
Senja terlihat murung. Sejak tadi dia duduk termenung di sudut tokonya. Karyawannya silih berganti menatapnya penuh tanya. Wanita yang biasanya terlihat ceria dan ramah tapi dua hari belakangan ini terlihat sangat murung. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Senja. Dia hanya berbicara sekadarnya dan kemudian kembali termenung.
" Hai, Senja." Sapa Reza yang baru saja tiba di toko Senja sambil menggandeng Gio.
Senja masih terdiam tidan menyadari kehadiran Reza di hadapannya. " Senja." Panggil Reza lagi kali ini dia menepuk pelan bahu Senja hingga wanita itu sedikit terlonjak kaget.
" Kapan kamu datang?" Tanya Senja sedikit gugup.
" Baru saja. Sekalian mengantar Gio." Jawabnya.
" Terima kasih." Sahut Senja singkat dan menggandeng Gio masuk ke dalam ruang istirahat karyawannya.
" Senja. Apakah sudah ada jawaban?" Tanya Reza sedikit ragu. Tapi rasa penasarannya yang besar membuatnya bertanya pada Senja
" Ya." Sahut Senja singkat dan mengajak Gio masuk meninggalkan Reza yang belum mengerti maksud Senja.
Gio segera berganti pakaian dan Senja sibuk menelepon seseorang. Jawaban orang ini akan sangat mempengaruhi jawabannya pada Reza.
" Hai, Nath." Sapa Senja akhirnya panggilan teleponnya dijawab Nathan.
" Ada apa, Senja?"
" Boleh aku bertanya?" Tanya Senja berusaha menyusun kalimat yang baik agar Nathan tidak menyadari bahwa yang dia ceritakan adalah prihal tentang dirinya.
" Silahkan."
" Aku punya teman. Dia dilamar oleh seorang pria sementara dia sudah punya kekasih. Tapi kekasihnya itu belum memberikan sesuatu yang pasti. Menurutmu siapa yang harus dia pilih. Kekasihnya atau pria yang melamarnya?"
" Emm... Apakah kamu di lamar Reza?" Tebak Nathan. Senja terdiam.
" Bukan aku. Tapi temanku." Sanggah Senja dengan suara yang terbata.
" Oke. Jika itu temanmu. Tanyakan pada hatinya. Hatinya lebih tau dia harus memilih yang mana." Jawab Nathan dengan helaan nafas berat. " Tapi jika itu kamu. Terimalah Reza. Kamu berhak bahagia Senja." Ujar Nathan dengan suara yang sedih.
" Maksud kamu?" Senja tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Nathan menghela nafas panjang. " Aku akan jujur padamu, Senja."
__ADS_1
" Apa?" Hati senja mendadak tidak enak. Ada rasa sakit yang perlahan menelusup.
" Aku ada masalah. Aku tidak mau melibatkanmu ataupun Gio. Aku menyayangi kalian. Tolong menjauhlah dariku." Ujar Nathan dengan suara yang berat.
" Masalah apa?"
" Bukan apa- apa." Nathan menghela nafas berat. Berat rasanya menceritakan masalah yang dia sendiri belum tahu cara penyelesaiannya. " Lupakan aku Senja. Sampaikan maafku pada Gio." Ucap Nathan dan langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
Senja menarik nafas panjang. Dia bingung dengan sikap Nathan baru beberapa hari mereka tidak bertemu dan sekarang Nathan memintanya meninggalkannya. Apa salahnya sampai dia memintanya untuk pergi dari hidupnya.
Senja berjalan lunglai menghampiri Reza yang sejak tadi menunggunya. Reza menatap Senja bingung. Wajah Senja semakin murung. Tak ada keceriaan yang biasa terlihat di wajahnya. Bahkan rautnya sekarang jauh menyedihkan dari saat mereka pertama bertemu.
" Ada apa Senja?" Tanya Reza cemas dengan keadaan Senja.
" Apakah aku pembawa masalah?" Tanya Senja tanpa menatap Reza namun matanya telah basah oleh air mata.
" Apa maksudmu, Senja?"
"Hiks.. Hiks.. Hiks...!" Senja tertunduk lemah. Di tangkupkan wajahnya dengan telapak tangannya. Senja menangis terisak. Sakit sekali hatinya saat ini seakan dunianya kembali runtuh.
Reza membelai lembut punggung Senja. Tubuhnya bergetar karena menangis terisak- isak. " Ceritalah Senja." Pinta Reza lembut berharap dapat menenangkan Senja.
