Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
130


__ADS_3

Randy dan Anton mengaduk minuman mereka menunggu kedatangan Nathan. Lima belas menit sudah mereka menunggu.


" Orang itu gak pernah on time sekarang." Gerutu Randy.


" Maklumlah. Dia sekarang sibuk. Aku dengar dia baru saja megang proyek besar loh." Sahut Anton.


" Ahh. Iya. Herannya masih bisa dia fokus sama bisnisnya yg gak cuma di satu bidang."


" Kau sahabatnya. Kau pasti lebih tahu tentang dia."


" Iya. Kau benar." Randy membenarkan posisi duduknya.


" Nah itu dia." Tunjuk Anton ke arah Nathan yang baru terlihat di pintu masuk.


" Maaf." Ujar Nathan dengan wajah lelah dan duduk.


" Its ok." Sahut mereka bersamaan.


Nathan melihat jam tangannya yang telah menunjukkan pukul delapan. " Jadi bagaimana?" Tanya Nathan yang ingin langsung membahas wacana mereka.


" Begini, Nath. Lusa kan kita akan reunian. Aku mau open donasi untuk membuka klinik kesehatan gratis di daerah terpencil." Anton mengeluarkan sebuah map dari tasnya dan meletakkannya di meja.


" Lalu?"


" Untuk daerah pertama, Aku mau buka di daerah ini." Anton menunjuk nama sebuah daerah. " Di sini aku udah survey. Penduduk di sekitar hampir semuanya hidup dibawah garis kemiskinan. Pastinya kesehatan mereka tidak terjamin dengan keterbatasan ekonomi mereka." Lanjut Anton.


Nathan mendengarkan penjelasan Anton dengan serius, begitupun dengan Randy.


" Aku ingin mengajak kalian menjadi donatur pertama untuk hal ini." Ucap Anton mengutarakan maksudnya.


" Apa mata pencarian mereka?" Tanya Nathan.


" Berkebun. Tapi rata- rata mereka mengerjakan kebun orang lain. Dan mereka hanya mendapatkan upah yang gak seberapa." Jawab Anton dengan wajah prihatin.


" Aku ingin kamu juga cari tau pemilik kebun yang mereka garap. Aku tidak mau sekadar membukakan mereka klinik. Ekonomi mereka juga harus maju." Ucap Nathan.


" Jangan bilang kamu ingin membeli kebun itu?!" Terka Randy.


" Kenapa tidak." Jawab Nathan santai. " Ini cek untuk klinik itu. Dan aku harap ada kabar baik tentang pemilik kebun itu." Ucap Nathan.


" Reunian nanti, kamu datang kan?"


" Lihat saja. Berat rasanya tidak bisa bawa keluarga." Jawab Nathan. Disetujui Randy.


" Yaa begitulah."


" Aku tidak bisa lama- lama. Istriku pasti sudah menunggu." Ucap Nathan.


" Aku juga. Istriku sedang hamil." Randy ikut berpamitan pada Anton.


" Apa kamu serius tentang hal tadi, Nath?" Tanya Randy saat mereka berada di parkiran.


Nathan berhenti sejenak ketika hendak membuka pintu mobilnya dan beralih menatap Randy. " Iya."


" Kamu belum tau daerah itu."


Nathan menyunggingkan senyumnya. " Aku akan segera tau. Kamu tenang saja. Niatku hanya ingin membantu penduduk setempat. Bukan semata ingin cari keuntungan belaka." Ujar Nathan dengan gaya santainya dan masuk ke dalam mobilnya.


Randy hanya menatap bingung sahabatnya itu. Entah apa lagi yang akan dilakukan sahabatnya itu. Sudah terlalu banyak sahabatnya membantu orang lain. Tetapi satu hal yang pasti. Nathan selalu bisa memanfaatkan peluang yang ada.


******


Senja menuangkan air mineral ke dalam gelas yang ada di hadapan Nathan. Lalu bergantian menuangkan ke dalam gelas Gio, Bu Fitri dan juga dirinya. Barulah dia duduk di meja makan. Bergabung dengan anggota keluarga yang lain.


" Kamu jadi pergi reunian?" Tanya Senja di sela makan mereka.


" Ya. Itupun jika kamu mengizinkan." Jawab Nathan sambil menatap Senja penuh cinta.

