
Nathan yang baru saja selesai jogging. Rutinitas yang selalu dia lakukan saat libur masih sama untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Nathan menuangkan segelas air mineral ke dalam gelas dan meneguknya hingga habis.
" Apa perlu bantuan?" Tanya Nathan pada Senja, Bu Fitri dan Bi Sumi yang sejak tadi sibuk memasak di dapur. Menyiapkan hidangan untuk menyambut teman- teman Gio beserta ibu mereka.
" Tidak sayang. Kamu hanya perlu menyembunyikan ketampananmu itu." Ucap Senja asal.
Nathan terkekeh mendengar celotehan istrinya.
" Semoga mereka datang bersama suami mereka." Bu Fitri berdoa dan segera diaminkan Senja dan Bi Sumi. Nathan hanya tertawa kecil melihat ketiga perempuan ini.
" Aku mandi dulu. Takutnya mereka mempercepat kedatangan mereka." Nathan menggoda dan langsung pergi begitu Senja melirik tajam kearahnya.
Tepat pukul sepuluh. Semua makanan telah terhidang. Mulai dari puding, Kue hingga makanan berat untuk mengisi perut mereka. Nathan yang baru saja keluar kamar langsung saja mengambil sepotong kue bolu pisang dan melahapnya sekaligus.
" Itu untuk tamu, Nath." Omel Bu Fitri melihat tingkah Nathan yang kekanakan.
" Kangen sama kue ini, Bu. Ibu kan udah lama gak buatin aku kue ini." Ujar Nathan dan ingin mengambil sepotong lagi tapi dengan cepat tangannya kena pukul Bu Fitri.
Senja tertawa melihat suaminya yang sudah seperti anak kecil.
Tak berapa lama kemudian. Suara bel rumah berbunyi. Senja buru- buru membukakan pintu dan benar saja. Beberapa orang teman Gio datang beserta ibu mereka.
Beberapa ibu- ibu itu terlihat melirik ke dalam rumah mencari sosok yang mereka nantikan. Tak lupa juga mereka memberikan beberapa buah tangan untuk Senja dan keluarga.
" Maaf ya, Mom. Kita cuma bawa itu saja." Ujar Bu Rita Ibu dari Regi.
" Gak apa- apa. Lagian kok pake repot- repot segala." Senja menerima bingkisan itu dan meletakkan di meja dapur.
" Bi. Tolong bawakan minumannya ya. Terus juga buat anak- anak. Ada di kamar Gio." Ujar Senja.
" Kita dengar dari security. Gio di culik ya?"
Senja tersenyum. " Bukan diculik. tapi ternyata diajak pergi sama teman saya. dan gak bilang- bilang ke saya." Jawab Senja berbohong. Tak mungkin kan jika dia menceritakan hal yang sebenarnya pada mereka. Bisa heboh nanti di grup sekolah Gio.
" Ohh.. Syukurlah kalo begitu. Kita cemas sama keadaan Gio. Makanya kita semua kesini ya." Ujar Ibu Reni wanita yang memakai dress hijau tosca selutut.
Entah kenapa penampilan mereka hari ini terlihat lebih elegan dari biasanya. Rata- rata mereka mengenakan dress selutut. Seolah sedang menghadiri sebuah acara pesta resmi.
" Terima kasih atas perhatiannya."Senja berbasa basi.
" Papanya Gio kerja?" Tanya ibu yang memakai kacamata.
" Ada kok. Sebentar. Biar saya panggilkan." Ujar Senja. Dan langsung berjalan menuju kamarnya. Ekor matanya menangkap mereka langsung berbisik satu sama lain. Entah apa yang mereka bicarakan.
' Ceklek'
Pintu kamar dibuka Senja dan Senja mendapati Nathan sedang duduk di depan laptopnya. Pandangannya terlihat tajam menatap layar seperti sedang mempelajari sesuatu.
" Saatnya jumpa fans sayang." Sindir Senja.
__ADS_1
Nathan menatap istrinya sekilas dan kembali memperhatikan layar laptop. Senja yang gemas menarik lengan Nathan dan memaksanya keluar kamar.
" Sebentar lagi, sayang." Bantah Nathan lembut.
" Ayolah. Setelah itu kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu." Senja kembali membujuk.
" Senja." Nathan hanya menatap tajam istrinya.
Senja yang mengerti arti tatapan itu akhirnya mengalah dan pergi meninggalkan Nathan.
" Maaf ya. Suami saya masih mengerjakan laporan." Ujar Senja ketika dia kembali bergabung bersama kumpulan ibu- ibu itu.
" Iya. Gak apa- apa. Lagi pula kita kesini kan mau anter anak- anak ya ketemu Gio." Seru salah seorang ibu beralasan. Entah benar atau tidak alasan mereka.
" Kita makan siang bareng ya." Ajak Senja. " Ini mertua saya. Bu Fitri." Senja memperkenalkan Bu Fitri yang baru saja selesai berkebun di halaman belakang.
