
Perlahan Vera turun dari mobil Nathan dan berjalan beriringan dengan Nathan memasuki gerbang rumah Vera. Melihat ada kesempatan yang muncul. Nathan langsung berbalik badan dan berlari cepat menuju mobilnya.
" Nathan!" Pekik Vera sambil kepayahan mengejar Nathan yang sudah duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mobilnya.
Rencananya untuk kabur dari Vera. Berhasil. Nathan terus menyunggingkan senyum lucunya karena berhasil mengelabui wanita yang lagi- lagi ingin mengganggu hidupnya. Wanita yang dia pikir tulus berteman. Tetapi malah menginginkan lebih.
" Malam sekali kamu pulang?" Tanya Gilang tajam melihat Nathan yang baru saja masuk ke rumahnya.
Nathan mencium punggung tangan Gilang dan duduk di hadapan Gilang.
" Istrimu sedang hamil besar. Jangan seenaknya saja kamu pulang!" Bentak Gilang dan Nathan hanya diam menunduk dan mendengarkan.
" Seharian kamu bekerja. Apa kamu tidak merindukan anak dan istrimu? Kenapa kamu meluangkan waktu bertemu teman tapi tidak dengan istrimu?" Gilang kembali mencecar Nathan.
" Maaf, Kak."
" Masuklah. aku yakin istrimu belum tidur. Jangan kamu ulangi lagi." Gilang menekankan kalimatnya.
Nathan hanya diam dan patuh. Nathan memasuki kamarnya terlihat Senja sedang berbaring bersandar pad headboard.
" Kamu menungguku, sayang?" Nathan mengecup kening Senja.
" Iya."
Nathan membuka bajunya.
" Apa Kak Gilang memarahimu?" Tanya Senja dengan wajah cemas.
" Sedikit." Ujar Nathan santai.
" Maafkan aku."
" Aku pantas mendapatkan itu sayang. Seharusnya aku tidak egois."
Senja memeluk Nathan erat dan membenamkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
" Aku masih bau." Ujar Nathan melerai pelukan istrinya.
" Tidak. Kamu selalu wangi walaupun kamu belum mandi." Ujar Senja dan kembali membenamkan wajahnya dan menghirup dalam- dalam aroma tubuh suaminya.
Gita duduk di ruang makan memperhatikan adik iparnya serta temannya sibuk menyiapkan sarapan untuk mereka. Gita mengambil sepotong apel yang sudah di potong ke dalam mulutnya. " Nanti siang kita jadi keliling Jakarta kan?" Tanya Gita sambil mengunyah apel tersebut.
" Kalian mau jalan- jalan?" Tanya Bu Fitri terlihat antusias.
" Iya. Ibu mau ikut?" Gita menawarkan.
" Tentu. Sudah lama sekali ibu tidak jalan- jalan." Sahut Bu Fitri senang.
" Iya, Kak. Nanti kita sewa mobil yang lebih besar saja." Usul Senja.
" Tidak perlu. Mobilmu kurasa muat untuk kita. Biar Gilang yang menyetir."
" Betul, Senja." Bu Fitri mendukung.
" Kamu ikut juga kan, Vir?" Tanya Senja pada Virni.
" Aku di rumah saja. Badanku sakit semua hal biasa jika aku mendekati datang bulan." Virni menolak.
" Baiklah."
" Nathan tidak ke kantor?" Tanya Gita yang menyadari tidak melihat Nathan sejak tadi.
Senja melihat jam dindingnya sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Senja segera berjalan cepat menuju kamarnya dan melihat Nathan yang masih terbaring di balik selimutnya.
" Kamu tidak ke kantor sayang?" Senja membangunkan Nathan dengan lembut.
" Kepalaku sedikit sakit. Sepertinya hari ini aku bekerja di rumah saja." Ujar Nathan dengan suara parau dari balik selimutnya.
Senja menyibak sedikit selimut yang menutupi Nathan dan memegang keningnya.
" Kamu demam." Senja panik.
" Aku tidak apa- apa. Hanya sedikit pusing saja. Tidur sebentar lagi. akan sembuh." Ujar Nathan dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
" Aku ambilkan obat." Senja segera berjalan cepat menuju kotak P3K yang memang diletakkannya di dapur.
" Nathan sakit?" Tanya Virni ketika melihat Senja mengambil obat.
" Iya. Dia demam." Jawab Senja dengan wajah panik dan kembali ke kamarnya.
