Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
44


__ADS_3

" Gio." Panggil Nathan ketika melihat Gio sedang duduk di atas rumput halaman rumahnya.


" Papa." Raut wajah Gio berubah ceria namun baru saja dia akan berhambur memeluk Nathan dia kembali mengingat sikap acuh Nathan saat itu.


" Gio gak mau peluk Papa?" Tanya Nathan dan menyejajarkan tubuhnya dengan Gio.


" Gio takut Papa marah." Ujarnya dengan wajah tertunduk lesu.


" Gio gak pernah marah sama Gio. Maafin Papa. Waktu itu papa cuekin Gio. Papa cape banget." Ujar Nathan membujuk Gio. Perlahan Gio mengangkat wajahnya dengan senyum mengembang dan segera memeluk Nathan erat.


" Gio!" Panggil Senja keras. Melihat Gio memeluk Nathan erat.


" Gio masuk ke dalam!" Perintahnya saat Gio melepas pelukannya.


Dengan patuh, Gio berlari ke dalam rumah. Meninggalkan Senja dan Nathan yang terdiam dan hanya saling beradu pandang.


" Sebaiknya kamu pergi. Aku tidak mau Reza salah paham." Ujar Senja dan memasuki rumahnya tetapi sejurus kemudian Nathan mengejarnya dan ikut masuk ke dalam rumah Senja.


" Mau apa kamu?" Tanya Senja marah.


" Aku hanya ingin bicara denganmu."


" Jangan konyol Nathan." Tolak Senja yang mulai mengalihkan pandangannya. Dia tidak ingin kembali luluh dengan Nathan.


" Kamu tidak akan menyuguhkan minum untukku?"


" Bicaralah. Waktu kamu hanya lima menit." Ujar Senja tegas.


" Tadi pagi Reza ke kantorku..."


" Apa?" Seru Senja terkejut.


Nathan hanya menahan tawanya melihat reaksi Senja. " Dia bilang aku harus menggantikannya sebagai calon suamimu."


" Lalu?"


" Aku menolak. Tetapi dia membujukku dengan Gio."


" Lalu baru kamu mau?"


" Iya. Aku pikir Gio membutuhkan orang tua yang utuh."


" Tapi kamu bukan ayah..." Belum sempat Senja menyelesaikan kalimatnya. Nathan sudah membungkam mulutnya dengan bibirnya.


Senja melotot karena terkejut. Kecupan singkat dibibir itu membuat Senja terpaku.


" Maaf. Ada Gio diam- diam mendengarkan." Bisik Nathan di telinga Senja dan membuat Senja tersadar.


Senja melirik ke arah yang di tunjuk Nathan dengan ekor matanya dan benar saja ada Gio sedang mendengarkan pembicaraan mereka.


" Jangan membahas lagi hal itu. Bagiku, Gio adalah anakku." Ujar Nathan dan membuat Senja memeluknya erat.

__ADS_1


Ternyata bukan hanya Gio yang diam- diam mendengarkan pembicaraan mereka. Ada Reza yang terpaku berdiri di depan pintu rumah Senja. Reza bahagia namun di saat yang sama hatinya juga sakit.


" Yeaayyy... Mama sama papa baikan." Seru Gio dan keluar dari persembunyiannya.


"Sini sayang. Peluk papa." Ujar Nathan dan memeluk erat Gio.


" Gio mau tinggal di rumah Papa?" Tanya Nathan dan Gio mengangguk senang.


" Sebentar lagi ya sayang." Sahut Senja.


" Iya." Gio mengangguk patuh.


" Kapan kamu lamar aku?" Bisik Senja.


" Sabtu ini. Atau kita langsung menikah?"


" Apa tidak perlu resepsi?" tanya Senja sedikit ragu mengingat Nathan memiliki banyak kolega.


" Bisa menyusul." Jawab Nathan cepat.


" Bagaimana jika dua minggu lagi. Kita urus dulu surat- suratnya." Usul Senja dan di setujui Nathan.


" Hari Sabtu kita ke rumah Kak Gilang ya." Ajak Nathan.


" Untuk apa?" Tanya Senja ketus.


" Dia walimu Senja. Biar bagaimanapun aku harus meminta restunya."


" Percayalah padaku Senja. Kak Gilang akan menerimamu lagi." Bujuk Nathan lembut.


Senja mengalah dan menuruti keinginan Nathan.


*****


" Hai Nath." Sapa seorang wanita ketika Nathan memasuki rumahnya.


