Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
14


__ADS_3

Pov Nathan ( lanjutan)


" Aku sudah bilang ke Papa kalo pernikahan kita Dua bulan lagi. Mungkin itu terlalu lama. Tapi aku ingin membuat pesta pernikahan yang megah dan sempurna." Angel menyandarkan kepalanya di bahuku dan itu benar- benar membuatku risih.


" Aku belum setuju untuk menikahimu." Aku mulai fokus menatap layar laptopku.


" Kamu harus setuju!" Angel masih bersikeras aku mematuhi ucapannya.


Sebentar lagi ibuku akan sembuh total. Akan aku beri pengertian pada ibuku agar dia mau keluar dari rumah itu dan kita bisa hidup damai di rumahku yang dulu aku tempati bersama Ayuna. Itulah rencanaku. Aku hanya menunggu kesembuhan ibuku.


" Kenapa sikapmu dingin sekali, Nathan?!"


" Sudahlah Angel. Aku sedang kerja." Aku lelah dengan sikap kekanakannya.


" Cium aku." Titahnya lagi dan menyodorkan bibirnya padaku.


" Ini kantor." Tolakku halus dan mendorong pelan wajahnya agar menjauh dari wajahku.


" Kamu yang memaksaku." Ucap Angel mulai tak sabar denganku yang cuek pada dirinya. Lalu tiba- tiba. Dia mendaratkan bibirnya pada bibirku.


Sejenak aku terpaku karena kaget dengan serangan itu tapi detik berikutnya aku mendorong tubuh Angel hingga ia terhempas ke ujung sofa.


" Jangan macam- macam." Omelku.


Angel malah tersenyum nakal menanggapi ucapanku. " Semakin kamu menolak. Semakin aku menginginkan mu."


Aku berdecak kesal karena waktuku terbuang sia- sia karena tingkah konyol Angel. Jika bukan karena ibu. Sudah aku usir dia dari hidupku.


Entah apa yang terjadi dengannya. Padahal pertama kali aku kenal. Dia anak yang manis dan baik. Tapi kenapa dia jadi seperti gadis liar begini. Tak habis pikir aku dibuatnya.


" Masalah pernikahan, kita bisa bicarakan nanti. Tapi untuk sekarang. Bisakah kamu membiarkan aku bekerja?" Aku berusaha mencoba sabar menghadapinya. Semakin aku marah akan semakin suka dia menggodaku.


" Oke. Nanti aku akan bilang ke Papa kamu menciumku dengan paksa." sahutnya enteng dan meninggalkan ruanganku.


Apa- apaan dia. Seenaknya saja mau memutar balikkan fakta. Aku berdecak kesal mengingat kata- kata Angel. Dan kembali melanjutkan pekerjaanku.


" Pak, Ini berkas yang Bapak minta." Silvi memberikan sebuah map dan meletakkannya di mejaku.


" Terima kasih" Pandanganku masih ke laptop.


" Permisi, Pak."

__ADS_1


" Emm Silvi." Langkah Silvi terhenti dan berbalik menatapku. " Jawab jujur. Sebenarnya apa yang Angel lihat dariku?" Tanyaku jadi penasaran kenapa gadis cantik dan dari keluarga terhormat begitu menginginkanku.


" Maksudnya?" Silvi tak mengerti.


" Lupakan." Ujarku merasa jika pertanyaanku terdengar konyol.


" Sebagai sesama wanita pasti mau jadi pendamping Bapak. Karena Bapak itu tampan, Badan tinggi tubuh atletis. Baru bayangin aja gimana tubuh bapak udah bikin merinding. Ihhh.. "


Kini gantian aku yang terdiam mendengar penuturan Silvi dan tingkahnya seolah gemas dengan tubuhku.


" Maaf, Pak." Ujar Silvi dengan wajah memerah menahan malu menyadari tingkahnya dan segera keluar dari ruanganku.


Apa iya segitunya perempuan melihatku. Aku langsung berkaca melalui kamera depan ponselku. Menurutku wajahku biasa saja. Tubuhku juga biasa saja. Mungkin bentuk tubuh ini aku dapatkan karena sejak dulu aku suka fitnes dan juga olahraga lari.


Akhirnya aku pusing sendiri menerka- nerka apa yang wanita pikirkan jika melihatku.


*****


Tepat pukul sebelas. Reza tiba di kantorku. Kami membicarakan tentang pembangunan kantorku yang memang menggunakan jasanya untuk membuat desain bangunan serta strukturnya. Kelak saat pembangunan nanti. Aku meminta Reza untuk menjadi penanggung jawab pada proyekku.