Setelah memberikan Nathan obat. Senja kembali ke ruang makan dan duduk bersama di meja makan untuk sarapan. Gilang, Gio dan Galuh juga sudah bergabung bersama mereka.
" Sepertinya aku tidak jadi ikut." Ujar Senja ketika mereka selesai sarapan.
" Ayolah, Senja. Kami tidak mungkin berjalan- jalan sendirian kan. Tidak seru." Keluh Gita. " Besok kami harus kembali ke Bandung."
" Tapi Nathan sedang sakit." Senja tampak bimbang.
" Ada Virni dan Bi Sumi. Mereka akan merawat Nathan sebentar." Ujar Gita memaksa. " Bisa titip Nathan kan, Vir." Ujar Gita pada Virni.
Virni mengangguk.
" Jangan di paksa jika Senja tidak mau." Gilang bersuara.
" Ayolah sayang. Aku sangat ingin jalan- jalan." Rengek Gita.
Gilang menatap Senja menunggu keputusan adiknya.
" Yasudah." Senja akhirnya setuju. " Tapi aku tanya Nathan dulu."
" Oke."
Senja menghampiri Nathan yang masih berdiam diri di balik selimut. Senja memeluk Nathan dari belakang. " Kak Gita dan Kak Gilang mengajakku pergi jalan- jalan. Apa boleh?" Tanya Senja tepat di telinga Nathan.
" Silahkan sayang."
" Apa kamu baik- baik saja di rumah?"
" Iya. Keadaanku sudah membaik. Kamu pergilah. Jangan lupa bawakan aku martabak telur. Sudah lama sekali aku tidak makan itu." Ujar Nathan masih dengan suara parau.
" Baiklah. Jika ada apa- apa segera hubungi aku." Senja mengecup pipi Nathan dan segera bersiap.
" Kenapa kamu diam saja?!" Tegur Nabila yang merasa gemas dengan tingkah Randy yang salah tingkah.
" Apa yang harus aku bicarakan? Kamu yang memanggilku ke ruanganmu." Randy mulai mendebat.
" Jadi kamu tidak mau tau jawabanku?" Nabila sedikit menggoda Randy.
Randy langsung memajukan posisi duduknya dan melihat Nabila dengan antusias.
Nabila tertawa kecil melihat tingkah Randy yang menurutnya sedikit konyol. Nabila mengangguk kecil. " Aku terima lamaranmu." Jawab Nabila.
Randy langsung bersorak." YES!" Serunya gembira.
' Drrrttt'
Kegembiraan Randy terhenti ketika suara ponsel Nabila berbunyi. Nabila melihat layar ponselnya.
" Senja." Gumam Nabila dan segera menjawab telepon dari Senja.
Nabila berbicara sebentar dengan Senja dan segera bersiap meninggalkan kantor setelah menutup panggilan telepon dari Senja.
" Mau kemana?" Tanya Randy bingung.
" Nathan sedang sakit. Senja sedang menemani keluarganya jalan- jalan. Ada Virni di rumahnya dia memintaku untuk mengecek keadaan Nathan sekarang." Ujar Nabila cepat dan segera berjalan cepat keluar dari ruangannya.
" What? Virni?" Randy tidak percaya dan segera berlari menyusul Nabila.
" Bagaimana bisa wanita itu kembali ke rumah Nathan?" Tanya Randy tak percaya jika wanita yang hampir menghancurkan rumah tangga mereka kembali lagi.
" Aku tidak tau." Jawab Nabila dan fokus menyetir.
" Perasaanku tidak enak." Ujar Nabila dan semakin menambah kecepatannya.
" Jangan terlalu ngebut. Atau kita tidak akan pernah sampai di rumah Nathan." Randy memperingatkan.
" Diamlah dan tenang!" Sergah Nabila masih fokus dengan jalanan di depannya.
__ADS_1
Randy memegang erat pegangan yang ada di dalam mobil tersebut. Beberapa kali Randy menarik dan membuang nafasnya untuk membuat dirinya tenang ketika Nabila menyalip mobil yang ada di depannya.
Randy terus menggumamkan doa- doa agar mereka selamat sampai tujuan. Dari doa selamat hingga doa makan dia lantunkan karena begitu ketakutannya dirinya.
Nabila langsung memarkirkan mobilnya ketika Pak Mamat membuka gerbang untuknya. Nabila langsung merangsek masuk ke dalam rumah Nathan dan berjalan mencari sosok Virni. Berbeda dengan Randy yang masih mengatur dirinya agar gemetarnya hilang karena takut.
