
Rio dan Pak Tarno menatap daftar menu yang ada di hadapannya. Semua yang dia lihat berharga cukup fantastis untuk ukuran seorang karyawan seperti mereka. Pak Tarno dan Rio saling bertukar pandang.
" Jadi apa yang mau kalian pesan?" Tanya Silvi memecahkan keheningan di antara mereka.
" Ini terlalu mahal." Bisik Rio pada Silvi.
" Kalian tidak perlu membayar. Kalian hanya perlu memesan apapun yang kalian mau. Itu perintah Pak Nathan." Ujar Silvi sedikit sebal dengan Rio yang masih belum menentukan pilihannya.
" Neng." Panggil Pak Tarno. " Saya pesan ini aja terus minumnya ini." Ujar Pak Tarno menunjuk gambar spaghetti dan jus jeruk.
" Oke. Kamu?" Silvi kembali beralih pada Rio.
" Samain aja deh." Ujar Rio akhirnya.
Baru saja Silvi memesankan makanannya pada waiters Nathan baru muncul dari toilet dan ikut bergabung bersama mereka.
" Apa kalian sudah pesan?" Tanya Nathan.
" Sudah, Pak." Jawab Rio dan Pak Tarno bersamaan.
" Nanti sekalian saja kalian pesan untuk dibawa pulang ya." Ujar Nathan lagi.
" Jangan, Pak. Ini terlalu mahal." Tolak Rio enggan menerima kebaikan Nathan lebih banyak.
" Gak masalah. Sesekali aku traktir kalian. Jika kalian tidak mau. Bagaimana jika lusa saya undang kalian dan keluarga untuk makan malam bersama saya."
Rio menelan salivanya karena gugup.
" Ajaklah keluarga kalian. Untuk waktu dan tempatnya saya akan infokan melalui Silvi ya." Ucap Nathan santai.
" I..Iya, Pak."
Baru saja mereka mulai makan. Tiba- tiba saja kegaduhan terjadi di meja seberang mereka. Terlihat seorang wanita kesulitan bernafas. Sepertinya karena tersedak. Nathan yang melihat hal tersebut langsung meninggalkan mejanya dan mengambil tindakan untuk menolong wanita tersebut.
Orang- orang yang ada disekitarnya hanya berkerumun dan menunjukkan wajah panik. Dan betapa mirisnya ada beberapa yang mengambil ponsel mereka dan mulai merekam kejadian tersebut.
Tanpa kata permisi Nathan langsung melakukan pertolongan untuk orang yang tersedak. Beberapa kali Nathan menekan perut wanita itu dan akhirnya sepotong daging yang cukup besar meluncur begitu saja dari mulut wanita itu. Kemudian wanita itu terbatuk- batuk karena akhirnya dia bisa kembali bernafas.
Nathan menepuk pelan punggung wanita itu dan memberinya minum. " Terima kasih." Ujar wanita itu.
" Ya." Jawab Nathan singkat dan kembali menuju meja makannya lagi.
Dalam waktu singkat kerumunan yang terjadi seketika bubar. Tampak sekelompok wanita itu saling berbisik dan sesekali mencuri pandang ke arah Nathan yang asik menikmati makanannya.
__ADS_1
Bukan hanya kelompok wanita yang tadi dia tolong. Tetapi hampir seluruh pengunjung saling berbisik dan sesekali melirik ke arahnya.
" Bapak keren." Puji Silvi dengan mengacungkan kedua jempolnya diikuti dengan anggukan Rio dan Pak Tarno.
" Biasa saja. Sudah seharusnya kita saling menolong." Ujar Nathan santai dan kembali melanjutkan makan.
" Dalam sekejap, Bapak jadi selebriti. Semua orang mengagumi Bapak." Bisik Silvi lagi.
Nathan langsung mengedarkan pandangannya. Benar saja apa yang dikatakan Silvi. Mereka yang tak sengaja beradu pandang dengan Nathan hanya melemparkan senyum malu karena tertangkap basah sedang mencuri pandang.
" Selesaikan makan kalian. Kita langsung pulang." Ucap Nathan datar. Sedikit merasa risih karena menjadi pusat perhatian.
" Hai." Sapa seorang wanita yang tadi dia tolong. " Aku mau bilang. Terima kasih banyak sudah menolongku." Ujarnya pada Nathan dengan wajah tersipu malu.
" Iya. Sama- sama." Sahut Nathan datar.
" Aku Friska." Wanita itu memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.
" Nathan." Ucap Nathan namun tidak menyambut jabatan tangannya.
