya Senja kini berjongkok di depan Gio mensejajarkan. wajah mereka.
" Gio gak mau dibilang kalo gak punya Papa. Gio juga dibilang kalo Papa Gio gak jelas." Keluhnya dengan wajah semakin tertunduk sedih.
__ADS_1