
Seorang suster segera datang ke dalam ruangan Nathan namun betapa terkejutnya dia tidak mendapati Nathan di tempat tidurnya. Tak ingin gegabah mengambil kesimpulan. Suster tersebut mengecek ke dalam toilet. Mungkin saja Nathan sedang buang air. Tetapi tidak di dapatinya juga.
Dengan sigap. Suster itu berlari menuju ruang ruangannya dan segera menghubungi pihak keamanan untuk mencari keberadaan Nathan.
Seketika itu juga. Seluruh petugas keamanan dan juga beberapa perawat sibuk berkeliling mencari keberadaan Nathan. Namun disaat yang sama. Kedua orang misterius itu telah berhasil memasukkan Nathan ke dalam mobil ambulan yang sengaja mereka sewa untuk menyamarkan keadaan agar tidak dicurigai petugas.
Petugas keamanan pos depan hanya memeriksa surat jalan yang sudah pasti dipalsukan mereka. Rencana yang sudah sangat tersusun rapih untuk membawa Nathan pergi.
Pihak rumah sakit segera menghubungi pihak kepolisian agar ikut membantu mencari keberadaan Nathan yang diketahui telah dibawa oleh dua orang berbadan besar setelah mereka mengecek cctv yang ada di koridor.
Kepala Senja semakin berdenyut mendapat kabar dari rumah sakit bahwa Nathan diculik. Nabila yang mendapat kabar itu langsung bergegas menuju rumah sakit untuk mendapatkan kabar lebih detailnya bersama Randy.
" Siapa lagi yang berulah kali ini?" Omel Nabila kesal ketika mereka masih dalam perjalanan.
" Entahlah. Nathan tidak pernah menjahati orang lain. Tapi kenapa masalah selalu muncul dalam dirinya.". Ujar Randy masih tak habis pikir dengan kejadian ini.
" Kasihan Senja. Seharusnya dia sedang bahagia menyambut janin yang ada di kandungannya."
" Iya. Kali ini kita harus tegas. Selalu libatkan polisi dalam masalah Nathan. Agar mereka jera." Ujar Nabila yang merasa emosinya semakin meluap.
Nabila dan Randy segera menuju ruang cctv yang masih ada polisi yang masih mengecek lebih detail wajah kedua orang itu.
Nabila ikut memperhatikan dan kedua orang itu tidak pernah dia lihat. Sudah dipastikan bukanlah orang suruhan keluarga Sintia. Apakah itu ada kaitannya dengan Friska atau wanita yang datang beberapa hari lalu. Pikiran Nabila masih sibuk menerka- nerka.
" Kira- kira siapa yang melakukan ini?" Tanya Nabila berbisik pada Randy.
Randy hanya mengangkat bahunya tak tahu.
" Apa ada kaitannya dengan wanita yang pernah kamu usir?"
" Emm.. Entah." Randy kembali mengangkat bahunya.
Nabila berdecak sebal karena Randy selalu menjawab tidak tahu.
" Boleh saya minta salinan wajah pelakunya?" Tanya Nabila pada polisi yang berhasil mensketsa wajah pelakunya dari rekaman cctv dan dari penjabaran penjaga keamanan yang berada diluar tadi.
" Untuk apa?"
__ADS_1
" Kami akan membantu pihak kepolisian untuk mencari orang itu. Semakin banyak yang mencari akan semakin mudah kita menemukan Nathan." Ujar Nabila meyakinkan.
Polisi itu setuju dan mengizinkan Nabila mengambil gambar sketsa wajah tersebut.
" Ini ponsel Pak Nathan yang tertinggal di kasur." Perawat yang pertama kali mengetahui Nathan menghilang memberikan ponsel Nathan.
" Terima kasih." Ujar Nabila. Sedih rasanya mengetahui Nathan kembali dalam bahaya. Ditambah lagi dia tidak bisa mengerahkan anak buahnya untuk melindungi Nathan.
Seharusnya hal itu dia lakukan sejak tadi ketika Nathan masih berada di rumah sakit. Kenapa dia baru menyadari hal itu sekarang.
Randy menatap Nabila yang tengah menahan tangisnya lekat. " Nangis aja. Gak apa- apa." Ujar Randy yang tahu betul bagaimana perasaan Nabila pada Nathan.
" Harusnya tadi gue suruh anak buah gue jaga Nathan. Kenapa gak keingetan sih dari tadi!" Maki Nabila pada dirinya dengan derai air mata.
