
Randy mengetuk pintu ruangan Nabila sambil membawa berkas laporan yang kemarin dia kerjakan. Setelah dipersilahkan masuk oleh Nabila. Randy segera membuka pintu itu dan menyerahkan laporan tersebut.
" Oh iya. Jangan lupa satu jam lagi kita meninjau lokasi pembangunan." Ujar Randy mengingatkan.
" Oke."
" Nabila." Panggil Randy sedikit ragu.
Nabila menatap Randy. " Ada apa?"
" Apa omonganmu di mobil itu serius?" Tanya Randy sedikit malu.
Nabila tersenyum menahan tawanya. Merasa sedikit aneh ketika Randy bicara aku kamu pada dirinya.
" Maunya?"
" Serius sih. Tapi.."
" Tapi apa?" Tanya Nabila tak sabar melihat keraguan dalam ucapan Randy.
" Aku ini cuma duda anak satu. Aku juga bawahanmu. Aku tidak punya apa- apa sekarang." Ujar Randy merasa dirinya yang sekarang benar- benar rendah. Harta yang sejak kecil selalu menemani hidupnya. Kini sirna tak tersisa.
" Jika kamu ragu. Silahkan mundur. Aku perlu lelaki yang kuat yang akan mendampingiku. Bukan lelaki cengeng yang sedang meratapi nasibnya yang sekarang." Ucap Nabila ketus.
Randy tertunduk lesu dan pergi meninggalkan ruangan Nabila dengan hati yang galau.
Nabila hanya berdecak kesal. Ternyata Randy tidak setangguh ucapannya. Sikap cueknya hanya menutupi rasa tak percaya dirinya.
*****
Nathan tersenyum puas ketika melihat hasil kerja yang ditunjukkan Firman pada proyeknya. Semuanya sesuai dengan target. Melihat bos besarnya berkunjung. Firman yang tadi sedang membantu pekerjanya mengambil batu. Ditinggalkannya dan segera menghampiri Nathan yang berdiri dengan senyum diwajahnya menatap bangunan itu mulai berdiri.
" Selamat siang, Pak." Sapa Firman dengan wajah sedikit tertunduk.
" Ya. Siang. Semua sesuai target ya."
" Alhamdulillah. Iya, Pak." Jawab Firman.
Tak berselang lama. Randy dan Nabila tiba di lokasi. Melihat pembangunan gedung yang mereka rencanakan mulai berdiri. Membuat mereka mengulas senyum. Mereka menghampiri kantor proyek itu dan menemukan Nathan bersama Firman sedang mendiskusikan masalah pekerjaan.
" Selamat siang, Pak Nathan." Sapa Nabila ramah.
" Siang." Sahut Nathan. " Ini mandor proyek kita yang baru. Namanya Firman." Nathan memperkenalkan diri Firman.
Firman menjabat tangan Nabila dan Randy bergantian.
" Saya puas dengan hasil kerja kamu. Semoga bisa ditingkatkan lagi." Puji Nabila. Firman hanya tersenyum menanggapi dengan wajah tertunduk.
" Silahkan kembali bekerja." Ujar Randy yang merasa Firman merasa canggung berada diantara mereka.
" Makin akrab aja nih." Ledek Nathan pada Nabila dan Randy sambil menaikkan alisnya.
__ADS_1
" Emang udah akrab." Ucap Nabila ketus dan duduk di kursi yang ada di sana.
" Ada apaan? Kok dia bete gitu." Bisik Nathan pada Randy karena melihat Nabila berwajah suntuk.
Randy segera menarik tangan Nathan untuk keluar dari ruangan.
" Ada apaan?"
" Dia mau gue bantu dia buat lupain elu Nath." Ujar Randy.
" Bagus dong."
" Masalahnya kok gue mendadak ngerasa gak pantas aja sama dia."
" maksudnya?"
" Iya. Sekarangkan posisinya gue ini duda. Anak satu dan gak punya apa- apa juga. Gue cuma asistennya dia Nath. Apa pantas?"
Nathan menepuk bahu Randy dan menatapnya tajam. " Tidak semua wanita memandang kita dari materi, status ataupun fisik kita. Gue rasa Nabila gak memandang itu semua. Bantu dia buat lupain gue. Karena dia sadar betul gue udah beristri. Jangan lepasin dia. Jarang- jarang ada perempuan begitu, Ran." Ujar Nathan menyemangati Randy yang tampak gusar.
" Elo yakin gue bisa?" Randy masih terlihat ragu.
" Ayolah.. Mana Randy yang dulu. Yang penuh percaya diri."
" Oke Nath. Gue akan berusaha." Ujar Randy.
" Mulai rahasia- rahasiaan ama gue ya kalian." Sindir Nabila pada Randy dan Nathan ketika masuk kembali ke dalam ruangan.