Bu Fitri menjabat tangan mereka satu persatu. Mereka pun duduk di meja makan. Telah terhidang berbagai jenis menu makanan. Dengan perasaan sungkan mereka hanya menyendok nasi sedikit.
" Itu Papanya Gio." Ujar ibu gendut itu dengan riang ketika Nathan menghampiri meja makan.
Nathan hanya melemparkan senyumnya dan mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya. Tak ingin menjabat tangan mereka.
" Silahkan dinikmati hidangannya." Nathan mempersilahkan.
" Papa Gio gabung juga dong." Ajak Ibu Merlin.
" Terima kasih." Nathan menolak halus. Tak nyaman rasanya dia berada dalam perkumpulan wanita sedangkan dia hanya lelaki seorang diri.
Nathan duduk santai di sofa depan televisi. Tangannya sibuk mengotak atik ponselnya dan sejurus kemudian. Ponselnya berdering..
" Assalammu'alaikum. Ada apa Ran?" Sapa Nathan.
" Lo dimana?"
" Di rumah."
" Oke gue ke sana." Ujar Randy dan langsung menutup sambungan telepon mereka. Nathan hanya menggelengkan kepalanya. Belum sempat dia bilang jika saat ini di rumahnya masih banyak tamu.
" Ya ampun. Hidangannya enak sekali. Maaf loh merepotkan."
" Syukurlah jika pada suka." Ujar Senja menanggapi saat mereka kembali ke ruang depan.
Ekor mata ibu- ibu itu melirik ke arah Nathan yang sedang bersandar pada sofa dengan mata tertutup sambil menikmati lantunan lagu shalawat.
" Sungguh indah ciptaan Tuhan." Gumam Mama Ferel.
" Jaga mata." Sindir Bu Fitri tak suka putranya di pandang seperti itu. Semua pasang mata menatap putranya seakan ingin menerkamnya. Dasar perempuan gatal. Umpatan terus terucap dalam hati Bu Fitri.
Setengah jam berlalu. Senja hanya menanggapi sedikit dari obrolan basa basi mereka. Dan hanya menggelengkan kepalanya juga terkadang dia ikut tertawa. Walaupun terkadang dia tidak mengerti maksud dari perbincangan mereka.
__ADS_1
" Ayo kita foto bareng." Seru ibu- ibu itu.
Seketika mereka berkumpul dan berpose didepan kamera yang sudah berdiri di atas tripodnya.
" Mama Gio. Ajak suaminya sekalian." Bujuk salah seorang wanita itu.
Senja hanya senyum canggung. Kemudian mendekati Nathan yang sejak tadi asik dengan dunianya. Senja mencolek Nathan.
" Ada apa?" Mata Nathan terbuka dan refleks tangannya melepas handsfree yang sejak tadi dia pakai.
" Di ajak foto."
Nathan menarik nafas panjang dan menatap istrinya lembut. " Aku tidak mau, Senja." Tolak Nathan.
" Tapi..."
" Apa kamu mau suamimu ini dijadikan objek oleh mereka. Kamu tahu sejak tadi mereka selalu mencari alasan agar bisa berbincang denganku. Aku tidak mau. Aku menghargai kamu sebagai istriku, Senja."
" Tapi.."
Nathan kembali menatap Senja dengan tatapan tajamnya. Senja hanya terdiam dan meninggalkan Nathan.
" Maaf ya ibu- ibu. Suami saya gak mau. Dia gak enak karena tidak ada lelaki lagi selain dia."
" Biar saya saja yang bicara." Ujar ibu Reni dengan penuh kepercayaan diri. Belum sempat Senja mencegah. Dia sudah berjalan mendekati Nathan.
" Papa Gio." panggilnya dengan nada manja dan senyum menggoda.
Nathan kembali membuka matanya dan menatap wanita itu tajam.
" Ikut gabung kita yuk. Kita foto bersama." Pintanya manja.
Nathan menatap wanita itu tidak suka. " Saya rasa. Saya tidak perlu bergabung." Nathan menolak.
" Ayolah, Pak. cuma untuk kenang- kenangan saja kok." Bujuknya lagi dengan nada manja.
Nathan menarik nafas dalam.
" Assalammu'alaikum." Sapa seorang pria.
Nathan segera dan menoleh. Senyum penuh kemenangan tiba. Penyelamatnya kali ini telah tiba.
" Maaf. Saya ada tamu." Ujar Nathan dan menyambut kedatangan Randy.
Nathan langsung membimbing Randy menuju halaman belakang rumahnya. Tak dipedulikannya wajah masam para wanita genit itu yang melihatnya seperti ingin memakannya. Senja yang melihat hal itu hanya tersenyum. Suaminya sangat menjaga dirinya. Pantas banyak yang penasaran dengan dirinya.
" Kalo begitu. Kami pulang dulu Moms.," Ujar ibu Bagas pamit setelah anak- anak mereka telah turun semua.
" Iya."
__ADS_1
" Lain kali main lagi ya." Ujar Gio senang dan melambaikan tangannya ke arah teman- temannya.