
Hari masih gelap, padahal jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Mungkin cuaca sedang mendung. Aku keluar kamar ketika aku mendengar suara orang memasak dari dapur.
" Lho, kamu yang masak, Nath?" Tanyaku heran melihat Nathan sedang asik mengaduk nasi di atas wajan. Aku pikir yang memasak adalah Bu Fitri. Ternyata Nathan.
Nathan hanya tersenyum tipis dan melanjutkan kegiatannya. Aku menghampirinya dan memperhatikannya yang sudah sangat lihai memasak. Sejak kapan dia bisa memasak. Memikirkan hal itu membuatku tanpa sadar tersenyum sendiri.
" Gio belum bangun?" Tanyanya tanpa menoleh ke arahku.
" Belum."
" Kecapekan main dia. Seneng kamu dateng juga." Ujarku.
Nathan segera menyiapkan nasi gorengnya di atas piring untuk kami sarapan. Tidak lupa dia juga membuat telur ceplok sebagai pelengkap. Terlihat lezat dari aroma dan penampakan masakannya.
" Sejak kapan kamu bisa masak?" Tanyaku penasaran.
" Sebenarnya dari masih sekolah." Jawabnya.
" Oh ya? Kok aku gak tau." Seruku tak percaya.
Dia mengangguk. " Setelah aku kerja. Ibu gak pernah bolehin aku masak lagi. Makanya kamu gak tau." Jelasnya.
" Beruntung banget yang jadi istri kamu." Gurauku.
" Bisa aja."
" Kamu sarapan duluan aja. Aku mau kasih ke Ibu dulu." Ujar Nathan dan berlalu meninggalkanku di meja makan.
' Beruntung sekali wanita yang menjadi pendamping hidupnya. Dia akan diperlakukan layaknya ratu.' Gumamku dalam hati. Ingin rasanya aku menjalin kembali cinta kami. Tapi apakah dia masih menginginkanku. Melihat sikapnya sejauh ini. Dia terlihat sangat menjaga jarak denganku.
Lima belas menit berlalu. Nathan tak kunjung keluar dari kamar Bu Fitri. Aku memutuskan untuk menyusulnya memasuki kamar itu. Perlahan aku membuka pintu kamar Bu Fitri dan betapa terenyuhnya hatiku melihat Nathan dengan sabar menyuapi ibunya. Sangat lembut dan penuh kasih sayang.
Awalnya aku mau sekalian menyapa Bu Fitri tapi tak enak hati rasanya mengganggu moment itu. Perlahan aku menutup kembali pintu kamar itu. Dan kembali duduk di meja makan.
Betapa lembutnya hati Nathan. Terkadang aku berpikir kenapa Tuhan menciptakannya terlalu sempurna. Wajah yang tampan. Sikap yang santun juga hati yang lembut. Ketika wanita tahu bagaimana dia. Pasti akan menjadi dambaan wanita itu. Dulu aku pernah menjadi wanita beruntung itu. Tetapi sekarang sepertinya hati Nathan bukan lagi untukku. Sikapnya terlihat biasa saja di hadapanku.
" Senja, Ibu mau bertemu kamu." Ucap Nathan mengagetkanku.
Aku tersenyum dan segera memasuki kamar Bu Fitri.
__ADS_1
Bu Fitri tersenyum ramah menatap kehadiranku. Aku mencium punggung tangan wanita itu. Tubuhnya jauh lebih kurus saat terakhir kami bertemu dulu. Tetapi keadaannya sudah jauh lebih baik.
" Ibu senang kamu di sini."Ujarnya lembut dan memegang tanganku.
" Aku juga senang ketemu ibu." Ucapku sambil terus menahan tangisku. Sedih rasanya melihat keadaan Bu Fitri saat ini.
" Gio masih tidur?"
" Iya, Bu." Jawabku dan tiba- tiba butir bening itu jatuh begitu saja dari pelupuk mataku. Buru- buru aku menyekanya.
" Jangan sedih, Senja. Ibu sudah jauh lebih baik." Ujarnya seakan mampu menebak apa yang membuatku sangat sedih.
" Senja minta maaf, Bu. Senja gak datang waktu Ayuna meninggal."
" Gak papa." Bu Fitri semakin melembutkan suaranya dan mengelus lembut bahuku seakan ingin menguatkanku. " Bagaimana keadaan kamu sekarang?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
" Baik, Bu."
" Mama dan papa kamu?" Tanya Bu Fitri lagi.
" Mama dan Papa sudah meninggal, Bu." Jawabku lirih. Masih teringat di benakku bagaimana rasa sakitnya kehilangan orang tuaku.
