Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
113


__ADS_3

'PLAK'


Senja menampar pipi Virni hingga meninggalkan tanda merah pada pipinya tercetak jelas telapak tangan Senja. Senja menatap Virni tajam. Tak ada air mata di wajah Virni yang menandakan dia menyesal.


" Aku menerimamu kembali di rumahku. Dan kamu melakukannya lagi!" Hardik Senja. Air matanya sudah menggenang.


Gilang, Gita dan Bu Fitri hanya melihat Senja. Nabila dan Randy masih duduk santai memperhatikan. Nathan masih terpejam di sofa dengan nyamannya.


" Apa kamu tidak malu memanfaatkan keadaan memeluk suamiku?!" Maki Senja lagi.


" Apa kamu sudah selesai?" Tanya Virni yang tampak enggan mendengarkan omelan Senja.


" Apa kamu tidak merasa bersalah?" Gilang menatap Virni tak percaya. Wanita itu masih bisa bersikap sesantai itu.


" Karena apa? Aku hanya memeluknya. Aku hanya butuh ketenangan dari seorang pria. Hari- hariku sudah jauh lebih berat. Apa aku salah ingin bersandar pada lelaki seperti Nathan. Aku iri kepada Senja yang selalu beruntung. Sejak dulu dia dikelilingi orang- orang yang menyayanginya. Apa aku salah jika memintanya sedikit saja berbagi kebahagiaan denganku?!"


" Pria itu suami Senja. Tidak akan jadi masalah jika Nathan masih sendiri. Tetapi sekarang Nathan sudah menjadi suami Senja." Gilang masih mencoba menasehati.


" Aku tidak masalah di jadikan istri keduanya. Bahkan simpanan sekalipun. Aku terima." Sahut Virni dengan santainya.


'PLAK'


Senja kembali menampar Virni.


Nathan yang kembali merasa terusik dengan suara bising. Perlahan membuka matanya. Nathan yang baru saja terbangun dari tidurnya memperhatikan orang- orang di sekitarnya menatap Virni marah.


" Kalian sudah pulang?" Tanya Nathan yang belum mengetahui situasinya.


Seketika semua orang yang ada di sana menatap Nathan. " Apa keadaanmu sudah lebih baik?" Tanya Senja dan memegang kening Senja yang merasakan demam Nathan sudah reda.


" Sudah. Kepalaku sudah tidak sesakit tadi." Jawab Nathan. " Apa kalian mencemaskan aku?" Tanya Nathan masih dengan wajah polosnya.


" Apa kamu sadar yang dia lakukan padamu saat tidur?" Tanya Gilang tak percaya jika Nathan sama sekali tidak mengetahui hal yang kini sedang mereka bahas.


Nathan menggeleng.

__ADS_1


" Kamu tidur atau pingsan, Nath?" Gilang sedikit gemas dengan jawaban polos Nathan.


" Aku tertidur. Seingat aku saat itu aku bermimpi Senja memeluk dan menciumku. Hanya itu." Ujar Nathan tampak masih berpikir apakah ada yang dia lewatkan.


" Apa kamu merasakan hal itu sungguh terjadi?" Nabila penasaran.


" Aku rasa ya. Tapi aku tidak terlalu ingat juga."


" Seperti biasa. Terkadang Nathan memang menjelma menjadi pangeran tidur." Ujar Randy meledek.


" Jadi apa yang mau kamu lakukan dengan Virni?" Tanya Nabila tak sabar. Melihat wajah Virni yang santai dan tanpa penyesalan sangat membuat Nabila geram dan rasanya ingin dia cabik wajah itu.


Senja menarik nafas dalam. " Kamu harus pergi dari rumahku detik ini juga." Ucap Senja tegas.


Virni melipat tangannya di depan dadanya dan dengan santainya dia bangun. " Tidak masalah. Kalian akan melihat kegilaan terakhirku." Ujarnya santai.


Seketika Virni kembali menghampiri Nathan dengan cepat dan menciumnya dengan rakus. Virni memegang kuat tubuh Nathan hingga Nathan yang masih merasa lemas kesulitan melepasnya.


Dan detik itu juga semua mencoba melerai Virni dari Nathan. Tubuh Virni dihempaskan begitu saja oleh mereka ketika berhasil melepaskan tubuh Virni pada Nathan.