Nabila berjalan cepat menyusuri penjuru rumah dan tidak mendapati Virni dimanapun. Nabila sedikit menarik nafasnya ketika akan membuka kamar utama. Kamar Nathan bersama Senja. Suasana kamar yang remang- remang Nabila menangkap sosok perempuan itu tengah menikmati memeluk Nathan yang sedang tertidur.
Dengan kesal. Nabila langsung menghampiri Virni dan menarik tangannya dengan kasar.
" Keluar kau wanita j**ang!" Maki Nabila kesal.
Virni segera menepis tangan Nabila dari tangannya dan mempertahankan dirinya.
" Kurang aj**!" Nabila semakin geram dan kembali berusaha menarik tangan Virni.
Nathan yang terusik dengan suara bising di telinganya. Perlahan membuka matanya dan matanya langsung terbuka lebar ketika mendapati Nabila dan Virni bertengkar di dalam kamarnya.
" Apa yang kalian lakukan?" Tanya Nathan masih terlihat bingung.
Nathan beralih menatap Virni yang masih berdiri dengan lututnya di atas kasurnya. " Kamu sedang apa disini?" Tanya Nathan dengan mata menyelidik.
Virni terdiam dan tak mampu lagi berkata- kata setelah tertangkap basah.
" Aku tau. Kamu juga menyukai Nathan bukan?" Virni menatap Nabila tajam sambil menyunggingkan senyum liciknya. " Bagaimana jika kita kerjasama hari ini. Senja tidak di rumah." Ujar Virni.
Nabila menatap Virni dengan tatapan merendahkan. " Aku bukan wanita seperti itu." Ucap Nabila tajam dan kembali berusaha menarik tangan Virni.
Setelah mendengar suara gaduh dari kamar Nathan. Randy segera masuk ke dalam dan terlihat Nabila tengah berusaha menarik tangan Virni. Randy segera membantu Nabila dan akhirnya. Mereka berhasil mengeluarkan Virni dari kamar Nathan.
" Ada apa ini? Kok pada kumpul disini?" Tanya Bi sumi dengan belanjaan di tangannya.
" Abis nangkap maling, Bi." Jawab Randy asal sambil terus menatap Nabila.
" Ada maling?" Tanya Bi Sumi sedikit cemas.
" Tenang Bi. Bukan maling barang. Tapi maling suami orang!" Sambung Nabila menyindir tajam.
" Haduh. Bibi makin gak ngerti." Bi sumi yang bingung dan tak mengerti situasinya pergi menuju dapur membereskan belanjaan yang baru dibelinya.
Randy menatap Nathan dengan wajah yang masih pucat. Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan duduk di sofa kecil. Kepalanya yang masih terasa berat dia sandarkan pada sandaran sofa.
" Apa kamu tidak sadar yang dia lakukan padamu?" Tanya Nabila melihat Nathan masih memejamkan matanya.
Nathan menggeleng.
Randy menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
" Kami tidak tau apa saja yang dia lakukan padamu, Nath. Tapi Nabila mendapatinya tengah memelukmu erat. Bajunya sedikit tersingkap." Randy menjelaskan.
" Oh ya? Aku benar- benar tidak tahu. Kepalaku sangat sakit. Setelah minum obat yang diberikan Senja. Aku tertidur." Nathan menjelaskan pula situasi yang dia tahu.
" Kenapa dia ada di rumahmu lagi?"
" Aku tidak tahu. Senja yang mengizinkannya."
" Kamu tidak melarang?" Gantian Randy yang mencecar Nathan.
" Sudah. Tapi kalian tau bagaimana istriku."
Nabila dan Randy berdecak kesal mengingat bagaimana mudahnya Senja terhasut oleh wanita ini.
" Kita apakan dia?" Tanya Nabila dengan Tangan terlipat didadanya.
" Tunggu Senja saja. Kepalaku sangat sakit." Keluh Nathan.
Nabila mengecek keadaan Nathan dengan menempelkan telapak tangannya pada kening Nathan. " Kamu masih demam. Kembalilah ke kamar." Ujar Nabila.
Nathan tak bergeming. Dia kembali tertidur di atas sofa kecil itu dengan posisi duduk.
Nabila segera mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres Nathan. " Senja sudah dihubungi?" Tanya Randy.
Nabila meletakkan handuk kecil itu pada dahi Nathan. " Sudah. Dia dalam perjalanan pulang." Jawab Nabila.
__ADS_1