Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
106


__ADS_3

Senja terhenyak mendengar ucapan Nathan yang tajam. " Kenapa kamu mau berpisah dariku?"


" Apa kamu masih mempercayai aku?" nathan menatap Senja tajam.


" Tapi kejadian semalam sudah sangat jelas, Nathan."


" Tidak ada yang jelas Senja. Jika aku mau melakukan itu. Aku akan menghampirinya ke kamar. Bukan di ruang keluarga." Nathan tak kalah mendebat Senja. " Kamu pikirkan baik- baik seperti apa wanita yang kamu bilang sahabat itu."


" Tapi, Nath."


" Aku akan memberikan bukti kuat padamu. Tapi biarkan aku bicara berdua saja dengannya di kamarnya." Ujar Nathan.


" Apa yang mau kamu lakukan?"


" Jika kamu percaya padaku. Aku akan memberikan bukti itu. Jika tidak. Lakukan apa yang kamu mau. Dan akan aku lakukan apa yang tadi aku ucapkan." Ujar Nathan dengan wajah tegas.


Senja sedikit berpikir dan menimbang semua hal. Senja akhirnya setuju. Nathan segera keluar dari kamarnya dan mengajak Virni masuk ke kamarnya berbekal dengan melakukan panggilan suara dari ponselnya ke ponsel Senja.


Bu Fitri yang tadinya ingin mengikuti Nathan dan Virni memasuki kamar Virni di cegah oleh Senja dan mengajak Bu Fitri mendengarkan pembicaraan Nathan dan Virni.


Nathan duduk di tepi ranjang Virni dan diikuti dengan Virni yang duduk tak jauh darinya.


" Apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Virni dengan wajah tertunduk.


" Apa kamu tidak lelah berpura- pura?"


Virni menyunggingkan senyuman liciknya. " Hal ini tidak akan terjadi jika kamu sedikit saja perhatian padaku."


" Aku suami Senja."


" Iya. Tapi Senja terlalu beruntung mendapatkan lelaki sepertimu. Sedangkan aku!" Teriak Virni marah sambil menatap Nathan marah.


Nathan menarik nafasnya. " Bisakah kamu meminta Senja untuk tidak mendesak ku menikahimu?"


" Aku juga ingin memilikimu, Nathan. Aku mau di perlakukan seperti kamu perlakukan Senja." Ucap Virni lirih.


" Tapi tidak dengan menikahimu."


Virni terdiam dan menatap Nathan dalam dan semakin mendekat.


" Masuklah sekarang." Ucap Nathan yang memberikan kepada Senja sebuah kode untuk masuk ke dalam kamar Virni.


Tetapi Virni yang salah kaprah menelaah ucapan Nathan langsung menyergap tubuh Nathan. Nathan langsung menghindar ketika Virni akan mencium bibirnya.


" Apa yang kamu lakukan, Virni!" Teriak Bu Fitri marah melihat Virni berada di atas tubuh Nathan.

__ADS_1


Melihat Senja dan Bu Fitri yang masuk secara tiba- tiba langsung membuat Virni berdiri dan merapikan kembali posisinya.


" Maafkan aku, Bu. Senja." Ujar Virni lirih. " Nathan mengancamku."


Senja langsung memutarkan pembicaraan mereka yang sengaja dia rekam. Virni langsung terdiam dan langsung bersimpuh di kaki Senja.


" Maafkan aku Senja." Virni memohon.


" Aku menolongmu. Tapi kamu mau menikamku." Ujar Senja dengan rasa kecewanya. " Aku sudah mendengarnya dari suamiku saat bicara dengan Nabila. Tapi aku masih memilih percaya padamu, Vir."


" Maafkan aku, Senja. Aku khilaf."


" Pergi dari rumahku." Usir Senja tegas tak ingin melihat wajah Virni.


" Senja. Jangan lakukan ini padaku. Aku mohon Senja."


" Aku bilang pergi!" bentak Senja kesal dan berlalu dari kamar Virni di bantu dengan Bu Fitri.


" Di meja itu ada sedikit uang. Bisa kamu gunakan untuk menyewa rumah beberapa bulan. Atau mau kamu apakan. Terserah padamu. segera pergi dari rumahku." Ujar Nathan tegas.


Virni kembali menangis sesenggukan dan langsung merasakan penyesalan yang teramat sangat.


Nathan menghampiri Senja yang sedang di tenangkan Bu Fitri dalam kamarnya. Perlahan Nathan menghampiri Senja dan duduk di sampingnya. Bu Fitri enggan mengganggu pasangan itu dan segera keluar dari kamar mereka.


