
" Nathan. Cepat buka pintunya. Atau aku akan menghancurkan keluargamu!" Pekik Fumiko marah. Namun tak ada sahutan dari dalam
" Dobrak pintu ini!" Perintahnya lagi pada anak buahnya dan mereka langsung mendobrak pintu itu. Berkali- kali mereka mencoba mendobrak. Namun gagal.
" Lemah kalian!" makinya lagi.
' Dor'
Suara letupan senjata api terdengar keras dari pintu utama rumah itu. Fumiko yang menyadari bahwa mereka telah terkepung langsung berusaha melarikan diri dari pintu belakang bersama beberapa anak buahnya.
Tak butuh waktu lama. Anak buah Fumiko dengan cepat dapat dilumpuhkan. Namun sayang. Fumiko berhasil melarikan diri.
" Dimana Nathan?" Tanya salah seorang polisi pada anak buah Fumiko yang masih tertunduk.
" Di sana Pak." Tunjuknya ke arah pintu toilet.
Anggota polisi yang lainnya segera mengecek. " Terkunci, Komandan."
" Dia memang mengunci dirinya di dalam." Jawab anak buah Fumiko itu takut.
" Dobrak!"
Anggota polisi itu mendobrak pintu itu. Anehnya dengan mudah pintu itu terbuka dan terlihat Nathan tergeletak bersimbah darah.
" Komandan. Korban pingsan dengan luka di perutnya." Lapor anggota polisi itu.
" Segera larikan ke rumah sakit!" Perintah komandan itu dan langsung memimpin pasukannya untuk memboyong semua anak buah Fumiko ke kantor polisi.
Nabila dan Randy segera berlari menuju ruang Gawat Darurat untuk melihat kondisi Nathan.
" Selamat malam, Pak." Randy menjabat tangan komandan polisi itu.
" Selamat malam juga. Terima kasih sudah memberikan informasi yang akurat pada kami."
" Terima kasih juga pak atas kerjasamanya membebaskan teman kami." Ujar Randy.
" Tetapi kenapa dia bisa seperti ini? Terakhir saya bertemu keadaannya sudah jauh lebih baik." Ujar Nabila merasa heran.
" Menurut penuturan anak buah nyonya Fumiko. Nathan sepertinya enggan melayani hasrat Nyonya Fumiko hingga dia berusaha melarikan diri. Namun karena terkepung dia memutuskan untuk mengunci dirinya di dalam toilet." Tutur komandan polisi itu.
__ADS_1
" Apa wanita itu juga berhasil di tangkap?"
" Sayangnya dia dan beberapa anak buahnya berhasil melarikan diri. Tetapi kalian tenang saja. Saya sudah memerintahkan beberapa personil untuk menjaga tuan Nathan."
" Terima kasih." Randy dan Nabila menjabat tangan komandan polisi bergantian.
******
Perlahan Nathan membuka matanya. Matanya mengedarkan pandangannya. Suasana rumah sakit tercium jelas pada rongga hidungnya. Di ujung sana terlihat Senja tertidur pulas berbaring di sofa. Randy tidur dalam posisi duduk pada kursi di samping tempat tidur Nathan.
" Nath."
" Sssttt.." Nathan mengisyaratkan Randy untuk mengecilkan suaranya. Dia tak ingin istrinya terbangun.
" Syukurlah, Nath. Apa ada keluhan lain?" Tanya Randy dengan nada berbisik.
" Sedikit." Ujar Nathan. " Gue kira gue bakalan m*ti saat itu. Untungnya Allah masih kasih gue umur panjang." Ujar Nathan.
" Iya. Polisi yang nemuin elo pingsan di toilet. Darah banyak banget. Luka lo yang paling dalam. Terbuka lagi. Kali ini jangan sampai kebuka lagi. Karena itu bukan yang kedua kalinya kan?"
" Iya. Saat gue disekap. Emang pernah terbuka juga karena mereka ikat tangan gue ke atas." Kenang Nathan menceritakan sebagian kejadian yang terjadi.
" Dia ibunya Sintia." Jawab Nathan singkat.
" Gila ya. Emak ama anak sama edannya."
" Jangan kenceng- kenceng. Nanti Senja bangun." Nathan mengingatkan.