__ADS_1


" Aku izinkan sayang." Jawab Senja lembut membalas tatapan hangat suaminya.


" Baik. Aku juga bersama Randy sayang." Ujar Nathan berusaha membuat hati istrinya yang dia ketahui gelisah karena dirinya akan pergi bertemu dengan temannya hanya seorang diri.


Senja melempar senyum malu karena Nathan bisa menebak isi hatinya.


" Aku pergi bersama Randy. Mungkin sebentar lagi dia datang." Ujar Nathan.


" Oh iya." Senja segera menoleh ke arah jam dinding. " Maaf sayang seharusnya kamu tidak ikut makan malam." Ucap Senja.


" Kenapa?"


" Di sana pasti kamu akan makan lagi."


" Tapi tidak selezat masakan istriku." Puji Nathan.


Senja tersipu. Selalu saja ucapan lembut suaminya mampu menghangatkan hatinya.


' Tin'


Terdengar suara klakson mobil Randy. Nathan hanya sedikit menggelengkan kepalanya melihat kelakuan random sahabatnya.


" Randy sudah datang." Ucap Senja memberitahu. Karena Nathan masih asik saja menghabiskan makanannya dengan tenang.


" Sedikit lagi." Ucap Nathan dengan mulut penuh makanan. Begitu suapan terakhirnya telah lenyap masuk ke dalam perutnya. Nathan meninggalkan meja makan dan berpamitan dengan istri dan ibunya. Tak luput pula dia mengecup kening Gio.


" Lama!" Omel Randy mendapati Nathan masih terlihat santai.


" Makan dulu." Jawab Nathan santai.


" Di sana juga makan, Nath." Protes Randy sambil memarkirkan kendaraannya untuk putar arah. Matanya sibuk menoleh ke kiri dan ke kanan.


" Gak seenak masakan istri." Ujar Nathan lagi.


" Terserahlah yang selalu bucin ke istri." Ucap Randy pasrah dan mulai fokus menatap jalan raya.


" Itu teman sekelas kita, Ran" Bisik Nathan yang merasa tidak nyaman karena bahasan yang mereka lakukan sedikit erotis. Randy memang dari dulu sedikit sekali berubahnya. Hhee


" Nathan. Randy." Ujar Anton yang berada di antara mereka.


" Apa kabar?" seru Randy senang dan menyalami mereka satu persatu begitupun dengan Nathan.


" Masih gak berubah tuh muka." Ujar Reni dengan gaya nyentriknya. " Seolah menolak tua ya kalian." Ucapnya lagi dan disetujui dengan yang lain.


Karena memang secara fisik. Randy dan Nathan memang tidak banyak perubahan. Hanya badan mereka yang berubah lebih kekar dan dari segi wajah. Sama sekali belum ada yang berubah walaupun usia mereka mulai menginjak usia 35 tahun. Beberapa diantara mereka ada yang berubah menjadi gendut dan ada juga yang terlihat jauh lebih tua dari mereka akibat saat remaja mereka gemar mengkonsumsi barang haram.


" Gokil sih ini. Makin tampan aja kau Nath!" Ujar Togar masih dengan logat bataknya yang kental.


" Bisa aja. Kamu juga, Gar." Puji Nathan juga.


" Ratu sekolah kita belum datang Nath. Kabarnya dia belum nikah sampai sekarang." Ucap Theo.


" Siapa?"


" Lho. Kamu lupa Wulan?" Tanya Theo tak percaya jika Nathan melupakan sosok wanita tercantik di sekolah mereka.


" Haha. Kalo Wulan aku ingat. Tapi emangnya dia pernah jadi ratu?"


" Gila kau! Dia ratu. Kau rajanya. Kita ini pengawal kerajaan. Kau tau itu julukan yang diberikan kelas lain." Ujar Togar menjelaskan.


" Oh ya?!" Nathan sedikit terkejut karena memang saat sekolah dulu dia tidak peduli dengan hal apapun kecuali pelajaran.


" Nah itu dia." Tunjuk Mirna ke arah seorang wanita berkulit putih dengan dress berwarna peach selutut berjalan ke arah mereka.


" Ratumu datang." Bisik Togar pada Nathan yang hanya melihat ke arah Wulan sekilas.


" Tambah kinclong, Nath." Puji Randy berbisik pada Nathan.

__ADS_1


" Istighfar, Ran. Ingat istri di rumah." Nathan mengingatkan sahabatnya.