Nathan mengerutkan keningnya berusaha mengingat sosok tersebut.


" Lupa ya sama aku." Ejeknya yang melihat Nathan masih berpikir. " Aku Thalia. Teman SMP kamu." Ujarnya mengingatkan Nathan.


"Oh ya?" Nathan masih tidak ingat.


Thalia terlihat kecewa. " Masih inget si cupu?" Tanyanya.


Nathan mengangguk dan.. " Loh. Kok beda banget." Akhirnya Nathan mengingatnya.


" Perawatanlah." Ujarnya bangga." Cantik gak?"


" Iya." Nathan duduk di sofa yang ada di hadapan Thalia.


" Lho.. Kamu kapan sampai?" Tegur Bu Fitri yang baru saja datang membawa secangkir teh hangat.

__ADS_1


" Baru Bu." jawab Nathan dan mencium punggung tangan ibunya.


" Jauh- jauh dari luar kota. Datang kesini cuma mau ketemu kamu Nath. Silahkan bicara. Ibu gak mau ganggu." Ujar Bu Fitri dan meninggalkan mereka.


" Ibu kamu masih ramah banget ya." Puji Thalia.


" Ya begitulah. Emm.. Ada perlu apa nih?" Tanya Nathan yang tidak ingin banyak basa basi.


" Begini. Aku mau bangun kantor di sini. Aku dengar kamu punya perusahaan di bidang kontraktor kan?" Nathan mengangguk. " Aku mau kita kerja sama. Bagaimana?"


" Kalau boleh tahu lokasi yang akan di bangun dan akan seperti apa bangunannya. Luas tanahnya berapa?"


" Di daerah pondok indah. Luasnya kira- kira sekitar... emmm 2.500 meter persegi kayanya. Aku lupa lihat detail surat- suratnya."


" Mau di bangun seperti apa?"


" Yaa minimalis aja lah. Mungkin hanya delapan lantai kayanya. Aku pengen ada halaman yang luas. Basement yang luas juga dan juga rooftopnya bisa di jadikan tempat karyawan nongkrong."


" Ok. Aku akan coba buat designnya. Untuk pembicaraan lebih lanjut kita bahas di kantor saja." Ujar Nathan yang merasa kurang pas jika membicarakan pekerjaan di rumahnya dan memberikan kartu namanya.


" Oke." Thalia menerima kartu nama itu dengan senang.


" Maaf Thalia. Tapi kok bisa kamu berubah sedrastis ini? Jujur saja jika hanya perawatan sepertinya agak mustahil." Nathan kembali mencairkan suasana.


Thalia tertawa renyah. " Aku emang perawatan Nath. Gak ada operasi sama sekali." Thalia berpindah dan duduk di samping Nathan. " Hidungku, pipiku ini semua cuma perawatan tarik benang aja." Ujar Thalia.


Tanpa sadar Nathan memperhatikan bagian wajah yang ditunjuk Thalia dan menggelengkan kepala tak mengerti. Bagaimana rasanya saat melakukan perawatan tersebut.


" Tapi kamu tetap gak berubah ya." Puji Thalia.


" Aku bukan power ranger." Sahut Nathan dengan candanya.


" Aku serius. Kamu masih sama tampannya dari saat SMP dulu. Bahkan sekarang terlihat lebih gagah dan berwibawa." Puji Thalia lagi dengan kekagumannya.


" Terima kasih."


" Aku senang loh karena bisa ketemu lagi sama kamu." Ujarnya lagi. Nathan hanya tersenyum.


" Saat aku di bully dulu, cuma kamu yang mau membela aku." Kenang Thalia. Sorot matanya masih menggambarkan rasa sakitnya yang dulu. " Di bully cuma karena aku ini jelek, item, jerawatan. Ditambah lagi pake kacamata tebal. Dan satu lagi. Saat itu aku gendut." Ujar Thalia dengan air mata yang mulai membendung.


Thalia menyeka air matanya yang siap tumpah membasahi pipinya. " Kenapa saat itu kamu membela aku?"


Nathan menarik nafas panjang. " Yaa gak adil aja ada orang menghina fisik orang lain. Aku cuma gak suka sama hal itu." Jawab Nathan apa adanya.


" Kamu tahu gak. Mulai saat itu aku berjanji sama diri aku sendiri untuk berubah." Sambung Thalia.


" Syukurlah. Kalau semua kejadian itu berdampak baik untukmu."


" Aku mau berubah untuk kamu, Nath." Ucap Thalia.


Nathan menoleh seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


__ADS_2