" Bukan salah lo, Nab. Kita pasti bisa temuin Nathan. Percaya deh. Anak buah lo sangat bisa diandalkan." Randy menepuk bahu Nabila pelan berusaha meyakinkan.
" Kita ke rumah Senja. Dia pasti sedih." Ujar Nabila menyeka air matanya.
" Iya."
Nabila menghubungi anak buahnya dan mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Nathan.
Di tempat yang berbeda..
Nathan perlahan mengerjapkan matanya yang silau karena cahaya lampu tepat menyorot matanya. Ruangan yang kosong dan gelap. Hanya ada sebuah ranjang kecil yang menjadi alas tidurnya saat ini. Nathan menatap ke sekelilingnya yang gelap dan sunyi. Ruangan yang terasa pengap karena tidak ada ventilasi udara sama sekali.
Tubuhnya yang masih lemah masih tidak bisa bergerak banyak untuk berusaha pergi dari sana. Selang infus yang masih terpasang di tangannya.
Perlahan, Nathan berusaha turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu. Namun. Pintu itu terkunci. Berkali- kali Nathan menggedor pintu itu. Namun tak ada suara yang lain selain suara berisik yang dia timbulkan sendiri.
" Arggh.. " Nathan mulai putus asa. Tangannya memegangi perutnya yang mulai terasa perih karena bergerak terlalu banyak.
Nathan kembali duduk ke tempat tidurnya yang benar- benar pas hanya badan dia. Dia baringkan kembali tubuhnya agar rasa nyerinya menghilang.
Cukup lama Nathan berbaring.
' Cklek Cklek, Kriiiieeettt'
__ADS_1
Nathan segera menoleh ke arah pintu itu terlihat seorang wanita yang cukup berumur dengan rambut dikuncir kuda menghampirinya sambil membawa sebuah paper bag.
" Makanlah!" Perintahnya tegas dan menyodorkan paper bag itu pada Nathan.
Perlahan Nathan merubah posisinya menjadi duduk. Dia tatap wajah wanita itu. Wajah yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.
" Siapa anda?" Tanya Nathan dengan nada dingin.
" Makanlah dulu, nanti baru kita bicara." Ujarnya lagi.
Nathan meletakkan kembali paperbag yang dia berikan. Wanita itu menatap Nathan tajam namun tetap mengulas senyum.
" Pantas saja putriku tergila- gila denganmu." Ucapnya.
Putrinya?
" Jika kamu menginginkan penjelasan terlebih dahulu. Baiklah." Wanita itu memerintahkan anak buahnya untuk mengambil kursi.
Kedua tangannya dilipatnya didepan dada. Dia duduk santai pada kursi yang di ambilkan oleh ajudannya. " Aku Fumiko Sora."
" Ada perlu apa anda denganku? Aku tidak mengenal anda. Apalagi putri anda." Nathan masih bernada dingin.
" Kamu pasti mengenal Sintia." Ujarnya mengawali. Nathan baru paham siapa wanita di depannya saat ini.
" Aku sudah tidak ada urusan lagi dengannya." Sanggah Nathan cepat.
" Akan selalu ada. Putriku sedikit terganggu jiwanya karenamu." Wanita itu mulai menatap Nathan tajam. " Aku akan membawamu pergi jauh dari sini. Aku akan membuatmu hidup bersama putriku atau hidup keluargamu dalam neraka?!" Ucapnya dengan nada mengancam.
" Jangan ganggu keluargaku!" Nathan menatap Fumiko tak kalah tajam. " Aku tidak mau berurusan lagi dengan Sintia!"
Mendengar ucapan Nathan membuat Fumiko marah dan langsung mencengkram erat wajah Nathan.
" Jangan bermain- main denganku!" Ancamnya.
" Lebih baik aku m*ti daripada harus hidup bersama putrimu!" Ucap Nathan tegas. Tak ada keraguan sedikitpun.
Fumiko melepaskan cengkeramannya. " Aku tidak akan membiarkanmu m*ti." Ucapnya tegas. " Semua keperluanmu akan selalu kami sediakan. Setiap hari akan ada dokter dan suster yang akan merawat lukamu hingga sembuh. Jika kamu tidak memberontak. Besok kamu akan aku pindahkan ke kamar yang jauh lebih layak." Ujarnya lagi dan meninggalkan Nathan kembali seorang diri.
__ADS_1
" Aaarrrggghhh!!!"