" Aku berharap bisa bertemu lagi denganmu. Ini kartu namaku." Ucapnya lagi dan memberikan kartu namanya.
" Aku rasa tidak perlu." Nathan hanya tersenyum kecil menolak kartu nama yang dia. sodorkan.
Biasanya waiters yang akan memberikan bill mereka. Tetapi Nathan merasa tidak nyaman jika harus berlama- lama berada di sana.
Friska melemparkan senyum ke arah Silvi, Rio dan Pak Tarno. Tanpa dipersilahkan. Dia duduk di kursi yang tadi ditempati Nathan.
" Apa dia sedingin itu?" Tanya Friska setengah berbisik.
Mereka hanya mengedikkan bahu enggan menjawab pertanyaan Friska.
" Aku duluan ya." Ujar Silvi dan meninggalkan meja mereka.
" Aku juga sudah selesai." Sahut Rio dan menyusul Silvi. Begitupun juga Pak Tarno.
Tinggallah Friska yang terdiam melihat dirinya di acuhkan oleh mereka.
*****
Berulang kali Senja menatap jam. Sudah tiga puluh menit dia menunggu Nathan pulang tapi tak kunjung sampai. Baru saja Senja ingin meneleponnya. Suara mobil Nathan sudah terdengar memasuki garasi mereka. Senja menyambut kedatangan suaminya dengan hangat.
Di ambilnya tas yang dibawa Nathan dan diciumnya punggung tangan Nathan. Dengan lembut Nathan mengecup kening Senja.
__ADS_1
" Kamu buay aku cemas." Ujar Senja manja dan mengiringi Nathan melangkah menuju kamar mereka.
" Ibu dan Gio sudah tidur?" Tanya Nathan sambil merangkul Senja.
" Sudah. Bagaimana makan malam kalian?"
" Lancar. Tetapi mereka menolak untuk membawa pulang makanan untuk dibawa pulang. Mereka merasa sungkan karena mungkin menurut mereka makanan itu terlalu mahal." Ucap Nathan sambil melepaskan jasnya.
Senja menarik nafas dan tersenyum mendengarnya. " Kamu beruntung punya karyawan seperti mereka sayang." Ucap Senja dan membantu Nathan melepaskan kancing kemejanya.
" Iya. Jadi aku putuskan untuk mengajak mereka makan malam lagi bersama keluarga mereka. Apa kamu setuju?" Tanya Nathan meminta pendapat Senja.
Senja mengalungkan lengannya pada leher Nathan. " Apapun rencanamu. Aku akan setuju." Ujar Senja dan mengecup lembut bibir Nathan.
" Terima kasih sayang." Ujar Nathan dan membalas kecupan lembut Senja.
" Aku merindukanmu." Ujar Senja dan kembali mengecup pipi Nathan.
Nathan tersenyum dan menggendong istrinya ke kasur mereka. Satu persatu dia melucuti pakaian yang menutup tubuh istrinya dan mulai menciumi setiap lekuk tubuh Senja. Kemudian merekapun saling memadu kasih melepaskan rindu.
*****
Nathan dan Silvi duduk di sebuah cafe menunggu klien mereka. Sepuluh menit sudah berlalu tetapi kliennya belum muncul juga.
" Apa mereka membatalkan sepihak?!" Gerutu Nathan mulai tidak sabar karena sudah menunggu cukup lama.
Silvi hanya diam tak berani menanggapi omelan bosnya.
" Lima menit lagi dia tidak datang. Batalkan semuanya." Perintah Nathan.
" Baik, Pak." Jawab Silvi dengan perasaan cemas.
" Maafkan saya datang terlambat." Ujar seorang wanita dari belakang Nathan dan kemudian duduk di hadapan Nathan.
" Loh.. Kamu Nathan kan?" Seru wanita itu. Ternyata orang yang akan jadi klien baru Nathan adalah Friska. Wanita yang di tolongnya karena tersedak.
Nathan hanya menyunggingkan senyum tipisnya. " Saya tidak punya banyak waktu." Ujar Nathan dengan wajah dingin.
" Ini proposal yang saya ajukan." Ujar Friska memberikan map berwarna merah.
Nathan langsung menerimanya dan membaca secara detail tiap data yang ada di dalam proposal itu. " Oke. Saya setuju." Ucap Nathan disambut senyum bahagia Friska.
" Saya akan menyiapkan kontraknya. Lusa anda bisa datang ke kantor saya." Nathan menjelaskan dan menjabat tangan Friska.
__ADS_1