Reza mengerti apa yang membuat Senja terpuruk seperti ini. Semua pasti ada kaitannya dengan Nathan. Lelaki yang sangat dicintai Senja hingga saat ini
" Mungkin tuhan berharap kamu menyadari siapa yang paling mencintai kamu." Ujar Reza lembut.
Sejenak Senja kembali mengingat maksud Reza menemuinya. Buru- buru dia menyeka air matanya yang telah membasahi pipinya.
" Maafkan aku, Za."
" Kita teman Senja. Sudah seharusnya kamu membagi dukamu." Reza mengelus lembut pipi putih Senja.
" Terima kasih."
" Jangan pikirkan jawabanmu. Aku akan menunggumu sampai kamu benar- benar siap menerimaku." Tutur Reza sangat lembut.
" Jika aku menerima lamaranmu, Bagaimana?"
__ADS_1
" Tentu aku akan senang. Tapi bagaimana dengan Nathan?"
" Aku akan melupakannya." Ucap Senja dan mengalihkan pandangannya.
Hatinya kembali sakit mendengar nama itu disebut. Entah masalah apa yang sedang di hadapi pria itu sekarang sampai dia harus meminta Senja pergi dari hidupnya.
Dulu Senja yang meninggalkannya tanpa penjelasan. Kini Nathan yang meninggalkan Senja dengan alasan yang tidak jelas.
" Aku akan membawa kabar ini pada keluargaku, Senja." Ujar Reza dan pamit pergi.
*****
Nathan masih terdiam menatap kasur tempatnya bercinta dengan Sintia setengah jam yang lalu. Tak pernah terpikirkan olehnya jika hidupnya akan ada di persimpangan ini. Menjadi pemuas hasrat Wanita iblis itu. Berkali- kali dia mengusap wajahnya kasar. Ingin rasanya marah. Tapi marah pada siapa dan marah untuk apa. Salahnya sendiri yang terjepit keadaan. Nathan benar- benar buta dengan lawannya sekarang.
" Hai sayang." Sapa sintia yang baru saja keluar dari kamar mandi. Hanya mengenakan handuk kimono dia kembali menghampiri Nathan yang terlihat sangat kacau.
" Kenapa wajahmu murung?" Goda Sintia sambil terus menciumi pucuk kepala Nathan.
" Bisakah kamu menjauh?!" Ujar Nathan geram.
" Haruskah aku melakukan sesuatu dulu baru kamu akan patuh?!" Sintia menyeringai marah.
" Aku bukan budakmu!" Maki Nathan kesal.
" Kamu memang bukan budakku, sayang. Kamu adalah milikku." Ralat Sintia dengan mimik wajah yang menyebalkan.
" Carilah kesenangan dengan lelaki lain Sintia!"
Sintia menyeringai marah dan menghampiri Nathan. " Kamu adalah kesenanganku. Aku akan menaklukkanmu. Apapun caranya." Ujar Sintia sambil merapatkan giginya karena geram.
" Pergilah dari hidupku!" Sergah Nathan benar- benar kesal dan langsung keluar dari kamar hotel.
Sintia geram dengan tingkah Nathan yang selalu memberontak. Dia tidak suka hal itu. Karena sejak dulu apapun yang dia inginkan pasti akan dia dapatkan. Termasuk pria itu. Pria yang selalu membuatnya marah tapi pria itu pula yang sangat ingin dimilikinya.
" Kejar Nathan. Jangan sampai dia lepas!" Perintah Sintia marah pada dua pengawal yang sejak tadi diam berdiri.
Nathan yang masih berdiri menunggu lift melihat kedatangan dua pria besar itu. Seketika dia langsung berlari menuju tangga darurat. Dengan secepat kilat dia langsung menuruni anak tangga. Kini hasil olahraga larinya sangat bermanfaat.
__ADS_1
" Bi. Tolong jaga Ibu. Jangan sampai dia di bawa siapapun. Sembunyikan ibu." Perintah Nathan dari sambungan telepon sambil dia menuruni anak tangga. Nafasnya tersengal- sengal.
Baru saja Bi sumi akan menanyakan kenapa. Langsung datang Pak mamat yang datang menjemput Bu Fitri. Merasa kenal dengan Pak Mamat. Bi Sumi mempercayakan Bu Fitri pada Pak Mamat. Satu yang dia tahu. Bahwa anak majikannya saat ini sedang tidak baik- baik saja.