
Brama menarik nafas lega ketika mendapat kabar dari Dokter Samuel jika Nathan baik- baik saja. Otaknya yang belum pulih benar pasca operasi. Di paksa keras untuk berpikir. Itu yang menyebabkan sakit kepala hebat pada Nathan. Brama hanya memandangi Nathan dari sofa ruangan Nathan. Sedangkan Nathan. Kembali tertidur karena efek obat yang diberikan Dokter.
" Sebenarnya Pak Nathan kenapa?" Tanya Silvi yang masih belum mengerti dengan keadaan Nathan.
Brama menarik nafas dan menatap wajah Silvi lekat. " Nathan amnesia. Dia bisa mengingat semuanya kecuali mengingat orang- orang yang ada di sekitarnya." Jelas Brama.
Silvi tercengang. Bagaimana mungkin seorang Nathan bisa mengalami amnesia. Setelah kasusnya dengan seorang model hingga menyeretnya ke polisi. Kini Nathan mengalami amnesia.
" Apa bisa sembuh?"
" Bisa. Tapi butuh waktu. Gak tau sampe kapan Nathan benar- benar bisa ingat semuanya." Ujar Brama. " Keadaan Nathan jangan sampai tersebar pada karyawan yang lain ya, Sil. Saya percaya sama kamu." Brama memperingati Silvi dengan lembut.
" Baik, Pak."
*****
" Oooeeekkk Ooooeekkk."
Randy tampak kerepotan bergegas mengganti popok bayinya yang habis buang air besar. Putrinya tampak sangat kehausan ingin segera menyusu. Nabila yang melihat Randy sangat telaten mengurus dirinya dan anaknya. Hanya bisa tersenyum senang. Bahagia hingga akhirnya hatinya kini mampu memiliki cinta untuk suaminya. Walaupun belum sepenuhnya dia mampu melupakan Nathan.
" Sudah seperti itu dulu saja sayang. Kasian Rubi." Ujar Nabila pada Randy yang masih berkutat memakaikan celana.
" Iya." Randy tampak tidak menyerah walaupun sedikit kewalahan karena Rubi terus saja menggerakkan kaki mungilnya. " Selesai." Ucap Randy penuh kesenangan dan segera menggendong Keysa. Memberikannya pada Nabila.
" Cantik ya putri kita." Puji Randy entah sudah berapa puluh kali dia mengatakan itu.
" Iya. Matanya dan hidungnya, mirip kamu."
" Sisanya mirip ibunya." Sahut Randy cepat.
" Bagaimana keadaan Nathan hari ini?" Tanya Nabila pada Randy yang terus memandangi wajah Rubi yang asik menyusu.
" Brama belum memberikan kabar."
" Tanyakan sayang." Ujar Nabila.
" Apa kamu masih mencintai Nathan?" Tanya Randy dengan raut wajah yang sendu.
Nabila melemparkan senyum ke arah Randy.
__ADS_1
" Bagiku, Nathan hanyalah sebuah bintang yang tidak akan pernah aku gapai. Sekarang aku punya seseorang yang berharga. Yaitu kamu dan Rubi." Nabila mencubit pelan pipi Randy.
" Syukurlah." Randy tersenyum senang. " Aku hubungi Brama dulu." Randy beranjak dan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.
***
" Errgghh.."
Nathan mengerang memijat pelipisnya. Dia sedikit tersentak karena tiba- tiba saja ada seorang wanita sudah berdiri di sampingnya dengan senyum lebar.
" Kamu sudah bangun?" Tanya wanita itu.
" Siapa kamu?" Tanya Nathan sambil memijat pelipisnya. Karena sakit kepalanya hanya sedikit mereda.
" Aku Wulan. Kekasih kamu. Kamu seperti ini karena ada yang tidak suka dengan hubungan kita." Ujar Wulan dengan wajah sendu.
" Kekasih?" Nathan tampak bingung. " Aku sudah menikah." Ujarnya lagi.
" Ya aku tau. Tapi kamu bilang padaku sudah tidak mencintai Senja lagi."
Nathan masih menatap Wulan penuh menyelidik. Dia merasa aneh dan bingung dengan kehidupannya. " Apa benar yang kamu katakan?"
" Ya." Wulan meyakinkan.
