Senja Untuk Nathan 2

Senja Untuk Nathan 2
9


__ADS_3

" Astagfirullahhal'adzim.." Seru ibuku tersentak kaget mendengar ucapan Ayuna.


" Istighfar, Ayuna. Kamu sedang hamil." Ujar ibuku lagi.


Ayuna perlahan berjalan menghampiriku dengan semangkuk bubur yang d bawanya. Sepertinya dia mendengar percakapanku dengan ibu.


" Aku tau, Bu. Tapi aku rasa ini jalan terbaik. Senja dan Nathan nyatanya masih saling mencintai. Kehadiranku jadi seperti penghalang yang seharusnya tidak ada." Ujar Ayuna dengan suara bergetar.


" Kamu bukan penghalang siapa- siapa, Na." Ucapku sambil menahan sakit kepalaku yang mulai mendera. Mungkin bekas operasi ini masih belum sembuh sepenuhnya.


" Tapi nyatanya begitu, Nath. Setelah aku melahirkan. Ceraikan aku." Ucap Ayuna tegas dan berlalu dari hadapan kami.


Aku hanya diam dan melihatnya keluar dengan tangisan. Aku yang masih dalam pemulihan, masih tidak berdaya menghalangi Ayuna. Aku tahu, dan aku sadar. Jika hati Ayuna benar- benar terluka.


Perlahan aku memejamkan mata ini tak kuat rasanya menahan sakit kepala ini. Dan kemudian aku tidak tahu apa yang terjadi.


*****


Perlahan aku membuka mataku. Kesadaranku perlahan mulai pulih. Dokter memang mengatakan agar aku jangan banyak pikiran. Tetapi masalah ini memang menyita pikiranku. Salahku memang masih mencintai wanita lain sedangkan aku sudah beristri.


" Ayuna mana, Bu?" Tanyaku tak melihat Ayuna di sekitarku. Aku hanya melihat ibu dan Senja.


" Ayuna pulang ke rumah orang tuanya." Jawab ibuku dengan derai air mata. " Tadi kamu pingsan. Ibu nelpon Ayuna tapi gak di angkat. Jadi ibu nelpon Senja. Ibu bingung dan takut, Nath." Ujar ibuku menjelaskan perihal hadirnya Senja.


" Cepatlah kamu sembuh. Jemput kembali istrimu." Senja mencoba menguatkan.


Aku hanya mengangguk.


" Sebelum itu, ibu minta kalian selesaikan masalah kalian. Jangan sampai perasaan kalian membuat Ayuna terluka." Ucap ibuku lagi dan sengaja meninggalkan kami berdua.


Dalam beberapa menit, aku dan Senja hanya berdiam diri. Entah apa yang harus kami bicarakan karena ternyata kami masih saling mencintai. Bersorak gembira? Tidak akan. Aku sudah beristri. Sebisa mungkin harus aku buang jauh- jauh perasaan ini.


" Udah minum obat?" Tanya Senja membuka topik obrolan.


Aku menggeleng. Dengan segera Senja menyiapkan obatku dan membantuku meminum obat- obatan itu. Setelahnya entah apa yang ada di pikirannya. Dia mengecup lembut keningku dan membelainya.


" Senja."

__ADS_1


" Aku cuma mau menyelesaikan yang belum selesai, Nath. Ini kecupan terakhirku. Aku akan pergi sejauh yang aku bisa. Jangan mencariku atau menghubungiku." Ucap Senja dengan suara yang bergetar menahan tangis.


Perlahan aku menarik tubuhnya dan memeluknya erat. Rasanya tak ingin aku melepaskannya tetapi itulah yang harus aku lakukan. Mungkin Senja adalah cinta pertamaku tetapi Senja tercipta bukan untukku.


" Aku mencintaimu, Nath." Ujar Senja dengan isak tangisnya.


" Kita bisa apa. Aku sudah beristri, Senja. Aku tidak ingin menyakitinya."


" Aku tau dan aku pun tidak mau menyakiti istrimu. Itu sebabnya aku rela pergi dari hidupmu dan merelakanmu. Maaf jika selama ini aku egois ingin memilikimu."


" Semoga kamu menemukan kebahagiaan, Senja." Ucapku dan mengecup lembut keningnya.


Kalimat perpisahan. Dan itu adalah hari terakhir kami bertemu. Hari dimana kami saling mengungkapkan rasa tetapi kami harus saling melepaskan.