" Maafkan aku tidak percaya padamu." Tangis Senja pecah karena penyesalan. Di sandarkan kepalanya pada bahu Nathan.


Senja hanya bisa mengangguk dalam tangisnya.


" Bagaimana kabar anak kita?" Tanya Nathan dan meletakkan telinganya pada perut Senja yang mulai membuncit.


" Baik. Tetapi ibunya merasa sedih karena ditinggalkan Papanya." Ujar Senja manja.


Nathan menarik gemas hidung Senja dan mereka tertawa bersama.


*****


Beberapa bulan kemudian...


Nathan melakukan aktifitasnya seperti biasa ketika libur. Setelah menunaikan shalat shubuh tadi dia sudah berlari kecil keliling komplek perumahannya. Dalam area komplek perumahannya yang sekarang memang tidak terdapat taman untuk bermain atau sekadar berolahraga. Dengan handsfree yang menempel di telinganya. Nathan menyusuri jalanan komplek yang masih remang- remang karena hanya diterangi oleh lampu jalanan. Sesekali Nathan menyapa penghuni komplek yang lain yang terlihat sedang menyiram pohon atau sekadar berdiri di depan gerbang rumah mereka menikmati udara pagi yang masih sejuk.


Setelah beberapa kaki berkeliling komplek. Nathan kembali memasuki rumahnya dengan peluh membasahi tubuhnya. Nathan segera berjalan menuju dapur mengambil segelas air mineral dan meneguknya hingga habis tak bersisa.


" Kamu sudah pulang?" Tanya Senja dengan perutnya yang membuncit karena usia kandungannya kini menginjak usia tujuh bulan.


" Iya. Oh iya. Nanti siang apa aku boleh ziarah ke makam Ayuna?" Tanya Nathan.

__ADS_1


" Boleh. Apa aku boleh ikut?" Tanya Senja.


" Tentu saja boleh." Ujar Nathan.


' Drrttt..'


Nathan segera melihat ponselnya dan ada nama Silvi tertera di sana. " Ada apa, Sil?"


" Bapak lagi dimana?" Tanya Silvi tanpa basa basi.


" Di rumah. Ada apa?"


" Ada klien dari PT Firma Group ingin bertemu Bapak hari ini. Apa bisa?"


" Apa kita punya kerja sama dengan mereka?" Tanya Nathan yang masih merasa asing dengan nama perusahaan tersebut.


" Belum. Tapi Ibu Jessica. Pemimpin perusahaan mereka mendesak untuk bertemu dengan Bapak hari ini."


" Jam berapa mereka mau bertemu?"


" Sekitar jam sepuluh. Apa Bapak bersedia?"


Nathan berpikir sejenak. " Apa keperluan mereka?"


" Dia belum mengutarakan secara langsung maksud mereka. Tapi sepertinya mereka ingin bekerja sama dengan kita."


Nathan kembali berpikir dan menarik nafasnya mencoba mengatur waktunya. " Baiklah. Nanti kamu kabarkan saja akan bertemu dimana." Ujar Nathan mengakhiri pembicaraan mereka.


Senja yang sejak tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka. Menatap Nathan penuh tanya.


" Senja. Aku minta maaf. Sepertinya kamu tidak bisa ikut ke makam Ayuna sekarang."


" Kenapa?"


" Setelah dari makam Ayuna. Aku langsung bertemu Klien dari Firma Group."


" Baiklah. Tidak apa- apa." Ujar Senja dengan wajah kecewa.


" Aku langsung mandi ya. Setelah itu langsung berangkat." Nathan mengecup kening Senja.


" Kamu tidak sarapan dulu?"


" Nanti saja. Waktunya sangat mepet sayang." Sahut Nathan sambil terus berlalu menuju kamarnya.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh. Karena Ayuna dimakamkan di tanah wakaf keluarganya yang lumayan jauh dari tempat tinggalnya. Nathan duduk bersila pada rerumputan di samping makam Ayuna dan membacakan Surat Al Fatihah dan surat Yasiin. Tak lupa dia mengirimkan doa untuk Ayuna dan menaburkan bunga pada makam Ayuna. Setelah selesai. Nathan memandangi makam Ayuna dengan wajah sendu. Kenangan pahitnya saat Ayuna pergi untuk selamanya kembali berputar dalam ingatannya.

__ADS_1


Tanpa terasa air mata menetes dari pelupuk mata Nathan yang masih tidak menyangka istrinya yang sedang hamil saat itu mengalami kejadian tragis. Masih terlihat jelas di mata Nathan foto- foto Ayuna ketika mengalami kecelakaan itu.


__ADS_2