Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
24


__ADS_3

Terlihat jalanan diluar sangat gelap hanya ada remang- remang lampu jalanan yang menerangi jalan. Nathan penasaran bersembunyi dimana orang yang mengintainya.


" Jangan mengikuti aku!" Sergah Nathan kesal.


Sintia malah tertawa terbahak-bahak seperti ada hal lucu yang di dengarnya.


" Nathan sayang. Aku sedang di rumah. Jadi aku pastikan aku tidak mengikuti kamu, Sayang." Ujar Sintia dengan nada menggoda.


Dengan kesal, Nathan mematikan sambungan telepon itu dan segera melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya.


Siapa sebenarnya Sintia. Nathan semakin penasaran dengan sosok Sintia. Entah berapa besar kekuasaannya hingga dia dengan mudah memerintahkan seseorang untuk mengikutinya. Mengawasi setiap gerak geriknya. Gila! Benar- benar gila. Membuat Nathan mengacak- acak rambutnya dengan kesal.


*****


Reza menarik kursi untuk Senja. Senja hanya tersenyum melihat perlakuan manis Reza. Di ruang makan sudah hadir keluarga Reza masih dengan formasi yang sama. Yang berbeda hanyalah mereka bersikap manis pada Gio juga. Sikap yang tidak mereka tunjukkan sebelumnya.


" Senja. Maafkan sikap kami tempo hari lalu." Bu Lastri, Mama Reza membuka topik pembicaraan.


" Lupain aja Tante." Sahut Senja dengan senyum canggung.


Mereka melewati makan malam dengan santai. Hidangan yang lezat juga suasana yang hangat. Suasana keluarga yang sangat dirindukan Senja saat ini.


" Senja. Mumpung ada keluargaku disini. Aku mau bicara sesuatu." Ujar Reza dengan senyum manisnya.


Seketika semua arah pandangan keluarga Reza menatap mereka dengan tatapan yang antusias.


" Kayanya udah malem, Za. Aku pulang dulu." Senja mencoba mengalihkan pembicaraan. Senja bangkit dan mengajak Gio untuk pergi dengan segera.


" Senja." Reza menahan lengan Senja.


Senja seketika menoleh dan saat itu juga Reza berlutut dihadapan Senja. Wajahnya tertunduk dan ketika dia mendongakkan wajahnya dia juga menyodorkan sebuah cincin yang masih bertengger manis di kotaknya.


" Maukah kau menikah denganku?" Tanya Reza menciptakan suasana yang begitu romantis.


Jika saja lamaran itu beberapa minggu lalu. Kemungkinan Senja akan menerimanya. Tapi sekarang dia bimbang harus menjawab apa. Ada Nathan yang harus dia perjuangkan. Senja tak bergeming hanya diam menatap Reza.


" Jawab, Senja." Desak Pak Dedi. Papa Reza.


Senja secara bergantian menatap anggota keluarga Reza satu persatu. Terlukis bahagia di sana. Bagaimana jika Senja menolak lamarannya. Akankah wajah ceria ini akan menghilang.


" Senja. Cepat jawab. Lututku pegal." Protes Reza dengan gurauan.

__ADS_1


Senja tersenyum kecil menanggapi gurauan Reza. " Bangunlah." Ujar Senja dan membantu Reza untuk bangkit.


" Bagaimana? Kamu mau?" Tanya Reza lagi.


" Berikan aku waktu untuk menjawab."


" Berapa hari?" Tanya Reza.


" Minimal tiga hari. Paling telat seminggu. Jangan hubungi aku untuk mendesak jawaban. Biarkan aku yang akan memberikan jawaban dengan sendirinya. Paham?!" Tutur Senja dan disetujui Reza.


" Baiklah. Aku harus pulang. Kasihan Gio dia sudah ngantuk."


Kasihan anak papa. Ayo papa antar pulang." Ujar Reza pada Gio yang sudah berkali- kali menguap sambil mengucak matanya.


" Om Reza bukan papa Gio. Papa Gio itu papa Nathan." Protes Gio tidak suka mendengar reza memanggil dirinya dengan sebutan Papa.


Reza hanya menghela nafas panjang dan menggendong Gio menuju mobilnya.


" Aku harap jawabanmu tidak mengecewakan Senja." Ucap Reza penuh harap saat mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Senja.


" Kecewa atau tidak. Terima saja. Kalo kita berjodoh, pasti akan ketemu lagi." Ujar Senja santai. Matanya menatap keluar jendela.