Dengan kasar. Nathan menarik rambut Virni dan menatapnya tajam. " Seumur hidupku tak pernah sekalipun aku berbuat kasar pada perempuan. Ini hal pertama yang aku lakukan dan beruntung itu jatuh padamu wanita yang tidak ada lagi harga diri." Hardik Nathan tajam.


" Kamu pikir aku akan tergoda denganmu. Istriku jauh lebih baik darimu!"


" Enyah kau dari hadapanku dan jangan pernah tunjukkan lagi wajahmu pada kami!"


" Kamu tidak tergoda. Tapi kamu menikmatinya kan?" Virni mencoba mengganggu kemarahan Nathan.


" Pergi dari sini atau kau akan mendekam dibalik jeruji besi." Ancam Nathan dan menghempaskan Virni hingga kembali terjerembab.


Dengan hati yang kesal. Nathan berjalan memasuki kamarnya dan disusul Senja di belakangnya.


" Selanjutnya Senja yang akan kena semprot." Terka Randy yang sudah tahu apa yang akan di lakukan Nathan.


Rasa penasaran kembali bergelayut pada Nabila, Randy, Gita dan Gilang. Secara bersama- sama mereka menempelkan telinga mereka pada daun pintu mencoba mencuri dengar pembicaraan Nathan dan Senja.

__ADS_1


Senja duduk di tepi ranjang dengan wajah bersalah. Wajahnya terus tertunduk tidak berani menatap wajah suaminya secara langsung.


Nathan masih tidak membuka mulutnya. Dia sibuk membersihkan luka yang ada di bibirnya. Matanya masih menyorotkan kemarahan yang besar.


" Maafkan aku." Ujar Senja dengan rasa penyesalannya.


Nathan menghampiri Senja mencoba mengatur emosinya agar tidak meledak pada istrinya. " Lupakan!" Ucap Nathan singkat.


" Aku tidak menyangka dia kembali melakukan itu, Nathan."


" Beberapa manusia memang bisa berubah dengan cepat tetapi yang lebih banyak terjadi dalam kehidupan. Manusia itu sulit untuk berubah. Rasa sakit yang terus diterima Virni mungkin menjadikan dia bersikap seperti itu. Perlakuan yang buruk yang dia terima dari suaminya selama bertahun- tahun dengan mudahnya muncul rasa iri padamu. Aku sudah memahami apa yang dia alami, Senja. Dan aku pasti tau kamu juga mengerti akan hal itu. Itu sebabnya kamu menerimanya kembali dengan tangan terbuka dan berharap dia benar- benar sudah berubah." Ujar Nathan dan menarik nafasnya.


" Apapun yang dia lakukan terhadapku. Semarah apapun aku terhadapnya. Tetapi bagiku. Tak ada tempatku untuk memukulnya. Aku sedikit kasar. Agar dia sadar jika aku juga lelaki yang mampu berbuat seperti mantan suaminya."


Senja perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Nathan nanar. " Maafkan aku, Nath." Ujar Senja kembali merasa bersalah.


Nathan mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya dan memberikan pada Senja.


" Berikan ini padanya. Minta dia menyewa rumah yang kecil saja. Sisanya bisa untuk modal usahanya." Ujar Nathan.


" Kamu tidak membencinya?"


Nathan menyunggingkan senyumnya dan mengecup lembut pipi Senja. " Aku tidak suka dia menciumku di depan seluruh keluargaku." ujar Nathan.


" Jika kalian hanya berdua?"


" hemmm... Akan aku pikirkan." Goda Nathan pada Senja yang mulai cemburu. Senja mencubit pinggang Nathan hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan.


" Berikan itu. nanti dia keburu pergi." Nathan mengingatkan dan agar Senja melepas cubitannya.


Senja langsung berdiri dan membuka pintu kamarnya.


' Bruk.'


Senja dan Nathan terbengong melihat Gilang, Gita, Randy dan Nabila terjatuh dihadapan mereka.

__ADS_1


" Apa yang kalian lakukan?" Tanya Nathan yang terbengong melihat mereka yang melemparkan senyum salah.


__ADS_2