Nathan hanya tersenyum. " Randy mengajakmu dinner malam ini." Ucap Nathan asal. Seketika Randy langsung menatap Nathan tajam karena terkejut mendengar ucapan Nathan dan beralih menatap Nabila dengan senyum canggungnya.
" Ada pembicaraan antar lelaki. Dan aku meminta pendapat Nathan tentang restoran yang aku rencanakan untuk makan malam nanti." Sahut Randy berbohong dan menyenggol sikut Nathan dengan sikutnya.
" Oke. Kamu dan Senja ikut juga ya." Ujar Nabila santai mengajak Nathan juga.
" Aku tidak bisa. Masih ada banyak.."
" pekerjaan?! Alasan basi." Sahut Nabila cepat tak suka mendengar penolakan Nathan
Nathan membuang nafasnya. " Oke."
" Nah begitu dong." Ujar Nabila senang dan segera menghambur ingin memeluk Nathan tetapi dengan segera dia menghentikan aksinya. " Maaf." Ucap Nabila malu.
Nathan hanya tersenyum dan keluar dari ruangan itu. Tak baik jika dia berada di depan Nabila terus menerus sementara dia sangat tahu bagaimana perasaan Nabila terhadapnya.
Nathan menghela nafas panjangnya dan mengedarkan pandangannya ke arah jalan raya yang tak terlalu ramai. Beberapa pengamen memetik gitarnya pada orang- orang yang sedang menyantap makan siangnya.
' BRUK'
Terdengar suara benturan kencang dari arah seberang. Terlihat seorang anak perempuan terguling dan meringis menahan sakit karena baru saja tertabrak oleh pengendara motor.
Nathan yang melihat kejadian itu segera berlari menghampiri anak itu dan membantu pengendara motor itu untuk berdiri. Karena tubuhnya terhimpit motor besarnya.
__ADS_1
Nathan yang dibantu beberapa orang warga segera menepikan motor itu dan pengendaranya juga anak perempuan yang tertabrak itu.
" Kalau mau nyebrang. Nengok kiri kanan dulu dek." Ujar pengendara motor itu.
" aduh.. sakit..." Anak perempuan itu merintih karena sikutnya memar serta kakinya berdarah karena tergores aspal.
" Anda mau tanggung jawab?" Tanya Nathan tegas yang geram karena si pengendara motor itu terlihat ngeyel.
" Bukan salah saya kok." Ucapnya kesal karena merasa didesak.
Nathan berdecak kesal. " Om bawa kamu ke rumah sakit ya." Ucap Nathan pada anak perempuan itu dan segera menggendongnya menuju mobil.
Pak Tarno yang sejak tadi asik menikmati kopi dan gorengannya terkejut karena melihat bosnya menggendong anak yang terluka. Dengan cekatan Pak Tarno membuka pintu mobil dan segera duduk di kursi pengemudi.
" Ke rumah sakit terdekat aja, Pak." Ucap Nathan singkat.
" Sakit om." Ringis anak tersebut merasakan sakit pada lukanya dan seluruh tubuhnya.
" Sabar ya." Ujar Nathan lembut.
" Ran. Maaf gue balik duluan. Nolongin anak kecelakaan. Kasian dia luka." Ujar Nathan memberikan kabar pada Randy karena dia pergi begitu saja.
Tak butuh waktu lama. Pak Tarno telah memarkirkan mobilnya pada sebuah rumah sakit yang cukup besar.
Anak itu segera dibawa keruang UGD untuk mendapat tindakan medis. Setelah selesai anak luka anak itu di bersihkan dan di obati. Nathan menghampiri dokter itu.
" Bagaimana, Dok?"
" Tak ada luka serius. Hanya luka memar dan tergores saja. Hari ini juga sudah bisa pulang." Ujar sang dokter itu dan meninggalkan Nathan.
Nathan menghampiri anak itu. " Nama kamu siapa?" Tanya Nathan dan duduk di kursi di samping ranjang.
" Anggi, Om." Jawabnya. " Terima kasih ya Om sudah menolong Anggi."
" Iya sama- sama. Lain kali kalau nyebrang. Hati- hati ya."
Anggi mengangguk patuh.
" Orang tuamu sudah di hubungi?"
" Sudah Om. Tadi pas Om lagi bicara sama dokter."
Nathan tersenyum. " Om tungguin kamu ya sampai orang tuamu datang."
" Iya." ucap Anggi. " Nama Om siapa?"
" Nama Om. Nathan."
" Namanya bagus. Om udah punya anak?"
" Sudah. Sekarang dia berusia tujuh tahun. Anggi punya adik?"
__ADS_1
" Punya satu. Namanya Rumi."
Nathan tersenyum mendengar anak ini begitu ramah dan sopan. Sikapnya jauh lebih dewasa dari usianya. Sangat terlihat bagaimana cara dia bicara dan menatap.