" Astagfirullahal'adziim." Randy mengedipkan matanya berkali- kali sambil mengelus dadanya.


" Hai." Wulan menyapa mereka satu persatu dengan salam cipika cipiki pada setiap orang tak terkecuali dengan para pria juga.


" Hai, Nath." Sapa Wulan pada Nathan yang hanya melihatnya sekilas tadi. Lelaki yang selalu saja membuatnya penasaran.


" Hai." sapa Nathan juga dan menjabat tangan Wulan namun segera menjauh ketika Wulan akan melakukan cipika cipiki juga pada dirinya. Berbeda dengan Randy yang dengan santainya ikut- ikutan dengan teman- temannya.


" Kamu macam- macam. Aku ambil Nabila." Bisik Nathan dengan nada mengancam.


" Janganlah Nath." Ucap Randy dan segera menjaga kelakuannya.


Anton terlihat sibuk menjelaskan programnya pada teman- temannya. Beberapa di antara mereka dengan mudahnya menggelontorkan dana untuk program yang akan dibuka Anton bersama timnya. Nathan sesekali melihat ke arah jam tangannya. Waktu berlalu sangat cepat. Sudah hampir pukul sebelas malam.


" Balik, Ran." Bisik Nathan merasa mengingat istrinya menunggu.


" Satu jam lagi." Bisik Randy dan melanjutkan perbincangan mereka.


Nathan menarik nafas dalam dan mengirimkan pesan pada Senja agar tidur lebih dulu. Nathan memutar mutarkan ponselnya dan sedikit menyendiri. Tak nyaman rasanya berada di keramaian terlalu lama.


" Hai." Sapa Wulan ketika berada di dekat Nathan.


" Ya." Nathan sedikit menggeser tubuhnya memberikan tempat untuk Wulan duduk.


" Ternyata kamu masih sama ya. Masih tidak bisa berada di tempat yang ramai." Ujar Wulan ketika duduk di samping Nathan.


" Ya." Jawab Nathan singkat dan sedikit menyeruput orange juice yang ada di tangannya.


" Aku dengar, perusahaanmu sedang berkembang pesat ya?"


" Ya. Alhamdulillah."


" Kalo butuh BA. Aku siap." Ujar Wulan yang terus menatap Nathan lekat.


" Ok." Nathan tidak terlalu menanggapi.


" Sedingin itukah kamu?"


" Apa?"


" Ya. Sejak tadi kita bicara. Kamu hanya menjawab singkat dan hanya menatapku sekilas saja." Ujar Wulan.


" Ada hati yang harus aku jaga." Ucap Nathan dan berdiri untuk meninggalkan Wulan.


Wulan yang sudah tidak ingin mendapat penolakan lagi. Menarik tangan Nathan dan merengkuhnya ke dalam pelukan dan meraih bibir Nathan dengan bibirnya. Nathan yang seperti terhipnotis dengan tindakan Wulan. Sejenak menikmati kecupan lembut Wulan. Namun detik kemudian kedua netranya membesar dan langsung mendorong tubuh Wulan agar menjauh.


" Apa yang kamu lakukan?"


" Jangan menolakku lagi, Nathan. Aku sudah jauh lebih cantik bukan."


" Menjauh dariku!" Bentak Nathan pelan karena dia tidak ingin menimbulkan keributan.


" Tidak akan lagi!" Ucap Wulan dengan senyum liciknya.


Nathan terlihat marah dan berjalan ke arah Randy dan menarik sahabatnya yang sedang asik bersenda gurau dengan temannya yang lain.


" Ada apa?" Tanya Randy bingung tak mengerti situasinya dan terkejut karena Nathan menariknya tiba- tiba.


" Kita pulang sekarang!" ujar Nathan tegas.


" Oke. Tapi ada apa?" Randy masih tidak mengerti.


Nathan menarik nafas dalam. " Baiklah. Jika kamu keberatan kita pulang sekarang. Aku akan naik taksi." Ucap Nathan kesal.


" Ayolah. Jangan begitu. Kita pulang sekarang." Ucap Randy menyerah dengan sikap keras kepala Nathan.

__ADS_1


" Aku bareng ya." Ucap Wulan yang tiba- tiba saja masuk ke pintu belakang mobil ketika mereka sudah berada di dalam mobil Randy.


__ADS_2