*****


Pov Senja


Setahun sudah aku benar- benar menghilang dari kehidupan Nathan. Meninggalkan cinta sejatiku di kota itu. Walaupun ingin melihatnya tetapi selalu aku mencoba menahan diri agar tidak menemuinya. Sakit rasanya ketika melihat orang yang kita sayangi telah memiliki pasangan hidupnya.


" Mama." Sapa Gio riang saat dia memasuki toko bajuku di belakangnya ada Reza.


" Gimana sekolahnya sayang?" Tanyaku.


" Baik dong. Aku dapat nilai A untuk pelajaran menggambar." Jawabnya antusias.


" Oh ya. Emang Gio gambar apa?"


" Gambar Papa Nathan jadi superhero." Ujarnya ceria. " Nanti aku mau kasih liat ini ke Papa. Bolehkan, Ma?" Tanya polos dan memperlihatkan hasil karyanya.


Di mata Gio. Nathan akan selamanya jadi Papa yang hebat. Aku tahu dia sangat merindukan Nathan. tetapi karena aku sering menangis jika mengingat Nathan. Gio lebih memilih memendam perasaannya dariku.


" Makasih ya. Udah jemput Gio."


" Gak masalah. Aku senang kok bisa jemput Gio." Ujarnya dengan senyum khasnya.


Reza memang tampan. Selain dia memiliki saham di beberapa perusahaan. Reza juga bekerja sebagai seorang arsitek profesional. Dia sudah membangun beberapa gedung pencakar langit dan banyak sekali rumah yang sudah dia bangun.

__ADS_1


Sikapnya yang lembut dan baik tak kalah dengan Nathan. Tetapi entah kenapa hati ini masih belum terbuka untuknya.


" Kapan- kapan kita liburan yuk." Ajak Reza padaku. Dia memang sangat gencar untuk mendekatiku. Hingga aku sangat tahu jika dia menyukaiku.


" Boleh." Sahutku.


" Kalo bulan depan gimana?" Tawarnya.


Sejenak aku berpikir dan kemudian aku menganggukkan kepala.


" Tapi kita liburan sama klien aku juga ya." Sambungnya.


" Kok gitu?"


" Iya begitu. Dia mau ajak ibunya liburan." Lanjut Reza lagi.


" Okeh. aku tahu ini bukan sekedar klien kan?" Selidik ku dengan memicingkan mata menggodanya.


Reza tertawa. " Tau aja. Kalo berhasil. Aku bisa bangun gedung pencakar langit lagi. Lumayan uangnya buat modal nikah." Selorohnya.


" Baguslah. Emang udah ada calon?" Godaku lagi.


" Kamu lah calonnya. Mau ya?" Sahutnya lagi dengan nada canda.


Aku hanya tersenyum dan geleng- geleng kepala melihat ucapan konyolnya. Jangankan untuk menikah. Sekedar mencintainya sedikit saja, aku belum bisa.


" Senja. Aku mencintaimu." Teriaknya tiba- tiba membuat beberapa customer dan karyawanku menoleh kearahnya.


Seketika aku menutup mulutnya dan membawanya ke ruanganku yang memang berada di lantai satu.


" Malu tau!" Omelku dengan wajah yang masih terasa panas menahan malu.


" Tapi suka kan?" Ledeknya lagi dan pergi meninggalkan aku sendiri.


Reza memang jauh lebih periang daripada Nathan. Sikapnya yang ceria dan apa adanya membuatku terasa nyaman jika berada di dekatnya. Apakah ini cinta atau hanya sebatas perasaan seorang sahabat.


Aku menatap Gio yang asik menggambar sebuah keluarga. Aku yakin jika dia menggambar aku, dia dan Nathan.

__ADS_1


Bulan- bulan pertama aku pindah ke kota ini. Gio memang rewel memintaku kembali pada Nathan. Aku tahu jika sampai sekarang, dia masih merindukan sosok Nathan di hidupnya.


Aku menghela nafas panjang. Entah bagaimana hidupku menjadi seperti sekarang ini. Mempunyai sebuah toko baju yang cukup besar tak pernah terbersit dalam mimpi ataupun pikiranku selama ini. Ya, Uang yang menjadi hak warisku ketika orang tuaku meninggal. Aku jadikan modal usaha. Kakakku sendiri sudah memutuskan hubungannya denganku. Padahal dia tahu, hubungan darah tidak akan bisa diputuskan oleh apapun.


__ADS_2