" Sama seperti kamu dan Nathan." Sindir Reza tak suka.


" Itulah kenyataannya Senja. Aku ingin kamu mempertimbangkan semua usahaku selama ini, Senja." Harap Reza dengan wajah yang dia buat sendu.


" Terima kasih tumpangannya, Za." Ucap Senja sedikit ketus dan turun dari mobil Reza.


Reza segera turun melihat Senja yang kesal dengan dirinya. Reza menarik lengan Senja dan mendekapnya dalam pelukan.


" Lepaskan aku, Reza." Senja meronta.


" Aku terlalu mencintaimu, Senja. Biarkan aku memilikimu." Bisik Reza mesra membuat Senja sedikit bergidik ketika bulu halus Reza menyentuh lehernya.


" Jangan seperti ini, Za. Ini diluar rumah."


" Biarkan. Biar mereka melihat dan akan meminta aku menikahimu. Aku akan melakukan dengan senang hati." Ucap Reza lagi seperti orang yang lepas kendali.


" Aku gak mau di anggap wanita murahan!" Bentak Senja pelan. Dekapan Reza sangat erat membuat Senja sulit membebaskan diri.


" Aku tidak menganggap kamu seperti itu." Reza semakin menggoda Senja dan mulai menciumi ceruk leher Senja.

__ADS_1


" Aku mohon lepaskan aku, Reza." Senja mulai mengiba. Air matanya mulai menganak di pelupuk matanya. Kelakuan Reza kali ini mengingatkan dia pada kejadian yang paling pahit di hidupnya.


Perlahan Reza melepaskan pelukannya. Dia tatap wajah Senja yang kini berubah pias karena takut. " Maafkan aku, Senja." Bisik Reza.


Senja marah dan meninggalkan Reza tanpa salam perpisahan. Harga diri Senja serasa tercabik- cabik karena kelakuan Reza barusan. Panggilan Gio yang menunggu di teras rumah seakan tak menyurutkan perbuatan Reza tadi. Entah apa yang membuat Reza berbuat seperti itu.


" Berjanjilah Senja untuk menerimaku." Reza kembali memohon dan menahan Senja untuk masuk ke rumahnya.


" Jika kamu seperti ini. Maka saat ini juga aku akan menolak lamaranmu." Hardik Senja marah.


Reza melepaskan genggaman tangannya dan tertunduk. " Apa karena Nathan?"


" Bukan! Tapi karena kelakuanmu." Senja semakin menatap Reza tajam.


" Aku hanya ingin melakukan apa yang Nathan lakukan. Dan ternyata benar. Semua ini karena Nathan." Maki Reza yang sudah menahan cemburu padanya.


Senja terdiam mendengar penuturan Reza. Ternyata kemarin dia melihat dan tahu semua yang terjadi. Tapi kenapa dia bersikap tidak tahu apapun. Kenapa dia masih mengajak Senja ke rumahnya dan melamar Senja. Sementara dia tahu jika Senja memiliki hubungan dengan Nathan.


" Terimalah lamaran aku, Senja." Pinta Reza lagi tepat sebelum Senja membanting keras pintu rumahnya.


Senja menangis terisak di kamarnya. Di benamkan wajahnya di antara kedua lututnya. Ingin sekali dia berlari dan pergi dari semua ini. Trauma tidak pernah hilang dari hidupnya. Entah salah apa dia hingga ada saja lelaki yang ingin menyentuhnya.


Senja mengambil ponselnya yang masih tersimpan dalam tas kecilnya. Dia mencari dan segera menghubungi Nathan. Hanya pria ini yang selalu bisa menenangkannya saat ini.


" Ya, Senja."


" Kamu lagi apa?" Tanya Senja dengan suara parau.


" Lagi ngecek email. Kamu menangis?"


Senja buru- buru menghapus air matanya yang kembali jatuh." Engga." Ujarnya berbohong.


" Oke. Ada apa?"


" Kangen aja." Jawab Senja singkat yang tak ingin menceritakan perlakuan Reza padanya barusan.


" Istirahatlah. Sudah malam, Senja."


" Iya. Kamu juga. Jangan terlalu lelah."


" Aku sudah biasa. Yasudah ada yang harus aku kerjakan. Selamat malam." Nathan segera memutuskan panggilan telepon itu.

__ADS_1


Senja menarik nafas panjang. Hanya dengan mendengar suaranya saja sudah cukup untuk memberikan Senja ketenangan.


__ADS_2