
Pov Nathan
Aku menatapnya santai. Tak ingin aku terpancing oleh amarahnya. Seharusnya dia bisa mengajarkan putrinya untuk tidak mengejar laki- laki manapun. Dia wanita, seharusnya dia di hormati bukan seperti sekarang. Aku hanya melihat Angel sebagai wanita yang haus belaian seorang pria.
" Kamu berani denganku?" Pak David mengepalkan tangannya dan mengancamku.
" Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud lancang. Tapi alangkah baiknya jika saya di beri kesempatan untuk merubah Angel terlebih dahulu."
" Apa maksudmu?!" Bentaknya lagi.
" Angel wanita yang cantik. Saya hanya ingin dia belajar menghargai dirinya sendiri. Sejak setahun yang lalu, saat bapak meminta saya menikahi putri Bapak. Di mata saya sampai detik ini. Angel tidak bisa menghargai dirinya. Sampai dia mengejar saya." Aku mencoba menjelaskan maksud ucapanku.
Wajah Pak David sedikit melunak dan mulai mengerti. Mungkin dia sendiri tidak mau melakukan semua ini. Tetapi semua akan dia lakukan untuk kebahagiaan putri satu- satunya. Karena Dua anak Pak David adalah lelaki.
" Apa kamu bisa menjamin bisa merubah Angel?" Tanyanya.
" Insya Allah, dengan bantuan Allah juga dengan dukungan Bapak. Saya ingin Angel menjadi lebih dewasa." Tuturku.
Ya, Angel sudah aku anggap adikku sendiri. Sedih dan kecewa rasanya melihat sikap Angel yang sangat kekanakan dan suka memaksakan kehendaknya padahal dia sendiri tahu jika itu salah.
Aku harap aku bisa merubahnya jadi lebih baik dan tidak menutup kemungkinan aku akan menikahinya. Jodoh tidak ada yang tahu karena hal itu rahasia Tuhan.
*****
Aku terkejut melihat Angel bergandengan mesra dengan seorang pria yang usianya jauh sekali di atas Angel. Penasaran. Aku menghampiri Angel yang kini bergelayut manja di bahu pria itu.
" Hai Angel." Sapaku dan segera memotret wajah pria tua itu lalu mengirimkannya kepada Pak David.
' Om kenal dengan pria ini?' Pesanku padanya.
Angel kaget bukan main melihat kemunculanku yang tidak- tidak.
" Siapa dia?" Tanyaku pada Angel. Aku tidak marah karena dia mesra dengan pria lain. Angel berhak untuk itu. Yang aku sesalkan, aku tidak ingin Angel menjadi simpanan pria- pria tua.
" Dia Om Alex. Adik sepupu Papa." Jawab Angel gugup.
__ADS_1
" Siapa dia?" Tanya pria tua itu.
Belum aku menjawab, ponselku berdering. Dari Pak David.
" Apa Om kenal?" Tanyaku mendahuluinya berbicara.
" Saya tidak kenal, memangnya ada apa Nathan?" Tanya Pak David.
" Tidak ada. Terima kasih." Ucapku.
Tatapanku beralih pada Angel yang sangat gugup dan tak berani menatapku.
" Jika anda ada urusan dengan wanita ini. Lewati saya!" Aku berkata tegas pada pria tua itu.
" Lho.. Memangnya kamu siapa? Dia pacar saya." Pria itu tampak marah dan tidak terima.
" Saya kakaknya Angel. Jika saya mau. Sudah saya laporkan bapak atas tuduhan pelecehan seksual." Ucapku dengan nada mengancam sembari menunjukkan foto wajahnya yang tadi aku ambil.
" Kurang ajar!" Makinya dan segera meninggalkan kami.
" Harusnya kamu bilang ke dia. Kalo kamu calon suamiku." Angel meralat kalimatku takut.
Aku tak langsung menanggapi. Aku menatapnya tajam. Apa dia tidak merasa bersalah dengan kelakuannya? Dia ingin menikah denganku tapi dia jadi simpanan pria tua.
Aku tersenyum sinis. " Kalo aku calon suamimu. Saat ini juga. Aku batalkan hubungan kita."
" Jangan Nathan. Aku tidak mau." Angel memohon.
Aku berjalan keluar dari mall itu. Jika bicara di dalam bisa jadi tontonan orang banyak. Angel mengikutiku dengan tatapan yang cemas. Aku berhenti di samping gedung yang lumayan sepi. Tak banyak orang yang lalu lalang.
" Jangan tinggalkan aku, Nathan." Pinta Angel lagi.
" Maaf Angel. Aku hanya bisa menganggapmu seorang adik. Kita baru mau menyiapkan pernikahan. Kamu sudah begini. Bagaimana jika kita menikah."
" Tapi Nathan. Aku mencintaimu." Angel masih terus meyakinkan.
__ADS_1
" Itu bukan cinta. Itu obsesi." Kataku mulai tegas.
Angel menatapku dengan mata yang basah. Tetapi aku masih menatapnya dingin. Sikapnya yang membuatku semakin beku.
" Jangan lakukan itu lagi. Kasihan ayahmu. Dia seorang pebisnis. Akan sangat memalukan jika ada koleganya yang tahu jika putrinya jadi simpanan suami orang."
Angel terdiam dan tertunduk. Mungin dia memikirkan apa yang baru saja aku katakan.
Aku menghela nafas dalam. " Jika ada masalah di rumah. Bicarakan pada ayahmu. Jangan merusak dirimu."
" Aku butuh kamu, Nath. Aku butuh kasih sayang."
" Ayahmu sangat menyayangimu."
"Tapi ayah selalu sibuk. Mama juga selalu sibuk jalan- jalan. Gak ada yang perhatian ke aku." Angel tampak terguncang.
Mungkin ini alasan sebenarnya yang membuat Angel menjadi simpanan. Dia butuh kasih sayang dan perhatian. Tapi dia ingin mendapatkan itu dengan cara yang salah.
" Kita bicarakan masalah ini dengan keluargamu."
Angel menggelengkan kepalanya. Menolak saranku. " ,Jadi mau kamu apa?" Tanyaku sebal dengan tingkahnya.
" Kamu."
" Aku tidak bisa." Tolakku juga. Yasudah jika kamu tidak mau aku antar pulang dan membicarakan hal ini. Aku pergi."
" Jangan Nathan." Angel mencegahku. Dia memelukku dari belakang.
" Sudahlah." Ucapku malas dan melepaskan tangannya yang melingkar di perutku. Setelah terlepas aku segera melangkah menjauh dari Angel.
Mau bagaimanapun dia berusaha agar aku tidak meninggalkannya dan mau menikah dengannya. Itu tidak akan bisa lagi. Aku sama sekali tidak sakit hati. Aku hanya kecewa. Jika kita menikah nanti, dia bisa saja mengulangi perbuatan itu. Aku tidak akan mau. Perselingkuhan apapun alasan di belakangnya tetaplah kesalahan besar.
" Nathan." Angel berteriak kesal melihatku tak menghiraukannya. Angel menghentakkan kakinya kesal. Anak manja itu harus di beri pelajaran.
Awalnya aku kesini hanya untuk mencari hadiah untuk ibuku dan Gio. Rencanaku hari ini mau menjemput Gio. Ibu sudah menanyakan Gio terus.
__ADS_1