" Sorry sorry."
" Awalnya dia sengaja mau bawa gue jauh dari sini biar bisa hidup sama anaknya. Gak tau kenapa lama kelamaan malah dia ikut godain gue juga." Nathan masih bergidik ketika membayangkan bagaimana Fumiko menatap dirinya.
" Badan penuh luka aja. Masih aja ada yang tergoda. Heran gue." Ujar Randy. " Pake susuk apaan sih lu?"
" S*alan lu!"
" Gue panggil dokter ya."
Nathan hanya mengangguk. Tubuhnya sudah jauh lebih baik. Tinggal penyembuhan lukanya saja.
__ADS_1
*****
Seminggu berlalu sudah. Luka Nathan hampir sembuh sempurna. Senja membereskan semua perlengkapan Nathan selama di rumah sakit ke dalam tas. Sungguh suatu kabar gembira setelah hampir sebulan dia tidak pulang ke rumah akhirnya bisa menginjakkan kakinya kembali pada rumahnya.
Nabila juga mengerahkan beberapa anak buahnya untuk menjaga Nathan dan keluarganya untuk menghindari hal yang tidak diinginkan. Di tambah lagi Fumiko belum tertangkap hingga saat ini. Dia menghilang bak ditelan bumi.
Pak Tarno sengaja datang ke rumah sakit untuk mengantarkan pulang bos besarnya. Raut wajah gembira tak dapat disembunyikan ketika melihat bosnya kini bisa berjalan dengan lancar walaupun masih memegangi perutnya.
" Silahkan, Pak." Pak Tarno menyambut Nathan dengan senyum lebarnya. Dan tak lupa dia juga membukakan pintu untuk Senja.
Barang yang tadi dikemas Senja telah dibawa oleh anak buah Nabila. Mereka jalan beriringan menuju rumah Nathan. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan antara mereka. Hanya Senja yang tersenyum karena melihat Nathan sangat menikmati suasana perjalanan menuju rumah mereka.
Sesampainya di rumah. Nathan sedikit merasa heran karena banyak kendaraan yang terparkir di halaman rumahnya. Perlahan Nathan berjalan menuju rumahnya.
" Selamat Datang!" Seru teman- teman Nathan menyambut kedatangan Nathan yang baru saja keluar dari rumah sakit.
Nathan tak mampu menutupi rasa bahagianya. Ada Randy, Nabila, Pak Ringgo, Riza, Silvi dan beberapa karyawan Nathan menyambut kedatangannya.
" Kita senang akhirnya Bapak sembuh." Ucap Silvi di ikuti anggukan yang lain.
" Terima kasih." Ucap Nathan penuh haru.
Randy segera menghampiri sahabatnya dan memeluk sahabatnya itu. " Jangan bikin kita cemas lagi." Ucap Randy sambil menepuk nepuk punggung Nathan.
Nabila ikut menyalami Nathan. Nathan hanya menepuk pelan bahu Nabila dan mengucapkan terima kasih. Entah sudah berapa kali dia merasa berhutang nyawa pada gadis itu. Cinta yang bertepuk sebelah tangan tak membuat Nabila menjadi seperti kebanyakan wanita yang pernah Nathan temui.
" Terima kasih banyak. Untuk yang kesekian kalinya. Aku kembali berhutang budi padamu, Nabila." Ujar Nathan.
Nabila hanya tersenyum.
Nathan menghampiri Pak Ringgo dan mencium punggung tangan lelaki tua itu. Pak Ringgo menepuk- nepuk pelan punggung Nathan.
Nathan melihat wajah wanita tercantik dalam hidupnya yang menatapnya nanar. Air nata haru yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya. Pada akhirnya mengalir deras ketika Nathan menghampirinya dan memeluknya erat.
Bu Fitri berkali- kali menciumi kedua pipi putra semata wayangnya. Tak ada kata yang bisa mewakili betapa bahagianya dia melihat putranya bisa kembali bersamanya.
" Jangan menangis, Bu." Ucap Nathan lembut melerai pelukan erat ibunya dan menyeka air mata ibunya dengan ibu jari.
" Jangan buat ibu cemas lagi." Ujarnya dan kembali memeluk Nathan erat.
__ADS_1