Wulan memegang tangan Nathan lembut. " Kita harus pergi dari sini. Aku tidak mau ada yang memisahkan kita lagi." Mata Wulan mulai berkaca- kaca.
" Aku_ Aku tidak mau meninggalkan anak dan istriku."
" Bagaimana dengan anak kita?" Wulan mengelus lembut perutnya. " Sebelum kejadian. Kita sudah hampir menikah, Nathan. " Wulan mulai menunjukkan aktingnya. Dia harus bisa memanfaatkan keadaan Nathan sebaik mungkin.
Nathan hanya terdiam terpaku mendengar penuturan Wulan. " Aku tidak bisa." Nathan menolak. Hatinya menolak melihat wanita itu.
" Apa kamu tidak percaya denganku?" Bulir bening mulai menetes.
" Maaf."
Wulan tampak kesal melihat Nathan yang masih menolaknya padahal dia tidak ingat apapun.
" Kita harus gerak cepat." Ucap Wulan pada seorang lelaki yang sejak tadi mengawasi mereka dari sudut ruangan.
__ADS_1
" Okey." Lelaki itu segera keluar dari pintu untuk memantau situasinya dan juga memanggil kawannya yang sejak tadi menunggu di luar.
" Angkut!" Perintahnya dan dia langsung meninggalkan ruangan Nathan.
" Siapa kalian?" Tanya Nathan pada dua orang yang baru saja memasuki ruangannya.
" Kita akan berjalan- jalan agar kamu ingat jika kamu dan dia akan menikah." Ujar salah satu lelaki itu dan menepuk keras bahu Nathan sedang yang lain segera menutup mulut dan hidung Nathan hingga pingsan.
Mereka mendudukkan Nathan pada kursi roda dan segera membawa Nathan keluar.
Di saat itu...
Brama yang baru saja kembali dari pertemuannya dengan kliennya yang ingin dia membantu mengurus kasus mereka. Tersentak kaget karena mendapati ruangan Nathan kosong.
" Suster. Pasien yang bernama Nathan kemana?" Tanya Brama dengan wajah panik pada bagian resepsionis.
" Masih ada di kamarnya, Pak." Jawab resepsionis itu.
" Ruangannya kosong." Brama tampak geram. Sebentar saja dia lengah. Nathan menghilang.
" Senja. Apa kamu bersama Nathan?" Brama menelepon Senja untuk memastikan.
" Tidak. Aku di rumah, Bram. Yusuf rewel sekali sejak pagi." Jawab Senja masih terdengar suara Yusuf menangis di sebrang sana. " Ada apa?" Tanya Senja.
Brama terdiam sejenak. " Tidak ada." Ucap Brama bohong. Dia harus menyelidiki dulu lebih jauh untuk memastikan dugaannya.
Brama menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menengok kiri kanan dan terpaku ketika dia melihat CCTV di sudut lorong yang menyorot kamar Nathan.
Brama segera pergi menemui pihak security. Setelah meminta izin untuk mengecek CCTV. Brama memperhatikan dengan seksama orang yang berlalu lalang setelah dia meninggalkan ruangan Nathan. Dan benar saja. 30 menit sejak dia meninggalkan ruangan Nathan terlihat sosok wanita dan seorang pria masuk ke dalam ruangan Nathan dan dua pria lainnya tampak berdiri dekat ruangan Nathan. Sekitar 45 menit pria itu keluar dan bergantian kedua pria itu masuk ke dalam. Tak lama kemudian. mereka terlihat keluar bersama dan mendorong seseorang di kursi roda. Bisa dipastikan. Itu adalah Nathan.
" Apa ini Wulan?" Gumam Brama ketika dia mempause dan memperbesar gambar yang menangkap sosok wanita itu.
" Tolong segera kirimkan ke saya." Pinta Brama pada pihak security.
" Baik, Pak."
Brama segera menghubungi pihak kepolisian dan benar saja. Pagi ini Wulan mendapatkan jaminan pembebasan dari seorang pria bernama Darko Wijaya.
" Kenapa kalian bisa melepaskan wanita itu!" Ucap Brama kesal karena merasa polisi itu tidak becus melaksanakan tugas mereka.
__ADS_1
" Apa terjadi sesuatu?"
" Ya. Nathan baru saja diculik wanita itu. Saya akan mengirimkan rekamannya pada kalian." Ujar Brama kesal.