Satu jam berlalu sudah berbicara pada Reza mengenai pekerjaan.


" Apa kabar Ibu nya Bapak?" Tanya Reza ingin membuka pembicaraan.


" Syukurlah." Jawab Reza. Reza menarik nafas panjang seperti ada yang ingin dikatakannya tetapi terlihat dia berat untuk mengatakannya.


" Ada apa, Pak Reza?" Tanyaku yang sebenarnya menunggu dia mengucapkan sesuatu.


Reza kembali menarik nafas dalam. " Boleh saya tanya sesuatu? tapi ini bersifat agak privasi Bapak." Reza masih tampak ragu.


" Tentang hubunganku dengan Senja?" Tebakku.


" Iya."


Aku tersenyum. " Beberapa tahun yang lalu. Saya, Senja dan istri saya berteman baik. Senja dan Gio sangat akrab dengan ibu saya. Selain karena Senja adalah anak dari sahabatnya. Senja juga bisa mengambil hati ibu saya. Itu sebabnya Ibu saya sangat rindu Senja." Ucapku hanya mengatakan sebagian kecil cerita kami.


" Senja bukan mantannya, Bapak?" Reza belum sepenuhnya percaya. Sepertinya Senja sudah menceritakan beberapa bagian tentang aku dan dia pada Reza. Mungkin kali ini Senja sudah menemukan lelaki yang tepat.


Aku menarik nafas panjang. " Ya, itu sudah sangat lama. Ada suatu kejadian. Yang membuat Senja meninggalkan saya. Jadi kami batal menikah." Ucapku dan mulai merasa enggan untuk menjawab.


" Hanya itu?" Tanya Reza memastikan.

__ADS_1


Aku mengangguk.


" Sekarang, apa Pak Nathan masih mencintai Senja?" Tanyanya lagi.


Aku menatap Reza terlebih dahulu. Reza tampak menjadi gugup. Mungkin dia merasa jika pertanyaannya salah. " Itu dulu. Sekarang Senja milik anda. Saya tidak akan mengusik kalian." Jawabku datar.


Reza hanya menunduk tak menjawab sepatah katapun Aku menghela nafas sedikit kasar. Berat rasanya jika aku mengatakan dengan gamblang jika aku tidak mencintai Senja. Wanita itu selalu ada di hatiku. Sulit rasanya melupakan dia.


" Baiklah. Sepertinya tidak ada yang di bahas lagi." Ucapku dan berdiri.


Reza segera mengikuti ku.


" Semoga kerjasama kita berjalan lancar." Aku menjabat tangan Reza.


" Semoga, Pak ." Reza tersenyum canggung.


" Salam untuk Senja dan Gio. Ajaklah mereka main ke rumah saya Ibu saya sangat ingin bertemu Gio. Hemm jika kamu curiga. Ajaklah Senja di saat saya tidak di rumah." Ujarku melihat Reza masih gugup.


" Saya akan sampaikan, Pak." Reza masih kikuk dan segera berlalu meninggalkan ruanganku.


Aku menghela nafas panjang. Ternyata mengikhlaskan itu sulit. Semoga Reza pria yang bertanggung jawab.


Mengingat semua penderitaan Senja. Tak adil rasanya jika dia mendapat pendamping yang tidak bertanggung jawab untuknya dan Gio.


" Selamat siang, calon menantuku." Sapa Pak David tiba- tiba saja melangkah masuk ruanganku.


Baru saja aku mau keluar kantor untuk makan siang.


" Ada perlu apa, Pak?" Tanyaku ketus. Tadi Angel. Sekarang papanya. Kenapa mereka suka sekali mengusik ketenanganku.


" Angel sudah bilang kan kapan pernikahan kalian?" Tanyanya dengan tawanya yang terdengar seperti meremehkanku.


" Sudah."


" Kita akan membicarakan hal itu. Mulai dari gedung, catering hingga dekorasi. Dan juga Papa mau minta berkas,- berkas kamu. untuk di urus ke KUA." Jelasnya panjang lebar.


" Saya belum menyetujuinya." Tanggapku dingin. Malas membahas pernikahan yang tidak aku inginkan.


Seketika Pak David melotot marah kepadaku mendengar aku yang terkesan menolak kembali putrinya. " Kamu harus mau!" Bentaknya lagi dengan suara yang sangat lantang.


" Maaf, Pak. Saya harus keluar kantor. Ada meeting di luar." Aku mengacuhkan kemarahannya.

__ADS_1


Tiba- tiba kerah bajuku ditarik kebelakang. Pak David menahan kepergianku. Nafasnya memburu cepat, matanya melotot marah.


__ADS_2