" Gak papa, Bu. Beberapa bulan lalu Mama dan Papa kecelakaan. Jadi, sekarang aku hidup berdua saja sama Gio." Aku berusaha tersenyum menceritakan bagaimana hidupku. Hanya sebagian kecil saja yang aku ceritakan. Sisanya biarlah aku simpan.
" Kamu yang sabar ya." Aku mengangguk. " Anggap saja Ibu ini Mama kamu sendiri. Kamu bebas mau ke sini kapan pun." Bu Fitri terdengar sangat bijak. Sikapnya yang hangat dan lembut membuat nyaman siapa saja.
" Kalo keseringan, gak enak sama calon istrinya Nathan."
" Angel maksud kamu?" Tanya Bu Fitri. Aku mengangguk. " Ibu belum setuju. Lagi pula sebentar lagi ibu ini sembuh. Biar ibu ajak Nathan pindah. Ibu gak mau dia menikah sama Angel." Gerutu Bu Fitri terlihat sebal.
Aku hanya tersenyum menanggapi. Tidak tahu harus senang atau sedih. Aku tidak bisa memastikan semuanya. Nathan tidak pernah memperjelas apapun. Biarkan seperti ini lagi kami menjalani hubungan ini. Tersiksa sudah pasti. Tetapi jika harus aku yang mengungkapkan perasaanku. Aku tidak akan mau. Itu mengingatkanku pada sikapku dulu.
" Itu Nenek dan Mama." Ujar Nathan tiba-tiba memasuki kamar Bu Fitri dengan menggendong Gio.
" Nenek." Gio langsung turun dari gendongan Nathan dan memeluk Bu Fitri erat.
" Cucu nenek sudah besar." Bu Fitri terlihat sangat senang.
" Iya dong, Nek."
__ADS_1
Nathan terlihat keluar dari kamar Bu Fitri. Aku juga menyusul Nathan. Tak ingin aku mengganggu Gio dan Bu Fitri yang sedang melepas kerinduan. Hanya keluarga Nathan yang benar- benar bisa menerima kehadiran Gio.
" Bagaimana kepalamu? Apa masih sakit?" Tanyaku dan duduk di kursi yang ada di samping Nathan.
" Sedikit."
" Kita ke rumah sakit ya." Ajakku cemas dengan keadaannya.
" Gak perlu. Aku juga gak mau perpanjang kejadian semalam." Ujarnya lagi.
Aku sedikit kaget mendengarnya. " Angel sudah keterlaluan, Nathan." Seruku tak setuju dengan keputusannya.
" Biarlah masalah ini jadi masalahku saja Senja."
Aku terdiam mendengar perkataannya. Dia benar. Aku tidak berhak ikut campur dengan urusannya. Aku bukan siapa- siapa.
" Kalo kamu mau pulang. Bilang saja. Biar aku antar." Ujarnya lagi dan meninggalkanku.
Sedingin itu sikapnya padaku. Apakah rasa itu benar- benar menghilang dari hatimu. Sakit rasanya ketika cinta itu kembali bertepuk sebelah tangan.
" Aku masih mencintaimu, Nath." Gumamku pelan. Aku yakin dia tidak akan mendengarnya.
*****
Bu Fitri berjalan tertatih. Keseimbangannya belum pulih dan otot di kakinya masih terasa kaku jika di gerakkan. Perlahan dia berjalan dan Nathan selalu dengan sigap menjaga ibunya. Wajahnya terlihat senang melihat kemajuan yang di tunjukkan ibunya. Gio juga terlihat antusias melihat Bu Fitri sedang belajar berjalan. Dia bersorak sambil berjingkrak- jingkrak.
" Udah, Nak. Ibu capek." Ujarnya dengan peluh membasahi dahinya.
" Pelan- pelan duduknya." Nathan mengingatkan.
" Nathan. Sepertinya aku akan pulang sore ini." Ujarku pada Nathan. Seketika Bu Fitri menatapku dengan tatapan tak rela aku pulang cepat. Nathan hanya menatap sekilas dan mengalihkan pandangannya lagi.
" Tidak besok saja?" Bu Fitri masih berharap aku menunda kepulanganku.
" Gak enak sama tetangga, Bu."
" Gak papa. Kamu dan Nathan kan masih sama sendiri."
" Dia sudah punya calon suami, Bu." Sahut Nathan mendahuluiku.
__ADS_1
Bu Fitri terlihat kaget begitupun aku. Apa maksudnya dia bicara seperti itu. Apakah pria yang dia maksud adalah Reza. Bukankah aku sudah bilang kalau Reza bukan siapa- siapa aku.